Chapter 7 : Ketika bertemu kamu lagi

2099 Words
Fabian langsung terdiam, dia terkejut bercampur bingung, kenapa Ranty ada disini? Dan kenapa mereka bertemu kembali? Fabian berkali-kali melihat Ranty dan berkali-kali juga dia merasa bahwa ini beneran gadis itu. Gadis yang selama ini selalu ada di dalam di ingatan nya. "Fabian?" Ranty tersenyum senang tidak percaya juga kalau dia akan bertemu dengan Fabian secara kebetulan seperti ini. "Ranty, apa kabar?" Tanya Fabian gugup dan gadis itu langsung tersenyum, "Baik, btw jangan ngomong disini, nggak enak soalnya hehe." Ujar Ranty. "Mau kemana?" Tanya Fabian dan Ranty menunjuk kafe di seberang kantor. "Oh boleh ayo gue anterin." Ujar Fabian sedangkan Ranty menatapnya tak yakin. "Tapi kan basah kuyup, nggak apa-apa?" Tanya Ranty dan Fabian mengangguk. "Iya nggak apa-apa lagian saya udah biasa kok, dan yang punya kafe itu pun kenalan saya." Ujar Fabian tersenyum dan Ranty membalas senyumnya menjadi senyum canggung. Tiba-tiba saja Fabian menggunakan bahasa formal dan Ranty jadi canggung, karena dulu mereka biasanya memakai bahasa informal. Oke, waktu sudah lama berlalu. Ini tepat lima tahun setelah dia bertemu dengan Fabian kembali. Dan semua orang sudah berubah. *** "Jadi kerja juga di Sea Group?" Tanya Ranty dan Fabian mengangguk. Dalam hatinya dia berkata, tidak hanya kerja tapi dia kah yang memiliki perusahaan itu, dan dia baru kalau Ranty masuk dan menjadi karyawan nya disini. "Di divisi apa?" Tanya Ranty penasaran. Fabian terdiam sebentar tampak memikirkan sesuatu, dia harus jawab apa? "Ah, divisi A, iya  disana, yaampun saya nggak nyangka kalau bisa ketemu kamu lagi." Ujar Fabian berbohong dan Ranty tersenyum. Fabian menjadi merasa bersalah karena sudah membohongi Ranty, apalagi kenapa dia mendadak menjadi bicara formal. "Senang bisa ketemu kamu lagi Fabian." Ujar Ranty tersenyum, senyuman yang selalu Fabian rindukan sampai saat ini. "Iya, senang juga bisa bertemu dengan kamu kembali." Jawab Fabian sangat senang lebih dari apapun, doa tersenyum dan kemudian menatap mata Ranty tanpa henti. *** Reno baru saja keluar dari dalam lift ketika dia bertemu dengan Fabian. Reno sedikit terkejut karena kondisi laki-laki itu jauh dari kata baik-baik saja. Fabian berdiri di depan lift dengan baju yang basah, rambut yang berantakan. Persis seperti tikus yang baru tercebur kolam. "Lo ngapain?" Reno bekarta dan Fabian hanya menatap matanya tajam. Dia menarik Reno untuk masuk kembali ke dalam lift dan pintu lift tertutup, Fabian memencet lantai tiga yang dimana ruangan nya berada. Reno menatap Fabian yang sekarang jadi terdiam. "Udah kayak tikus kecebur got lo." Ujarnya lalu terkekeh sedangkan Fabian melemparkan tatapan sinis kepadanya. Pintu lift terbuka dan Fabian langsung menarik tangan Reno dan masuk ke dalam ruangan nya. "Lo kemana aja tadi babi? Gue nungguin tau, sampe basah gini juga gara-gara lo!" Ujar Fabian emosi dan Reno hanya menunduk lalu terkekeh. "Maap ya namanya tadi abis ngurus kerjaan lo juga kan gue." Omel Reno dan Fabian hanya bisa menghela nafas panjang. "Lo tau nggak tadi gue habis liat apa?" Tanya nya mulai serius dan Reno menanggapinya pun dengan serius. "Setan?" Fabian menggeleng. "Mama lomau jodohin lo lagi?" Tanya Reno dan wajah Fabian langsung berubah masam. "Bukan itu." "Terus?" "Ranty." Ujar Fabian. "Oh Ranty." Reno dengan entengnya mengulang apa kata Fabian, lalu beberapa saat kemudian dia langsung tersadar akan sesuatu. Dia menutup mulunya dan melihat Fabian dengan tatapan tidak percaya. "Demi apa lo?" Tanya nya. "Dia karyawan disini, ada di divisi G." Ujar Fabian dan Reno sangat-sangat tidak bisa mempercayai apa kata Fabian. Oke, mereka sama-sama tinggal di Indonesia, tapi kenapa mereka bertemu kembali dan bekerja di perusahaan Fabian? "Lo serius Bi?" "Iyaa! Gue juga nggak percaya sama apa yang gue liat tadi, dengan baik hatinya Ranty ngasihin gue payung dan dia netep di kafe sambil minta temen nya jemput." Ujar Fabian. Reno terlihat terdiam sebentar, "Kenapa lo nggak bareng sama dia aja kesini?" Tanya nya. Fabian langsung memasak wajah tak enak, "Nah, itu masalahnya." Ujar Fabian. Perasaan Reno langsung tidak enak, sepertinya akan ada pekerjaan tambahan untuknya kali ini, maka laki-laki itu menghela nafas panjang menatap Fabian. "Apa?" Tanya nya. "Gue ngaku sama Ranty kalau gue juga karyawan biasa dari divisi A." Ujar Fabian dan berhasil membuat Reno ingin pingsan. "Sorry ya No, tapi kayaknya lo harus ngurus yang satu ini." Ujar Fabian dan Reno meghela nafas panjang. "Ya emang itu tugas gue Bi, thanks. Kayaknya gue bakal nyari pekerjaan lain aja deh." Ujar Reno dramatis dan Fabian langsung melemparkan jas nya kearah Reno. "Awas aja lo bi!" Ancam Fabian dan Reno. "Pak Reno, tolong ambilin saya kemeja baru ya, kemeja saya basah." Pinta Fabian dan Reno langsung tertawa, "Baik Pak." Jawabnya lalu kemudian pergi keluar dari ruangan Fabian. Fabian terdiam di dalam ruangan nya, sendirian sambil sesekali tersenyum sendiri. Apakah ini sebuah takdir untuknya? Fabian melihat kemeja nya yang basah lalu malah tersenyum, kemeja ini mungkin akan menjadi saksi kalau dia  bertemu kembali dengan Ranty. Entahlah, sepertinya dia sudah mulai gila. *** Fabian melihat dirinya di pantulan cermin, dia tersenyum saat melihat dirinya sudah rapih dengan kemeja barunya yang dibawakan oleh Reno. Fabian langsung mendadak terdiam saat dia baru menyadari kalau mereka tidak sempat bertukar nomor telepon. Fabian terkekeh, dia menjadi malu sendiri. Fabian keluar dari ruangan nya. "Pagi semua!!" Ujar Fabian dengan senyuman ceria, membuat semua karyawan di divisi A langsung terdiam dan menatapnya bingung. "Ini udah siang Pak Fahri." Jawab salah satu karyawan dan Fabian terkekeh, "Iya kah? Saya baru sadar," Dia melihat keluar jendela besar dan tersenyum sangat lebar. Reno yang duduk diam di tempatnya hanya bisa menggeleng melihat tingkah sahabatnya itu, jatuh cinta memang bisa merubah segalanya. "Kerja yang semangat, saya sangat bangga kepada kalian, kalau ada butuh apa-apa bisa langsung ke kantor saya saja ya." Ujar Fabian tersenyum lalu kemudian mengedipkan satu matanya dan kembali masuk ke dalam ruangan nya. "Wah, kerasukan jin baik ya?" Tanya Siska, salah satu karyawan divisi A. Semua orang tau, kalau Pak Fahri atau Fabian itu terkenal dengan sifatnya yang tegas dan benar-benar galak. Tidak menghargai, membuang berkas yang salah di tempat sampah yang dimana ada karyawan yang membuat berkas itu, memaki tanpa kenal tempat, umur, gender dan lain-lain. Kalau salah ya salah. Tapi, hari ini sepertinya ada yang berbeda. Pak Fahri yang selalu memasang wajah jutek dan tidak ramah itu berubah menjadi senyuman. "Lagi jatuh cinta kali." Sahut Vino. "Masa iya ada cewek yang mau sama muka datarnya terus mulutnya yang pedes, nggak bakal kuat cewek digituin!" Sambar Siska dah semua mengangguk. "Baru dapet warisan kali?" "Hahahaha." Gelak tawa karyawan terdengar Akhirya semua karyawan menggeleng dan kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Reno yang bahkan sedari tadi menguping omongan karyawan hanya terkekeh. Apa yang Fabian temui hari ini lebih berharga dari sekedar mendapat warisan. Cinta di masa lalunya datang kembali menghampiri dirinya. Karena merasa terlalu lelah, Ranty memutuskan untuk pergi sebentar ke kamar mandi untuk membasuh wajah nya sebentar. Ranty berjalan menuju toilet dan langsung masuk ke sana. Dia menatap pantulan dirinya di cermin dan langsung tersenyum lebar. "Kerja bagus Ranty!" Puji nya untuk diri sendiri dan Ranty tersenyum. Dia sangat bangga dengan apa yang sudah dia capai sampai saat ini. Akhirnya dia dapat pekerjaan tetap, padahal biasanya dia jualan online shop dan merasa kalau dia harus mencari pekerjaan tetap, karena kalau hanya jualan online hasil yang dia dapat tidak akan menentu. Ranty memutar keran dan air langsung keluar dari sana. Ranty membasuh wajahnya dan langsung merasa lega dan juga segar. Rasanya  semua masalah hilang ketika dia membasuh wajahnya, seakan masalah itu terbawa hanyut dengan air. Ranty mengambil beberapa lembar tissue dan mengeringkan wajahnya lalu kemudian keluar dari kamar mandi. "Aduh tuh anak ada-ada aja deh." Reno bergumam tetapi matanya fokus kepada tablet yang berada di tangan nya. Reno hendak berbelok ke suatu tempat sebelum akhirnya dia berhenti, ekor matanya menangkap sesuatu. Dia melihat ada seorang gadis yang sedang berjalan di lorong sambil melipat tissue. Reno sangat mengenali gadis itu. Dia langsung menganga lebar karena gadis itu adalah Ranty, dan semua apa yang diceritakan Fabian bukanlah fiksi tapi kenyataan! Reno kemudian memilih bersembunyi saat Ranty berjalan kearahnya, dia terdiam saat gadis itu lewat dan juga memperhatikan punggung gadis itu. Reno masih tidak menyangka kalau dia akan benar-benar bertemu lagi dengan Ranty, gadis yang sudah merubah Fabian menjadi lebih baik padahal gadis itu tidak menyentuh Fabian sama sekali. Reno jadi memikirkan kata-kata Fabian, apakah ini takdir? "Reno!" Fabian datang dari belakang mengangetkan Reno yang saat itu masih sangat terkejut. "Ada apa Pak Fahri." Ujar Reno kemudian dan Fabian langsung menatap laki-laki itu. "Ada satu kerjaan lagi untuk kamu." Ujar Fabian. "Apa pak?" "Tolong  cari tau informasi karyawan baru itu dan juga cari resume dia ya, saya mau lihat." Ujar Fabian tersenyum sangat lebar. Reno menghela nafas, "Baik pak." Jawabnya. "Baguslah, kita harus cepat ya, sebentar lagi ada meeting." Ujar Fabian dengan senyuman dan langsung menepuk pundak Reno lalu pergi. *** "Kamu harus tau ya Ran, kalau pemilik perusahaan ini bener bener tegas banget, kamu pasti bakal ketemu sama dia suatu saat dan ketemu sama omelan nya dia. Aku nggak yakin sih kalau kamu bakaln kuat sama bacotan nya dia, jujur aku sih nggak sanggup jadi divisi A setiap hari harus berurusan sama Pak Fahri." Ranty hanya terdiam mendengarnya, saat mereka sudah mengerjakan pekerjaan nya masing-masing maka mereka akan bergabung dan saling bergosip. Ternyata ini sisi gelap dari divisi G. "Tapi, kalau dilihat-lihat dia ganteng juga Sis, emang sih galak, tapi kalau mukanya lumayan mah nggak apa-apa kali. Lagian juga mungkin dia galak di luar lembut di dalam." Bela Febby dan Siska hanya tertawa. "Iya sih, tapi mulutnya itu lho, aku pernah disemprot dikatain nggak becus kerjanya cuma pake make up aja, dan dia pernah nyuruh aku jadi beauty vlogger aja dibanding kerja disini." Omel Siska dan semua orang langsung tertawa. Semua divisi G kecuali Ranty sang anak baru ingat betul saat Pak Fahri masuk ke dalam ruangan mereka dan memaki Siska di depan orang banyak, tak kenal tempat gadis itu dimaki habis-habisan. "Tapi, untunglah itu terakhir kali dia kesini kan? Semoga aja dia nggak kesini ya, gedek banget kalau dia kesini. Rasanya tuh deg-degan." Ujar Ayu dan semua orang langsung tertawa. "Permisi." Seseorang membuka pintu divisi G dan semua mata langsung tertuju kepada orang itu. Orang itu berdiri dengan tatapan tajam, dan semua orang yang ada di divisi G langsung terdiam dan sesaat menegang. "Fabian." Ujar Ranty dan laki-laki itu adalah Fabian, dia melihat Ranty lalu tersenyum. "Bisa keluar sebentar?" Tanya nya. "Tapi saya lagi kerja." "Kayaknya tadi kalian ngerumpi dan nggak keliatan kerja." Komentar Fabian lalu melirik tajam kepada semua orang yang berada di divisi G. Semua karyawan yyang berada di divisi G langsung menunduk takut. "Bu, saya pinjem ya." Ujar Fabian meminta izin kepada bu Claudia dan bu Claudia mengangguk. Fabian langsung menarik tangan Ranty pelan dan membawanya keluar dari ruangan divisi G. Semua orang menghela nafas lega saat Pak Fahri keluar dari ruangan mereka, rasanya sesak dan tidak bisa bernafas. Tapi, tidak lama kemudian seorang laki-laki rapih dengan jas datang dan mengunci pintu divisi G. "Ada yang mau saya bicarakan kepada kalian." Ujar laki-laki itu yang tak lain  adalah Reno. Semua karyawan divisi G langsung berhenti bernafas untuk kedua kalinya. "Saya Reno, sekretaris dari CEO perusahaan kita. Saya ingin memberitahukan kepada kalian semua. Pak Fahri akan sering kemari mulai sekarang, dan saya harap kalian tetap tenang," "Karena Pak Fahri kesini bukan sebagai Pak Fahri yang seorang CEO dari Sea Group, tapi sebagai Fabian yang seorang karyawan dari divisi A. Jadi, saya harap jika Pak Fahri datang kesini kalian tidak terlalu terkejut dan jangan terlalu formal kepadanya, bertindak biasa saja seperti karyawan lainnya," "Tapi, hal itu hanya berlaku jika kalian bertemu dengan Pak Fahri disini, diluar divisi ini kalian tetap formal dan jaga sopan santun kalian, tapi ada pengecualian," "Jika kalian bertemu Pak Fahri bersama Ranty, maka anggap dia sebagai karyawan. Jadi intinya," "Kalian jangan pernah bilang ke Ranty kalau Pak Fahri atau Fabian adalah CEO dari perusahaan ini, mengerti?" Jelasnya panjang lebar. Semua karyawan divisi G langsung mengangguk paham, aura seram Reno mematikan semuanya. Reno tersenyum simpul, "Bagus, saya permisi." Ujar Reno laku kemudian segera pergi dari divisi G. Semua karyawan divisi G begitu Reno meninggalkan ruangan mereka langsung menarik nafas banyak banyak. Dua harimau masuk secara bergantian dan pernyataan yang mereka dapat membuat semuanya tercengang. Sedangkan Fabian membawa Ranty tak jauh dari ruangan divisi G. "Saya boleh minjam ponsel kamu?" Tanya nya dan Ranty mengangguk. Dia langsung memberikan ponselnya kepada Fabian. Fabian menerima ponsel itu dan tersenyum, ponsel yang mereka beli masih belum di ganti oleh Ranty sampai sekarang. Fabian mengetikkan nomor telepon di kontak Ranty dan menelepon nomor itu lalu layar ponsel Fabian menyala. "Saya udah dapat nomor kamu." Ujar Fabian senang. Dia mengembalikan ponsel itu kepada Ranty. "Sangat senang bisa bertemu kamu lagi." Ujar Fabian hangat, sambil menatap mata Ranty dengan sejuta arti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD