4

1526 Words
Suara rintihan sepasang manusia memenuhi sebuah ruangan, di dalam gelapnya malam yang pekat kegiatan yang tengah dilakukan dua insan itu terdengar jelas memasuki indra pendengaran. Derit ranjang yang bergoyang menandakan kegiatan di dalam sana masih berlangsung dengan ganas dan panas. Si pria dengan penuh gairah terus menghentak tanpa memedulikan wanita yang tengah ditindihnya. Ia melesakkan tubuhnya kian dalam pada wanita itu seraya memastikan wanita di bawah tubuhnya masih sadar dan membuka mata. "Aku mohon lepaskan aku!" pinta si wanita dengan suara memelas saat kedua tangannya yang terikat erat tidak bisa juga dilepaskan meski ia telah memenuhi hasrat buas si lelaki yang masih terus menghentak ke dalam dirinya. "Melepasmu?" tanya si lelaki dengan suara serak masih terbawa nafsu dan kesenangan dunia. "Iya, aku mohon!" pinta si wanita dengan suara memelas. Andai saja dia tahu semua akan seperti ini maka dia tidak akan mau datang ke rumah ini dan diajak berhubungan intim oleh pria tampan yang berhati bak iblis ini. Wanita cantik itu terbuai oleh bujuk rayu serta harta yang diperlihatkan oleh lelaki yang saat ini tengah menggarap dirinya sampai kering tidak bersisa seperti ini. Sudah dua jam dia terus menemani pria ini di atas ranjang dan hanya diberi waktu istirahat sekitar satu jam saja sebelum kembali dipaksa melayani nafsu besarnya yang tidak pernah puas tersebut. "Tidakkah kau merasakan kenikmatan dari kegiatan kita?" tanya pria itu dengan penuh semangat. Pria itu terus menghentak dan menusuk kian dalam sembari bermain dengan pisau lipat kecil di tangannya. Entah sejak kapan dia memegang pisau itu si wanita benar-benar tidak bisa mengingat sama sekali. Si wanita berpikir darimana pisau itu datangnya dan kapan si pria mulai memegang pisau sembari termenung. Satu goresan telah melekat di pipi cantik itu, darah mengalir ke luar dengan deras. Bukannya mengiba pria itu malah terlihat senang sekaligus bahagia dengan apa yang terjadi pada si wanita yang malang. "Sakit!" rintih si wanita saat merasakan luka di pipinya. Dia segera tersadar dari lamunan panjangnya dan menatap si lelaki yang tengah menjilati ujung pisau yang meninggalkan bekas darah itu. "Sakit? Tapi ini belum seberapa, Sayang!" bisiknya lembut dengan suara serak penuh dengan kesenangan. "Aku merasakan sakit yang lebih parah dari ini." Si pria terus menghentak dan kembali bermain dengan pisau di tangannya. Pisau itu meliuk-liuk di pipi sang wanita bak ular yang tengah mencari mangsa. Segera satu goresan lagi melekat di pipi kanan sang wanita di bawah bekas pertama yang masih mengeluarkan darah merah segar. Satu lagi luka membuat si wanita memekik kesakitan di antara kesenangan yang mereka rasakan. "Apakah sakit? Bagaimana rasanya? Kau diberi kesenangan sekaligus rasa sakit dalam saat bersamaan, rasanya menyenangkan bukan?" tanya pria itu dengan bibir penuh senyuman. "Kau jahat sekali!" ujar si wanita dengan rintihan yang sangat sulit dibedakan. "Aku tidak jahat, hanya saja keadaan yang mengubahku menjadi orang jahat seperti ini." Si pria dengan senyum lembut kali ini mengukir pisau itu di bibir si wanita membuat si wanita tidak sanggup lagi bersuara. Setelah itu dia kembali melanjutkan kegiatan yang tadi dilakukannya tanpa memikirkan lagi bagaimana keadaan si wanita. *** Alvin tengah duduk bersama Marco dan Robert di ruang kerjanya. Sedangkan Adera tengah bermain dengan Erfan di ruang tamu dengan Angela yang