Chapter 5 - Rama

1636 Words
    Aku melangkah melewati koridor penjara dan berjalan cepat menuju tempat parkir mobilku. Pertemuanku dengan Kirana memberiku petunjuk baru. Sebelum meneruskan penyelidikan ini, aku harus memastikan kecurigaanku ini terlebih dahulu. Begitu tiba di mobilku, aku buru-buru merogoh ponselku dan cepat-cepat menghubungi seseorang dari sana.     ”Paman? Ini Rama. Aku sedang butuh bantuan Paman,” kataku mengawali pembicaraan dengan kerabatku, lebih tepatnya, adik dari ayahku. Sebelumnya, aku tidak pernah menghubunginya untuk masalah pekerjaan, tapi kali ini, aku membutuhkan kemampuannya sebagai seorang psikiater yang cukup ternama di Surabaya ini.     “Rama? Ada apa? Ada masalah dengan ibumu?” jawab pria yang sering kupanggil Paman Sam itu.     ”Bukan, Paman. Ini masalah pekerjaanku,” jawabku cepat. ”Sebenarnya, aku sedang menangani kasus. Kasus pembunuhan Bobby,” sambungku tanpa membuang waktu.     ”Ah, ya, ya... Lalu, apa yang bisa kubantu?”     “PSK yang dituduh melakukan pembunuhan pada Bobby, itu klienku. Dan aku butuh bantuan untuk memastikan keadaan klienku.”     “Maksud kamu, Ram?”     Aku diam sejenak, mencoba mencari kata yang paling tepat. ”Klienku bersikap aneh saat kutemui, aku curiga dia mengalami gangguan mental. Aku butuh bantuan Paman untuk memastikan keadaan mentalnya.”     Sejenak tidak ada tanggapan dari Paman Sam. Tapi tak lama kemudian Paman Sam kembali membuka suaranya.     “Gangguan mental? Menarik sekali. Ehm, coba paman ingat-ingat dulu jadwal paman dalam seminggu ini,” gumam Paman Sam sementara aku sabar menunggunya. ”Minggu ini jadwal paman penuh, Ram, tapi kalau kamu mau, paman bisa menyisihkan waktu sekitar satu jam besok. Saat jam makan siang. Bagaimana?”     ”Aku sama sekali tidak masalah.”     ”Baiklah kalau begitu. Saat paman sudah mendapat kepastian tentang keadaannya, paman akan segera menghubungimu.”     Aku tersenyum lega. “Terima kasih, Paman. Aku tahu aku selalu bisa mengandalkan Paman.”     “Itulah gunanya keluarga, Ram.”     Aku tertawa mengiyakan. “Ok, akan kuurus pertemuan untuk besok. Sampai bertemu besok, Paman.”     Aku menyudahi percakapanku dengan Paman Sam. Mulanya aku ingin cepat-cepat ke firma, tapi kini kuurungkan niatku. Aku melangkahkan kakiku keluar dari mobil dan kembali masuk ke bangunan penjara itu.   *       ”Dia tidak gila,” kata Paman Sam yang menyempatkan diri untuk makan siang denganku pasca pertemuan singkatnya dengan Kirana.     Aku menatap Paman Sam dengan penuh minat. Aku tidak menemukan kemungkinan lain yang bisa menjelaskan keanehan sikap dari Kirana, tapi jika sekarang ahlinya saja mengatakan Kirana tak gila, aku benar-benar tak punya bayangan.     ”Jadi dia hanya berpura-pura? Aktingnya sebagus itu?” tanyaku ragu.     Paman Sam menggeleng tegas. ”Dia juga tidak berpura-pura,” kata Paman Sam misterius.     Aku mulai mengernyit bingung. Jika Kirana tidak gila dan tidak berpura-pura, lalu apa yang sedang terjadi dengan Kirana?     ”Aku nggak ngerti, paman. Bisa tolong jelaskan dengan bahasa yang lebih mudah untuk kupahami?” tanyaku tak sabar.     Paman Sam tidak langsung merespon pertanyaanku. Setelah terdiam beberapa detik, baru Paman Sam kembali membuka suaranya.     ”Sebelum Paman menjelaskan semuanya pada kamu, Paman ingin memastikan satu hal. Tapi untuk itu, Paman butuh pertemuan sekali lagi dengan Kirana. Paman akan mengajak seorang teman untuk menemui Kirana.”     Aku menatap Paman Sam dengan sangat penasaran. Pamanku ini adalah psikiater handal. Namanya sudah termasuk dalam jajaran psikiater terbaik di Surabaya bahkan tingkat ibukota. Entah mengapa dia masih butuh mengajak seorang teman hanya untuk memastikan keadaan Kirana.     ”Ada masalah apa, Paman?” tanyaku mengungkapkan keherananku.     Paman Sam tidak langsung menjawab. Dia hanya merenungi pertemuannya dengan Kirana beberapa menit yang lalu.      Jujur, aku cukup penasaran dengan pertemuan mereka. Waktu aku ingin menemani Paman untuk menemui gadis itu, Paman menolaknya. Waktu itu, wajah Paman masih begitu percaya diri, masih begitu bersemangat. Namun, ketika keluar dari ruang yang disiapkan sipir penjara untuk pertemuan mereka, wajah Paman menjadi keruh seketika.      ”Paman, sebenarnya ada apa?” desakku tidak sabar.      Paman Sam tersentak dari lamunannya.      ”Ah, biar Paman pastikan dulu hal ini dengan ahlinya. Begitu hasilnya sudah 100%, baru akan Paman ceritakan padamu. Dan omong-omong, Ram, Paman harus pergi sekarang. Kita lanjutkan nanti ya. Ada klien Paman yang sudah menunggu,” kata Paman Sam sebelum beranjak dari bangkunya dan bersiap melangkah meninggalkanku.      ”Akan Paman beritahu kapan Paman akan menemuinya lagi, Ram. Salam buat ibumu,” kata Pamanku lagi sebelum benar-benar lenyap dari pandanganku.      Aku hanya mengangguk mengiyakan. Memangnya, apa lagi yang bisa kulakukan selain menahan rasa penasaran yang amat sangat menderaku...   *       ”Kalau tahu kita hanya akan berdiam diri seperti ini, aku pasti akan menolak makan malam ini!”     Aku yang sedang memainkan gelas anggurku, tersentak sejenak dan menatap Ratu dengan perasaan agak bersalah.     Kuakui, aku yang telah mengajaknya untuk menemaniku makan malam. Dan aku tak tahu kenapa, lagi-lagi dia mau memenuhi ajakanku. Tapi semua itu kulakukan sebelum pertemuanku dengan Paman Sam.     Jujur, sejak pertemuan itu, aku tidak bisa mengalihkan pikiranku terhadap hal lain. Apalagi hingga hari ini, dua hari setelah pertemuanku dengan Paman Sam, kerabatku yang satu itu masih belum juga menghubungiku.     ”Ah, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu merasa tersisihkan seperti ini,” kataku sambil memandang matanya lurus-lurus.     Ratu balas memandang mataku.     ”Boleh kutahu ada apa?” tanyanya pendek.     Aku menimbang-nimbang sejenak. Keadaan Kirana masih belum dipastikan, dan menurutku, bukan hal yang bijak jika aku mengumbar hal yang tidak pasti pada Ratu atau siapapun. Aku memilih menyimpan sendiri tentang keadaan Kirana.     ”Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedikit kesulitan untuk bekerja sama dengan Kirana,” kilahku cepat.     Wajah Ratu berubah melecehkan. ”p*****r sekaligus pembunuh itu?” tanyanya singkat.     Aku menatap Ratu cepat. Entah mengapa, aku tidak menyukai kesinisannya saat dia bertanya seperti itu.     ”Aku sudah pernah memperingatkanmu kan sebelumnya?” kata Ratu sinis.     ”Aku tidak sedang pada taraf menyesal karena telah membelanya. Aku bahkan mulai merasa bahwa dia tidak bersalah!” kataku cepat.     Ratu tersenyum sinis. Sangat sinis. Tapi kata-katanya jauh lebih sinis dari wajahnya!     ”Aku dengar dia cantik. Apa kecantikannya juga telah membiusmu? Yah, kalau memang begitu, aku hanya ingin memperingatkanmu sekali lagi. Jangan sampai nasibmu sama seperti Bobby. Dan satu lagi, wanita yang memilih profesi seperti dia bukanlah contoh wanita yang bisa dipercaya!”     Tiba-tiba saja, aku merasa sangat muak pada Ratu. Aku sama sekali tidak menyukai kesinisannya, pandangannya ataupun tuduhannya. Aku terheran-heran sendiri mengapa aku pernah begitu penasaran pada gadis ini.     ”Kuberitahu satu hal yang mungkin kau belum tahu. Terkadang, wanita seperti Kirana, tidak diberi kesempatan oleh dunia untuk memilih profesi yang ingin dikerjakannya. Sebagai orang yang lebih beruntung daripada itu, kita sama sekali tidak boleh menyudutkan mereka tanpa mengenal terlebih dahulu individunya,” kataku keras. ”Dan perlu kau ingat, kau terus seperti itu, kau tidak akan bisa menjadi seorang pengacara yang baik. Karena pengacara yang baik tidak bisa hanya mengandalkan konklusi umum dalam suatu kasus!” lanjutku lagi.     Dan aku tahu aku telah merusak makan malam itu. Ratu tersinggung, itu sangat terlihat dari wajahnya. Tanpa berkata apa-apa, Ratu beranjak dari kursinya dan meninggalkanku begitu saja.     Aku menghembuskan nafas panjang. Aku kecewa makan malam ini tidak berhasil, tapi yang tidak bisa aku pungkiri, aku juga lega telah terbebas dari Ratu hari ini...   *       Tas laptopku kugeletakkan begitu saja. Sepatu kubuang dengan sembarangan di salah satu sudut apartemenku. Tanpa berganti pakaian atau menyempatkan diri untuk membasuh tubuhku, aku merebahkan diri di ranjangku.     Rasanya aku baru tertidur sebentar saat ponselku berbunyi keras. Setengah sadar, kuraih ponsel yang kuletakkan tepat di samping tempat tidurku.     ”Hallo, Rama Kuncoro di sini,” kataku mengantuk.     ”Rama, kau sudah tidur?” tanya pria di seberang.     Begitu mendengar suaranya, aku terjaga. Itu suara Paman Sam, orang yang sudah kutunggu sejak dua kali 24 jam ini.     ”Paman? Aku sudah menunggu telepon dari Paman sejak dua hari yang lalu,” kataku bersemangat.     ”Maafkan Paman, Ram, Paman sendiri baru mendapat kepastian dari teman Paman barusan.”     Aku melirik jam wekerku. Jam 12 malam. Kalau tidak mendesak, tidak mungkin pamanku yang satu ini akan mengganggu tidurku.     ”Dan hasilnya?”     ”Dia hanya punya waktu besok pagi, Ram. Bisa kau usahakan itu? Dia baru saja pulang dari Eropa, tapi besok malam dia sudah harus terbang lagi ke Afrika untuk pertemuan dengan sesama psikiater. Aku harap kau bisa mengusahakannya besok.”     Aku berpikir sejenak lalu mengangguk dalam diam. ”Besok pagi-pagi benar aku akan ke Kantor Polisi. Setelah itu, aku akan menghubungi Paman secepatnya.”     Aku melanjutkan pembicaraan tentang keluarga Paman Sam sebelum aku menyudahi pembicaraanku. Sekalipun hari ini aku lelah, tapi rasa lelahku lenyap perlahan begitu mendengar kepastian dari Paman Sam. Entah mengapa, aku sangat bersemangat pada kasus ini.     Wajah Kirana tiba-tiba membayang di otakku. Tanpa sadar aku tersenyum. Namun segera kutepiskan wajah gadis itu dari otakku. Kucoba untuk tidur, namun baru beberapa waktu setelahnya baru aku bisa terlelap.   ***                 Aku sudah tiba di Kantor Polisi sejak pukul enam pagi. Kepala Polisi tampak tidak begitu senang menerima kedatanganku. Maklum, sebelum ke sini aku telah menghubungi pria paruh baya itu dan sedikit memaksanya untuk memberiku izin khusus mengunjungi klienku.     Aku menunggu kedatangan Paman Sam dan teman yang akan dibawanya dengan tidak sabar. Berulang kali, kulirik jam tangan tanganku. Begitu melihat Paman Sam berjalan ke arahku dengan seorang pria usia akhir lima puluh tahunan, aku serentak berdiri dan menyambut mereka.     Paman Sam tersenyum padaku lalu memelukku singkat.     ”Rama, ini Dokter Heru yang Paman ceritakan tadi malam,” kata Paman Sam sambil memandangku. ”Dan, Her, ini keponakan kebanggaanku, Rama,” lanjut Paman Sam sembari mengalihkan pandangannya pada temannya.     ”Ram, biar tidak terlalu lama, bagaimana kalau kami menemui Kirana sekarang?” tanya Paman Sam tergesa.     Aku mengangguk, lalu memberi isyarat pada penjaga untuk membawa kami ke ruangan khusus untuk bertemu Kirana.     ”Kau tunggu di sini saja, Ram. Begitu kami mendapat kepastian, kami pasti akan langsung memberitahu hasilnya padamu bahkan sebelum kau sempat bertanya pada kami.     Kalau boleh jujur, jelas aku ingin menolak usul pamanku yang satu itu. Tapi aku tahu itu bukan tindakan yang benar, jadi aku tersenyum terpaksa, dan membiarkan mereka berdua masuk ke ruangan.     Aku sendiri kembali ke tempatku semula. Aku kembali menjadi tidak sabar. Namun kuakui, aku sempat merasa agak gembira ketika melihat Kirana diantar ke ruangan tempat Paman Sam dan Dokter Heru telah menunggu.   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD