Gua Buned

1430 Words
Wanda dan Xonxo menanti Velia dengan cemas, mereka bergantian mengawasi pintu masuk taman. Sudah beberapa hari ini Wanda tidak bisa menghubungi Velia melalui telepati hingga rasa cemasnya semakin bertambah. Xonxo melihat Velia yang berjalan diapit oleh dua kelinci, “Dia kembali, Velia sudah kembali.” Wanda segera keluar dari tenda untuk menyongsong kedatangan Velia dengan membuka lengannya lebar-lebar hendak memeluk Velia tetapi Velia terlebih dahulu memeluk dirinya dan Xonxo sekaligus. “Terima kasih sudah mengantar dan membantuku.” Gantian Rob dan Bit yang dipeluk oleh Velia. Kedua kelinci itu kembali memasuki taman untuk pulang ke rumah. “Apa kamu mendapatkannya?” tanya Wanda dengan tidak sabar. Sambil tersenyum bangga, Velia menunjukkan toples berisi bunga patah hati pada Wanda dan Xonxo. Dia menyerahkan toples pada Wanda untuk disimpan bersama bahan yang lainnya. Segera mereka berkemas untuk melanjutkan perjalanan karena waktu Xonxo tinggal tiga hari lagi sebelum pulang. Tujuan mereka selanjutnya adalah menuju bukit ketakutan mendalam, sebelum menuju bukit itu mereka akan melewati padang rumput yang ditumbuhi jamur kancing yang dicari oleh Xonxo. Kuda-kuda liar tetap setia mengantarkan perjalanan, mereka sungguh beruntung karena para kuda lebih memahami medan. Hari menjelang malam saat mereka sampai di padang rumput Poce, mereka harus berkemah dan baru mencari jamur saat pagi menjelang. Di dalam tenda Velia memasak makanan untuk Wanda dan Xonxo sementara dua orang ini bercakap-cakap. Ketiga kuda mereka juga sudah beristirahat di luar tenda dalam perlindungan mantra pelindung milik Velia. Xonxo dan Wanda menyuruh Velia untuk bercerita saat dia ada di dalam taman Merah. Velia menceritakannya dengan berapi-api, tak satu pun yang disembunyikan pada mereka. “Ternyata taman merah tak seindah cerita orang,” ujar Xonxo. “Tergantung bagaimana kita memikirkan bagaimana taman itu, kalau tidak ada dua kelinci lucu dan menggemaskan itu maka kita tidak bisa menemukan bunganya. Mengingat kita sama sekali tidak mengetahui bentuk dan warna dari bunga patah hati, " tutur Velia. Menjelang tengah malam Velia tidur dengan gelisah karena mendapatkan mimpi yang sangat buruk. Pakaiannya jadi basah oleh banyaknya keringat yang muncul. " Vel! Bangun, Vel! " Wanda yang terbangun karena haus berusaha menyadarkan Velia yang sebentar-sebentar membuang muka ke arah sebaliknya sambil meracau tidak jelas. “Ada apa? Apa ini pengaruh dari duri bunga patah hati?” tanya Wanda pada Velia yang sudah terbangun setelah sekian lama berusaha dibangunkan. “Aku rasa tidak, aku hanya bermimpi buruk saja. Sebaiknya kita kembali tidur,” ujar Velia. Wanda membuatkan dua gelas s**u hangat untuk mereka berdua minum, agar Velia segera tertidur setelah menghabiskan susunya. Velia adalah tipe orang yang gampang tertidur jadi cara ini benar-benar berhasil. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang memegang kuncup teratai untuk menghisap kenangan seseorang melalui mimpi dan menggantikannya dengan mimpi buruk. Malam berlalu dengan cepat, pagi-pagi sekali mereka bertiga sudah keluar dari tenda. Jamur paling berkasiat saat dipetik pagi hari, saat embun turun dan menempel di permukaan jamur. Kalau lapisan embun menghilang saat panas terik maka kasiatnya akan berkurang banyak. Mereka mencari jamur yang tumbuh di bawah batang pohon yang sudah mati. Sementara Xonxo dan Wanda mencari jamur obat, Velia malah mencari jamur yang bisa dimakan. Gadis itu sudah merencanakan sejak semalam, dia ingin membuat pepes jamur yang lezat untuk sarapan. “Lihat aku mendapatkan banyak jamur.” Velia mengacungkan seplastik jamur kancing. “Bukan jamur itu yang kita cari, jamur seperti inilah yang kita cari.”Wanda menunjukkan seplastik jamur yang mereka harus cari. “Itukan jamur yang kamu dan Xonxo cari, kalau aku lebih memilih jamur lezat ini," ujar Velia dengan wajah cerah. “Ish, ya ampun. Jadi dari tadi kamu sibuk mencari jamur lain? Kamu tidak berniat membantu Xonxo?” tanya Wanda. “Tentu saja aku membantu Xonxo, tapi caranya berbeda. Aku membantu menyediakan makanan lezat untuk kalian,” ujar Velia sambil melenggang pergi “Dasar Velia!” Wanda berlari mengejar Velia yang menghindar sambil tertawa mengejek. Xonxo hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua orang gadis yang menemani perjalanannya. Bersama mereka perjalanan menjadi terasa cepat dan menyenangkan. Velia memasak pepes jamur yang sangat lezat sehingga membuat kedua temannya makan dengan lahap, bahkan mereka menambah porsi makan sampai kekenyangan. “Tidak sia-sia kamu mengumpulkan jamur kancing, ini sangat lezat,” puji Xonxo sambil mengelus perutnya yang jadi membuncit karena sudah tiga kali nambah nasi. “Tidak pernah aku makan pepes jamur kancing, biasanya kan jamur tiram yang dibikin pepes.” Wanda juga ikut memuji. Velia tersenyum bangga, jarang-jarang dia mendapatkan pujian karena lebih sering direndahkan akibat kemampuannya yang tidak seperti anggota keluarganya yang lain. Dia bahkan sering merasa tersisihkan karena tidak sepandai Harlan dan Wanda. “Sepertinya kita lanjutkan perjalanan setelah tidur sebentar, aku sangat ngantuk karena kekenyangan.” Wanda mengelus perutnya yang rata. “Ha, ha, ha, aku setuju.” Xonxo bahkan sudah menguap beberapa kali. Disaat kedua temannya tertidur dengan nyenyak, Velia sedang berjuang melawan mimpinya. Sudah dua kali ini dia mendapat mimpi tidak mengenakkan seperti ini, dia merasa kehilangan sesuatu saat sedang bermimpi. Velia bermimpi sedang ada di padang rumput hijau ini lagi, berdiri terpaku ketika melihat punggung laki-laki di kejauhan. Laki-laki itu menoleh dan melambaikan tangan, Velia berlari kencang untuk mengejar tapi jarak diantara mereka berdua semakin jauh. Velia merasakan tubuhnya bergetar dan sangat basah, beberapa saat kemudian dia terbangun dari tidur. Napasnya jadi tidak beraturan serta bajunya sudah basah oleh keringat dingin. Wanda duduk di tepi ranjang, masih memegang kedua pundak Velia. “Syukurlah kamu bisa bangun, aku sempat takut kamu tidak mau bangun.” Terpancar kelegaan dari mata Wanda yang berkaca-kaca, dia cemas setengah mati saat melihat Velia berteriak-teriak dalam tidur. Di tempat lain terlihat kuncup teratai yang berwarna hitam sudah setengahnya berubah warna menjadi putih, tinggal sebentar lagi maka kuncup itu akan mekar dengan warna putih yang indah. Untuk mendapatkan teratai putih yang mekar dengan sempurna maka ada harga yang harus dibayarkan, orang yang memegang kuncup memilih untuk mengorbankan Velia. Wanda membangunkan Xonxo agar mereka dapat berangkat menuju ke Buned untuk mencari kuali tanah liat yang terletak di dalam salah satu gua di pinggiran Buned. Wanda mengetahui perihal kuali ini dari Mina saat pertama kali menemukan buku ini. Mina hanya mau membicarakan tentang kuali ini, dia tidak mau memberi tahu semua bahan yang harus di cari karena Mina mengoleksi kuali. Menurut Mina, seorang penyembuh harus memiliki kuali yang sesuai dengan jiwanya. Itu sebabnya Mina menyuruh Wanda untuk memilih kuali pertamanya dengan hati. “Jadi kamu adalah anak dari Rorina? Pantas kamu membawa obat-obat yang mujarab dan belum pernah aku lihat,” kata Xonxo dengan kagum saat mendengar cerita tentang kuali yang harus mereka cari. “Konon katanya, kuali dapat memilih pemiliknya seperti tongkat sihir,” tambah Xonxo. “Berarti ini yang cari kuali harus Wanda kan?” Velia merasa lega karena kemarin dia sudah mencari sendirian, itu pengalaman yang tidak mengenakkan. “Yup, harus aku.” Wanda semangat sekali karena bagi keluarga penyembuh, kuali adalah barang penting setelah tongkat sihir. Suara bedebam yang sangat keras membuat Wanda dan Xonxo menoleh ke belakang. Xonxo langsung melompat turun dari kuda, dia berlari menghampiri Velia. Wanda menyuruh Xonxo memindahkan Velia ke rerumputan yang ada di dekat mereka. Muka Velia sangat pucat, denyut jantungnya juga lemah. Wanda memberikan obat berupa nutrisi dan juga obat pemulih. Ini adalah sesuatu yang aneh karena obat pemulih bekerja dengan lambat, sampai setengah jam baru Velia sadar. “Apa kita perlu istirahat lebih lama?” tanya Xonxo sambil memandang Velia dengan cemas. “Aku sudah sehat kok, mungkin karena kurang tidur.” Velia bersikeras bangun tapi dia terhuyung hampir jatuh, Xonxo dengan sigap menahan agar Velia tidak jatuh. “Kita istirahat dulu sebentar,” kata Wanda. “Tidak, kita berangkat sekarang. Waktu Xonxo tinggal sehari lagi. Kita harus membantu agar dia dapat bahan ramuan hingga ibunya sembuh.” Velia kembali bangkit. Berhubung Velia masih lemah jadi Xonxo menggendong Velia menuju kudanya, “Kamu ikut denganku, biar ada yang jaga.” “Terima kasih, kamu memang penolongku.” Velia menyandarkan kepala di d**a Xonxo yang bidang. Wanda merasa Velia sedikit berubah tapi dia masih belum tahu perubahan apa, rasanya aneh melihat sikap Velia. Sepanjang jalan yang mereka lalui, Velia dan Xonxo selalu bercakap-cakap dan bergurau melupakan Wanda yang mengendarai kuda dengan sangat lambat di belakang mereka. Velia bahkan tertidur menyandar pada Xonxo, Xonxo sama sekali tidak terganggu karena dia menikmati saat-saat Velia bergantung padanya. Wanda menghampiri kedua temannya yang sudah sampai terlebih dahulu di mulut gua yang namanya juga Buned. Bagi orang lain, gua Buned hanya tampak seperti gua biasa tapi bagi anggota keluarga penyembuh atau yang memiliki bakat menyembuhkan maka gua ini seperti surga. “Wan, bisa minta tolong untuk mengambilkan kuali sebagai hadiah untuk penyembuh Rorina,” pinta Xonxo. “Pilihkan yang bagus biar bunda Rorina senang dan mau membantu Xonxo.” Velia ikut meminta. “Kamu pikir bundaku matre yang hanya mau membantu kalau dikasih barang bagus?” kata Wanda sinis. “Maaf, bukan begitu maksudku. Aku hanya ingin memberikannya sebagai tanda terima kasih. Waktu itu beliau sudah bilang mau membantu walaupun tanpa bayaran.” Xonxo buru-buru menjelaskan agar Wanda tidak salah paham. “Baiklah, akan aku ambilkan sekalian.” Wanda menggumamkan mantra agar tongkat sihirnya dapat menyala, tak lupa dia memanggil Pixie untuk menemani perjalanan. Gua Buned sangat gelap dan itu membuat orang biasa jarang memasukinya, lentera ataupun obor tetap tidak bisa menerangi dengan baik sehingga banyak yang tersesat dan akhirnya hilang di dalam gua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD