Chapter 1 - Kirana

2115 Words
    Kegelapan malam mulai menyelimuti seisi bumi. Desir angin malam mulai terdengar di malam yang hening itu. Hawa dingin pun berebutan merayap memenuhi ruangan lewat celah jeruji. Perlahan aku mulai terjaga. Tanpa sadar, kutekukkan kedua kakiku dan kudekap erat di dadaku, berharap dengan cara ini aku dapat mengenyahkan rasa dingin yang mulai menusuk-nusuk tulangku.     Aku mencoba untuk tidur kembali, tapi mataku terlalu nyalang untuk dapat terlelap kembali. Aku beringsut bangkit. Masih tetap memeluk kakiku, aku mulai duduk dengan tenang sambil memandang berkeliling.     Ruangan ini mengerikan. Sungguh, ini sama sekali tak mengada-ada. Hanya ada sebuah kasur keras yang tampak kotor di ruangan yang sempit ini. Penerangan pun hanya berasal dari lampu lorong. Itu pun hanya beberapa Watt.     Satu-satunya hiburan di sini hanyalah opera sabun yang dapat kulihat kapan pun aku mau. Tempatnya pun tak jauh-jauh, bahkan bisa kubilang, itu dapat dilihat tepat di seberang jerujiku. Terkadang, opera sabun ini bercerita tentang kebahagiaan, tapi jauh lebih sering bercerita yang sebaliknya.     Jika cerita yang ditampilkan adalah tentang kebahagiaan, maka aku akan mendengar suara tawa, entah itu tawa senang atau hanya tawa sinis karena pahitnya kehidupan. Jika ceritanya sedih, maka yang akan terdengar adalah isak tangis yang cukup mengganggu tidur dari sebuah tubuh yang bergetar hebat. Tidak jarang pula aku bergidik saat melihat bintang opera sabun yang tidak lain merupakan sesama napi, menyakiti dirinya sendiri sebelum akhirnya meraung-raung kesakitan.     Mereka semua menyebut tempat ini sebagai penjara, tapi menurutku, tempat ini lebih dari penjara. Tempat ini neraka.... Walaupun mungkin aku memang pantas berada di sini.     Aku kembali mendekap tubuhku, untuk kesekian kalinya berusaha mengenyahkan rasa dinginku, tapi lagi-lagi aku gagal. Kulihat sekelilingku, semua tengah terlelap sekarang. Aku menengadah. Aku memang tidak tahu jam berapa ini, tapi aku cukup yakin, hanya beberapa jam lagi, nasibku akan ditentukan.     Tak lama setelah matahari terbit nanti, aku akan tahu di mana aku akan tinggal kelak. Apakah di tempat terkutuk ini, atau di tempat udara bebas bisa kuhirup sepuasnya dan semauku. Aku sangat berharap, yang kedua yang terjadi....   *       ”Hei kamu, cepat bangun!”     Rasanya aku baru terlelap saat suara teriakan dan bunyi berisik hasil bertemunya tongkat pemukul dengan jeruji besiku telah menarikku dari mimpiku. Sambil mengerjap kaget, aku berusaha melihat apa yang tengah terjadi.     ”Cepat bangun! Kamu harus bersih-bersih. Jangan sampai kamu dipikir tidak dirawat di sini!”     Dengan cepat, aku tersadar dari kantukku. Begitu ingat bahwa dalam hitungan jam nasibku akan ditentukan, tiba-tiba aku punya kekuatan ekstra untuk melakukan apapun. Aku cepat-cepat mengikuti sipir penjara dan mengambil baju bersih yang sudah disiapkan bagiku.     Tak lama kemudian, aku sudah berada di mobil polisi yang akan membawaku ke ruang sidang. Aku hanya duduk diam sepanjang perjalanan, tanpa berniat berbasa-basi dengan sipir penjara di kanan dan kiriku.     Ketika mobil itu melaju semakin cepat dan gedung megah tempat sidang mulai terlihat, aku mulai merasa gelisah. Tanpa diberitahu, aku bisa melihat banyaknya kamera dan kerumunan orang yang mengepung mobil polisi kami. Aku menelungkupkan wajahku secara otomatis. Sipir-sipir penjara menunjukkan wajah garang mereka.     Sebenarnya aku enggan keluar dari mobil ini. Dalam mobil ini, paling tidak aku bisa lebih aman daripada berjalan hanya dengan perlindungan beberapa polisi yang jelas akan kalah diserbu rombongan orang yang terlihat lapar berita itu.     “Ayo, turun!” perintah sipir yang duduk tepat di sampingku.     Aku menoleh sekilas ke sipir penjara yang memberiku perintah, sebelum akhirnya melangkahkan kakiku mengikuti perintahnya. Sepanjang perjalanan, aku berusaha menutupi wajahku dari kilatan kamera yang menerpa wajahku terus menerus.     Aku baru benar-benar merasa lega saat aku dimasukkan ke dalam sebuah ruang tunggu kecil. Hanya ada aku dan dua sipir yang berada di ruangan itu. Jujur, hal ini jauh lebih melegakan dibanding apapun saat ini!     Kini, aku tinggal menunggu, menunggu dan menunggu. Menunggu hasil perbuatanku beberapa bulan silam…   *   Beberapa bulan yang lalu….   Jenggawah, Jember.       Lagi-lagi ada yang memasuki kamarku diam-diam.     Aku menatap nyalang saat tidak sengaja menemukan pakaian-pakaian tidak seronok itu tercecer di sudut-sudut lemari pakaianku. Sambil mengernyit, aku mengangkat pakaian-pakaian yang tidak akan pernah kugunakan dalam keadaan sadar itu dengan dua jariku. Dengan wajah jijik, aku mulai keluar dari kamar pribadiku dan mengetuk kamar yang terletak tepat di sampingku, kamar satu-satunya temanku di sini.     Sekali, dua kali, tidak ada tanggapan dari pemilik kamar. Kuketukkan jariku semakin keras sebelum aku mendengar bunyi-bunyi aneh seperti barang jatuh dari dalam kamar itu.     “Siapa sih?” seloroh Selvi, pemilik kamar sekaligus teman terdekatku selama setahun terakhir. “Kirana? Kamu ngapain sih? Gangguin orang tidur saja!” lanjut Selvi mengomel, namun tetap membuka pintunya lebar agar aku bisa masuk ke kamarnya.     “Astaga, Selvi, ini sudah tengah hari lho. Tidur jam berapa sih kamu kemarin?” tanyaku sambil melangkah masuk ke kamarnya.     “Aku baru pulang satu jam yang lalu. Tamuku kemarin benar-benar maniak seks. Ada mungkin aku melayani dia lebih dari sepuluh kali sepanjang malam. Tadi pagi pun juga.  Sebelum memperbolehkan aku pulang, dia masih minta aku melayaninya lagi. Bisa apa aku. Apalagi tips dari dia ternyata luar biasa. Mami sampai nggak bisa berhenti senyum waktu aku setor tadi.”     Aku terdiam mendengar kisah Selvi. Dengan prihatin, aku menatap wanita berkulit langsat berusia awal 20an itu. Sama sepertiku, dia terpaksa tinggal di lokalisasi ini. Kami telah dijual oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Aku oleh ayahku sendiri yang kini entah berada di mana, sedang Selvi oleh kekasihnya sendiri.     Aku dan dia pernah mencoba untuk kabur bersama, tapi kami selalu tertangkap kembali dan dipukuli habis-habisan setelahnya. Karena itu, hingga kini kami tidak pernah mencoba untuk kabur lagi. Kami terpaksa melayani tamu-tamu. Ralat, dia terpaksa melayani tamu-tamu. Kalau aku, entah bagaimana, aku selalu berhasil menghindari tamu-tamu hidung belang itu.     Setiap kali seorang pria menyewa jasaku, aku selalu berhasil menghindar. Aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya, tapi yang kutahu, tiba-tiba tamu-tamu itu batal menggunakanku.     “Kenapa kamu menggangguku, Kirana?” tanya Selvi mulai sebal.     Aku memperlihatkan dua pasang baju yang kuambil tadi ke depan matanya.     “Ini bukan baju kamu kan? Dua baju ini ada di kamarku padahal jelas-jelas bukan milikku. Milik kamu juga sepertinya nggak mungkin karena ukuran baju ini lebih menyerupai tubuhku daripada kamu. Tapi kalau begitu, bukankah berarti ada orang yang keluar masuk kamarku tanpa ijin di saat aku sedang nggak ada di kamar?”               Selvi mengernyit menatapku. “Kamu mabuk? Dua baju itu kan memang milik kamu. Bahkan semalam kamu habis pakai baju yang warna merah itu. Kamu bilang mau bawa yang hitam buat jaga-jaga soalnya kamu langsung melayani dua orang berturut-turut kemarin. Kamu beneran nggak inget?”     Giliran aku yang mengernyit menatap Selvi. Alih-alih aku yang mabuk, mungkin dia yang masih belum terjaga benar. Semua perkataannya jelas bullshit. Aku? Melayani dua tamu berturut-turut semalam? Yang benar saja! Aku tidak pernah ingat aku pergi dengan seorang tamu pun sejak aku di sini. Aku pernah merasa aneh, tapi kuanggap itu sebagai berkah.     Selvi tampaknya baru akan berkata-kata kembali saat Mami, panggilan kami untuk mucikari kami, tiba-tiba masuk ke kamar Selvi dan menarikku keluar.     “Ternyata kamu di sini, Kirana! Sekarang cepatlah bersiap-siap. Kau harus melayani tamu spesial yang akan memboyongmu ke Surabaya siang ini juga!”     Aku membelalak pada Mami. Tidak, tidak, aku tidak mau melakukan hal ini! Aku ingin melepaskan tanganku dari Mami, tapi genggamannya begitu ketat bagiku. Mami mulai menyeretku ke kamarku. Dari kejauhan, aku sempat menangkap siluet pria bertubuh agak tambun yang tengah berdiri dan melongok ke arahku penasaran. Saat melihat pria itu, aku ketakutan. Tidak! Aku tidak mau melayani dia. Aku tidak mau melayani siapapun! Aku terus berusaha melepaskan diri dari cengkraman Mami, tapi Mami malah berbalik dan langsung menamparku.     “Tidak usah banyak bertingkah, b******k!” sentak Mami kasar.     Aku mengusap pipiku yang panas. Air mata menitik tanpa disuruh dari kedua bola mataku. Tapi Mami tidak peduli. Didorongnya tubuhku kasar hingga aku terjatuh di lantai.     “Kamu punya waktu sepuluh menit untuk siap-siap. Kalau berani macam-macam lagi, kamu rasakan sendiri akibatnya!” ancam Mami sambil menutup kasar pintu kamarku.     Aku menangis di ranjangku. Aku tidak mau berada di sini, jeritku dalam hati. Tiba-tiba, semuanya gelap. Aku tidak ingat apa-apa lagi…..   *       Perjalanan panjang dari Jember ke Surabaya sangat membosankan bagi Lira. Yang membuatnya tertarik hanyalah pergi ke Surabaya. Sekalipun bukan kota terbesar di Indonesia, sudah lama sekali Lira ingin pergi kota kecil tempatnya berasal.     “Kau manis sekali,” kata Bobby sambil meletakkan tangannya di paha Lira. Lira hanya tersenyum menanggapinya. Bobby kelihatannya sangat kaya. Mobilnya yang terpisah dengan bangku sopir menjadi salah satu contohnya.     Lira membalas pujian Bobby dengan pujian. “Kau juga tampan,” kata Lira manja.     Bobby kelihatan puas. Dia mulai mencium Lira dengan penuh gairah dan tangannya mulai menjelajah ke mana-mana.     “Kalau kau tidak sabar seperti ini, kenapa kau tidak melakukannya dahulu sebelum kita ke Surabaya?” tanya Lira setengah bercanda.     Bobby tertawa menanggapi pertanyaan Lira. “Sayang, kita akan lebih menikmatinya kalau kita sudah menunggu lebih lama. Mengerti maksudku?”     Lira ikut tertawa.     “Kurasa kau benar,” kata Lira sambil berusaha menahan gairahnya atas sentuhan-sentuhan menggoda Bobby.     Perjalanan yang lama agak membuat Lira tidak bersemangat saat mereka tiba di sebuah hotel bintang lima. Tanpa mau mengecewakan pelanggannya, Lira terus menampilkan senyuman walau dia mulai bosan setengah mati.     Bobby mengambil kunci kamar yang telah dipesannya lalu dengan bersemangat menarik Lira untuk mengikutinya. Begitu tiba di kamar pesanannya, Bobby cepat-cepat menutup dan mengunci pintu kamar tersebut.     Lira tersenyum kecil melihat tingkah Bobby. Dengan menggoda, dilemparkannya tas tangannya sembarangan. Tanpa ragu, Lira berpose menantang di ranjang king size yang begitu bersih di matanya.     “Kamu atau aku yang melepas pakaianku?” tanya Lira dengan mengumbar senyuman paling menggoda.     Bobby menatapnya sambil cepat-cepat membuka kemejanya.     “Kurasa aku lebih suka melakukannya sendiri,” katanya bernafsu.     Lira tersenyum makin lebar. Dia menunggu pria empat puluhan yang masih tampak muda itu untuk mendatanginya. Dari matanya, Lira melihat Bobby mulai melepas sabuk dan celananya. Begitu Bobby sudah tidak mengenakan sehelai benang pun, tiba-tiba Bobby meraih sabuk yang semula sudah tergeletak di lantai.     Senyum Lira sedikit memudar.     “Untuk apa sabuk itu, Bob?” tanya Lira berusaha meredam rasa cemasnya.     Bobby tersenyum misterius sambil terus mendekati Lira. “Nanti juga kamu tahu,” kata Bobby sambil memamerkan senyum yang terlihat mengerikan di mata Lira.     Lira mulai mengubah posisinya. Perasaannya agak tidak enak saat itu. Saat Bobby meletakkan sabuknya di samping Lira dan mulai membuka pakaian Lira, pandangan mata Lira tidak bisa lepas dari sabuk yang terlihat mahal itu.     “Ah, rupanya kamu begitu penasaran dengan fungsi sabuk ini?” tanya Bobby saat menatap pandangan mata Lira.     Lira melirik Bobby, berusaha menampilkan senyumnya. “Aku tidak suka dekat dengan sabuk itu. Bagaimana kalau kita singkirkan saja?”     Bobby menyeringai makin lebar. “Mana mungkin, Sayang. Justru ini yang memegang peranan penting malam ini.”     Mata Lira menyipit curiga. “Maksud kamu?”     “Aku suka mendengar jeritan, Sayang, tapi hanya jeritan dari sabuk ini yang bisa benar-benar membakar gairahku!” desis Bobby puas.     Lira membelalak ketakutan. Dia terang-terangan mengubah posisinya sekarang.     “Aku bisa menjerit seperti yang kamu mau tanpa harus menggunakan itu, Bob. Sungguh,” kata Lira mulai takut.     “Tapi tidak ada yang sealami ini.”     Tanpa peringatan sebelumnya, Bobby mulai mengayunkan sabuknya. Sabetan pertama mengenai perut Lira. Perih yang tak tertahankan membuatnya menjerit kesakitan. Bobby terlihat amat puas mendengar jeritan Lira. Sekali lagi, diayunkannya sabuk itu ke bagian tubuh Lira yang bisa dikenainya.     “Kamu gila!” bentak Lira di tengah kesakitannya.     Lira berusaha menghindar dari Bobby, namun semakin gigih dia menghindar, semakin gigih pula Bobby mengejarnya. Lira mendorong Bobby dan berlari ke arah pintu, tapi kunci pintu itu entah telah disimpan di mana oleh Bobby. Lira kembali terperangkap. Sekali lagi ia merasakan sabetan dari sabuk Bobby.     Seumur hidupnya, Lira tidak pernah mengenal apa itu air mata. Tapi rasa sakit yang menderanya, rasa takut yang menghinggapinya telah membuatnya mencucurkan air mata.     “Aku tidak mau berada di sini!” teriak Lira sebelum merasakan semuanya gelap baginya.   *       Begitu membuka mata, Lira langsung terduduk dengan panik di ranjang king sizenya. Tubuhnya tiba-tiba terasa perih hampir di semua bagian. Lira menatap ranjangnya yang berlumuran darah. Dia berteriak kaget. Diperiksanya tubuhnya. Banyak memar dan sedikit darah pada tubuhnya, tapi tidak mungkin darah itu bisa mengenai ranjangnya seperti itu!     Lira heran dengan keadaan ranjangnya, namun baginya, yang terpenting sekarang adalah keluar dari kamar ini sebelum Bobby gila itu kembali, tidak peduli di mana pun orang itu sekarang!     Secepat yang dia bisa, Lira menyambar pakaiannya dan memakainya asal. Lira beranjak dari ranjangnya. Belum sempat berjalan, Lira sudah terjembab dan merasakan sesuatu yang empuk di bawahnya. Lira mencoba mencari tahu apa yang ditindihnya. Dan apa yang dilihatnya membuatnya berteriak ketakutan.     Sepasang mata membelalak melihatnya. Lira menjerit tak henti saat melihat wajah Bobby yang seperti itu. Dia semakin histeris saat beranjak dari tubuh Bobby dan menemukan Bobby dalam keadaan telanjang dengan tubuh penuh darah, penuh tusukan dan sayatan.     Tanpa bisa berpikir, Lira cepat-cepat menuju pintu keluar. Saking paniknya, Lira bahkan kesulitan membuka kaitan pintu yang menahan pintu kamarnya. Saat akhirnya berhasil membuka pintu, Lira buru-buru keluar dari kamar itu dan tak peduli apapun lagi. Dia hanya berlari dan berlari. Dia tidak menghiraukan tatapan orang yang ngeri melihat keadaannya. Dia benar-benar tidak mempedulikan apapun kecuali pergi dari sana!     Lira baru berhenti berlari saat tiba di bawah jembatan. Dia menangis tanpa henti selama beberapa waktu. Saat mendengar suara sirene polisi bergaung di mana-mana, Lira ketakutan. Dia memaksa dirinya untuk pergi…   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD