“Kami akan baik-baik saja. Ini akan menghilang dalam satu jam, kami hanya perlu bertahan dari rasa perih sekaligus gatal ini,” ujar Wanda.
“Ingat satu hal, ikuti aroma orang yang kamu cintai maka kamu akan mendapatkan bunga itu.” Wanda memberi arahan.
“Kamu harus tahan terhadap kesakitan atau apapun itu kalau kamu ingin menemukan bunga patah hati. Kami tidak diijinkan memasuki taman untuk membantumu jadi berusahalah sebaik mungkin dan jangan menyerah,” tambah Wanda.
“Lebih baik kalian beristirahat di dalam tenda, aku akan membuat pelindung. Kuda-kuda juga harus di bawa masuk dalam pelindung.” Velia bersama Yelzi mengucap mantra untuk membuat pelindung saat semua sudah berkumpul.
“Jaga dirimu,” pesan Xonxo sambil terus menggaruk lengan dan leher yang sudah mulai terlihat lecet-lecet dan berdarah.
Velia melambaikan tangan di depan gerbang taman Merah. Dia merasa gugup karena harus menghadapi ini sendirian. Bagaimana jika taman ini seseram hutan Kesunyian yang penuh dengan tanaman pemangsa atau ada bahaya lain yang lebih menyeramkan?
Velia memandang curiga pada semua bunga yang mekar dengan indah, tapi semua aroma harum yang menggelitik indra penciuman membuatnya merasa seperti berada di taman rumah. Ada sebuah bunga berwarna kuning cerah berbentuk seperti kupu-kupu dengan aroma yang lebih wangi dari yang lainnya berhasil menarik perhatian Velia membuat Velia mengulurkan tangan hendak memetiknya.
“Aku tidak akan memetik bunga itu kalau jadi kamu.”
Sebuah suara entah dari mana seolah memberi peringatan. Velia menyelidiki sekitarnya untuk memastikan kalau suara yang didengarnya tadi adalah nyata. Kembali Velia mengulurkan tangan untuk memetik bunga kuning yang menarik hatinya.
“Sudah kubilang jangan memetiknya, manusia ini bebal juga.”
“Biarkan saja dia, Sayangku. Paling-paling dia akan mati saat menyentuh bunga beracun itu. Lagipula dia pasti tidak bisa memahami perkataan kita.” Suara perempuan terdengar.
“Siapa di sana? Ada orang di sini?” Velia memutar tubuh dan memandang sekeliling tapi yang ditemukan hanya sepasang kelinci lucu nan menggemaskan yang melihat tajam ke arahnya. Tunggu dulu, jangan-jangan yang berbicara adalah kelinci itu?
“Apakah kalian berdua yang berbicara?” tanya Velia untuk memastikan sambil berjongkok menghadap ke arah kedua kelinci itu.
“Kamu bisa mendengar suara kami? Memang betul kalau kami yang berbicara,” ujar kelinci betina.
“Terima kasih atas peringatan tentang bunga indah yang beracun tadi. Aku bisa mendengar dan memahami setiap perkataan kalian karena aku bisa berkomunikasi dengan hewan.”
“Ini menyenangkan, kami tidak pernah bertemu dengan manusia yang bisa berbicara dengan kami. Ijinkan kami menjadi pemandumu agar kamu tidak salah memetik bunga.” Kelinci betina melompat-lompat kegirangan.
“Namaku Rob dan dia Bit,” ujar kelinci jantan.
“Mari ikuti kami.” Bit menyentuh tangan Velia dan menunjukkan beberapa bunga yang cantik.
“Bunga yang berbentuk seperti lonceng berwarna hijau itu berguna untuk mengusir serangga, kamu hanya perlu melumat beberapa kuntum bunga hingga mengeluarkan lendir dan membalurkan ke tubuh yang ingin dilindungi dari gigitan serangga.” Bit menunjuk bunga yang menjuntai indah di dekat mereka.
“Tapi baunya sangat busuk,” tambah Rob.
“Bunga panjang berwarna ungu keperakan itu sebenarnya adalah bunga dari buah kejujuran. Buah itu berbentuk seperti belimbing dengan warna ungu tua. Kalau ada yang memakan buah itu maka orang tersebut akan selalu berkata jujur bila berbicara.”Bit menunjukkan buah matang yang mengintip di sela-sela kuntum bunga yang membungkusnya.
“Tapi orang tersebut akan dijauhi yang lain karena dia juga berbicara jujur tentang orang lain dan mengumbar rahasia yang disimpan rapat. Mana ada orang yang mau berteman dengan orang yang kelewat jujur.” Rob berjalan mendahului Bit.
Beberapa kali Bit memberitahu Velia tentang beberapa bunga yang menarik beserta kegunaannya dan Rob dengan senang hati memberitahukan efek sampingnya. Bit merasa sebal karena suaminya selalu mengatakan kebalikan dari perkataannya.
“Apa yang sedang kamu cari di taman ini?” tanya Rob berusaha menarik perhatian istrinya yang sedang merajuk.
“Kamu mencari apa?” tanya Bit dengan semangat dan mata berbinar. Perhatian Bit memang mudah dialihkan.
“Aku mencari bunga patah hati, apa kalian bisa menunjukkan di mana tempatnya?” tanya Velia.
“Buat apa kamu mencari bunga itu? Itu bukan bunga yang baik. Lebih baik mencari bunga yang indah dan harum,” bujuk Bit.
“Atau bunga yang lebih berguna,” tawar Rob.
“Aku harus segera menemukan bunga itu, ini demi seseorang yang aku cintai.”
“Tapi bunga itu membuat orang jadi patah hati, kamu tahu apa artinya?” tanya Bit dengan suara sedih.
“Artinya kamu membuat orang tersebut tidak lagi mencintai orang yang sangat dicintainya, dia akan mengalami patah hati dan terjatuh dalam kesedihan yang mendalam.” Rob merangkul pundak istrinya yang sudah terisak.
“Apa kamu tidak ingin dia mencintaimu lagi?” Bit membenamkan muka di d**a suaminya.
“Justru karena aku ingin dia mencintaiku, maka aku ingin mendapatkan bunga itu. Bisakah kalian menolongku? Tolonglah,” pinta Velia.
“Kalau yang itu kami tidak bisa membantu, semua bergantung padamu sendiri,” jawab Bit.
“Pejamkan mata, pusatkan pikiran pada orang yang kamu cintai. Kamu akan mencium suatu aroma yang sangat khas, ikutilah aroma itu. Seberat apapun rasa sakit dan pedih yang terasa, tetaplah bertahan sampai mendapatkannya.” Rob memberi petunjuk.
“Duduklah di sini dan mulai pejamkan mata, lama tidaknya aroma muncul tergantung usahamu.” Bit membawa Velia menuju sebuah batu yang puncaknya datar agar gadis itu dapat duduk.
Velia bersila di atas batu yang ditunjukkan oleh Bit, matanya terpejam agar dapat lebih mudah membayangkan Harlan.
Velia membayangkan betapa senangnya dia saat bersama pemuda itu, senyumnya begitu mempesona. Harlan selalu siap sedia menolong siapa saja yang kesulitan.
Velia samar-samar mencium aroma tubuh Harlan kemudian matanya terbuka. Dia mulai menghidu lebih dalam agar dapat menemukan arah yang tepat, sementara itu Rob dan Bit memandangnya dengan antusias.
“Apa kamu sudah menciumnya? Sudahkah?” tanya Bit dengan semangat.
“Sudah, apa yang harus aku lakukan?” tanya Velia.
“Ikuti saja bau itu. Kami akan menemanimu.” Rob ikut berdiri dan menggandeng tangan kanan Velia sedang Bit menggandeng tangan kirinya.
Kedua kelinci itu memiliki ukuran tubuh yang besar hingga Velia terlihat seperti manusia kerdil kalau berjalan bersama mereka.
Velia kembali menghidu bau Harlan dan menemukan arah yang baunya tercium lebih tajam. Beberapa waktu kemudian saat bau Harlan semakin tajam tercium, Velia mulai mengingat kejadian saat Harlan lebih membela Wanda dibandingkan dirinya. Harlan tidak pernah memperlakukannya dengan spesial, dia diperlakukan sama seperti teman-teman yang lainnya. Hati Velia merasa sakit saat mengingatnya.
Muncul bercak kemerahan di hidungnya, terasa gatal hingga dia tidak tahan untuk menggaruknya. Rob memegang tangan Velia lebih erat, mencegah gadis itu untuk menggaruk hidungnya.
“Lepaskan! Hidungku sangat gatal.” Velia mencoba melepaskan tangan Rob.
“Jangan digaruk, itu akan membuat hidungmu makin merah dan bengkak. Kalau sudah seperti itu maka kamu tidak akan bisa mencium baunya lagi.” Bit memberi pengertian.
“Ini gatal sekali.” Velia menunduk agar dapat mengusapkan hidung pada lengan baju.
“Pusatkan pikiranmu pada orang yang kamu cintai agar gatal itu tidak terasa.” Rob memberikan jalan keluar.
Velia kembali melanjutkan langkahnya, semakin tajam baunya maka rasa sakit hati dan gatal semakin terasa. Hidungnya sudah mulai merah semerah tomat, bahkan sudah membengkak karena Velia semakin mengingat kebersamaan Harlan dengan Lory.
“Baunya hilang.” Velia menjadi panik saat tidak lagi bisa mencium bau Harlan.
“Jangan takut, kita sudah sampai,” kata Rob sambil menunjuk bunga berwarna putih yang dikelilingi oleh duri tajam.
“Petiklah bunga itu, hati-hati jangan sampai tertusuk duri.” Selesai berkata seperti itu, Bit mendengar Velia berteriak kesakitan sambil memegang jarinya yang tertusuk duri. Rupanya Velia tidak mendengar peringatan Bit dan langsung memetik bunga.
Pandangan mata Velia menjadi gelap dan dia roboh ke tanah, Bit dan Rob berteriak-teriak memanggilnya agar tetap tersadar tetapi Velia sudah pingsan. Rob memanggil beberapa hewan untuk membantunya.