Kuali Pertama Dari Hati

1041 Words
Gua Buned terlihat sempit ketika berada di mulut gua, tapi lambat laun jadi membesar hingga Wanda sekarang bisa berjalan tegak tanpa takut dahinya terantuk stalaktit. Sesekali Wanda mengusap wajah yang basah akibat terkena air yang menetes dari stalaktit. Seberkas sinar terlihat dari kejauhan menandakan kalau ini adalah jalan yang benar jadi Wanda terus menyusuri lorong itu. Sebuah ruangan luas terlihat saat Wanda memasuki bagian gua yang terang, mulut Wanda terbuka lebar karena kagum dengan isi gua. "Ini surga kuali," celetuk Wanda dengan bersemangat. Segala jenis kuali tertata dengan rapi, jumlahnya pasti melebihi seratus buah. Wanda berjalan dan hampir-hampir tidak bisa menahan diri untuk menyentuh kuali-kuali itu karena kagum. Wanda makin terpana saat menemukan kuali yang terbuat dari emas, kuali itu sangat bercahaya. “Jangan sembarangan memilih karena bentuknya yang indah. Pilih dengan hatimu.” Nenek Mina tiba-tiba muncul di hadapan Wanda. “Nenek buyut? Kenapa Nenek bisa ada di sini?” tanya Wanda. “Sudah sejak awal aku bersama kalian tapi aku sengaja sembunyi darimu. Aku muncul untuk membimbingmu menemukan kuali pertamamu. Kuali ini penting untuk hidupmu, kalau kamu salah memilihnya maka ramuan-ramuan yang kamu buat bisa berkurang kasiatnya atau malah akan berubah menjadi racun," tutur Mina. “Kalau kuali pertama itu begitu penting, mengapa nenek buyut bisa memiliki begitu banyak kuali?” Wanda mengingat kalau keluarga mereka memiliki ruangan yang khusus dipakai untuk menyimpan kuali. “Kuali pertama menentukan kuali berikutnya. Semua kuali yang nenek punya memiliki kelebihan masing-masing tapi tetap saja yang terbaik adalah kuali pertama, maka dari itu pilihlah kualimu dengan hati.”Mina terbang melayang-layang sambil membentangkan tangan mengitari ruangan gua. Pandangan Wanda terpaku pada kuali dengan hiaasan berlian dibagian leher, gadis itu mencoba mengangkat kuali itu tetapi sangat berat. Dia bahkan tidak berhasil menggeser apalagi mengangkatnya. Wanda kembali melihat-lihat kuali yang lain. Dia melihat kuali perak dengan ukiran yang sangat indah, tapi saat melihat ke dalam terdapat ular berwarna hijau dengan corak biru tua yang mendesis marah. Wanda buru-buru menjauh, takut digigit karena bisa ular ini sangat mematikan. Wanda mendekati kuali yang tampak kusam dan terlihat tua, meskipun tidak suka tapi dia mencoba mengangkatnya. Wanda merasakan seperti tersengat oleh aliran listrik, Pixie mengambil sebuah buku yang terletak di meja batu dan menggunakannya untuk memukul tangan Wanda hingga kuali itu terlepas. Kuali itu terbang kembali ke rak, berada di tempat semula seolah tidak pernah diangkat. Beberapa kali Wanda memilih tapi semua kuali yang dilihatnya tidak ada yang pas, bahkan ada satu kuali yang meluncur jatuh ke lantai hingga pecah saat diangkat oleh Wanda. “Nenek, aku sudah capek. Kapan aku menemukannya?” Wanda mulai mengeluh, dia duduk di kursi yang ada di tengah-tengah ruangan sambil memijat kakinya yang sudah diluruskan. “Temukan dengan hati, tanyakan pada hatimu apakah itu kuali yang tepat,” kata Mina sambil terbang menuju ke salah satu sudut gua yang terdapat perlengkapan untuk membuat kuali. Pixie juga ikut terbang untuk mengagumi kuali yang ada di salah satu meja kerja. Wanda juga ikut mendekat karena penasaran. Wanda mengamati kuali yang sedang dikagumi oleh Mina dan Pixie, kuali itu sangat halus. Terdapat gambar lambang keluarga penyembuh, Wanda mengangkat kuali dan melihat lebih cermat segala sisinya. Betapa terkejutnya dia karena dibagian dasar kuali terdapat ukiran namanya. Bukan hanya nama panggilan tetapi nama lengkapnya yang tertulis di sana. “Apa artinya ini, Nek?” tanya Wanda. “Artinya kamu sudah menemukan kualli pertamamu.” Mina terbang menjauhi Wanda menuju ke langit-langit gua dan menghilang. Wanda kemudian menyimpan kuali miliknya di dalam ransel. "Aduh, hampir saja lupa pesan Xonxo. Nyari punya sendiri saja lama banget. Gimana caranya nyari buat Bunda,", keluh Wanda. Belum-belum sudah merasa lemas karena membayangkan sulitnya mencari kuali yang tepat. “Ingat-ingat saja kuali koleksi bunda. Bukannya kuali selanjutnya bisa dipilih dengan bebas?" ucap Pixie. "Ide cemerlang," puji Wanda yang kembali menyusuri deretan rak sambil mengingat koleksi bunda. Bunda cenderung suka kuali yang memiliki ukiran bunga. Bunda sudah memiliki ukiran bunga angrek, mawar, melati, dan tulip. Wanda tertarik ketika melihat kuali dengan ukiran 3 bunga matahari gara-gara teringat kalau bunda baru menanam bunga matahari di taman pribadinya. Wanda lalu menyimpan kuali yang baru ditemukan ke dalam ransel dan segera berlari keluar. Mereka masih harus melanjutkan perjalanan untuk membantu Xonxo karena dia hanya memiliki waktu hari ini. Apapun yang terjadi besok dia harus kembali untuk mengakhiri perjalanan lintas waktunya. “Wanda, cepatlah! Velia kembali pingsan,” panggil Xonxo ketika melihat kepala Wanda muncul dari mulut. "Velia!" teriak Wanda sambil berlari untuk mendekati Velia yang sudah sangat pucat. "Bertahanlah." Wanda mengucap permohonan ketika meminumkan obat penyembuh. Wanda pun terpaksa mendirikan tenda di siang hari karena Velia harus beristirahat, rasanya tidak tega kalau membiarkannya kepanasan. Ini sudah tiga kali Velia pingsan dalam satu hari. Padahal harusnya tidak ada efek samping dari obat ataupun dari racun duri bunga patah hati. “Aku akan mencari air dulu, agar Velia bisa minum.” Xonxo pamit saat menyadari air minum mereka sudah habis. Satu setengah jam berlalu tapi Xonxo masih belum kelihatan padahal Velia sudah banyak mengeluarkan keringat, bibirnya sudah kering dan pecah-pecah. Wanda takut Velia jadi kekurangan cairan kalau Xonxo masih belum kembali juga. Wanda memanggil Pixie keluar untuk menjaga Velia sementara dia akan menyusul Xonxo, siapa tahu dia berada dalam masalah. Wanda kemudian merapal mantra untuk mencari jejak, tak berapa lama muncul jejak kaki milik Xonxo yang berwarna coklat transparan. Wanda berjalan menyusuri jejak yang ditinggalkan. Namun Wanda merasa heran karena jejak itu tidak berbelok ke arah kanan menuju mata air tetapi berbelok ke kiri menuju salah satu gua. Dia kemudian berjalan mengendap-endap karena lebih baik waspada saat tidak tahu kejadian apa yang menimpa Xonxo. Meskipun dari jejak yang terlihat tidak tampak ada perlawanan atau gerakan yang aneh tapi Wanda tetap menyiapkan tongkat. “Sebentar lagi, tinggal sebentar lagi.” Suara Xonxo terdengar bergema di dalam gua. Wanda mengintip karena penasaran lalu menutup mulut dengan tangan untuk menahan agar tidak bersuara. Betapa terkejutnya Wanda saat melihat apa yang ada di atas telapak tangan Xonxo, itu terlihat seperti kuncup tulip hitam yang sering dipakai untuk mengirimkan bayangan kesedihan dan mengambil kenangan indah dari korban. Pikiran buruk menyusup dalam otak Wanda yang kemudian membuatnya ketakutan hingga berjalan mundur hendak keluar dari gua. Dia lalu teringat akan Velia yang sering pingsan. Jangan-jangan apa yang terjadi pada Velia itu karena ulah Xonxo. Tanpa sengaja Wanda menginjak ranting yang tergeletak tak jauh dari mulut gua hingga menimbulkan bunyi yang mengejutkan Xonxo. Xonxo menoleh ke belakang, matanya menatap curiga ke arah Wanda bersembunyi. Xonxo menyiapkan tongkat untuk memeriksa keadaan sekitar padahal tinggal sebentar lagi semuanya selesai dan dia bisa segera pulang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD