Alvin memasuki kamar Angela kembali, ketika melihat ke arah tempat tidur ternyata Angela telah terbangun dan menatap dirinya dengan mata besar yang berair.
Angela berusaha bangkit untuk duduk dan selimut yang melilit tubuhnya jatuh menampilkan tubuhnya yang dipenuhi bekas merah dan ungu aktifitas mereka semalam.
Alvin menelan ludahnya saat melihat tubuh Angela. Rasa haus kembali menyerang Alvin membuatnya langsung melangkah menuju ke arah Angela.
Melihat mata penuh gairah Alvin Angela langsung menarik selimut guna menutupi tubuh lembutnya meski telah terlambat.
"Jangan, bagaimana jika Erfan bangun nanti?" tanya Angela berusaha menyadarkan Alvin agar tidak memikirkan apa yang ada di dalam otak Alvin.
"Tidak apa-apa, Sayang! Kita masih sempat satu ronde sebelum jam bangun Erfan. Jadi kau tidak perlu khawatir." Alvin berusaha membujuk Angela agar mau.
Sungguh kerinduan Alvin masih menusuk hatinya saat melihat mata dan wajah Angela.
"Entahlah Angela, seseorang akan kurang kerinduannya ketika melihat wajah wanita yang dicintainya tapi aku semakin melihat wajahmu semakin rindu dan besar cintaku padamu." Alvin mendesah sembari melepas bajunya satu-persatu dan mulai mendekat pada Angela.
Dan benar saja,
Setengah jam setelah aktifitas melelahkan Alvin dan Angela usai. Suara tangisan keras Erfan yang kehilangan ibunya terdengar dengan keras dari kamarnya yang berada di sebelah kamar Alvin.
Angela yang kebetulan telah selesai mandi dengan rambut yang belum kering berjalan dengan cepat ke kamar Erfan melalui pintu penghubung.
Meski perutnya telah membesar Angela masih aktif bergerak di bawah larangan ini dan itu dari Alvin.
Pintu penghubung itu sengaja dibuat oleh Alvin mengingat mereka akan menanti kehadiran anak ke-dua mereka dan bertujuan untuk memudahkan mereka jika nanti bayi kecil itu menangis.
"Lain kali jangan berlarian seperti itu, Angela!" delik Alvin dengan marah.
Matanya menatap tajam pada sang istri yang tidak pernah memikirkan konsekuensi dari tindakan yang diambilnya.
"Maafkan aku!" jawab Angela dengan senyuman bersalah.
Angela hampir saja tergelincir ketika melewati pintu penghubung, beruntung Alvin dengan sigap menyambut tubuh montoknya.
"Yang sakit nantinya dirimu bukan aku, aku hanya akan bisa melihat dirimu saja menangis." Lagi Alvin memarahi Angela yang kembali bersikap cuek setelah rasa bersalahnya hilang.
"Biar aku yang menggendong Erfan! Perutmu sudah tidak memungkinkan untuk membawa beban berat lagi," keluh Alvin sembari berjalan mendekat ke tempat tidur putranya.
Kamar Erfan dipenuhi dengan hadiah mobil-mobilan dan juga robot'. Di sudut kanan kamar ada seluncuran dengan model robot yang dibuat setinggi satu setengah meter. Di sebelahnya ada kotak mainan yang berisi puluhan mainan yang dibeli Alvin khusus.
Sebelah kiri ada lemari pakaian Erfan serta tempat tidur khusus untuk bayi. Kamar Erfan yang luas memudahkan Alvin mengatur sesuka hati.
"Mommy!" panggil Erfan lembut, air matanya masih mengalir di pipinya. Wajahnya yang lucu melihat ke arah Alvin dan Angela dengan penuh harap.
Anak itu masih duduk di tempat tidur dengan robot berbentuk manusia berada di pelukkannya.
Robot berwarna hitam itu adalah robot pertama yang dibelikan Alvin untuknya.
"Daddy," panggilnya lagi saat Angela tidak menggubris seruannya.
Angela menggeleng tak berdaya melihat sifat anaknya yang terbilang lucu dan menggemaskan.
Erfan terkadang akan bertingkah menyebalkan seperti Alvin dan terkadang akan bertingkah dewasa.
"Kau benar-benar meniru sifat ibumu!" goda Alvin penuh tawa saat melihat tatapan penuh harap dari Erfan.
"Dia lebih meniru dirimu," tolak Angela dengan cepat.
Maklum muka datar tanpa ekspresi Alvin sudah mulai terlihat di wajah Erfan. Apalagi saat dirinya diganggu oleh anak perempuan yang terkadang mereka temui di luar.
"Tentu saja! Aku Ayahnya, tanpa diriku bagaimana mungkin dia akan ada di dunia ini!" tukas Alvin cepat yang membuat Angela memutar matanya malas.
"Kau dan anakmu sama saja."
Angela berjalan kembali ke kamarnya dan mendapati ruangan itu sudah bersih dan rapi. Di atas meja sudah tersedia s**u yang biasa diminumnya semenjak hamil anak ke-duanya ini.
"Hah, enaknya seperti ratu!" seru Angela senang sembari mengambil sisi tersebut dan meminumnya.
Setelah menghabiskan semua s**u itu Angela meletakkan gelas itu kembali ke tempat dia mengambil s**u tadi.
"Baguslah kalau kau suka," jawab Alvin senang. Alvin memang begitu senang dan sangat suka memanjakan Angela dengan penuh cinta.
"Bagaimana kabarnya adik Selena itu?" tanya Angela iseng saat mereka sudah saling diam sejak lima menit yang lalu.
Apalagi Erfan nampak sibuk bermain dengan robot dan mobil-mobilan miliknya.
"Dia! Aku lupa menanyakan keadaannya pada anak buahku, entah masih hidup atau sudah mati aku juga belum tahu." Alvin mengangkat bahunya tinggi.
Alvin benar-benar lupa dengan keberadaan Mona yang selama ini disekap oleh anak buahnya untuk memuaskan nafsu mereka.
Angela mencoba melihat raut wajah Alvin ketika dia tidak menemukan perbedaan di sana Angela akhirnya mengangguk.
"Aku hanya takut dia kabur dan memiliki kesempatan untuk menghancurkan keluarga kita. Apalagi saat ini aku sedang menanti anak kedua kita." Angela mengusap perutnya.
Angela tidak ingin disebut kejam, tapi jika musuh tidak mereka selesaikan sekarang maka mereka yang akan diselesaikan oleh musuh.
"Kau tenang saja dan tidak perlu takut, selagi kita masih memiliki Robert dan yang lainnya maka semua kemungkinan itu tidak akan pernah terjadi." Alvin membelai rambut Angela lembut.
Matanya memancarkan cinta yang luar biasa dalam.
"Adera itu apakah adik kandung Robert yang sebenarnya?" tanya Angela penasaran. Pasalnya dia tidak pernah melihat gadis cantik itu sejak dulu.
Adera baru saja muncul beberapa hari ini dihadapannya untuk melindungi sekaligus terlihat mengatur sesuatu di rumah.
"Apakah kau curiga aku berselingkuh dengannya?" tanya Alvin tak terima saat melihat wajah penasaran Angela.
"Siapa yang menuduhmu? Lagipula selain aku tidak akan ada lagi yang akan menginginkanmu." Angela tersenyum mengejek dengan wajah penuh cemoohan.
"Eh kau menghinaku?" tanya Alvin tidak habis pikir dengan tingkah menggemaskan sang istri.
"Tidak! Aku hanya menyampaikan fakta dan kebenaran saja. Siapa yang mau dengan wajah datar dan tanpa ekspresi milikmu itu? Siapa yang mau dibentak tiap hari? Dan siapa juga yang mau dengan pria m***m, c***l dan tak tahu malu sepertimu ini?" tanya Angela bertubi-tubi.
"Kau," jawab Alvin simpel dan santai.
Segera wajah Angela langsung merona malu dengan senyuman canggung di bibirnya.
Angela menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari memalingkan wajah ke arah lain karena malu.
"Jawab saja! Apakah benar Adera itu adik Robert atau tidak?" tanya Angela marah dengan wajah yang terlihat menggemaskan.
"Iya, dia adik kandung Robert dan berkuliah di luar negeri. Sejak kecil dia dilatih untuk mengurus perusahaan dan juga dia dilatih untuk bertarung sekaligus. Aku tidak nyaman meninggalkan dirimu bersama Robert itu sebabnya aku menyuruh Adera segera kembali ke sini."
Alvin menjawab dengan jujur, wajah memerah Alvin terlihat lucu.
"Jadi kau cemburu pada batu es itu?" Angela tersenyum jahil, jari lembutnya mencolek pipi Alvin dengan gemas dan penuh kenakalan.
"Iya aku cemburu!" Alvin mengaku sembari menyembunyikan wajahnya.
"Aku tidak suka melihatmu bersama laki-laki lain, aku tidak suka melihatmu dekat-dekat dengan orang lain apalagi ketika aku tidak ada." Alvin mengangguk dengan wajah penuh keluhan.
Angela yang mendengar semua ungkapan Alvin tertawa senang dengan wajah manis terlihat lucu dan indah.