Chapter 3

1812 Words
    Ruangan itu luar biasa bising hari ini. Bisingnya bahkan dapat mengalahkan suasana pasar malam. Padahal ruangan itu tidak begitu besar. Isinya juga orang-orang berpendidikan tinggi, yang biasanya selalu dapat lebih mengendalikan diri mereka. Namun itulah yang terjadi.     Dering telepon hampir selalu terdengar di sana, suara mesin ketik pun menambah ribut suasana. Dari luar ruangan, suara itu memang tak terdengar, tapi bukalah pintunya sedikit, sedikit saja, seketika kau bisa mendengar semuanya. Suasana tersebut terus terjaga hingga pintu firma hukum bernama Yosep Corporation itu terbuka dan aku masuk ke dalamnya.     Semua aktivitas terhenti seketika saat aku melangkah ke tempat yang berpenghuni sekitar 25 orang itu. Untungnya, kejadian itu hanya beberapa detik. Beberapa detik setelahnya, mereka malah sibuk mendekatiku dan mengucapkan selamat padaku.     Aku hanya tersenyum dan  menerima ucapan mereka. Aku baru saja memenangkan kasus sulit dan menambah sempurna deretan prestasiku. Wajar jika satu per satu dari kolegaku mulai berebutan menyelamatiku. Kecuali satu orang.     Dari sudut mataku, aku melihat hanya ada satu orang yang sama sekali tak beranjak dari tempatnya. Dia bahkan sama sekali tak menoleh padaku, seolah sama sekali tak peduli padaku ataupun kemenanganku yang membawa dampak baik pada nama firma ini.     Aku bisa lihat bahwa dia tengah tenggelam dalam pekerjaannya. Hal ini juga yang akhirnya memancing diriku untuk mendekati wanita berambut panjang yang mempunyai wajah luar biasa cantik itu. Wanita yang berhasil menarik hati banyak pria, termasuk aku, Rama Kuncoro, seorang pengacara muda yang sukses dan tak pernah kalah di sepanjang karirnya.     ”Kau tidak mengucapkan selamat padaku?” tanyaku penasaran.     Wanita itu hanya menoleh sekilas padaku sebelum kembali berpaling pada pekerjaannya. ”Masih kurangkah ucapan selamat dari semua orang sekantor?” balas wanita itu tak acuh.     ”Itu berbeda, sayang," kataku mencoba merayu.     ”Kalau begitu kecewalah, aku sedang tidak berniat basa-basi pada sainganku!”     ”Tapi aku tidak pernah mengganggapmu sebagai sainganku!”     ”Karena aku wanita?”     ”Karena kau temanku!”     Wanita itu kembali menoleh padaku, lalu tersenyum sekilas.     ”Kalau begitu buktikanlah dengan tidak mengganggu pekerjaanku. Tanpa kau ganggu pun, aku mungkin harus berkerja lembur hari ini!”     Aku meringis. Wanita ini memang pintar berdalih. Namanya Ratu, dan tampaknya nama itu benar-benar sesuai dengan dirinya. Sebagai sesama pengacara,  dia termasuk sama suksesnya denganku. Dan itu istimewa, mengingat cukup jarang pengacara wanita yang berhasil menyeimbangkan kedudukan mereka dengan para pria. Gaya bicaranya selalu percaya diri. Dia juga sangat keras, baik hatinya maupun sikapnya.     Sejak setengah tahun yang lalu, aku selalu berusaha mendekatinya dengan berbagai macam cara, tapi yang terjadi selalu sama, dia menolakku! Tidak bisa dikatakan menolak, sebenarnya. Aku sendiri tak pernah menyatakan perasaanku padanya, hanya saja, dia selalu saja menghindari kedekatan dengan pria manapun, tak terkecuali aku. Entah apa yang sedang ditunggunya.     Aku tak punya pilihan selain meninggalkannya. Aku sudah sangat hafal kebiasaannya. Jika Ratu dipaksa, dia tidak segan-segan untuk membentak dan mempermalukan lawannya. Sebelum yang terjadi pada beberapa rekan maupun pengagumnya terjadi padaku, aku memilih mundur sementara.     Baru berbalik beberapa langkah, tiba-tiba Ratu memanggilku kembali. Aku menatapnya dengan penasaran. Tapi gadis itu tidak memberiku waktu untuk penasaran terlalu lama.     ”Kita berdua dipanggil Pak Yosep, sekarang!” katanya pendek sebelum menutup teleponnya dan mendahuluiku ke ruangan pemilik firma hukum ini.     Pak Yosep... Pria itu sudah cukup tua sekarang. Orangnya keras, tapi aku tahu dia sangat baik hati. Sayang hidup tidak cukup baik padanya. Sekalipun dia sangat sukses di karirnya, bos yang satu ini agak kurang beruntung dalam hal rumah tangga. Dia bercerai dengan istri yang telah dinikahinya hampir dua puluh tahun tanpa memperoleh keturunan sama sekali.     Aku menyusul Ratu. Bosku sangat menyukai kecepatan gerak anak buahnya. Semakin cepat aku sampai ke ruangan Pak Yosep, semakin besar peluangku untuk memperoleh nilai plus di matanya.     Aku dan Ratu sampai bersamaan di ruangan yang paling besar di firma itu. Tanpa kata-kata, Pak Yosep menyuruh kami berdua untuk duduk di kedua kursi yang ada di hadapannya.     ”Aku punya kasus menarik untuk kalian,” katanya tenang.     ”Mungkin kalian sudah dengar kalau Bobby Indrawan, pengusaha licin yang disinyalir melakukan transaksi narkoba besar-besaran tanpa terendus sama sekali, telah terbunuh beberapa hari yang lalu,” sambungnya pelan.     Aku menggangguk. Ratu pun demikian. Siapa yang tidak tahu tentang kematian Bobby? Pembunuhan Bpbby termasuk kasus yang paling menggemparkan dalam beberapa bulan terakhir ini. Bagaimana tidak? Sebagai seorang pengusaha, nama Bobby cukup terkenal. Apalagi kini ditambah dengan kematiannya yang sadis. Surat kabar sudah memuat kisahnya dari kemarin sore. Televisi malah menyiarkannya tepat sepuluh menit setelah jasadnya ditemukan.     ”Kalian pasti sudah dengar juga kan tentang pembunuhnya?” pancing Pak Yosep agak antusias.     Untuk kedua kalinya, aku dan Ratu mengangguk hampir bersamaan. Pembunuhnya tentu saja wanita yang semula dibayarnya untuk melampiaskan nafsunya. Kabarnya, gadis yang ternyata adalah Pekerja Seks Komersial (PSK) itu malah ditangkap tepat satu jam setelah jasad Bobby ditemukan.     ”Menariknya, aku telah menyetujui membela PSK itu,” kata Pak Yosep sambil tersenyum simpul.     Reflek aku dan Ratu serentak berpandangan dalam diam. Jujur, aku cukup terkejut dengan keputusan Pak Yosep. Keputusan itu jelas merupakan keputusan yang paling tidak masuk akal yang pernah kudengar.     ”PSK itu tidak memiliki uang untuk menyewa jasa pengacara, dan aku menawarkan diri untuk membantunya secara cuma-cuma. Pro bono.”     Aku dan Ratu kembali berpandangan heran. Ini semakin tidak masuk akal. Kasus yang jelas-jelas terbaca, dengan bukti-bukti mengarah ke pembunuh, tanpa bayaran pula. Entah apa yang diinginkan oleh Pak Yosep saat memilih mengambil kasus ini. Atau mungkin memang waktu telah merenggut akal sehat dari orang satu ini.     ”Pak, maaf saya menyela, tapi boleh saya tahu, kenapa Bapak menerima kasus ini? Setahu saya, semua bukti sudah jelas-jelas mengarah ke pelaku dan saya pribadi melihat, tidak ada untungnya bagi kita bila kita membela wanita yang satu ini,” kataku lantang.     ”Jika kita mengambil kasus ini, justru kita akan merusak nama firma. Bayangkan, membela pembunuh yang jelas-jelas bersalah,” tambah Ratu.     Aku menoleh pada Ratu. Akhirnya, setelah berbulan-bulan berselisih pendapat denganku, kami sependapat juga.     Pak Yosep menggeleng tak sabar pada kami berdua. ”Aku pikir kalian cukup cepat tanggap, tapi aku harus kecewa. Kalian berdua adalah pengacara terhebatku di sini, tapi tak bisakah kalian melihat alasanku membela gadis ini?”     Kalau boleh jujur, aku sama sekali tak melihatnya. Malah aku dapat membeberkan ratusan alasan untuk menolak kasus ini. Tapi aku memilih diam. Aku ingin tahu apa yang mendasari pria di hadapanku ini untuk mengambil kasus ini.     ”Bobby adalah orang yang licik. Seharusnya dia sudah masuk penjara bertahun-tahun yang lalu. Dia itu jahat. Kalau seandainya sekarang dia terbunuh, menurutku itu memang karena kesalahannya sendiri. Aku mempunyai feeling bahwa gadis itu tidak sepenuhnya bersalah. Dan sudah kewajiban kita untuk membela yang tidak bersalah, bukankah begitu?”     Aku dan Ratu punya pendapat yang sama sekarang. Hanya satu kalimat. Pak Yosep sudah gila! Aku berani menjamin, ini ada hubungannya dengan dendamnya. Dulu, dulu sekali, saat aku masih belum menjadi pengacara, aku tahu Pak Yosep pernah gagal menjebloskan Bobby ke penjara. Mungkin, ini caranya membalas dendam pada Bobby. Membuatnya terlihat buruk sekalipun pria itu sudah meninggal dunia dengan tidak hormat...     Pak Yosep mungkin tak sabar melihat ketidakantusiasan diriku dan Ratu. Dia menggeram sesaat sebelum mengucapkan kata-kata yang membuat aku dan Ratu mulai berpikir keras untuk menentukan masa depan kami.     ”Ada kemungkinan wanita itu tak bersalah... Dan asal kalian tahu, aku ini sudah tua. Aku sudah berpikir masak dan memutuskan akan mengambil salah satu dari kalian untuk menjadi patner. Asalkan salah satu dari kalian berani mengambil kasus ini dan bekerja sungguh-sungguh setelahnya, aku tak akan ragu lagi untuk mengangkatnya sebagai patner. Lepas dari apapun hasil persidangan nanti,” jelas Pak Yosep.     Tidak ada yang bicara di ruangan itu. Aku dan Ratu sibuk berpikir dan menimbang. Pak Yosep tampaknya sibuk memikirkan kata-kata untuk lebih memancing kami berdua.     ”Mengambil kasus ini akan membuktikan bahwa kalian memang cinta pada keadilan. Kalian bisa membuktikan bahwa keadilan itu milik semua orang, termasuk kaum papa dan marginal seperti wanita itu. Aku butuh orang seperti itu untuk meneruskan usaha ini. Jadi, siapa di antara kalian yang berminat pada kasus ini?” kata Pak Yosep mengejutkan kami berdua.     Kalau tidak ada situasi sulit sekarang, aku pasti agak gembira. Untuk kesekian kalinya dalam waktu kurang dari 15 menit, aku dan Ratu kembali berpandangan. Dari matanya, aku bisa menebak dia sama tak berminatnya denganku untuk menangani kasus ini. Tapi aku juga tahu dia sama berminatnya untuk meraih tawaran Pak Yosep. Bagaimanapun juga, menjadi patner Pak Yosep akan membuat karir kami di masa depan jauh lebih pasti.     ”Tak perlu terlalu lama kan untuk memutuskan hal ini?” tanya Pak Yosep yang sudah menampakkan raut wajah tak sabar.     Aku masih belum bisa memutuskan suara Ratu yang tegas memenuhi ruangan. ”Saya tidak bisa menerima kasus ini, Pak. Kasus Bankir yang baru saya ambil minggu lalu saja belum selesai dan kasus itu ternyata tidak semudah yang kita duga sebelumnya. Saya tak bisa ambil risiko untuk gagal dalam kasus ini, Pak,” kata Ratu yang membuatku luar biasa terkejut.     Aku menatap Ratu dengan terang-terangan. Aku sudah bilang, aku kenal betul dengan Ratu. Jika tidak benar-benar merasa kasus ini tak ada harapan, Ratu tidak mungkin melepaskan kesempatan ini begitu saja. Ratu tidak selemah itu. Dia bahkan cenderung ambisius.     Desah kecewa terdengar dari Pak Yosep. Tapi hanya sekilas, karena kemudian dia tiba-tiba menoleh bersemangat ke arahku. Matanya penuh harap padaku. Aku benar-benar tak bisa berkutik.     ”Tapi saya tak bisa membela dia kalau dia benar-benar terbukti bersalah, Pak,” kataku menyerah.     Pak Yosep tampak lebih muda beberapa tahun begitu mendengar jawabanku. Bagiku, ini adalah cobaan berat.     ”Kalau dia benar-benar bersalah dan tidak ada jalan lagi untuk membebaskannya, kuizinkan kau untuk melepas kasus ini," kata Pak Yosep tegas. "Aku tahu kau memang orang yang tepat untuk menggantikanku kelak," lanjut Pak Yosep sambil tersenyum padaku.     Aku balas tersenyum sekilas, lalu mengangguk dengan enggan. Apa lagi yang bisa kulakukan? Tapi paling tidak, aku dan Pak Yosep sudah sepakat, kalau memang wanita itu bersalah, aku tidak akan membelanya!     Jujur, aku masih agak takjub dengan keputusanku. Entah itu keputusan bodoh atau gila, aku tak tahu. Bahkan hingga Pak Yosep mengisyaratkan pada aku dan Ratu untuk keluar dari ruangannya, aku masih belum menemukan jawabannya.            ”Calon patner sekarang?” sindir Ratu halus.     ”Kau diberi kesempatan yang sama tadi,” jawabku pendek.     ”Aku tidak tahu kau segila ini. Kalau kau gagal, karirmu bisa tamat! Membela pembunuh yang jelas-jelas bersalah, kau gila!”     Aku tersenyum. Benar kan dugaanku. Alasan Ratu menolak semua ini adalah karena dia melihat kasus ini tidak ada harapan. Entah mengapa dia lumayan peduli padaku dengan mengingatkanku akan hal itu.     ”Kalau aku tamat, bukankah akan lebih baik buatmu? Kesempatanmu menjadi patner tinggal menunggu waktu kan?”     ”Karirmu tamat atau tidak, aku tetap akan dapat merebut kesempatan itu. Lihat saja!”     ”Aku percaya. Kita berdua tahu itu.”     Ratu menatapku sinis. ”Merayuku?”     ”Tidak, hanya ingin mengajakmu makan malam.”     Tidak seperti biasanya, Ratu tampak berpikir sejenak. Tiba-tiba saja aku tahu dia akan menyetujui ajakanku. Yah, untuk pertama kalinya, wanita es ini akan menerima ajakanku. Aku menghitung sampai tiga, dan tepat pada hitungan ketiga, Ratu mengiyakan.     ”Yah, siapa tahu, ini adalah makan malam terakhirmu sebagai pengacara di firma ini!”     Aku tersenyum. Kesinisan wanita yang satu ini memang luar biasa. Kalau aku bukan orang sabar, akan kutinggalkan wanita ini begitu saja. Sungguh...     ”Kau lupa bilang, atau mungkin juga makan malam terakhirku sebelum menjadi patner resmi firma ini!” balasku sambil tersenyum manis pada Ratu.   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD