9

1594 Words
Pagi ini Alena menatap langit dengan hembusan napas yang terdengar begitu lelah, berulang kali Alena terus berbuat seperti itu seolah-olah dia tengah memikirkan sesuatu tapi tidak bisa menemukan titik tengahnya. "Kau kenapa? Apa masih ketakutan mengingat masalah kemarin?" Alfred yang tidak tahan akhirnya melontarkan pertanyaan pada Alena. "Apakah aku harus berdamai dengan masa lalu dan memaafkan atau menyibak masa lalu itu dengan melaporkan orang-orang yang telah melakukan semua itu padaku?" Akhirnya Alena bertanya pada Alfred dengan wajah penuh harapan. Alena lelah memikirkan semua beban itu sendirian, Alena sudah tidak sanggup lagi dikejar-kejar oleh bayangan masa lalu. "Aku harap kau mau melaporkan mereka, apalagi kemarin mereka kembali berusaha menangkap dirimu. Aku yakin, ada sesuatu yang mereka incar darimu." Alfred menatap Alena dengan meyakinkan. Mata Alfred mencoba menjelaskan pada Alena kalau apa yang dikerjakannya saat ini bukan pilihan yang baik. "Iya, tapi Paman Robert pernah mengatakan kalau orang-orang itu bersembunyi dengan sangat baik. Aku benar-benar bingung ada hal apa hingga mereka terus-menerus mencariku serta mengincar hidupku." Alena tidak habis pikir dengan orang-orang itu. "Pasti ada, mereka yakin apa yang mereka cari memang ada padamu dan kau yang memegangnya." Alfred terlihat begitu yakin tapi mereka berdua tidak tahu apa yang dicari oleh kelompok orang itu. Bosan berpikir lama-lama, ke-duanya memilih untuk pergi ke tempat pesta yang akan disulap oleh Alena menjadi sebuah tempat yang indah. Mereka menuju ke sebuah villa di mana tempat itu terlihat begitu sederhana namun indah dipandang oleh mata. Pesta pernikahan itu akan berlangsung di halaman belakang villa yang menghadap ke hutan atau lebih tepatnya berada di tepi pengunungan. Alena menatap tempat itu dengan hati-hati lalu dengan teliti mulai memikirkan hiasan-hiasan jenis apa yang terlihat bagus. Alena dan Alfred yang telah lama sama-sama belajar saling pandang sebentar sebelum mengangguk dan mulai mengeluarkan perintah. Sedikit demi sedikit tempat itu diubah menjadi sebuah tempat yang layak untuk sebuah pesta mewah dan megah yang tidak akan bisa dilupakan oleh kedua pengantin. *** Alvin tengah bermain dengan Erfan saat Angela ke luar dari kamar mereka dengan perut buncit, Angela tampak mulai kesusahan dalam berjalan. Satu tangan Angela memegang pinggangnya dengan tangan lain terlihat memegang sesuatu. "Sayang, kau mau ke mana?" Alvin berjalan cepat ke arah Angela tanpa membawa Erfan. Setelah sampai didekat Angela Alvin membimbing Angela dengan hati-hati menuju ke kursi ruang keluarga. Sesampai di sana dengan lembut Alvin mendudukkan Angela di kursi itu. "Kapan kita bisa jalan-jalan ke luar negeri?" tanya Angela dengan wajah penuh harap. Angela benar-benar ingin pergi ke sebuah pulau eksotis dengan pemandangan indah yang mengesankan. Mendengar ucapan Angela Alvin memutar matanya malas, "Sayangku yang cantik, untuk berjalan dari kamar ke ruang keluarga saja kau begitu kesusahan. Apalagi nanti ketika kau ingin berjalan ke sana kemari." "Ish, aku kan hanya bertanya kapan. Kau bisa menjawab dengan baik bukan? Kau hanya tinggal mengatakan besok setelah melahirkan atau ketika anak kita sudah berusia beberapa bulan." Angela terlihat kesal dengan wajah marah serta pipi mengembung yang malah terlihat lucu bagi Alvin. Gemas dengan tingkah Angela, Alvin melayangkan ciuman lembut di pipi istrinya itu. "Daddy, Fan mau!" rengek si kecil Erfan saat melihat Alvin hanya mengecup pipi Angela saja. Alvin yang gemas melihat tingkah pencemburu Erfan akhirnya juta memberikan Erfan ciuman-ciuman lembut serta tangan Alvin mulai menggelitik perut kecilnya. "Anak siapa pencemburu ini ha?" tanya Alvin gemas sembari terus mengajak putranya bermain. Sedangkan Angela langsung terabaikan begitu saja dengan wajah cemberut. "Anak Daddy tapi dapat sifat pencemburu Mommy," balas Erfan lucu dengan tawa kecilnya yang masih terdengar keras. "Ehh, siapa yang mengatakan mommy pencemburu?" Angela bertanya dengan nada tidak terima, pasalnya dia benar-benar merasa tidak pencemburu sama sekali. "Daddy selalu mengatakan kalau Mommy memiliki sifat pencemburu yang luar biasa. Bahkan dengan uncle Robert pun Mommy cemburu." Erfan yang polos dan lugu berbicara apa adanya seperti yang dia dengar dari percakapan antara Alvin dan Marco. "Alvin!" teriak Angela dengan nada penuh penekanan. Bibir Angela cemberut dengan wajah masam penuh keluhan, ada air mata yang mengenang di pelupuk mata Angela yang membuat Alvin terlihat kalang kabut ingin melakukan pembelaan diri. "Hmm, tapi Daddy juga mengatakan kalau Mommy cemburu seperti itu maka Mommy akan terlihat semakin cantik berpuluh-puluh kali lipat." Erfan yang sudah pintar berbicara akhirnya kembali berhasil memadamkan api amarah Angela yang telah menggebu-gebu tadinya. Angela langsung berubah menjadi lunak dan lembut saat mendengar pujian itu. Wanita mana yang tidak ingin dikatakan cantik? Bohong jika ada wanita yang tidak bangga ketika mendapatkan pujian. Angela tersenyum senang dan melupakan kata-kata pertama Alvin tadi ia juga mulai mengajak Erfan bermain. "Sayang, kau duduk saja di sana ya! Biarkan aku yang bermain dengan Erfan, kau bisa lihat perutmu sudah terlalu besar dan tidak bisa lagi bermain dengan putra kita." Alvin langsung mencegah Angela. Alvin benar-benar takut kalau sewaktu-waktu perut Angela akan meletus lalu mengeluarkan anaknya lebih cepat dari yang diperkirakan oleh Marco. "Astaga Alvin! Ini masih lama, aku juga belum pernah mendengar ada ibu hamil yang perutnya meletus ketika melahirkan." Angela memutar matanya jengah dengan kecemasan Alvin yang terlihat terlalu berlebihan. Angela akhirnya memilih untuk duduk diam, ia mulai menonton acara televisi yang diputar di ruang keluarga. Angela memutar film kartun yang bermanfaat agar Erfan mendapatkan ilmu sekaligus. "Halo keponakan paman yang tampan," sapa Marco lembut pada Erfan yang tengah menyusun mainannya ke keranjang. Erfan terlihat antusias dalam mengeluarkan mainannya sebelum kembali memasukkan mainan itu ke dalam keranjang mainannya. "Halo, Paman Marco!" sapa Erfan kembali dengan anggukan kepala tapi matanya terus tertuju pada mainannya yang berada di depan matanya. "Coba lihat! Paman membawakan sesuatu untukmu nih!" Marco memperlihatkan paper bag yang dibawanya ke depan agar bisa dilihat oleh Erfan. Mendengar kata sesuatu Erfan langsung mengangkat kepalanya dan melihat langsung ke arah Marco dengan raut wajah penasaran. Wajah kecilnya yang lucu serta bola mata besar yang terlihat menawan membuat Marco begitu tergila-gila dengan anak Alvin dan Angela ini. "Apakah makanan?" Angela bertanya lebih dahulu sembari memegang perut buncitnya. "Apa di otakmu itu hanya ada makanan? Kau bisa lihat betapa besar tubuhmu sekarang, Alvin bisa meninggalkan dirimu jika tubuhmu itu sebesar gajah." Marco melempar ejekan pada Angela. Hal itu sukses membuat Angela merasa marah dan ingin memukul seseorang dengan tangannya. Angela benar-benar terlihat kesal sekaligus benci dengan ucapan Marco yang asal ceplos saja. "Katakan saja kau iri melihat aku memanjakan Angela hingga kau menghina tubuhnya!" bela Alvin dengan mata memicing. Kilatan kejam melintas di dalam bola mata indah itu saat melihat Marco. Seketika bulu kuduk Marco berdiri, pikiran-pikiran buruk melayang di kepalanya. Marco tahu betul bagaimana sifat Alvin yang tidak akan memaafkan orang-orang yang menghina Angela. "Ah aku lupa kalau kalian harus berolahraga agar bayi di dalam perut Angela mudah dilahirkan. Kalian harus bisa membuat kepala si kecil berada di posisi bawah." Marco sengaja mengalihkan pembicaraan sembari menggendong Erfan menjauh dari sana. Melihat Marco membawa pergi Erfan begitu saja sebuah seringaian muncul di bibir Alvin. Angela hanya memutar matanya malas, pada akhirnya ia memilih berdiri agar bisa kabur dari suami mesumnya. "Sayang, mari kita berolahraga! Marco memang mengatakan kita harus lebih sering melakukannya agar kau bisa melahirkan secara baik-baik saja nantinya." Alvin tersenyum senang sembari menarik istrinya ke ruang olahraga yang ada di rumah itu. Mendengar ucapan Alvin, Angela hanya bisa memutar matanya malas dan mengikuti langkah kaki Alvin menuju ke ruang olahraga. Sesampai di sana Alvin mengunci pintu dan tersenyum senang sembari mengikuti Angela dari belakang yang terlihat tengah memeriksa alat yang akan digunakannya untuk berolahraga. "Sayang, sepertinya kau tidak tahu olahraga yang aku maksudkan?" Alvin tersenyum nakal, mendengar ucapan Alvin Angela akhirnya mengerti kenapa Alvin membiarkan Marco pergi begitu saja. "Aish, kalau mau olahraga itu kenapa kau mengajakku ke ruang olahraga ini?" Angela bertanya dengan nada malas. Sungguh Angela benar-benar tidak mengerti kenapa otak suaminya hanya dipenuhi hal-hal m***m saja. "Apa otakmu hanya dipenuhi dengan adegan ranjang saja? Aku heran, kenapa bisa kau mengelola sebuah perusahaan besar sedangkan otakmu saja diisi oleh hal-hal kotor." Angela menatap Alvin jengah dengan mata memutar. "Tentu saja aku mengajakmu kemari karena di sini lebih bagus berolahraga." Alvin membalik Angela menghadap dirinya kemudian mulai menghujani Angela dengan ciuman-ciuman panas yang basah. Lama Alvin mencium Angela hingga akhirnya dia mulai merebahkan tubuh Angela di karpet di lantai olahraga. Karpet itu tebal dan tidak menyakitkan untuk tubuh. Angela terlihat pasrah sembari terus menerima belaian dan sentuhan tangan Alvin. Angela memang merasa sangat membutuhkan semua itu agar rindu dan kasih sayang yang dimiliki Alvin dapat dia rasakan. "Aku mencintaimu Angela." Alvin berbisik lembut sembari meninggalkan jejak-jejak basah di tubuh Angela, istrinya. "Aku mencintai semua yang ada padamu, aku mencintai nafas yang engkau hembuskan dan aku mencintai setiap inci daging yang ada di tubuhmu." Alvin terus berbicara seiring dengan sentuhan tangannya yang ikut menjelajah. Di tubuh ke-duanya sudah tidak ada lagi pakaian yang menutupi. Angela tampak pasrah dengan semua cinta yang diberikan Alvin padanya. Cinta yang membuat Angela hampir kehabisan nafas akibat eratnya jalinan kasih di antara mereka berdua. "Aku juga mencintaimu," balas Angela sembari menyunggingkan senyuman lebar. Senyuman itu membuat Alvin terlena dan terdiam tanpa bisa melakukan apapun. Alvin benar-benar kaku dengan wajah melongo yang membuat Angela tidak tahan untuk tertawa pada akhirnya. Angela bangkit dengan memiringkan tubuhnya sebelum duduk dan memberikan kecupan lembut di wajah Alvin sebelum akhirnya mengecup bibir Alvin lama. Alvin terdiam cukup lama sebelum akhirnya membalas ciuman Angela lebih dalam, Alvin menjelajahi gua manis itu sembari kembali menindih tubuh Angela untuk membuktikan cintanya. "Aku mencintai semua kecemburuanmu, aku mencintai setiap sentuhan yang kau berikan dan aku mencintai semua kasih sayang yang kau berikan padaku." Alvin terlihat bahagia setelah mendengar ucapan cinta Angela. Bagaimana mungkin Alvin tidak akan sesenang itu karena Angela sangat jarang mengucapkan kata cinta padanya. Angela lebih suka membuktikan cintanya dengan perhatian dan juga perbuatan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD