"Hidupkan perapian!" seru Fernia kepada Rob karena suhu ruangan menjadi rendah dan itu terjadi karena perapian sempat padam.
Sedangkan Bit masih setia menghapus keringat di dahi Velia. "Akan kujaga dia."
"Jaga jangan sampai lidahnya tergigit atau dia terguling dari ranjang," pinta Fernia sebelum meninggalkan tempat itu untuk menghangatkan kembali ramuan obat yang harus diminum.
Beberapa saat kemudian Fernia mendudukkan Velia dan menyandarkannya di tembok lalu menengadahkannya dengan dibantu oleh Bit agar lebih mudah menyuapi obat sedikit demi sedikit.
Fernia terpaksa memencet hidung Velia agar kesulitan bernapas dan secara refleks menelan obat yang ada di dalam mulut setelah itu Fernia akan melepaskan hidung Velia. Hal ini dilakukan berulang kali hingga Velia bisa menelan tanpa dipaksa.
“Haus, ini tidak enak,” rancau Velia setengah sadar.
Bit mengambil segelas air putih dan membantu Velia minum untuk menghilangkan rasa getir obat. Fernia berniat untuk kembali menyuapi obat tapi cewek itu dalam keadaan sadar bisa menolaknya.
“Minumlah biar cepat sembuh agar bisa mencari bunga patah hati lagi,” bujuk Bit dengan lembut sambil mengingatkan tujuan awal Velia masuk ke dalam taman Merah.
“Aku harus bergegas, teman-teman menungguku.” Velia merasa panik setelah pikirannya menjadi jelas. Dia terburu-buru hendak bangkit tapi tubuhnya terasa lemas dan tidak bertenaga.
"Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa ada di sini?" Velia merasa bingung karena hal terakhir yang diingatnya adalah mengulurkan tangan hendak mengambil bunga patah hati. Saat itu dia sudah merasa lega karena berhasil mendapatkan bunga itu.
"Apakah aku berhasil mendapatkan bunga patah hati?" Velia mengedarkan pandangan untuk mencari bunga yang mungkin disimpan oleh Bit atau Rob.
"Sayangnya kamu tidak berhasil mendapatkan bunga itu dan bahkan tertusuk durinya. Untung saja ada Rob dan Bit yang mendampingi jadi mereka kemudian memanggil bala bantuan untuk membawamu ke sini," papar Fernia.
"Namaku Fernia, aku peri penjaga taman yang bertugas untuk merawat orang-orang yang terluka akibat berada di taman Merah." Fernia terbang kemudian melakukan hormat dengan cara meletakkan tangan kanan di d**a kiri kemudian menunduk sambil menekuk kaki lalu meneggakkan tubuhnya.
"Aku harus bergegas." Kembali Velia berusaha untuk bangun, tapi pandangannya jadi berkunang-kunang.
"Berapa lama aku tidak sadarkan diri?" tanya Velia.
"Sudah dua hari kamu dalam kondisi itu karena duri bunga patah hati mengandung zat antikoagulan yang mencegah darahmu membeku sehingga darah terus mengalir keluar karena lukanya tidak bisa menutup dengan alami." Fernia menjelaskan secara perlahan-lahan.
"Jadi aku sudah kehilangan banyakbdarah? Pantas pandanganku menjadi tidak jelas," ujar Velia sambil memejam sebentar.
“Pulihkan dulu kondisimu baru kamu boleh mencarinya lagi.” Fernia dan Bit membantu Velia untuk bersandar kembali pada tembok lalu memaksanya untuk meminum ramuan.
“Bagaimana cara memetik bunga patah hati tanpa menyentuh durinya?” tanya Velia yang berpikir kalau akan menyusup saat semua orang pergi.
“Tidurlah dulu. Setelah kamu bangun dan sehat, aku akan memberitahukan caranya," tutur Fernia sambil terbang menuju ruangan lain untuk menyiapkan ramuan lain yang dapat memulihkan kondisi Velia.
Ramuan ini memang hanya boleh diberikan ketika orang yang terkena duri sudah sepenuhnya sadar sehingga tidak bereaksi dengan racun yang tersisa di tubuh dan menyebabkan efek lain yang lebih mengerikan.
"Minumlah," pinta Bit yang menyerahkan mangkuk obat.
"Terima kasih karena sudah menolongku. Ternyata kalian bisa bergerak seperti manusia. Aku sungguh terkejut. Apa kalian juga sering ngobrol dengan manusia yang berkunjung ke taman Merah dan menolong mereka yang kesusahan?" tanya Velia sambil menghabiskan ramuan obat.
"Kami yang ada di taman ini memang bisa bergerak hampir seperti gerak manusia akan tetapi selama ini kami hanya bisa berkomunikasi dengan Fernia saja. Baru kali ini kami mendapati manusia yang bisa mengerti bahasa kami," tutur Rob.
Velia menutup mulutnya yang membuka begitu lebar." Kenapa aku merasa sangat mengantuk padahal baru bangun tidur?"
Bit membantu Velia untuk berbaring dan membiarkannya untuk tidur. Kali ini tidurnya terlihat begitu nyenyak sekali. Dia bahkan tidak mimpi buruk ataupun mengigau seperti pagi tadi.
Beberapa jam kemudian Velia terbangun dari tidurnya dengan perut bergemuruh.
"Makanlah," perintah Fernia sambil meletakkan meja kecil yang mengurung tubuh Velia.
Bit membantu Velia untuk bergeser ke atas agar lebih mudah bersandar di tembok. "Makanlah yang banyak."
"Makan juga buah-buahan yang segar ini. Aku sengaja memetik banyak buah karena aku tidak tahu apa kesukaanmu." Rob menunjuk pada mangkuk besar yang berisi beraneka buah.
“Terima kasih atas pertolongan kalian. Aku tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan kalian,” ujar Velia dengan mata berkaca-kaca.
“Tidak perlu sungkan,anggap saja kami adalah saudara.” Fernia tersenyum memandang Velia.
Velia benar-benar terharu mendengar perkataan Fernia hingga sebutir air mata meluncur menuruni pipinya. Dia kemudian memeluk Fernia dengan hangat lalu memeluk Bit dan juga Rob yang sudah membantunya. Bit juga sempat menitikkan air mata haru karena perlakuan Velia.
“Sekarang aku akan memberitahumu tentang bunga patah hati.” Fernia duduk di ranjang dengan wajah yang serius.
“Kamu tentu sudah mendengar beberapa hal tentang bunga, sekarang aku akan memberitahukanmu tentang durinya. Duri bunga berfungsi untuk melindungi bunga agar tidak bisa dipetik oleh sembarang orang karena bahaya dan kesedihan yang ditimbulkannya. Duri itu walaupun terlihat kecil dan halus tapi sangatlah tajam. Tumbuh mengelilingi bunga hingga bunga yang sudah mekar berada di dalam perlindungan duri. Bila tertusuk duri maka bekas tusukan akan terus mengeluarkan darah sampai korban mati karena kehabisan darah, walaupun tusukannya sangat kecil. Di dalam duri mengandung zat pengencer dan anti pembekuan darah hingga luka yang timbul tidak dapat menutup sendiri seperti luka pada umumnya. Beruntung para hewan segera membawamu ke sini untuk diobati," papar Fernia dengan panjang lebar.
“Sekali lagi terima kasih buat semuanya,” ujar Velia. Dia merasa beruntung memiliki teman-teman baru yang mau menolongnya.
“Agar kamu bisa mengambil bunga maka kamu harus menyanyikan suatu mantra untuk membuka jalan agar duri mau menyingkir. Lagu itu seperti ini,” kata Fernia yang disambung dengan senandung nyanyian yang menyayat hati.
'Kau kekasih yang kubenci menyingkirlah dari hidupku. Tanggung semua kesedihan karena pengkhianatanmu. Bunga yang cantik buatlah patah hatinya agar terbalaslah dukaku.'
"Coba ulangi sampai benar-benar menghafalnya di luar kepala karena tidak boleh ada kesalahan sekecil apapun," ucap Fernia.
Velia menyanyikan lagu itu berulang-ulang sampai merasa sudah sangat menghafalnya. Dia merasakan kesedihan akan pengkhianatan di dalam lagu pendek bunga patah hati. Velia tidak bisa membayangkan kesedihan macam apa yang akan dialami oleh orang yang memakan bunga ini, mungkin bunga ini digunakan untuk membalas sakit hati.
Setelah Velia menghafal dan dapat menghayati rasanya sakit hati, Fernia membawa Velia keluar menuju halaman. Di sudut halaman yang terlihat rimbun oleh dedaunan semak terlihatlah bunga patah hati yang berwarna putih. Velia berdiri di depan bunga, menyatukan kedua tangan seperti sedang berdoa. Gadis itu mulai melantunkan lagu yang menimbulkan kesedihan.
Daun bunga patah hati bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri, duri yang mengelilingi bunga bergerak menuju ke dasar pohon mendekati akar. Velia terus bernyanyi sambil memetik bunga, Fernia mengulurkan toples kecil untuk menyimpan bunga agar awet dan tidak busuk hingga saatnya digunakan.
Setelah bunga tersimpan dengan aman, Velia menghentikan nyanyian dan itu membuat duri kembali ke tempatnya. Bekas bunga terlihat sebuah bakal bunga yang kecil.
Menurut Fernia, bakal bunga itu akan mekar dalam waktu satu bulan sejak kemunculannya. Dalam satu pohon hanya terdapat satu bunga saja.
Velia pamit pada Fernia dan hewan-hewan penghuni hutan yang sudah menolongnya.
"Rob dan Bit akan mengantarkanmu keluar taman dengan selamat agar tidak terpikat oleh bunga-bunga berbahaya. Hati-hati di jalan." Fernia terbang rendah untuk melepas kepergiannya.
Velia memeluknya sekilas. "Sekali lagi terima kasih."
Taman ini seperti labirin yang ditumbuhi oleh bunga dan daun-daunnya yang lebat, kalau saja tidak ada Rob dan Bit maka bisa dipastikan Velia akan tersesat karena tidak tahu arah pulang.
Velia memeluk Rob dan Bit ketika mereka sudah jauh dari rumah Fernia. "Terima kasih kalian sudah membantuku. Seharusnya aku tidak bernafsu mengambil bunga itu dan menunggu perintah kalian."
"Sama-sama. Kami senang kamu selamat," ujar Rob untuk mewakili istrinya yang saat ini terisak karena terharu.
"Jangan menangis. Kapan-kapan aku akan berkunjung lagi," balasnya.