Fabian keluar dari kamar mandi dan menatap dirinya di cermin. Hari ini dia sudah sangat siap untuk pergi bekerja. Pergi mencari uang dan juga untuk bertemu dengan Ranty.
Sedari tadi dia pulang kerja kemarin senyuman tidak pernah luntur di wajahnya, dia terus memasang wajah bahagia, tidak seperti biasanya yang suram.
"Reno, dateng sekarang ya." Fabian menutup telepon sambil memakai dasi nya rapih, dia tidak mau memakai jas karena kalau dia berpapasan dengan Ranty, maka terlihat akan terlalu formal.
Dia tersenyum senang, karena akhirnya masa-masa di kantor yang selama ini dia pikir masa-masa dimana dia menjadi beban berubah sekitar saat Ranty datang dan masuk ke dalam dunia nya.
Sedangkan, Ranty sudah berada di kantor nya sejak sepuluh menit yang lalu, dia langsung naik ke lantai dan berlari kecil agar sampai ke Divisi nya lebih cepat.
Ranty membuka pintu ruangan divisi G, dia melihat beberapa orang sudah datang dan melempar senyuman sopan kepada Ranty. Ranty hanya membalas tersenyum dan duduk di kursinya.
Tanpa disadari orang-orang di belakang meliriknya secara bergantian, setelah tau siapa itu sosok Ranty semuanya langsung memilih terdiam.
"Ranty." Seseorang mengetuk meja nya dan Ranty sontak mendongak melihat bu kepala divisi yaitu mba Claudia sudah berada di depan meja nya.
"Sepertinya kamu buru-buru banget kesini, ini terbilang masih terlalu pagi lho." Ujar Claudia dan Ranty langsung terkekeh.
"Udah biasa kok mba saya bangun jam segini." Jawab Ranty sambil tersenyum.
Claudia hanya terkekeh, "Oke, berarti bertambah lagi orang-orang rajin di divisi saya, terimakasih ya Ranty." Ujar Claudia lalu segera kembali ke meja nya dan duduk di sana.
Ranty terdiam lalu beberapa menit kemudian dia tersenyum, untunglah masih ada kebiasan baik dalam diri Ranty sehingga hidupnya tidak terlalu buruk.
Fabian melangkah kan kakinya menuju suatu ruangan dengan hati yang bedebar, dia terdiam sebentar di ruangan itu lalu kemudian dengan berani membuka pintu nya.
Ruang kerja ayahnya yang menakutkan. Entah kenapa Fabian selalu tidak mau masuk kesana.
"Wah! Bapak CEO sudah tiba di ruangan saya." Ujar ayahnya dan Fabian hanya tersenyum.
"Bagaimana menggantikan ayah? Ayah harap semua pekerjaan Ayah dapat ditangani dengan baik, ayah tau kamu adalah anak yang baik dan juga kamu bisa bertanggung jawab." Fabian mengulum senyum.
"Iya ayah."
"Tapi, rasanya belum lengkap kalau kamu tidak punya pendamping." Ujar ayahnya tiba-tiba dan Fabian langsung mengutuk dirinya sendiri saat itu juga.
Inilah yang dia takuti, ayahnya akan berkata kalau dia butuh calon pendamping, padahal Fabian belum sangat menginginkan menikah? Bertemu orang yang tepat pun baru saat ini.
"Kalo soal yang itu, saya nggak yakin." Ujar Fabian dan ayahnya mengangguk paham.
"Jangan sampai menikah lewat dari tiga puluh tahun ya, ayah ingin menimang cucu, ataukah kita mengadakan pertemuan dengan anak direktur Yono?"
"Nggak usah yah." Tolak Fabian.
"Saya bisa cari calon pendamping saya sendiri, ayah tidak perlu cari kayak gitu kok, gimana kalau cari aja tempat liburan yang bagus buat kita akhir tahun nanti? Kayaknya itu ide yang lebih bagus." Usul Fabian dan ayahnya langsung tertawa.
"Ayah tau kamu akan terus menghindar,"
Fabian jadi terdiam kalau sudah seperti ini, dia hanya berharap Reno cepat datang kesini.
"Kamu sudah besar, mau sampai kapan terus sibuk bekerja? Kamu juga harus memulai hidup baru, kalau ada istri kan kamu bisa kerja lebih giat, apa-apa ngurus istri,"
Fabian hanya tersenyum canggung saat menanggapi perkataan ayahnya yang sangat dia hindari setengah mati.
"Kamu ha-"
"Permisi." Reno masuk sambil membuka pintu dengan enaknya. Ayahnya serta Fabian menatap Reno.
Fabian tersenyum lebar kearah Reno, pahlawan Reno dan Fabian akan selalu mengingatnya itu.
"Maaf Pak Fabian rasanya anda harus pergi ke kantor sekarang juga." Ujar Reno dan Fabian mengangguk.
Yas, akting yang bagus Reno, lanjutkan.
Fabian bangkit dan melihat ayahnya, "Sedih rasanya tidak bisa ngobrol sama ayah lebih lama, nanti aku hubungi ayah ya." Ujar Fabian lalu segera tersenyum dan pergi keluar ruangan kerja ayahnya bersama Reno.
Reno terkekeh pelan, "Kayaknya lo jangan jadi CEO deh, jadi aktor aja cocok kok haha mana tadi akting nya sok anak polos banget euy." Ujar Reno dan Fabian langsung terkekeh.
"Perjodohan lagi?" Tanya Reno dan Fabian mengangguk.
Sahabatnya yang satu ini sudah sangat hafal bahwa ayah dan ibunya Fabian akan menjodohkan anaknya karena bagi mereka di umur Fabian yang sudah bukan remaja lagi tapi laki-laki itu belum mempunyai pacar baru.
"Gila sih demen banget orang tua lo ngejodohin lo, dan lo kuat aja lagi, kenapa nggak sewa cewek aja buat jadi pacar boongan?" Tanya Reno dan langsung membuat Fabian berhenti sebentar.
Usul Reno tadi sangat tidak terpikir olehnya. Dia menatap Reno lalu memukul belakang kepala sahabatnya itu.
"t***l apa gimana? Kalau gue nyewa cewek buat jadi pacar, nanti ayah gue bakal pengen gue cepet-cepet nikah, jangan gila ya Bi, gue nggak mau nikah sama sembarang orang!" Ujar Fabian dan Reno langsung terkekeh.
Dia sendiri saja tidak yakin dengan itu, malah menyuruh Fabian mencobanya.
"Semangat cari jodohnya sahabatku." Ujar Reno kemudian dan Fabian langsung mendengus. Sahabatnya memang minta dikubur hidup hidup!
***
Fabian turun dari mobilnya dan langsung berjalan bersama Reno yang sudah ada di sampingnya. Semua orang yang lewat menyapa dirinya dengan ramah dan Fabian tidak membalas itu dengan senyuman sama sekali. Hanya berjalan dan tidak memperdulikan sekitar.
Fabian yang dulu sudah kembali.
Fabian berdiri di depan lift dan akhirnya masuk ke dalam lift bersama Reno.
"Jadwal lu kayak biasa ya." Ujar Reno dan Fabian mengangguk paham.
Dia hanya terdiam di sepanjang lift, sampai akhirya sampai di lantai tiga. Dia langsung turun dari lift dan masuk ke dalam ruangan nya.
Fabian langsung membuka jas nya dan melihat Reno, "Susu." Ujarnya dan Reno hanya melihatnya bingung.
"Hah? Apaan?"
"Susu."
"Gue nggak punya s**u, emang gue cewek." Ujar Reno polos dan Fabian hanya menghela nafas berat.
"Beliin s**u di kantin maksud gue." Semprot nya dan Reno langsung mengerti.
"Ya bilang dong babi, makanya ngomong tuh yang jelas kenapa sih, heran." Ujar Reno lalu kemudian meletakkan tas nya.
"Gue beli dulu." Ujar Reno lalu kemudian Fabian hanya terdiam.
Dia terkekeh sebentar, lalu kemudian mengingat Ranty yang selalu meminum s**u saat di kampus. Dia jadi ingin memberikan gadis itu s**u.
***
Ketukan terdengar dari luar pintu ruangan divisi G. Semua orang menatap ke pintu penasaran, sampai akhirnya pintu terbuka dan sosok laki-laki masuk.
Semua karyawan kecuali Ranty langsung melotot, mereka pada akhirnya membuang muka dan memilih melanjutkan pekerjaan.
"Fabian?" Ranty tersenyum dan laki-laki itu jadi ikut tersenyum.
"Kenapa kesini?" Tanya Ranty.
Fabian terdiam sebentar, "Ngobrol di luar aja yuk." Ajaknya merasa tak enak dengan lirikan dari karyawan-karyawan nya.
Ranty terkekeh lalu bangkit dari duduknya, dia keluar lebih dulu dari Fabian dan laki-laki itu mengikutinya dari belakang.
"Ada apa?" Tanya Ranty ketika mereka telah berada di luar ruangan.
Fabian tersenyum dan tanpa basa-basi langsung memberikan s**u kotak kepada Ranty. "Buat kamu." Ujarnya dan Ranty menatap s**u itu.
"Makasih." Jawabnya dan menerima s**u itu.
"Ada yang mau kamu omongin ke saya?" Tanya Ranty karena sedari tadi Fabian hanya terdiam tanpa suara.
"Sebenarnya, saya mau ngajak kamu makan siang nanti, gimana? Di kafe yang kemarin?"
Ranty terdiam sebentar.
"Kalau kamu nggak mau juga saya nggak maksa kok." Ujar Fabian cepat agar Ranty tidak berpikir kalau harus ikut makan siang dengan dirinya.
Ranty lantas tersenyum, "Boleh, kebetulan saya belum punya teman makan siang." Ujar Ranty dan perlahan senyuman manis mengembang di bibir Fabian.
***
Jam istirahat sudah tiba, Ranty sudah membereskan meja kerja nya dan berdiri sambil memegang tas nya.
"Mau makan dimana Ran?" Tanya Claudia.
"Makan bareng sama teman." Jawabnya dan semuanya mengangguk.
Mereka tau siapa yang Ranty maksud 'teman' itu dan diantara mereka langsung tersenyum canggung.
"Hati-hati ya." Ujar Claudia dan Ranty tersenyum dia lalu langsung pergi keluar ruangan kerja nya dan lebih dulu pergi ke kafe yang sudah mereka janjikan sebelumnya.
Sesampainya Ranty di sana dia langsung memesan secangkir kopi sambil duduk di dekat jendela dan menunggu Fabian datang.
Sedangkan Fabian terburu-buru melepas jas nya dan memberikan nya kepada Reno, dia baru selesai rapat dan sekarang harus terburu-buru datang untuk makan siang bersama Ranty.
"Thanks, udah kayak anak karyawan kan?" Tanya Fabian dan Reno mengangguk. Tanpa basa-basi Fabian langsung tersenyum dan menepuk pundak Reno.
"Thanks." Ujarnya lalu kemudian segera pergi dari hadapan Reno dan bergegas menemui Ranty yang pasti sudah menunggu nya disana.
Fabian berlari kecil hingga pada saat akhirnya dia menyebrang jalan dan melihat Ranty yang sedang duduk sambil meniup kopi nya, Fabian tersenyum, seperti ini saja Ranty sangat cantik di matanya.
Fabian merogoh sakunya dan mengambil ponselnya, membuka kamera dan mengarahkan nya kepad Ranty, lalu kemudian mengambil foto gadis itu, dia tersenyum puas melihat hasilnya, sangat cantik. Fabian langsung jalan lagi menuju kafe karena tidak mau Ranty menunggu lebih lama.
"Siang." Fabian menyapa gadis itu dan duduk di hadapannya. Ranty tersenyum melihat Fabian datang.
"Siang juga." Jawabnya.
"Maaf lama menunggu." Ujar Fabian dan Ranty menggeleng, "Nggak kok." Jawabnya.
Fabian memanggil pelayan dan memesan makanan untuk mereka berdua.
"Udah lama rasanya tidak bertemu kamu lagi." Ujar Fabian dan Ranty mengangguk. "Iya, lama banget." Jawabnya.
"Apa kabar?" Tanya Fabian. "Baik." Jawab Ranty.
"Masih dengan Farel?" Tanya Fabian dan gadis itu hampir tersedak kopi saat itu juga setelah mendengar apa yang Fabian katakan.
"Farel?" Ulang Ranty dan Fabian mengangguk.
"Kalian dekat kan waktu kuliah dulu." Ujar Fabian dan Ranty mengangguk lagi, rupanya Fabian tidak lupa kalau dirinya tau hubungan Ranty dan Farel.
"Sama seperti biasa." Jawab Ranty enteng.
"Apa yang biasa?" Tanya Fabian.
"Hubungan kita,"
"Ada kemajuan dikit sih." Ralat Ranty dan langsung membuat Fabian tidak tenang, melihat Farel dengan Ranty di pernikahan Layla memang sangat aneh kalau mereka berdua tidak berpacaran.
"Kalian mau menikah?" Tanya Fabian dan Ranty langsung tertawa.
Bagaimana mau menikah jika Farel saja tidak memiliki perasaan yang sama.
"Bukan itu kemajuan yang saya maksud." Ujar Ranty dan Fabian semakin dibuat bingung.
"Kami hanya sebatas kakak-adik, ya lebih tepatnya beberapa tahun yang lalu dia meresmiskan saya menjadi adiknya." Ujar Ranty terdengar sedih.
Fabian langsung menghela nafas lega, ternyata itu yang dimaksud. "Bagaimana kabar teman-teman kamu?" Tanya Fabian.
"Cindy baik, Amelia baik dan Layla apalagi dia sangat baik." Jawab Ranty sambil tersenyum.
"Syukurlah." Ujar Fabian.
"Kemana aja kamu?" Tanya Ranty dan Fabian langsung memandang matanya. "Menghilang semenjak hari itu, saya ngasih uang hape ke kamu." Ujar Ranty dan Fabian langsung terdiam.
Ranty mencarinya?
Untuk apa?
"Kamu cari saya?" Tanya Fabian pada akhirnya dan Ranty mengangguk.
"Cuma kamu satu-satunya yang tau kalau saya suka sama Farel, dan cuma kamu yang pernah melihat saya menangis karena Farel," Jawab Ranty dan Fabian langsung menatap mata gadis itu.
"Seminggu setelah itu saya selalu memperhatikan kamu dan kamu selalu membuang muka saat menatap saya, kamu menghilang, dan sampai akhirnya karena kesibukan skripsi saya, saya tidak bisa melihat kamu lagi," Ujar Ranty dan Fabian hanya terdiam mendengarkan.
"Dua hari setelah saya bertemu kamu, saya memutuskan untuk mengutarakan perasaan saya kepada Farel, dan reaksi dia sangat terkejut, namun nyata nya saya ditolak, dia hanya menganggap saya sebagai seorang adik, disitu saya sangat sedih dan saya mau cerita ke kamu, tapi saya sadar, apa saya pantas berteman dengan kamu?"
"Semenjak saat itu, rasanya saya kehilangan teman bicara, kamu satu-satunya yang bisa diajak bicaranya tentang Farel, tapi kalau tiba-tiba kamu menghilang saya juga bingung mau cerita ke siapa, teman-teman saya sudah terlalu banyak beban, saya nggak maU menambah beban mereka,"
"Lucu ya, padahal saya cuma sehari bertemu dengan kamu tapi rasanya seperti sudah kenal beberapa tahun. Apa iya saya sejago itu berinteraksi denga orang? Entahlah dari semua orang rasanya saya paling bisa dengan cepat akrab sama kamu." Ujar Ranty.
Fabian masih terdiam, tubuhnya kaku, jadi selama ini Ranty mencarinya? Dan Farel tidak menyukai Ranty dan menolak gadis itu? Andai saja Fabian sabar sedikit dan kembali dekat dengan Ranty, pasti akan berbeda ceritanya sekarang.
Ranty tertawa pelan, "Maaf ya saya jadi curhat, saya cuma pengen menyampaikan itu sama kamu bertahun-tahun yang lalu tapi baru kejadian sekarang." Ujar Ranty dan Fabian mengangguk paham.
"Maaf," Fabian mengatakan nya pelan lalu kemudian melihat Ranty yang sedang mentapnya.
"Kamu nggak perlu minta maaf, kamu nggak salah, kita waktu itu baru kenal mungkin kamu akan merasa takut jika lebih dekat dengan saya, apalagi waktu itu kia masih canggung." Ujar Ranty sambil tersenyu,
Bukan, bukan itu.
Alasan Fabian menjauh bukan itu, tapi Farel lah alasannya yang membuat Fabian menjaub karena dia ingin Ranty hidup dengan bahagia.
"Ranty." Panggil Fabian dan gadis itu langsung melihatnya.
"Ya?" Ranty menatap mata Fabian yang sedang menatapnya dengan hangat.
"Kamu mau jadi teman saya?" Tanya Fabian dan Ranty sempat terdiam sebentar. Namun beberapa saat dia tersenyum.
"Ya saya mau, sangat mau." Jawab Ranty.