Suara gemericik air yang mengalir dari kamar mandi membuat Angela terbangun dari tidurnya yang lelap.
Dua hari ini Alvin selalu pulang malam dan meninggalkan dirinya di rumah bersama Erfan dan pelayan lainnya.
Pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan Alvin yang telah selesai mandi. Handuk putih melilit pinggangnya ke bawah hingga lutut.
Melihat Angela terbangun olehnya Alvin tersenyum canggung sembari menggosok rambutnya yang masih basah.
"Maaf mengganggu tidurmu!" Alvin tersenyum lembut sembari merapikan anak rambut Angela yang berserakan.
"Kau sibuk sekali hingga aku tidak bisa melihat dirimu di rumah!" keluh Angela dengan wajah menyedihkan.
"Maafkan aku! Ada sedikit masalah yang terjadi di perusahaan dan aku harus menyelesaikan semuanya sebelum kau melahirkan anak kita." Rasa bersalah menyeruak hati Alvin.
Alvin benar-benar tidak ingin meninggalkan Angela yang saat ini tengah hamil tujuh bulan.
Bayi dalam kandungan Angela saat ini tengah aktif-aktifnya bergerak. Menyebabkan Angela mulai kesusahan untuk melakukan kegiatan apapun.
"Aku sangat merindukanmu!" bisik Angela lembut dengan wajah sendu. Air mata mengalir di pipinya dengan cepat akibat kerinduan yang menyeruak masuk ke dalam jiwanya.
Sudah beberapa hari ini dia tidak bisa melihat Alvin di rumah. Alvin yang biasanya selalu menemani dirinya kini sibuk dengan suatu urusan.
"Aku juga merindukanmu, Sayang!" bisik Alvin lembut dengan wajah manis penuh senyuman.
Diraihnya Angela oleh Alvin sebelum ciuman demi ciuman lembut dia tuangkan demi melepaskan kerinduannya beberapa hari ini.
Alvin memeluk Angela erat melepaskan segala rasa yang tumpah ruah di hatinya.
Berat rasanya untuk membiarkan Angela sendirian di rumah apalagi dengan kondisi perut Angela yang makin membesar setiap harinya.
"Bagaimana keadaanmu sayang di dalam sana?" Alvin tersenyum lembut sebelum mencium lembut perut Angela.
Segera bayi yang ada di dalam perut Angela langsung menendang meminta untuk di sentuh lagi dengan tangan dingin Alvin sehabis mandi.
Bayi itu menendang dengan kuat membuat Angela meringis kesakitan.
"Jangan menendang, Sayang! Apakah bocah kecil Daddy ingin menjadi pemain bola nantinya?" tanya Alvin dengan senyuman lembut. Wajahnya penuh dengan senyuman dan juga kebahagiaan.
"Sayang jangan mengajaknya berbicara, setiap kali kalian berinteraksi perutku akan langsung menjadi ajang arena gulat!" canda Angela dengan senyuman.
Segera bayi lucu itu berhenti bergerak dan diam mendapat teguran dari Angela. Sontak hal itu membuat Alvin tertawa senang.
"Kau benar-benar takut dengan kemarahan Mommymu ya!" tukas Alvin kesal saat merasakan bayinya tidak lagi menendang seperti tadi.
"Sayang, apa kau tidak rindu dengan Daddy?" tanya Alvin dengan wajah penuh kesedihan yang dibuat-buat.
Namun tetap saja bayi kecil lucu itu tidak bergerak, sebagai gantinya dia hanya diam dan tetap tenang meski Alvin memancing dengan berbagai macam cara.
"Kau takut dengan Mommymu rupanya!" ejek Alvin dengan suara kesal saat bayi mereka lagi-lagi tidak menanggapi upayanya sama sekali.
"Seperti Daddy tidak saja," sindir Angela kemudian yang membuat Alvin tersenyum canggung.
"Daddy tidak takut pada Mommy, Daddy hanya tidak ingin Mommy bersedih dan mengeluarkan air mata." Alvin langsung berkilah dengan wajah diiringi senyuman canggung.
Alvin bangkit dan duduk di sisi Angela sembari mengusap pipi kemerahan Angela dengan penuh kasih sayang.
"Aku merindukanmu! Bolehkah aku meminta jatahku yang tidak pernah kau berikan beberapa hari ini?" tanya Alvin dengan lembut.
Angela mengangguk malu-malu dengan rona merah menjalar jelas di pipi dan lehernya.
"Kau cantik jika malu-malu seperti ini," goda Alvin dengan iringan tawa lembut saat dia mulai bermain dengan leher Angela.
Alvin menghembuskan nafasnya dengan sengaja di leher Angela menyebabkan Angela mengalami geli dan menggelinjang bergerak tak tentu arah.
"Kau sangat suka aku mengigit telingamu 'kan?" tanya Alvin dengan senyuman lembut. Kedua tangannya dengan nakal mulai menyentuh Angela secara tidak tepat.
"Jangan menggodaku jika kau tidak ingin memberi." Angela menampilkan wajah masamnya saat melihat Alvin hanya ingin bermain-main saja dengan tubuhnya.
"Siapa yang bilang tidak ingin? Aku hanya ingin melakukan pemanasan saja memangnya salah ya?" tanya Alvin diiringi senyuman nakal di bibirnya.
Dengan lembut Alvin membaringkan Angela agar tidak menyakiti dan melukai bayi mereka yang ada di dalam sana.
Kecupan-kecupan lembut yang dilayangkan Alvin membakar gairah mereka berdua menyebabkan ruangan langsung menjadi panas dan penuh suara-suara merdu.
Dua insan yang tengah beradu itu sedang menikmati waktu-waktu mereka berdua yang sempat hilang.
Alvin mengecup lembut tunas Angela yang sudah kehilangan penutupnya, menyentuh secara perlahan guna merangsang agar air asi milik Angela lancar keluar nantinya.
Semenjak usia kehamilan Angela memasuki usia lima bulan Angela mulai aktif membersihkan kedua tunas kecoklatan itu agar bisa mengeluarkan ASI dengan lancar dan bagus.
"Eh airnya sudah mulai ke luar ya, Sayang?" tanya Alvin heran saat merasakan cairan aneh memasuki mulutnya.
"Iya, sudah mulai ke luar walau masih sedikit sih." Angela menganggukkan kepalanya mengiyakan.
Dia juga heran kenapa ASI miliknya bisa ke luar dengan cepat. Mungkin akibat ia rajin melakukan pemijatan dan juga dipijat oleh Alvin.
"Bagus, jadi bayi kita tidak perlu s**u bantu lagi." Alvin nampak senang dan kembali melanjutkan aksinya dengan gerakan-gerakan rangsangan lainnya.
Tangan Alvin juga tidak tinggal diam, kedua tangan itu mulai menelusuri lekuk tubuh Angela mencari celah kosong yang belum sempat dijamah dan dilaluinya.
Alvin menegakkan tubuhnya untuk melihat wajah manis Angela yang telah lama tidak disentuhnya.
Wajah yang dari awal telah menghipnotis dan membuatnya jatuh cinta. Angela juga melakukan hal yang sama, mereka berdua saling tatap menatap dengan wajah penuh kasih sayang.
Sebelum Alvin dengan cepat melempar handuk yang tadi menutupi tubuhnya.
Alvin mengambil posisi untuk mulai bertanding dengan gerakan lambat namun memikat Alvin memulai olahraga malam mereka.
"Dokter mengatakan ini baik untuk kehamilanmu, Sayang!" Alvin berbisik lembut di telinga Angela saat dirinya telah berhasil menyatukan diri dengan Angela.
Rasanya Alvin benar-benar malas untuk ke luar dari tempat nyaman itu. Ruangan kecil itu terasa panas dan meremas miliknya dengan kuat.
"Sayang, Daddy datang mengunjungi dirimu. Kali ini Daddy tidak akan pergi menjauh lagi darimu sampai kau hadir ke dunia ini menemui Daddy dan Mommy." Alvin begitu bahagia.
Senyuman lembut yang tidak pernah terlihat di wajah datarnya jika di luar akan terus muncul saat ia tengah bersama istri dan anaknya.
Alvin bergerak dengan lembut menghentakkan dirinya kian dalam berharap bisa menjadi satu dengan Angela meski hanya bisa bergerak perlahan.
Alvin tersenyum senang saat melihat Angela menanggapi gerakannya dengan suara merdu miliknya yang begitu menjanjikan.
Ruangan yang tadinya hanya dipenuhi percakapan langsung berganti dengan suara-suara penuh kesenangan dari dua insan yang sedang berolahraga malam.
Ketika akan mencapai puncak Alvin membenamkan dirinya semakin dalam dan menyembunyikan wajahnya di leher Angela dengan segera.
Hembusan nafas panas Alvin membuat bulu kuduk Angela berdiri.
Alvin tersenyum lembut saat ia keluar dari tubuh Angela dan menyelimuti tubuh mereka berdua dengan selimut.
"Tidurlah! Aku janji tidak akan meninggalkan dirimu sampai kau melahirkan anak kita nantinya." Alvin membelai rambut Angela dengan lembut membuat mata Angela mengangguk dan kemudian mulai memejamkan matanya untuk masuk ke dalam mimpi yang indah.
Alvin mencium kening Angela sebelum ikut memasuki alam mimpi.
Paginya, Alvin terbangun dan langsung melihat Angela yang tengah tertidur dengan wajah nyenyak.
Segera, Alvin mengambil handuk yang dilemparnya kemarin malam dan memakainya menuju ke kamar mandi.
Alvin membersihkan diri dan memakai pakaiannya sebelum masuk ke ruang kerjanya.
Alvin memanggil Robert melalui ponselnya dan menunggu kedatangan Robert di dalam ruangan itu sembari bermain dengan komputernya yang ada di dalam ruangan itu.
"Ada apa Tuan memanggil saya?" tanya Robert dengan hormat saat memasuki ruangan Alvin.
"Apa kau sudah menemukan keberadaan Farrel? Aku tidak ingin ada duri yang suatu waktu bisa merusak dagingku." Alvin mengeruk jarinya di meja.
Bunyi ketukan yang senada membuat ruangan itu memiliki iramanya sendiri.
"Dia pergi ke negara N melalui bandara, Tuan! Saya telah menyuruh orang kita di sana untuk mengincar dirinya dan juga, saya akan memastikan kalau dia tidak bisa masuk ke sini lagi mesti memakai identitas lain." Robert menunduk dengan hormat sembari menampilkan raut wajah penuh hormat.
"Bagus, dia ternyata bisa menipu kita dan kabur hingga tidak bisa kita ketahui." Alvin mengeram ketika mengingat kebodohan anak buahnya.
"Saya akan memastikan tidak ada yang akan merebut Nona Angela dari Anda, Tuan!" Robert berjanji dengan penuh tekad.
"Bagus, aku mengandalkan dirimu Adera, dan Rode untuk mengurus semua tanggung jawab itu. Lagipula aku juga sudah membagi tugas kalian agar semuanya bisa kalian kerjakan sesuai kemampuan kalian."
"Iya Tuan!" Robert mengangguk dan pergi meninggalkan ruangan itu untuk mencari Adera yang tinggal di sini.