sedang duduk di sofa sembari mendengarkan musik. Erfan nampak menerima kehadiran Adera layaknya ia menerima kehadiran Marco dan semua orang yang baru dikenalnya. "Tante, kapan adik lahir?" tanya Erfan dengan suara cadelnya pada Adera membuat Adera terdiam sembari melihat ke arah Angela seolah-olah bertanya. "Dua bulan lagi. Adik Erfan akan lahir setelah dua bulan lagi." Angela menjawab dengan cepat. Wajah Angela dipenuhi senyuman dengan mata menyipit. Angela mengusap perutnya yang sudah kian membuncit. Untuk melihat kakinya saja ketika berdiri saja Angela sudah begitu kesusahan hingga akhirnya dia memilih untuk tidak melakukan kegiatan berat apapun. Alena muncul dari pintu depan, di sebelahnya ada Alfred yang tengah membawa beberapa barang di tangannya. "Apa itu sayang?" tanya Adera dengan wajah heran. Adera nampak senang melihat kedatangan Alena yang memang sejak kecil selalu disayanginya. "Tante," sapa Alena dengan penuh semangat. Alena menarik Alfred mendekat ke arah Adera untuk bisa ikut berbincang. Alena juga nampak gemas melihat Erfan yang lucu dan imut. "Kalau kau mau, kau bisa membuat satu dan menyimpannya di rumahmu." Adera berkata dengan malas saat melihat wajah bahagia Alena ketika bertemu dengan anak kecil. "Kenapa tidak Tante saja yang duluan membuat satu agar bisa dipeluk dan di sayang." Alena melirik Adera malas sembari mencibir. Wajah cantik Alena terlihat lucu saat menampilkan raut seperti itu dan membuat Alfred dan Adera menjadi semakin gemas dengan tingkahnya. "Hei anak durhaka! Kau cari dulu pasanganmu baru menyuruh Tantemu mencari. Tante ini pekerja keras dan juga sangat sibuk sedangkan kau, kau hanya suka bermain sana-sini." Adera mengejek Alena. Hal ini sukses membuat wajah Alena merona malu. "Tante salah, sebagai contoh harusnya Tante yang mencari pasangan terlebih dahulu baru kemudian aku menyusul lagipula untuk apa aku mencari toh jika aku tidak laku ada Alfred yang mau menerimaku." Alena tersenyum mengejek membuat Adera menjadi kesal dan ingin sekali memeriksa dari apa otak anaknya terbuat. "Bocah nakal," teriak Adera sembari berpura-pura ingin mencubit Alena membuat suasana ruang tamu itu menjadi gaduh. Ini yang disukai oleh Angela semenjak kedatangan Alena dan Adera ke rumah mereka. Suasana rumah langsung ramai dan menyenangkan. Angela suka keramaian yang ditimbulkan akibat keributan Adera dan Alena. "Kenapa di luar ribut sekali?" tanya Alvin saat mendengar tawa riuh yang datang dari ruang tamu di lantai bawah rumahnya. Alvin berdiri dan ke luar dari ruang kerjanya hanya untuk melihat suasana ramai di ruang tamu apalagi semua yang ada kecuali Angela sedang duduk lesehan di karpet sembari bermain dengan Erfan. "Sainganmu datang Robert," ejekan Alvin terdengar saat melihat Robert juga ikut ke luar dari ruang kerja mengikuti Alvin. Robert hanya melirik pemandangan di bawah sebentar sebelum kembali terlihat tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Entah apa yang terjadi hingga membuat Alena batuk-batuk dan berjalan menjauh dari Erfan dan Angela. Alfred nampak mengikuti dari belakang sembari menepuk punggung Alena dengan lembut. Dari belakang Adera menyusul dengan membawa minuman di tangannya. Alfred nampak berbisik ke telinga Alena hal itu membuat Alena mengangguk sembari menerima minuman yang diberikan Adera padanya. Robert melihat semua itu dari atas dengan tingkah tak peduli sama sekali, dia mengabaikan semua yang terjadi, tangan dan matanya kembali memeriksa layar ponselnya dengan hati-hati. Alvin tersenyum sembari melangkah turun dengan pelan melewati tangga melingkar yang menuju ke lantai bawah. Alvin turun dengan hati-hati matanya sejak tadi tidak lepas dari wajah cantik Angela, akhirnya Alvin sampai di tempat Erfan, ia duduk lesehan di lantai ikut bermain dengan senyuman di wajahnya. "Bagaimana kabar anak Daddy hari ini?" tanya Alvin dengan lembut sembari membelai perut buncit Angela dengan Erfan dipelukannya. "Baik Daddy!" jawab Erfan dengan penuh senyuman. Wajah tampannya yang biasanya terlihat datar langsung tersenyum bahagia saat melihat kedatangan Alvin. "Yang di dalam sini bagaimana?" Alvin bertanya dengan senyuman seraya mengusap perut Angela dengan lembut. "Baik juga Daddy!" Angela menjawab dengan suara lirih yang menyerupai anak kecil, segera Alvin tertawa dan berusaha untuk tidak memeluk Angela yang menurutnya menggemaskan. "Apakah kau sudah makan?" Alvin bertanya dengan nada lembut yang terdengar jelas memasuki telinga semua orang. Alena sendiri saat mendengar itu langsung memalingkan wajah melihat, biasanya ia hanya akan mendengar nada dingin Alvin dan bahkan dia biasa melihat wajah datar tanpa ekspresi Alvin. Seketika hati Alena ikut tersentuh, matanya melirik ke lantai atas tempat di mana Robert masih bermain dengan ponsel miliknya. 'Kapan Paman bisa bersikap lembut seperti itu juga padaku? Ingin sekali rasanya melihat sisi lain Paman sama seperti saat Paman bersikap lembut pada Aleta.' Alena terlihat sedih. Wajahnya langsung berubah murung hingga kembali melihat ke arah lain. Alena benar-benar tidak mengerti kenapa Robert selalu bersikap dingin dan tidak peduli padanya. Padahal dia sudah melakukan berbagai macam cara untuk membuat Robert meliriknya namun sekalipun Robert tidak pernah peduli dan malah terus mengabaikan dirinya. "Apa kau sudah tidak apa-apa?" Alfred bertanya dengan suara lembut saat melihat wajah murung Alena. Sebagai seseorang yang selalu menemani Alena, Alfred tahu kapan Alena sedih dan kapan Alena butuh perhatian. "Tante! Bisakah aku meminta sedikit makanan? Alena sedari tadi belum memakan apapun, dia dan aku sibuk melakukan pekerjaan kami hingga lupa mengisi perut. Aku yakin penyakit magh yang dideritanya kambuh." Alfred terlihat memohon dengan suara lembut miliknya. "Kau belum makan? Berapa kali aku mengatakan padamu hah? Dasar anak nakal!" Meski terlihat marah dan kesal Adera tetap melangkah menuju dapur, ia mengambil makanan dari sana yang baru saja dipanaskan. Adera mengambil porsi yang lumayan agar Alena bisa mengisi perutnya yang kecil tapi bisa menampung banyak makanan itu. "Makanlah pelan-pelan!" Adera meletakkan makanan itu di dekat Alena kemudian melangkah menjauh. Adera masih menyempatkan diri untuk mengintip ke arah Robert yang menampilkan raut wajah masam dan tidak suka pada layar ponsel miliknya. Begitupun Alvin yang menyunggingkan senyuman cemoohan sembari mengajak istrinya menuju ke dapur untuk ikut mengisi perut. "Kau mau makan apa? Aku akan memasak semua hidangan sesuai dengan apa yang kau inginkan." Alvin mendudukkan Angela di meja makan dengan senyuman lembut. Di tangannya Erfan masih dengan antengnya diam dan menunggu apa yang akan dikerjakan oleh Alvin. "Kau juga duduk ya, Daddy akan memasak sesuatu untuk Mommy dan adikmu." Alvin menarik kursi bayi yang ada di dekat meja makan dan meletakkan si kecil Erfan di sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD