Chapter 4 - Rama

1483 Words
    Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang berat bagiku. Paling tidak begitulah sepertinya jika aku menilainya dari semua kekacauan yang terjadi padaku sejak aku membuka mataku untuk kembali beraktivitas.     Kencan pertamaku dengan Ratu semalam berakhir dengan sempurna. Saking sempurnanya karena ternyata aku dan Ratu punya banyak kesamaan sehingga kami terus bicara tanpa sadar waktu, kencan itu membuatku pulang larut malam. Yang lebih parah lagi, secara tidak langsung kencan itu membuatku tidak mengacuhkan dering wekerku yang berbunyi nyaring satu jam sebelum aku benar-benar terjaga.     Begitu sadar aku sudah terlambat, aku langsung meloncat ke kamar mandi dan melakukan ritual pagiku secepat yang aku bisa. Setelahnya, aku menyambar segelas kopi sambil menghubungi asistenku.     ”Hari ini aku akan pergi menemui pembunuh Bobby.  Pak Yosep baru info tentang itu kemarin malam, jadi tolong kamu batalkan semua pertemuanku dengan klien-klien kita pagi ini. Tunda sampai after lunch. Kalau memang nggak sempat, bikin janji lagi besok, ” kataku memerintah sambil mencoba mengancingkan kemejaku dan memasang dasiku.     Setelah yakin perintahku telah dimengerti benar oleh asistenku, aku mematikan telepon dan merapikan dasiku untuk terakhir kali. Lalu dengan langkah tegas, aku mengambil kunci mobilku dan meluncur ke tempat para penjahat berkumpul. Seperti biasa, aku harus melewati beberapa prosedur sebelum bisa bertemu dengan klienku. Ketika proses itu selesai, aku sudah agak tak sabar. Tapi ketidaksabaranku terobati saat aku melihat seorang wanita masuk ke ruangan tempat aku menunggu. Aku tertegun.         Wanita itu pasti Kirana, PSK yang dituduh membunuh Bobby. Tapi wajah wanita itu jauh dari bayanganku semula. Dan hanya ada satu kata sederhana yang tepat menggambarkan dirinya.     Dia terlihat polos! Dia bahkan terlihat seperti anak kecil saat menatap takut-takut padaku. Saat aku tersenyum, bermaksud untuk membuatnya lebih santai, dia malah membuang muka. Kirana menunduk, pura-pura tak melihatku, tapi tetap duduk di tempat yang memang disediakan untuknya.     Aku mengamati wanita itu sejenak. Wajahnya ayu, kulitnya lebih mengarah ke putih daripada kuning langsat. Rambutnya yang lebih panjang sepuluh centi dari bahu membuatnya semakin menarik. Sekalipun tidak ada sapuan make up sama sekali, sekalipun gadis itu hanya mengenakan baju penjara yang kusam, aura kecantikannya tetap terpancar.     ”Selamat siang. Saya Rama kuncoro. Saya pengacara yang akan membantu Anda,” kataku memperkenalkan diri sambil mengulurkan tanganku.     Kirana hanya menatapku sekilas, lalu kembali menunduk, menatap tekel gelap di ruangan kecil ini. Diam-diam, aku mulai merasa keki. Wanita ini ternyata tidak tahu diuntung. Dia benar-benar tidak tahu kalau sedang ada berkah yang dilimpahkan padanya sekarang!     ”Baiklah, mungkin Anda masih gugup tapi perlu saya beritahu sebelumnya, kerjasama Anda akan sangat menentukan bisa bebas atau tidaknya Anda dari tempat ini!” kataku mencoba menekan ketidaksabaran yang mulai muncul lagi.     Sorot mata Kirana tampak bersinar sesaat kala mendengarku berkata bebas dari penjara ini, namun itu hanya sebentar. Sangat sebentar. Mungkin hanya beberapa detik. Detik setelahnya, wajahnya kembali muram. Matanya kembali redup.     ”Bisakah Anda tidak berdiam diri seperti ini? Terus terang, saya tidak punya banyak waktu!”     Kirana masih juga terdiam. Jujur, ini membuatku emosi. Sekalipun aku adalah pengacara yang telah memenangi berbagai kasus dengan beragam karakter klien, tetap saja aku agak kesulitan dengan klien yang tidak bisa diajak kerjasama seperti ini.     ”Anda tidak ingin keluar dari sini?” tanyaku sambil mendekatkan wajahku padanya.     Kirana tampak terkejut, walaupun sebenarnya jarak kami cukup jauh juga karena terhalang meja. Dan aku harus mengakui kehebatanku. Entah karena sikapku barusan, atau karena pertanyaan bodoh yang telah kulontarkan, untuk pertama kalinya pagi itu, Kirana berani menatap mataku.     ”Kurasa aku tidak pantas untuk bebas,” kata Kirana suram.     Aku terkejut mendengar jawaban Kirana. ”Kenapa?” tanyaku penasaran.     Kirana terdiam mendengar pertanyaanku. Aku menunggu dengan agak tenang. Dia sudah mau bicara, itu perkembangan yang cukup berarti dibanding sebelumnya.     ”Kata mereka, aku telah membunuh orang!” jawab Kirana setelah kutunggu beberapa saat.     Aku menatap Kirana dalam-dalam. Jawabannya barusan sangat mengejutkanku. Naluri pengacaraku terusik.     ”Kata mereka? Maksud Anda, Anda sendiri tidak tahu apa yang telah Anda lakukan?” ulangku sambil menajamkan mata dan telingaku.     Kirana menggeleng cepat, terlihat sekali kalau dia ingin menagis. Wajahnya mulai frustasi.     ”Kenapa aku harus membunuh orang yang tidak aku kenal? Aku bahkan tidak ingat pernah bertemu dengannya,” kata Kirana cepat.     Aku mengerutkan kening, mencoba berpikir cepat. Dari keterangan Kirana, bisa ada kemungkinan bahwa Kirana dijebak, tapi aku sudah tahu tentang bukti-bukti dari polisi. Mulai dari sidik jari yang ada di pisau yang digunakan untuk membunuh korban hingga keterangan sopir korban, semua mengarah pada pelaku tunggal, yang tak lain adalah gadis di hadapanku.     Aku mengamati Kirana lebih serius. Kucoba mencari kebohongan dari kedua bola matanya, tapi aku tidak menemukannya sama sekali. Dia tidak menunjukkan gejala yang ditunjukkan pada orang yang sedang berbohong. Matanya juga tak bergerak ke sana kemari untuk menghindariku, tapi tepat memandang ke mataku.     Aku gelisah, entah mengapa, aku mulai agak percaya bahwa Kirana tidak bersalah. Kecuali dia artis hebat, tidak mungkin Kirana bohong. Dan dari awal aku tahu benar Kirana bukan orang yang bisa berpura-pura. Aku memang baru kenal dengannya, tapi aku punya penilaian yang cukup akurat tentang orang-orang yang kutemui.     ”Kirana, aku panggil Anda begitu saja, ya,” kataku pelan. ”Penting bagiku untuk mengetahui kebenaran. Bagaimanapun, aku pengacaramu, kamu bebas bercerita apapun padaku. Bisakah kau menceritakan yang sebenarnya? Mungkin tentang ketidaksengajaanmu atau sesuatu yang belum pernah kau ceritakan pada orang lain selama ini?” pancingku tenang.     Kirana tersenyum sinis. ”Kau tak percaya padaku, sama seperti yang lain.”     Aku hendak protes, tapi kutahan mulutku. Toh yang dia katakan memang benar, aku tak bisa membuat diriku percaya padanya, walaupun aku tahu hatiku mungkin sedikit percaya padanya.     ”Buat aku percaya padamu,” tantangku.     Aku kembali menatap Kirana, tepat di matanya. Aku menunggu responnya, tapi Kirana lagi-lagi diam. Saat kemudian dia tampak seperti tersentak. Lalu tersenyum padaku. Senyumnya menggoda. Sangat menggoda. Anehnya, Kirana tidak lagi tampak tidak berdaya seperti sebelumnya. Secara tiba-tiba, Kirana menjadi sosok yang penuh percaya diri.     “Kau tampan,” kata Kirana sambil menatap berani padaku.     Aku setengah tak percaya pada pendengaranku. Wanita seperti Kirana tidak mungkin bisa tampak seliar itu.     ”Apa yang kau bilang barusan?” ulangku tak yakin.     Kirana melempar senyuman menggodanya lagi. ”Kamu sudah dengar, pengacara! Jangan minta aku mengulanginya!”     Helaan nafas cukup panjang keluar dari bibirku. Aku masih belum melepaskan pandanganku dari Kirana, tapi aku sadar kalau pendapat awalku ternyata salah. Kirana tak sepolos yang kuduga. Aku agak heran dengan perubahannya yang cepat, tapi kini aku punya pandangan baru tentang Kirana. Mungkin, dia memang berbakat menjadi artis. Dia membingungkan, tapi aku tidak akan memperlihatkan kebingunganku itu padanya!     ”Jadi, pengacara, apa yang harus kulakukan untuk dapat keluar dari tempat terkutuk ini? Aku bosan!” keluh Kirana sambil memainkan rambutnya.     Aku masih tertegun akan perubahan sikapnya yang tiba-tiba, jadi aku agak terlambat menjawab pertanyaannya. Kirana mengulang pertanyaannya, dan saat itu baru aku tersentak.     ”Eh, bukankah kau yang bilang kau tak pantas untuk bebas?” sindirku berusaha mengeluarkan nada sinisku.     Kirana tertawa, lalu menatapku dengan pandangan meremehkan. ”Menurutmu, ada orang yang begitu bodoh? Lagipula, bukan aku yang ingin begitu. Kalau Kirana ingin, terserah, tapi yang jelas, aku tidak. Aku bukan orang bodoh seperti Kirana!”     Aku terhenyak mendengar jawaban Kirana. Ada yang tak beres di sini, perasaanku berkata demikian. Ada yang tak biasa.     ”Kamu Kirana kan?” tanyaku hati-hati.     Kirana tersenyum lagi, kali ini dia tidak menjawab. Kirana malah mengambil posisi duduk yang agak menantang. ”Menurut kamu, pengacara?”     ”Aku serius! Kalau kamu benar-benar mau keluar dari sini, kamu harus bekerjasama denganku, salah satu caranya dengan menjawab semua pertanyaanku tanpa berbelit-belit seperti ini.”     Kirana tidak merespon kata-kataku. Dia beranjak dari tempatnya, lalu berjalan mendekatiku. Tanpa kuduga sebelumnya, tangannya mulai meraba pundakku dan memijatnya lembut. ”Tidak perlu terburu-buru, pengacara, kita kan bisa bersenang-senang dulu.”     Aku tergoda? Tentu saja... Aku lelaki normal. Kirana cantik. Dia memukau. Seperti yang telah kukatakan sebelumnya, walaupun sekarang dia hanya mengenakan pakaian biru kumal, aura kecantikkan masih kuat untuk menarik pria manapun. Aku bisa membayangkan bagaimana luar biasanya dia saat mengenakan baju-baju indah seperti yang pasti dikenakannya di lokalisasi. Tapi, bukan Rama jika tidak bisa melawan sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Sambil menahan godaan, aku menepiskan tangan Kirana dan berdiri berhadapan dengannya.     ”Harapanmu satu-satunya cuma aku. Kalau aku lepas tangan dari kasus ini, jangan harap kau bisa lepas dari penjara ini! Sekarang duduklah atau aku akan meninggalkanmu busuk di sini?” ancamku keras.     Kirana menatapku tajam sebelum akhirnya melangkah marah kembali ke tempat duduknya. Aku pun kembali duduk. Sambil menepis bekas tangan Kirana dari pundak kemejaku, aku melirik Kirana. Dia seperti bergidik, lalu tampak tidak seliar sebelumnya.     Kirana kembali tersenyum padaku, tapi kali ini senyumnya bukan senyum menggoda. Senyumnya senyum polos. Perubahan yang begitu cepat membuatku lupa menurunkan tanganku dari pundakku.     ”Selamat pagi,” kata Kirana sopan.     Aku tak bisa berkata-kata. Aku menurunkan tanganku lalu menatapnya lekat-lekat. Bagaimana bisa dia berubah secepat itu? Pertama sangat tertutup, kedua sangat agresif, kini sangat sopan.     ”Ada sesuatu di wajahku?” tanya Kirana sambil meraba wajahnya.     Aku kembali duduk di kursiku dan menyandarkan tubuhku ke punggung kursi. Sesuatu terlintas di otakku. Aku menatap Kirana dengan tatapan prihatin. Kalau kali ini aku benar, aku mungkin bisa mengeluarkan Kirana dari tempat ini, tapi sepertinya hal itu tidak akan terlalu berpengaruh padanya. Aku hanya akan memberinya penjara yang lebih longgar dari tempat ini. Itupun mungkin...   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD