6

1623 Words
Ketika cinta tidak menemukan rumahnya, haruskah aku mencari rumah lain sedangkan hatiku telah terpaut bersamanya. Alena o0o Pelayan wanita itu memekik dengan keras saat tubuhnya jatuh terjungkal ke belakang. Dengan sigap Farrel menekan tombol untuk menutup pintu yang tadi dibuka oleh pelayan itu. "Siapa yang memberimu izin masuk ke kamarku? Siapa yang membiarkan dirimu menggodaku dan siapa yang mengirimmu kemari?" Farrel melontarkan pertanyaan bertubi-tubi sembari menekan tombol yang ada di kepala ranjang dengan marah karena belum jua ada pergerakan dari luar. Cukup lama, beberapa orang masuk dengan tergesa-gesa, mereka melihat gadis yang terlihat menyedihkan itu tanpa perasaan mereka mulai menunduk menjelaskan kalau mereka tidak peduli. "Kalian bawa wanita ini ke ruang kebahagiaan dan menyentuhnya secara bergiliran. Aku ingin dia tahu siapa dirinya dan betapa murah harganya." Farrel memberikan perintah. "Aku paling benci dengan wanita yang bersikap murahan." Farrel melempar pakaiannya yang sempat disentuh wanita pelayan tadi dengan kemarahan yang luar biasa. "Kau akan mendapatkan karma atas kejahatanmu, sudah berapa wanita yang mati di tanganmu bahkan anak kecil juga tidak kau lepaskan. Kau itu kejam dan juga tidak berperasaan," teriakan wanita itu terdengar keras dan jelas. Wajah wanita itu dipenuhi dengan ketakutan dan kebencian. Dia benci karena tidak berhasil naik ke ranjang Farrel, sekarang dia takut dibunuh seperti wanita-wanita malang lainnya. Dengan kejam dan tidak berperasaan tubuh wanita itu diseret ke arah ruang bawah tanah tempat para anak buah Farrel berkumpul dan berjaga. Di sudut sebelah kanan ada ruang tertutup yang merupakan ruang kebahagiaan yang dikatakan oleh Farrel. "Sebenarnya kita bisa menikmati hari yang indah bersamanya sebelum Tuan muda membunuhnya." Gelak tawa terdengar memenuhi ruangan itu saat melihat wajah menyedihkan gadis malang itu. Mereka melangkah maju dan mulai menarik pakaian yang dikenakan oleh gadis pelayan itu dengan cepat. Teriakan putus asa serta jeritan kesakitan menjadi sebuah melodi bagi mereka yang ada di sana. Mereka semua sudah terbiasa mendengar teriakan dan jeritan putus asa seperti ini. Segera salah satu dari mereka mengambil langkah pertama untuk memulai laga pertarungan yang tidak seimbang itu. Bak kucing yang menunggu giliran satu-persatu dengan sabar menunggu rekan mereka siap sebelum mendapatkan giliran maju untuk bertarung. Gadis malang yang bekerja sebagai pelayan itu hanya bisa pasrah saat tubuhnya digilir oleh orang-orang itu. Mau berteriak pun dia tidak lagi memiliki keinginan. Harimau mana yang melepaskan mangsa yang telah masuk ke dalam mulutnya. Wanita pelayan itu terlihat pasrah saat cairan putih itu meluber dari celah kecil miliknya. Bahkan ada beberapa cairan yang disemprotkan di wajah, d**a serta bagian-bagian lain yang menurutnya tidak patut. Puas menganiaya wanita pelayan itu sampai keinginan mereka terpenuhi, wanita yang sudah tidak berdaya itu dibersihkan sebelum dilempar ke ruang kebahagiaan yang disebutkan Farrel tadi. Dia tergeletak menyedihkan di lantai yang sekarang terlihat bersih itu. Tapi tidak tahu seperti lantai itu kemudian setelah ada korban yang masuk ke dalam ruangan itu. Farrel melangkah turun dari lantai atas, ia melirik anak buahnya yang tengah bermain kartu di sebelah ruang kebahagiaan. Farrel tahu anak buahnya pasti baru saja selesai bersenang-senang dengan wanita yang baru saja dilempar ke bawah. "Dia di ruang kebahagiaan, Tuan! Dia sudah tidak sabar menunggu Anda mungkin." Salah satu dari mereka yang melihat kedatangan Farrel berseru dengan gembira. "Kalian pasti telah selesai bersenang-senang bukan?" Farrel tersenyum dengan kepala menggeleng, ia melangkah ke ruang yang disebutkan anak buahnya tadi. Langkah kaki Farrel begitu mantap dan penuh kepercayaan diri yang tinggi. Dengan pelan, Farrel membuka pintu ruangan itu. Langkah kaki Farrel yang bergema di dalam sana membuat wanita pelayan yang tergolek lemah itu menggeser tubuhnya dengan putus asa. Air mata, tangis kesedihan serta ketidakberdayaan terlihat jelas di wajahnya yang kian memucat saat langkah kaki Farrel semakin dekat menunjuk ke arah dirinya berada. "Kau takut? Kenapa saat menggodaku tadi dan masuk ke ruang rahasiaku kau tidak takut ha?" Farrel tersenyum kecil sembari mengeluarkan pisau lipat kecilnya. Pisau lipat inilah yang menjadi temannya, pisau lipat inilah yang menjadi saksi bisu perjuangannya dan pisau lipat inilah yang menjawab semua keluh kesahnya. Farrel menatap jauh mengenang bagaimana dirinya bersembunyi di negeri lain, bersembunyi seorang diri setelah semua keluarganya mati dibunuh oleh Alvin. Farrel benci sekaligus dendam pada Robert yang terus-menerus memburunya dengan berbagai cara. Hingga ia terlempar di negeri ini, dia benci karena hanya foto Angela yang menemani dirinya dalam suka dan duka bersama dengan pisau lipat ini. "A-a-aku menyesal, Tuan! Tolong, kumohon padamu untuk melepaskan diriku dan membiarkan aku pergi. Aku janji tidak akan membuka rahasiamu pada orang lain." Wanita itu memelas dengan wajah menyedihkan. "Terlambat, tidak akan aku biarkan siapapun melihat wajah cantik Angela. Siapapun itu, dan kau! Kau harus mati." Farrel melangkah mendekat dan menginjak d**a wanita itu. Di saat dadanya tersengal-sengal karena mulai kekurangan oksigen Farrel melepas injakan kakinya. Saat itulah si wanita pelayan menghembuskan nafas lega sembari terburu-buru mengambil nafas. Farrel menghidupkan lampu agar ruangan itu terang namun bagi si wanita itu adalah mimpi yang sangat buruk dan benar-benar membuatnya mual dan muntah. Banyak kepala wanita dan anak-anak yang terpanjang di dalam lemari yang ada di ruangan itu. Kepala-kepala itu nampaknya diawetkan dengan bahan khusus hingga tidak membusuk sama sekali. Banyak lemari di sana dan setiap lemari memiliki isinya masing-masing. Ada lemari bening yang diisi dengan bola mata yang terlihat indah dan menakjubkan. Ada lagi lemari yang berisi tulang belulang manusia yang disusun sedemikian rupa hingga membentuk hal-hal yang menarik. "Kau lihat! Wanita-wanita ini adalah wanita yang berusaha meniru penampilan Angela 'ku. Mereka semua pantas mati, hanya Angela yang layak terlihat cantik dan menarik." Farrel melihat kepala-kepala yang terpajang di lemari. Senyumnya makin melebar saat merasakan ketakutan dari wanita pelayan yang tergolek menyedihkan, wajahnya begitu menakutkan dengan keringat dingin yang mengucur deras dari tubuhnya. Air mata wanita pelayan itu juga semakin deras saat melihat Farrel mengeluarkan alat-alat penyiksaan miliknya. "Kau berani memasuki ruangan itu maka kau pantas mati. Kau tidak berhak untuk hidup setelah melihat wajah Angelaku dengan mata kotor yang kau miliki." Farrel menarik kaki wanita itu dan menyeretnya ke tempat tidur penyiksaan. Kedua tangan wanita itu diikat sekuat mungkin berbentuk huruf V begitu pula dengan kakinya yang diikat selebar mungkin membuatnya semakin histeris. Teriakannya semakin keras saat Farrel mengeluarkan sesuatu yang berbentuk kelamin pria dari sebuah lemari. Alat itu dimasukkan Farrel ke celah sempit si wanita pelayan hingga membuatnya berteriak antara kesenangan dan ketakutan. Erangan demi erangan si wanita terdengar saat alat itu mulai bekerja dari ritme lambat hingga ke ritme tercepat. Melihat wanita itu mulai menikmati Farrel mengambil sesuatu dari laci di bawah tempat tidur penyiksaan dan dengan cepat mencongkel salah satu mata si wanita. Teriakan itu menggema di dalam ruang menyebabkan Farrel tertawa senang penuh kebahagiaan. Teriakan ini adalah pengantar tidur untuknya, Farrel sangat suka mendengarkan teriakan para korbannya sama seperti dia mendengar teriakan putus asa saat dia tidak bisa melakukan apapun untuk membela diri. Farrel menikmati tangannya yang mulai bekerja dengan santai. Bau darah tercium di dalam ruangan saat Farrel mulai bermain dengan pisau lipat miliknya. Bola mata yang dicongkel oleh Farrel menggelinding jatuh ke lantai sebelum terinjak oleh kakinya dan hancur. Farrel dengan bahagia mulai menggores luka di tubuh pelayan wanita itu hingga darah turun dan mengalir dari ranjang penyiksaan. Si wanita nampaknya masih ingin hidup, meski tubuhnya sudah dipenuhi luka dia masih bertahan dan mencoba untuk terus bernafas dengan baik. Hal ini sukses membuat Farrel marah dan terus membuat luka baru. Mata wanita yang masih ada itu terbuka dan melihat Farrel dengan pandangan mengejek yang jelas. Dia lebih merasakan kesakitan daripada kesenangan sekarang. Farrel mengambil pisau panjang dari bawah ranjang penyiksaan. Tangan Farrel mulai menusuk perut si wanita hingga isi perutnya terburai ke luar. Kejam, ini memang sangat kejam tapi semenjak hidup di negara ini Farrel sudah terbiasa melihat semua adegan ini dan ternyata melakukannya sendiri membuat Farrel ketagihan ingin lagi dan lagi setiap hari. Nafas si wanita mulai tersengal-sengal saat isi perutnya terburai hingga akhirnya dia memejamkan mata dan tidak bergerak lagi. Melihat korbannya sudah meninggal Farrel akhirnya menarik isi perut itu dan menjatuhkannya. Farrel mencuci tangannya dan ke luar dari ruang kebahagiaan dengan nafas lega. "Kalian lanjutkan apa yang aku lakukan, ingat! Ambil organnya dengan hati-hati dan periksa apakah itu masih sehat dan layak untuk dijual." Farrel melangkah pergi setelah mengatakan itu. Dengan cepat para pria itu berlari ke dalam ruangan dan mulai mengerjakan apa yang diperintahkan Farrel. Dengan hati-hati mereka mengeluarkan organ-organ yang bisa dijual dengan mahal dan memasukan semuanya ke dalam sebuah kotak khusus untuk diperiksa oleh dokter khusus di rumah itu. Dagingnya dilepas dari tulang dan dimasukkan ke dalam sebuah pendingin dengan kotak berukuran besar. Setelah semua daging di ambil kepala si wanita dilepas dan rambutnya dipotong untuk dijual ke salon kecantikan. Setelah pekerja pertama selesai, bagian pembersihan masuk ke dalam ruangan. Satu-persatu bekas kegiatan tadi dibersihkan dan setelah semua bersih ruangan itu diberi pengharum agar aroma amis yang melayang di udara segera menghilang. Ruangan itu terlihat kembali bersih dengan aroma segar yang menenangkan, semua bekas kegiatan tadi menghilang dan tidak bersisa jika kepala-kepala dan tulang yang dipajang di lemari tidak ada. Apalagi di belakang lemari ada beberapa wanita dan anak kecil yang masih berpakaian terpajang padahal sebenarnya isi di dalam tubuh itu telah diambil dan dijual ke supplier dengan harga yang menggiurkan. Puas membunuh dua wanita dalam satu hari ini Farrel nampak bahagia dan duduk di kolam piranha miliknya di belakang rumah. Farrel memakai sarung tangan dan melempar beberapa potong daging ke dalam kolam. Daging-daging itu langsung menjadi rebutan ikan piranha yang telah tumbuh seukuran dua jari. Ikan-ikan itu terlihat senang saat mendapat daging-daging yang dilempar Farrel. Tapi siapa yang tahu daging apakah yang dilempar Farrel ke dalam kolam, apakah daging hewan ataukah daging manusia yang telah menjadi korbannya. "Tuan muda, orang yang hampir saja membocorkan rahasia Anda telah ditangkap." Sebuah laporan yang datang menghentikan Farrel dari memberi makan ikan. Farrel melirik pada seorang wanita yang diikat dengan menyedihkan di depannya sebelum sebuah ide masuk ke otaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD