23

1508 Words
Melihat Amanda menikmati apa yang mereka lakukan, Adnan perlahan-lahan memberanikan diri mencium bibir Amanda yang terbuka. Adnan bahkan sengaja menggigit bibir Amanda membuat Amanda berteriak menahan kenikmatan yang Adnan berikan padanya. Amanda bahkan memejamkan mata demi bisa lebih menikmati kegiatan olahraga mereka saat ini. Di sela-sela kegiatan ciuman mereka Adnan membuka pakaiannya dan setelah semua terlepas jari Adnan kembali bermain dengan bagian sangkar milik Amanda. Adnan melepas ciuman mereka saat merasa Amanda membutuhkan oksigen untuk bernafas. Amanda sendiri terkejut bukan main saat melihat tongkat sakti milik Adnan sudah menatapnya dengan sangar. Adnan tersenyum senang saat melihat mata Amanda yang tidak lepas dari sana. "Apa kau siap?" tanya Adnan dengan tangan memegang tongkat miliknya. Adnan bahkan dengan sengaja mengarahkan tongkat itu ke tepi bibir bagian bawah milik Amanda yang terbuka. Amanda mengangguk dengan cepat dan merebahkan tubuhnya segera. Amanda membuka dengan lebar kedua kakinya demi memudahkan Adnan untuk masuk. "Pantas ibu begitu puas dan tidak mau kehilangan Ayah, tongkat milik Ayah saja seperti itu," goda Amanda dengan malu-malu. Adnan tidak menanggapi sebagai gantinya Adnan mengarahkan senjatanya ke bagian bibir bawah Amanda dan dengan perlahan memasuki tempat itu untuk menjelajah. Adnan melenguh senang dengan suara perlahan nyaris berbisik saat dirinya berhasil masuk ke dalam diri Amanda. Hangat, itulah yang pertama kali Adnan rasakan. Sempit, adalah hal kedua setelah Adnan mencoba bergerak. Keduanya berusaha menahan suara saat Adnan maju mundur mencari ritme dalam gerakan yang tengah ia lakukan. Adnan tampak begitu puas dan bahkan melenguh senang saat dirinya merasa diapit dengan ketat oleh dinding-dinding bagian dalam itu. Amanda sendiri juga menikmati karena dia belum pernah merasakan hal seperti ini. Meski merasa bersalah, tapi Amanda kembali menenangkan diri karena janji uang lebih yang Adnan sebutkan. Keduanya terus berpacu mencari kepuasan hingga Adnan akhirnya mengeluarkan cairan miliknya di luar dan mengenai wajah dan d**a Amanda. Adnan mencoba mengatur nafas setelah dia mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Setelah tenang, Adnan mengambil sesuatu di kantong celananya yang tadi ia buang sembarangan. Adnan mengeluarkan beberapa lembar kertas uang yabg begitu bernilai bagi Amanda. Amanda terlihat senang menerima setumpuk uang itu dengan senyuman bahagia. "Ketika kita melakukannya lagi Ayah janji akan memberikanmu uang yang lebih banyak. Kau harus berjanji untuk tidak memberitahu siapa saja tentang kegiatan kita dan Ayah akan menghubungi dirimu lagi lewat ponsel." Adnan memakai pakaiannya terburu-buru dan ke luar untuk memastikan keadaan. Setelah memastikan keadaan aman, Adnan melangkah pergi meninggalkan Amanda di semak itu. Amanda sendiri tidak ambil pusing, ia dengan senang hati menghitung berapa banyak uang yang ia dapatkan. Amanda memakai pakaiannya setelah membersihkan diri dengan tissue sebelum tiba-tiba Adnan kembali lagi ke sana yang membuat Amanda terkejut lagi karena menyangka itu orang lain. "Kau bakar dan bersihkan sisa percintaan kita! Jangan sampai ada orang yang tahu, mengerti!" ujar Adnan lagi mengingatkan, sebelum pergi Adnan menyempatkan diri mencium Amanda kembali dan mencubit kacang kecil milik Amanda yang belum selesai memakai pakaian. Setelah itu, Adnan bahkan tidak kembali lagi ke sana. Amanda membersihkan tempat itu dan memasukkan tissue bekas membersihkan dirinya tadi ke dalam kantong plastik hitam yang sudah disediakan di sana. Tampaknya Adnan benar-benar sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. Amanda menyembunyikan uang pemberian Adnan di salam roknya dan berjalan mengendap-endap dari dalam semak menuju ke kamarnya Amanda memperhatikan semua dengan seksama sampai ia benar-benar telah sampai di kamarnya dan berhasil mengunci pintu. Amanda melompat senang dan mengeluarkan uang pemberian Adnan tadi dan meletakkan semuanya di atas tempat tidur. "Pantas saja Sera sangat suka jalan dengan om-om. Uang mereka banyak dan kita juga diberi kepuasan, aku bisa mentraktir yang lain besok. Membeli baju dan juga berdandan lebih cantik lagi." Amanda memikirkan apa yang ia lakukan besok dengan uang pemberian Adnan. Esok harinya sepulang dari sekolah, Amanda langsung berjalan menuju ke luar dan mencari taksi yang lewat. Menjelang pulang sekolah tadi ia menerima pesan dari Adnan untuk pergi ke sebuah hotel di pinggiran kota. Amanda yang mendapatkan tawaran langsung melompat kegirangan dan membalas pesan singkat yang Adnan kirim. Tidak lupa Amanda menghapus pesan itu agar tidak ada orang lain yang membaca dan sekarang Amanda sedang menuju ke tempat janjian mereka. Adnan mengatakan kalau dia sudah memesan kamar dan sudah menunggu kedatangannya ke sana. Amanda tidak lupa memakai switer yang mulai ia simpan di tas sejak ia sering keluyuran dengan teman-teman satu kelasnya. Semenjak hari itu Adnan dan Amanda mulai sering melakukannya dan bahkan berani berbuat di rumah semenjak kamar Amanda dipasang alat kedap suara. Lamunan Adnan terganggu saat Amanda melepas pakaiannya dan tanpa sengaja mengenai bahu Adnan. Adnan yang tengah siap bertempur langsung mengubah posisi mereka dan mendorong Amanda hingga Amanda dalam keadaan menelungkup. Keduanya kembali berpacu mencapai kemenangan hingga sore dengan tubuh Amanda terlihat lelah. Bekas merah dan ungu semakin tersebar banyak di tubuh Amanda ulah perbuatan Adnan. Setelah puas, Adnan membersihkan diri sebentar dan menyuruh Amanda melihat keadaan luar. Amanda dengan patuh berjalan ke luar kamarnya setelah memakai gaun seksinya tadi. Amanda melihat sekeliling dan langsung masuk kembali ke kamarnya untuk memberikan Adnan kode. Terburu-buru, Adnan berjalan ke luar kamar Amanda dan langsung masuk ke kamar istrinya. Adnan menemukan Ananta masih tertidur nyenyak dan kembali berbaring di samping Ananta seolah-olah dia tidak pernah berjalan ke luar kamar. Farrel yang ingin membalas dendam untuk Sisil mengubah rencananya saat mendapatkan berita terbaru tentang hubungan di keluarga Amanda. Farrel tampak berpikir apa yang harus ia lakukan selanjutnya untuk bisa membuat Sisil bahagia. "Kau hubungi Adnan dan suruh dia untuk membawa istri dan anak keduanya ke sini. Katakan saja, kalau kita ingin bekerja sama." Farrel tersenyum penuh arti sembari mencium pisau lipat yang biasa ia gunakan dalam bersenang-senang. Kepala pelayan yang setia di sampingnya itu hanya mengangguk dan tidak banyak berbicara. Dia sudah tahu apa yang ingin dilakukan oleh Farrel karena ia sudah lama di sisi Farrel dan melihat apa yang Farrel dan tuan lamanya kerjakan. **** Angela tengah duduk menikmati pijatan tangan Alvin di kakinya. Angela memejamkan mata dengan bibir mengerucut senang, sudah lama dia tidak mendapatkan ketenangan lembut yang bisa menenangkan jiwanya. "Bagaimana dengan pijatan lembut ku, Sayang?" tanya Alvin dengan lembut. Alvin begitu bersemangat memijat dan menyentuh telapak kaki Angela yang usia kandungannya semakin hari semakin bertambah. Alvin juga sudah tidak sabar untuk melihat kedua buah hatinya yang ada di dalam rahim Angela saat ini. Buah hati yang lahir dari cinta kasih dan juga sayang yang begitu dalam di antara keduanya. "Sangat baik, sayang kalau anak kita lahir sepasang bagaimana? Apa perjanjian waktu itu masih berlaku?" tanya Angela usil. Angela tersenyum mencemooh kala mengingat perjanjian konyol yang mereka buat waktu itu. Mendengar penuturan Angela, wajah Alvin langsung berubah masam dan penuh kemarahan. Bagaimana bisa ia melupakan perjanjian itu, tapi Alvin lebih cepat tanggap. Dia sudah membuat perjanjian baru yang juga sudah ditandatangani oleh Angela tanpa Angela sadari sama sekali. "Oh perjanjian waktu itu ... sayangnya perjanjiannya memiliki aturan tambahan, kau saja yang tidak menyadarinya waktu menandatangani isinya." Alvin mengangguk mengiyakan ucapan Angela dengan seringai di bibir. Angela sudah yakin dengan semua ini dan ketika mendengar ucapan Alvin Angela hanya memutar matanya malas. Angela dengan bibir cemberut mencemooh Alvin lewat mata cantiknya itu. Melihat tingkah Angela, Alvin terkekeh dan dengan penuh kasih sayang mencium kaki Angela yang membawa beban berat di perutnya. Setelah dirasa cukup Alvin bangkit dan mencium kening Angela yang masih berbaring nyaman di tempat tidur. Di sisi lain Alena tengah berdandan di kamarnya, pakaian yang Alena kenakan juga merupakan pakaian terbaik dan terbagus miliknya. Alena dengan penuh senyum menghias diri dan melangkah pergi menuju ke luar kamar. Di luar Alena bertemu dengan Robert namun saat Alena menyunggingkan senyuman Robert malah memalingkan wajah dan melangkah pergi. Alena kembali berkecil hati dan merasa sedih, paman Robertnya kembali mengacuhkan dirinya setelah kemarin dia pergi bersama Alfred. Padahal, Alena pergi dengan Alfred karena Robert memilih menemani Aleta berbelanja. Hal yang tidak pernah Alena rasakan sekalipun bersama Robert. Mendengus sedih Alena berjalan menuju ke luar rumah dengan tampilan rapi dan cantik miliknya. Alena terlihat kembali tidak peduli, Alena merasa Robert tidak memiliki hak untuk mengatur dan mengendalikan hidupnya karena hubungan mereka hanya sebatas keponakan dan paman. Alena menaiki mobilnya untuk menuju ke apartemen milik Alfred, ke-duanya sudah berjanji untuk pergi makan malam bersama klien mereka dan mengatur jadwal kapan pernikahan kliennya itu. Sesampai di apartemen Alfred, Alena turun dan langsung berjalan menuju lobi apartemen. Di sana satpam yang biasa berjaga tersenyum senang dan menyapa Alena dengan penuh kelembutan. "Siang Non Alena, apa kabarnya hari ini, Non?" sapa si satpam dengan ramah. Satpam itu juga sudah mendengar berita tentang Angela, dia terlihat bersimpati dengan masalah yang Angela dapatkan. Angela sendiri tidak ambil pusing dan hanya menganggap masalah itu sebagai angin lalu yang tidak begitu penting. "Siang juga, Pak! Ale baik dong, bapak sendiri bagaimana?" tanya Alena lebih ramah lagi dengan senyum tulus tersungging di bibir. "Baik, Non!" jawab si satpam dengan cepat. Mendapatkan jawaban yang diinginkannya, Alena segera melangkah menuju lift agar bisa sampai ke kamar Alfred di lantai lima belas. Sesampainya di lantai apartemen Alfred, Alena ke luar dari lift, ia menuju ke kamar Alfred yang berada di bagian paling ujung apartemen. Alena berdiri di depan pintu dan menekan kode keamanan yang masih berada di bawah handel pintu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD