Kota Bayangan

1009 Words
“Dia yang palsu.” Xonxo yang pertama menunjuk Xonxo kedua. “Pasti mereka menyamar sebagai aku.” Xonxo kedua malah menunjuk Xonxo ketiga dan keempat membuat Wanda dan Velia saling berpandangan. “Vel, tolong aku.” Salah satu Xonxo menghampiri Velia lalu menggenggam tangannya. Velia melepaskan tangan Xonxo karena curiga kalau itu berbahaya. Namun tiba-tiba tubuhnya gemetaran seperti tersengat listrik yang semakin lama semakin hebat getarannya. Wanda hendak menghampiri, tapi tubuh Velia tersentak lalu terlihat ada kepala lain yang muncul dari kepala asli kemudian diikuti dengan leher, bahu, perut kemudian Velia kembali tersentak dan tiba-tiba ada satu lagi Velia yang bentuknya sama persis dengan yang asli. “Velia!” teriak Wanda dengan cemas. “Ada apa ini? Tolong katakan padaku, apa yang kalian lakukan pada temanku?” Wanda berteriak histeris. Tubuh Wanda berputar untuk mencari seseorang yang bisa ditanyai. Akhirnya dia memanggil beberapa hantu untuk keluar. "Apa yang sudah terjadi pada teman-temanku?" tanya Wanda sambil menunjuk Velia dan Xonxo yang masih sibuk menyalahkan satu dengan yang lain. Namun para hantu itu tidak menjawab malah menertawakannya. Wanda yang sudah jengkel karena suara berisik dari teman-temannya mulai menggunakan mantra pembeku untuk membekukan keenam orang yang ada di hadapannya. “Kamu harus bisa menemukan tubuh asli temanmu, kalau tidak dia akan melemah dan mati karena tenaganya dibagi untuk bayangan. Bayangan teman-temanmu adalah hantu sepertiku dan kami selalu senang bila ada orang baru.” Sesosok hantu nenek-nenek yang melayang berbisik di telinga Wanda. “Apa tujuan kalian mempermainkanku seperti ini?” tanya Wanda. “Kami suka membuat bingung tubuh asli yang kami tiru, mereka akan menyerang bayangan. Setiap serangan akan berimbas pada tubuh asli hingga orang tersebut akan mati oleh perbuatannya sendiri dan kami akan dapat teman baru.” Hantu Nenek itu melayang menjauh. “Lalu mengapa kalian tidak meniruku juga?” Wanda melemparkan pertanyaan itu. “Kamu adalah necromancer yang memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan kami hingga kamu mendapat perlindungan dari hantu-hantu nenek moyangmu. Tentu saja kami tidak bisa menyentuhmu,” jawab hantu anak kecil yang jongkok sambil memandangnya. “Lalu bagaimana cara mencari tubuh aslinya?” Wanda mengitari keenam tubuh yang membeku sambil mengamati. “Kamu bertanya kepada kami? Ha ha ha, tentu saja kami tidak akan menjawabnya.” Hantu walikota tertawa sambil terbang melayang-layang di hadapannya. “Cari sendiri jawabannya,” tambah anak kecil yang jongkok. Hantu-hantu yang lain juga muncul dan mereka semua menertawakan Wanda. Mereka sengaja terbang melayang-layang di sekitarnya agar Wanda menjadi kesal. Wanda mengayunkan tongkat sihir lalu menyerang menggunakan jarum pembeku, beberapa hantu yang terkena jarum itu menjadi padat dan membeku hingga akhirnya jatuh ke tanah. Hantu-hantu yang lain segera menghilang karena melihat kondisi temannya yang membeku. Wanda mendekati hantu walikota yang ikut tertangkap, tangannya bergerak meremas udara. "Katakan bagaimana caranya mencari yang asli? Kalau kamu tidak bicara akan kumusnahkan," ancam Wanda dengan meremas udara lebih erat. Suara teriak kesakitan dari walikota begitu memilukan hati, beberapa detik kemudian tubuh walikota hancur lebur. Pandangan ketakutan terlihat dari mata hantu-hantu yang membeku. Wanda mendekati teman-temannya, dia memperhatikan keenam orang itu. Memandang dari atas ke bawah, berjalan mengelilinginya untuk tahu yang mana temannya yang asli. “Apa kalian yakin tidak mau mengatakan padaku cara menemukan temanku yang asli?” tanya Wanda sekali lagi pada hantu perempuan yang berambut panjang. Wanda menggerakkan tangan sekali lagi dengan gerakan menggenggam untuk meremukkan tubuh dua hantu sekaligus. Para hantu yang tidak tertangkap pilih melarikan diri daripada di hancurkan Wanda. Pandangan Wanda tertumbuk pada kaki Velia, yang satu memiliki bayangan sedangkan yang lain tidak. Wanda pun mencari tahu Xonxo yang asli dengan melihat bayangan masing-masing, segera saja dia menemukan temannya yang asli. Wanda mendekati Velia-yang dia perkirakan adalah yang asli. Dia melakukan gerakan seperti mengusap dan mengarahkannya pada tato di tangan Velia untuk memanggil Yelzi membuat peri itu muncul dari tato Velia. Yelzi membungkuk untuk memberi salam pada Wanda. Wanda mendekati bayangan Velia, melakukan gerakan yang sama tetapi tidak terjadi apa-apa. Wanda kemudian menghancurkan tubuh bayangan dan membebaskan Velia yang asli dari kebekuan. “Terima kasih atas bantuannya, Wan.” Velia memeluk tubuhnya untuk menghangatkan diri. “Buat pelindung untuk kita berdua,” pinta Wanda yang segera ditanggapi Velia dengan cepat karena Yelzi sudah muncul. Yelzi terbang berputar sambil menggumamkan mantra bersama dengan Velia. Muncul sebuah titik yang membesar dengan cepat membentuk kubus yang menyelubungi mereka berdua. Wanda membebaskan keempat Xonxo lalu mengancam mereka,”Tinggalkan kami, kalau tidak maka aku akan menghancurkan kalian!” Ancaman Wanda membuat dua bayangan menghilang tetapi ada satu bayangan yang masih bergeming di tempatnya. Xonxo yang geram mengeluarkan peri Gorda untuk menyerang bayangannya tetapi Wanda lebih cepat, dia langsung menyerang dengan mantra pembeku lalu menghancurkan bayangan Xonxo. “Huh, mengapa kamu tidak memberiku kesempatan untuk menghabisi bayanganku sendiri?” tanya Xonxo. “Kalau kamu menyerang bayanganmu maka dirimu sendirilah yang akan terkena mantranya, maka dari itu orang lain yang harus menyerang." Wanda menjelaskan apa yang sudah didengar dari para hantu. Velia membawa masuk Xonxo dalam kotak perlindungannya, mereka meninggalkan kota diikuti dengan tatapan mata marah dari para hantu, tetapi mereka tidak bisa melakukan apa-apa karena ketiga orang itu memakai pelindung. Dalam perjalanan mereka bertemu kuda-kuda liar yang sedang merumput tak jauh dari kota bayangan. Velia menggunakan mantra untuk dapat meminta bantuan mereka agar dapat segera sampai di taman merah. Kuda-kuda itu dengan senang hati mengantarkan karena mereka juga menginginkan petualangan, bahkan mereka bersedia menjadi tunggangan sampai tujuan Velia tercapai. Perjalanan jadi terasa cepat dan menyenangkan karena mereka sekarang berkuda, kuda-kuda itu mengetahui arah yang dituju dan berhenti tepat di depan gerbang masuk taman. Velia memberikan beberapa buah apel dan menyuruh agar beristirahat terlebih dahulu sementara mereka memasuki taman. Wanda mengatakan barisan kata yang menjadi petunjuk selanjutnya. Taman merah merupakan taman penuh kesakitan Tubuhmu akan memerah tapi kamu pasti akan bisa menahannya Temukan dengan hati tulusmu apa yang menjadi tujuanmu Aroma Cinta akan menuntunmu menuju ke bunga pembawa sakit hati. Mereka bertiga melangkahkan kaki memasuki taman, tapi baru beberapa langkah memasuki taman Wanda dan Xonxo sudah berjalan mundur keluar taman. Tubuh mereka langsung memerah dan terasa pedih sekaligus gatal hingga tak bisa berhenti menggaruk tangan dan kaki. Velia yang sudah di dalam taman memutar balik untuk berlari menghampiri keduanya saat menyadari kalau dia berjalan sendirian, “Apa yang terjadi dengan kalian?” “Jangan pedulikan kami, cari saja bunga patah hati.” Wanda mendorong Velia menjauh. "Bagaimana dengan kalian? Kenapa bisa begini?" Velia masih bertahan di tempatnya.  "Jangan khawatirkan kami. Aku akan mencari obat untuk menyembuhkan gatal-gatal ini. Sana masuk!" awanda kembali mendorong Velia yang masih terlihat enggan untuk beranjak. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD