1
Robert menatap gadis manis di depannya dengan wajah datar, sedari tadi gadis manis itu terus mengikuti langkah kakinya meski telah berulang-ulang kali diusir dari sana.
"Uncle tidak mau bertemu denganku?" tanya gadis manis itu sembari menampilkan raut wajah imutnya.
Robert menatap memelas pada Angela yang tengah memerhatikan interaksi antara dia dan gadis cantik itu.
"Nona, aku mohon padamu untuk mengusir dia dari sini!" pinta Robert dengan wajah menyedihkan.
Sungguh ia benar-benar tidak tahan melihat dan mendengar suara berisik dari gadis manis di depannya.
"Kenapa aku harus mengusir dirinya dari sini? Dia manis, cantik dan juga lembut dan aku suka dengan kehadirannya di sini." Angela tersenyum kecil sembari menggelengkan kepala.
Akhirnya ia memiliki sesuatu untuk mengerjai Robert yang telah membuatnya kesal selama ini.
"Kau berisik dan aku tidak suka." Robert berbicara terus terang sembari terus menampilkan raut wajah datar miliknya.
"Tidak, kalau kau menjawab pertanyaan dariku maka aku tidak akan cerewet padamu." Gadis manis itu tersenyum manis menampilkan gigi putihnya yang lucu.
"Alena, pulanglah ke rumahmu sekarang!" usir Robert dengan wajah masamnya.
Sungguh Robert benar-benar sudah tidak tahan dengan tingkah gadis yang diteriakinya itu.
"Tante lihat sendirikan! Uncle tidak menyukai diriku dari awal, lihatlah dia mengusirku dengan begitu sadisnya." Alena mengadu pada Angela dengan air mata yang terlihat dibuat-buat.
"Kau mengusirnya? Kalau dia pergi maka kau juga pergi dari sini," ancam Angela dengan wajah beringas.
Jika Angela sudah berbicara maka Alvin sendiri tidak akan sanggup untuk menentang ucapannya.
Robert memilih diam dan akhirnya membiarkan Alena untuk tinggal di rumah Angela sementara waktu sampai Alena bosan dan memilih pulang ke rumahnya.
"Kau suka ya dengan unclemu?" tanya Angela iseng saat melihat Robert telah naik ke lantai atas. Sepertinya Robert ingin menyusul Alvin yang baru saja pulang dari lari pagi di sekeliling rumah.
Alena tidak menjawab namun rona merah di pipinya mampu memberikan Angela jawaban dari apa yang dipikirkan gadis cantik itu.
"Astaga, itu sebabnya kau terus-menerus mengganggu dirinya?" Angela bertanya lagi dengan senyuman nakal.
Alena yang ditanya mengangguk seraya memalingkan wajah.
'Ternyata ada yang lebih parah dari diriku." Angela berbicara dengan dramatis membuat Alena memutar matanya malas.
Alena saat ini masih berusia 20 tahun di usianya yang tergolong masih sangat muda Alena baru pertama kali merasakan apa yang namanya jatuh cinta.
Dan Alena jatuh cinta pada pamannya sendiri. Itu sebabnya Alena terus berusaha mendekati Robert dengan berbagai cara.
"Tapi nampaknya perjuanganmu akan sangat melelahkan. Kau bisa lihat sendiri kalau pamanmu dan pamanku berbeda, kalau pamanku dia sangat mencintaiku tapi kalau pamanmu hatinya terbuat dari batu sepertinya."
Angela mengangkat bahu dan berjalan meninggalkan Alena sendirian di ruang tamu. Saat Angela pergi Adera adik kandung Robert muncul dari pintu utama rumah.
"Alena, kau di sini juga?" tanya Adera dengan penuh kebingungan.
Adera sangat hafal kalau Alena adalah gadis manja yang sering bersembunyi di rumah atau nongkrong dengan teman-teman seusianya.
"Iya, aku mencari Paman Robert, tapi Paman tidak mau bertemu denganku." Alena menunduk sedih sembari berusaha menyembunyikan senyumannya.
Alena sangat tahu kalau Adera begitu peduli dan menyayanginya karena Adera adalah orang yang tumbuh bersama dengannya sedari kecil.
Umur Adera dan Alena hanya berbeda sekitar tiga tahun saja. Itu sebabnya Adera sangat akrab dengan Alena.
"Kau ini, aku kira kau datang mau menemuiku, eh malah hanya mencari Pamanmu saja dasar gadis nakal." Adera mencubit pipi Alena dan memberikan menggosok rambutnya dengan penuh senyuman.
"Hehehe, aku juga kangen dengan Tante. Sayang Tante tidak pernah lagi mengirimiku uang jajan," keluh Alena dengan wajah menyedihkan.
Meski usia mereka terpaut sedikit Alena sudah diajarkan untuk memanggil Adera Tante sejak dulu. Itu sebabnya dia tidak memiliki masalah dalam pengucapannya.
"Ish, kau hanya ingat Tantemu ini ketika Ibumu tidak memberimu uang jajan kan?" tuduh Adera dengan senyuman.
Alena menganggukkan kepalanya dengan jujur membuat Adera semakin gemas dengan tingkah lucu anak pertama kakaknya ini.
Adera mengajak Alena ke kamarnya supaya dia bisa tinggal di sini. Sedangkan Robert yang tengah berbicara dengan Alvin sibuk melihat ponselnya.
Robert melihat cctv rumah Alvin yang ada di ruang tamu untuk melihat apa saja yang tengah dilakukan Alena di rumah Alvin.
"Kelihatannya kau tidak suka dengan keponakanmu yang satu itu?" tanya Alvin heran saat melihat tingkah Robert.
Alvin memang sangat mengetahui sifat Robert karena mereka telah tumbuh bersama sejak kecil. Dan sedari dulu Robert memang terlihat menjaga jaraknya dari Alena dibandingkan dengan Aleta adik Alena yang berbeda usia setahun.
"Dia terlalu banyak maunya dan cerewet." Robert menjawab seadanya dengan wajah datarnya.
"Kalau Aleta?" Alvin sengaja memancing.
"Aleta ramah, baik dan manis. Dia tidak pernah menyusahkan siapapun dan dia juga tidak pernah banyak ingin seperti Alena." Robert menjawab sesuai dengan apa yang dilihatnya semasa masih kecil.
"Kau suka dengan Aleta ya?" tuduh Alvin kali ini dengan cepat.
"Tidak, mana mungkin! Saya hanya menyayangi Aleta karena sikap manis dan lucunya sedangkan Alena saya juga menyayanginya hanya saja tidak sebesar saya menyayangi Aleta." Robert menjelaskan agar Alvin tidak salah paham.
Alvin menganggukkan kepalanya seolah paham namun senyum yang muncul di bibirnya hanya dia yang dapat mengartikan itu sendiri.
Senyuman itu mengandung sebuah arti yang berbeda jika orang lain memikirkannya berbeda pula.
"Kita akan pergi beberapa hari, aku akan membiarkan Adera yang menjaga Angela dan seluruh penghuni rumah ini." Alvin menyampaikan rencananya pada Robert.
"Baik, Tuan!" Robert menjawab dengan cepat tanpa bantahan sama sekali.
"Masalah kali ini aku hanya akan memberitahu dirimu saja. Kalau saat ini aku akan menyerahkan pekerjaan pada kalian bertiga namun sebelum itu aku ingin memastikan apakah pembuatan senjata di pabrik seusai dengan apa yang aku perintahkan."
Robert mengangguk mengiyakan, setelah semuanya selesai Alvin mengajak Robert ke luar dari ruang kerja.
Alvin berjalan menuju kamarnya sedangkan Robert menuju ke arah luar rumah.
Saat Alvin memasuki kamar Angela langsung memalingkan wajah dan tersenyum. Angela saat ini tengah memandangi foto mereka bertiga yang terletak indah di dinding dengan ukuran besar.
"Kenapa kau sangat suka melihat foto itu Hem?" tanya Alvin lembut sembari memeluk Angela dari belakang.
Alvin menghirup aroma lembut yang keluar dari tubuh Angela dengan penuh senyuman dan aroma itu bisa memberinya ketenangan.
"Foto itu membuatku bahagia," ujar Angela diiringi senyuman. "Apa kau sudah tahu kalau Alena ternyata suka dengan Robert?" Angela melontarkan pertanyaan pada Alvin dengan wajah penuh senyum.
Alvin mengangguk sebenarnya dari dulu Alvin tahu kalau gadis kecil itu menyimpan perasaan pada Robert namun Robert, berpura-pura tidak mengetahui semua itu.
Angela menganggukkan kepalanya dengan cepat. Dulu dia sempat mendengar kalau Robert pernah menyelamatkan Alena dari kasus penculikan dan Alena akhirnya tidak apa-apa dan selamat.
"Kasihan sekali, kuharap Alena mendapatkan cinta sejatinya sama seperti aku mendapatkan cinta sejatiku." Angela berdoa dengan sepenuh hati.
Angela memeluk Alvin dengan erat sembari menghirup aroma tubuh Alvin yang menjadi kesukaannya sekarang.
***
Alena sedang termenung memikirkan kenangan masa kecilnya saat dia masih begitu manja dan senang bercanda.
"Apakah aku harus menyerah?" Alena bertanya entah pada siapa. Tapi yang jelas dia bertanya tentang nasib cintanya yang sampai saat ini masih belum memiliki kejelasan sama sekali.
"Aku tahu aku telah salah jatuh cinta, tapi hati tidak bisa dipaksakan. Aku benar-benar tidak mampu untuk mengolah hatiku, dia akan terus berdetak tidak menentu saat melihatnya." Alena berbicara sembari melihat taman bunga di rumah Angela dari jendela kamar yang ditempatinya.
"Hatiku akan gelisah saat aku tidak mengetahui kabar tentangnya. Aku harus bagaimana? Apakah aku bisa memaksa cinta? Apakah aku harus terus mencoba?" Alena bertanya dengan wajah menyedihkan.
Malamnya Alena tertidur dengan banyak pertanyaan berputar-putar di kepalanya. Ketika Alena bangun pada pagi hari dia mendapatkan kabar kalau Robert telah pergi ke luar negeri bersama Alvin untuk meninjau perusahaan dan pabrik miliknya.
Alena merasa kecewa dan terluka karena Robert pergi tanpa memberikan kabar sama sekali padanya.
Alena makan tanpa semangat sedikitpun. Dia menyuap nasi dengan penuh kemalasan membuat Adera merasa terganggu.
"Kakakku tidak pergi berperang jadi kau tidak perlu khawatir dan bertingkah seperti itu. Maka sekarang kau harus makan dan minum dengan cepat agar kau bisa menyambut dirinya pulang nanti." Adera melontarkan kata-kata itu membuat Alena merona malu dan langsung makan dengan cepat.
Alena memakan sarapannya dan pamit pergi dari rumah Angela untuk menemui Alfred, pria yang menjadi temannya semenjak SMP. Kemanapun Alena bersekolah maka Alfred juga akan ada di sana.
"Kau tidak berubah ya!" Sebuah suara lembut yang terdengar mengalihkan pandangan Alena dari ombak pantai yang membentur pasir yang ada ditepian.
Alena memalingkan wajahnya dan melihat kedatangan Alfred dengan senyuman.
"Kalau aku berubah maka kau akan kesusahan mencari orang seperti diriku lagi." Alena tertawa yang membuat wajahnya terlihat semakin manis dan lembut.
"Hah, memang benar kalau kau berubah maka manusia langka di muka bumi ini akan berkurang satu." Alfred menganggukkan kepalanya sembari mendekat ke arah Angela berdiri.
Alfred membelai rambut Alena dengan penuh kasih sayang membuat semua orang yang melihat akan mengira kalau mereka berdua adalah sepasang kekasih yang saling mencintai.
"Jangan mengusap rambutku!" Alena menggeser tempatnya berdiri dengan wajah penuh keluhan.
"Rambut jelek seperti ini dan aku tidak boleh menyentuhnya sama sekali!" ejek Alfred dengan penuh cemoohan membuat Alena mencebik tidak suka.
"Biarpun jelek tapi banyak yang ingin memiliki rambut yang sama seperti diriku." Alena tersenyum sombong sembari melipat kedua tangannya di d**a.
"Ya, rambutmu sangat langka itulah sebabnya banyak yang ingin memiliki rambut seperti dirimu." Alfred menganggukkan kepalanya lagi mengiyakan.
Sungguh jika orang-orang mendengar percakapan mereka maka orang-orang akan berpikir kalau mereka memang sepasang kekasih dan orang-orang akan mengatakan kalau si wanita tengah merajuk pada si pria.
Pandangan indah yang masuk ke dalam mata semua orang akan membuat gambaran indah yang akan sulit untuk dilupakan.