Aku merasakan suara bising dan hawa dingin menyergapku. Aku mencoba membuka mataku dan menahan silaunya lampu yang sepertinya mengarah ke arahku. Begitu membuka mata, aku melihat beberapa moncong senapan mengarah padaku. Aku syok. Aku luar biasa ketakutan. Aku ingin berteriak, tapi aku takut. Aku takut mereka akan langsung menembakku.
“Berdiri dan naikkan tanganmu ke atas kepala!” perintah entah dari arah mana.
Aku tidak punya pilihan lain selain melakukan perintah tadi. Aku menaikkan tanganku dengan ketakutan. Usai melakukan itu, tiba-tiba empat orang polisi berlari mendekatiku dan memegangi tanganku dari kedua sisi.
“Auw—” isakku saat polisi tersebut mencengkram tanganku dengan kasar. Tanpa mempedulikan kesakitanku, polisi-polisi itu mendorongku untuk berjalan masuk ke mobil patroli. Aku menurut dengan kebingungan luar biasa. Kenapa para polisi ini menangkapku? Apa salahku?
Sekalipun tidak tahu apa kesalahanku, aku terpaksa menuruti polisi-polisi itu. Genggaman mereka di kedua lenganku begitu keras hingga aku merasa lenganku bisa patah sewaktu-waktu. Lagipula, rasa perih di sekujur tubuhku membuatku tak berniat melawan sama sekali. Sebenarnya, apa yang terjadi padaku? Kenapa tubuhku pun tiba-tiba perih? Kenapa aku bisa berada di sini? Hingga aku dibawa ke Markas Polisi tengah malam itu, aku masih belum tahu jawabannya…
*
“Saya tidak membunuh, Pak! Saya bahkan tidak tahu siapa yang Bapak maksud, jadi bagaimana mungkin saya membunuhnya?”
Tiga polisi yang mengintrogasiku langsung mendengus tak sabar begitu mendengar jawabanku. Jelas sekali kalau mereka sama sekali tidak percaya pada apa yang aku ucapkan. Rasanya aku ingin menangis karena desakan mereka. Mereka menyuruhku mengakui perbuatanku, tapi bagaimana bisa aku mengakui apa yang tidak kulakukan?
“Kamu pikir kami bodoh?” sentak seorang polisi yang kelihatannya merupakan pimpinan dari kedua polisi yang lain. “Kamu pikir kami baru sekali menangani pembunuh yang tidak mau langsung mengaku sepertimu?” sentaknya lagi sambil memukul lampu gantung yang ada hampir tepat di atas kepalaku.
Aku melihat lampu gantung yang merupakan penerangan satu-satunya ruangan itu bergetar dengan hebat. Bahkan lampu itu membuat derit yang cukup mengerikan bila didengarkan lebih seksama. Alih-alih takut dengan sentakan polisi yang jelas-jelas sudah tak sabar menghadapiku itu, aku mulai membayangkan bila lampu pijar yang kini mulai tenang itu jatuh dan mengenai kepalaku.
“Cepat bilang kenapa kamu membunuh Bobby!” sentak polisi itu tampak kehilangan kesabarannya.
Sentakan polisi itu kembali menyadarkanku. Aku berhenti menatap lampu gantung dan mengalihkan pandanganku yang mulai kabur akan air mata ke arah pria berkumis itu.
“Saya tidak membunuh, Pak. Saya tidak tahu siapa Bobby. Saya tidak mengenalnya, Pak. Saya bahkan tidak tahu kenapa saya bisa berada di jalan itu saat para polisi menangkap saya,” kataku sambil terisak.
Kepala polisi itu menggebrak meja dengan tidak sabar. “Diam! Jangan kau pikir air matamu akan berpengaruh pada kami!” tegurnya keras. “Pisau dari TKP, keterangan dari sopir korban, tas tangan yang berisi KTP dan lumuran darah di bajumu sudah membuktikan banyak hal! b******k, cepat mengaku!”
Aku melirik noda-noda darah yang tidak sempat kuperhatikan tadi. Memang ada darah di sana, tapi sumpah, aku tidak tahu kenapa bisa ada darah di sana. Mungkin saja dari tubuhku yang terasa perih, walaupun sebenarnya aku tidak yakin apa lukaku bisa menghasilkan darah sebanyak itu.
“Saya sungguh tidak ingat apa-apa, Pak. Saya sudah mengatakan semua yang saya tahu pada Bapak,” kataku lagi.
Tiba-tiba kepala polisi itu mendorongku hingga merepet ke kursi. “Kesabaranku ada batasnya, Nona! Walalupun aku tidak akan memukulmu karena kau wanita, aku masih punya ratusan bahkan ribuan cara yang akan membuatmu menyesal seumur hidup karena tidak mau bekerja sama denganku!”
Aku melirik pria itu dengan ketakutan. Aku tahu dan sangat yakin dia bisa melakukan apa yang dikatakannya padaku. Tapi masalahnya, aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Dan tentunya aku tidak mungkin mengakui apa yang tidak kulakukan atau tidak kuingat!
“Pak, percayalah pada saya. Saya tidak tahu apa-apa. Saya… Saya sudah jujur pada Bapak, sungguh,” kataku memelas.
Tampaknya kata-kataku dan air mataku memang sama sekali tidak berarti. Polisi itu malah kelihatan semakin kesal padaku. Tanpa ragu, pria itu tiba-tiba menamparku dengan sangat keras dan menyuruh kedua anak buahnya untuk mengurungku tanpa makan dan minum di ruang gelap.
Aku semakin terisak dengan perlakuan polisi itu. Isakanku bukan karena perihnya pipi kananku yang menjadi korban pelampiasan kemarahan polisi itu, tapi lebih karena perlakuannya padaku. Dia seperti sedang memperlakukan seekor binatang!
Kedua anak buahnya pun hampir tidak berbeda. Dengan kasar, kedua polisi itu memaksaku berdiri dan menyeretku keluar dari ruangan tersebut. Aku mengikuti mereka dengan pasrah. Dalam keadaan seperti ini, untuk pertama kalinya aku ingin tiba-tiba tertidur dan bangun dalam kondisi dan waktu yang berbeda seperti yang sering kurasakan. Namun kali ini, hingga aku tiba di sebuah ruangan sempit tanpa ventilasi sama sekali, aku tetap sadar sepenuhnya. Bahkan ketika pintu ruangan yang mereka sebut ruang gelap itu ditutup dan merengut satu-satunya cahaya yang masuk ke ruangan itu, aku masih tetap sadar.
Aku berusaha menahan kedua polisi itu agar tidak meninggalkanku sendirian di sini, namun salah satu dari mereka malah menendangku dan membuatku terjembab. Aku menatap sekeliling, namun hanya pekatnya kegelapan yang menyapaku. Aku meringkuk dalam diam, mencoba mencari dinding agar aku merasa lebih terlindungi dari apapun yang ada di sana. Ketika dinding-dinding sudah mulai kurasakan, aku bersandar tanpa berniat memindahkan posisi sedikitpun setidaknya sampai seseorang mengeluarkanku dari sini!
*
Saat untuk pertama kalinya cahaya kembali menerangi ruangan itu sejak aku dikurung di sini, aku sudah tidak ingat apa saja yang telah kulakukan. Kurasa aku sudah hampir gila karena ketakutan dan lapar yang luar biasa. Entah sudah berapa lama aku di sana, tapi rasanya sudah berbulan-bulan bagiku. Keheningannya yang terlalu tidak wajar di hatiku membuatku merasa di neraka saat itu.
Kedua bola mataku kuajak beradaptasi dalam menerima cahaya yang tiba-tiba masuk tadi. Tanganku membantu kedua bola mataku dengan telapaknya yang menahan agar cahaya tersebut tidak langsung masuk ke mataku.
Perlahan mataku mulai bisa beradaptasi. Aku kembali bisa melihat ruangan itu, melihat tubuhku, dan juga melihat kedua polisi yang sudah ada di samping kanan dan kiriku.
Tanpa banyak bicara, kedua polisi itu menangkap lenganku dan memaksaku berdiri. Seluruh kakiku lemas. Bahkan rasanya seluruh tubuhku mau remuk. Namun kedua polisi tersebut tidak peduli. Mereka tetap memaksaku berdiri dan kembali menyeretku dengan kasar.
Aku hampir terjatuh di tengah perjalanan, tapi dengan kasar kedua polisi tersebut menahanku. Baru saat aku tiba di ruangan tempatku diintrogasi entah berapa waktu yang lalu, kedua polisi itu melepaskan aku. Mereka setengah melemparku ke kursi yang sama dengan yang kududuki sebelumnya.
“Bagaimana, masih kurangkah hukuman itu untukmu?” tanya pria berkumis yang dulu juga mengintrogasiku.
Aku sebenarnya ingin menangapinya, namun aku benar-benar tidak punya tenaga. Mataku terlalu berat untuk dibuka. Seluruh anggota tubuhku meronta untuk beristirahat sejenak. Kurasakan aku mulai terlelap.
“Pyur…”
Guyuran air dingin itu yang memaksaku untuk membuka mataku. Secara otomatis, seluruh panca indraku pun turut terjaga.
“Sekarang katakan padaku kenapa kau membunuh pria itu!” sentak polisi bertubuh kekar itu.
Aku mengeluh dalam hati. Pertanyaan itu lagi, padahal jawaban terjujur sudah kuberikan padanya sejak semula.
“Bukan saya yang membunuhnya. Saya tidak tahu apa-apa, Pak,” kataku dengan suara lemah.
“Jadi kurungan 24 jam itu masih kurang bagimu?” cecar polisi itu kejam.
Aku menggeleng dengan cepat, dan itu membuat leherku meronta kesakitan. “Tidak, tidak, jangan lagi…. Saya tidak membunuh, Pak. Percayalah pada saya, Pak…”
Polisi itu terdiam sambil menatapku lekat-lekat. “Kalau begitu, akan kupastikan kamu mendekam di sini seumur hidupmu!” ancamnya datar.
“Masukkan dia ke sel sekarang juga,” perintahnya kemudian.
Kedua anak buahnya kembali memegangi tanganku dan memaksaku berdiri. Mereka kembali menarik dan menyeretku tanpa peduli rintihan kesakitan yang keluar dari mulutku. Ketika tiba di sel kosong yang sempit dan kotor, kedua polisi itu langsung mendorongku.
Aku terjembap. Namun aku sama sekali tidak berniat untuk berdiri. Aku tahu, sekalipun aku berusaha berdiri, aku akan kembali terjatuh. Aku kelelahan luar biasa. Tubuhku meronta ingin istirahat. Bahkan sebelum aku memutuskan apa-apa, aku sadar aku sudah setengah terlelap.
*
Aku tidak tahu aku sudah terlelap berapa lama. Yang aku tahu, saat aku terbangun, selku sudah tampak temaram. Satu-satunya penerangan di sana hanyalah lampu kuning yang berada di lorong depan selku. Tak sengaja aku melirik langit gelap yang terlihat dari balik jendela yang juga berjeruji.
Dengan hati-hati, kubalikkan tubuhku dari posisi tengkurap. Setelah itu, perlahan aku mencoba bangkit. Rasa lapar yang amat sangat tiba-tiba menderaku. Rasanya bahkan lebih nyata daripada linu-linu yang merata hampir di seluruh tubuhku. Aku merintih, merintih untuk perutku maupun untuk linuku.
“Gila, kau tidur seperti babi ya? Hampir seharian ini kau cuma tidur seperti orang mati!” celutuk seseorang.
Aku terkejut mendengar suara itu. Kupikir aku sendirian di sini. Aku menoleh ke sumber suara, dan kutemukan seorang wanita yang bertampang agak kejam tepat berada di depan selku.
“Namaku Maria. Aku masuk sini karena membunuh satu keluarga sekaligus. Kalau kau?” tanya wanita itu bangga.
Aku tidak menggubrisnya. Rasa mual tiba-tiba menyergapku. Wanita itu sudah membunuh satu keluarga dan sepertinya tidak merasa bersalah sama sekali. Bahkan kalau aku tidak salah menangkap, aku malah mendengar nada bangga dari suaranyta.
“Kuduga kau juga membunuh kan? Kalau tidak, mana mungkin kau ditempatkan di ruangan yang paling tidak terawat di penjara ini. Tapi ada untungnya bagi kita. Paling tidak, kita jadi mempunyai tempat yang cukup luas bagi diri kita karena mereka takut kita akan membunuh teman satu sel kita!” kata Maria lagi.
Aku masih tidak merespon apa-apa. Maria kelihatannya jengkel. “Hei, kau bisu ya? Atau sengaja cari gara-gara?” omelnya jengkel.
“Maria, sudahlah, biarkan dia dulu! Dia kan baru dari ruang gelap, jadi wajar kalau dia agak bodoh seperti sekarang!” kata seseorang yang lain.
Aku menoleh lagi ke sumber suara. Saat itu baru aku sadar kalau aku benar-benar tidak sendirian di sana. Tepat di samping sel Maria, ada seorang wanita yang sedang duduk dekat terali dan tengah memandangku lekat-lekat.
“Kalau tidak tahu yang sesungguhnya, aku tidak akan percaya kamu bisa membunuh pengusaha itu dengan sadisnya. Kamu pasti benar-benar benci pada pria itu sehingga kamu tega menusuknya berulang kali dan menyayatnya seperti menyayat daging domba setelahnya!” katanya serius.
Aku membelalak mendengar informasi dari wanita itu.
“Gila, San, kau dapat darimana informasi seperti itu?” celutuk Maria tidak percaya. “Kalau begitu, dia lebih hebat dari aku. Sekalipun aku membunuh tiga orang, tapi aku hanya membunuh mereka dengan racun serangga,” lanjut Maria tanpa melihat kengerian di wajahku.
Perutku kembali berputar. Aku merasa jijik mendengar informasi dari wanita yang belakangan aku tahu bernama Santi itu.
"Hei, kau nggak bisu kan? Benar nggak apa yang dibilang Santi ini?” tanya Maria makin penasaran.
Aku menatap Maria dan Santi bergantian. Kepalaku penat membayangkan apa yang baru saja mereka bicarakan.
“Aku tidak tahu, aku tidak ingat apa-apa!” seruku sambil memegangi kepalaku dengan histeris.
Santi tiba-tiba melempar batu kecil ke selku. Batu itu tidak mengenaiku, tapi menimbulkan bunyi yang cukup ribut saat batu itu terbentur dengan jeruji selku.
“b******k, diamlah! Kau mau dipukuli dan dimasukkan ke ruang gelap lagi?” sentak Santi sambil melirik keadaan sekeliling.
Hanya selang beberapa detik setelah Santi berhenti bicara, aku menemukan seorang penjaga tengah menatapku sangar dari balik jerujiku.
“Sekali lagi kau lakukan itu, kupastikan kau akan dikurung di kamar gelap tanpa makan dan minum sedikitnya selama seminggu!” ancamnya kejam, namun mampu meredam histeriaku barusan.
***