Chapter 9 : Lets Love

2058 Words
5 Tahun Sebelumnya. Ranty melihat sekitar kampus dan sama sekali tidak menemukan Farel disana. Seharusnya hari ini mereka pergi ke toko buku, karena Farel berjanji akan mengantarkan nya kesana. Tapi, kenapa laki-laki itu belum datang? Ranty mengambil ponselnya, ponsel yang baru saja dia beli dengan Fabian beberapa hari yang lalu. Ngomong-ngomong tentang Fabian, Ranty sama sekali belum melihat laki-laki itu, terakhir kali mereka bertemu saat Ranty memberikan nya uang ganti pada ponselnya. Dan entah kenapa Fabian jadi menghilang. Padahal, Ranty baru saja mereka dekat dan bisa berteman, tapi, apakah dia pantas untuk berteman dengan Fabian? "Ranty!" Seseorang memanggil dirinya dan Ranty sudah tau siapa itu, dari suaranya Ranty sudah sangat hafal setengah mati. Ranty menghela nafas dan memutar tubuhnya dia melihat Farel yang tersenyum kearahnya. "Sorry lama, tadi dosen nya ngeselin." Ujar Farel lalu membenarkan tas nya. Farel hanya tersenyum melihat wajah Ranty yang cemberut. Dia mengacak rambut gadis itu dan kemudian langsung mereka pun langsung jalan bersama di lorong kampus. Ranty menghela nafas melihat lorong kampus yang sudah sepi, dia benar-benar harus menghajar Farel karena sudah membuatnya menunggu terlalu lama. Ranty menatap ke depan hingga pada akhirnya tatapan matanya tertuju pada satu orang. Fabian yang sedang berjalan lawan arah sambil menenteng gitar yang tak lain milik Reno. Laki-laki itu agak sedikit terkejut ketika melihat kearahnya, tapi kemudian kembali seperti biasa. Ranty sudah mengangkat tangan se-d**a berniat untuk menyapa Fabian tapi laki-laki itu malah melewatinya begitu saja tanpa membalas balik dirinya. Ranty langsung terkejut, dia bahkan sampai behenti sebentar dan menoleh ke belakang. Dan Fabian sama sekali tidak melihat kearahnya, dia terus berjalan lurus dan akhirnya menghilang di belokan. "Ranty! Ayo!" Terus Farel yang ternyata sudah jauh. Ranty terdiam dan kemudian berlari kecil menghampiri Farel yang menunggunya. *** "Gila sih ini No, gue yakin parah kalau misalnya dia tuh nyariin gue pas kuliah! Eh nggak tau nya bener kan?" Ujar Fabian histeris dan Reno hanya menutup sebelah kupingnya sambil fokus kepada berkas yang harus dia teliti. Dia bingung, sebenarnya siapa bos nya disini! "Kenapa dia nyariin gue ya No?" Tanya Fabian mulai tak waras bahkan dia sudah senyum senyum sendiri. Reno menaruh berkas itu diatas meja, dia menyerah. "Bi, gue nggak habis pikir sama lo," "Gue lagi perhatiin berkas teliti, seksama lo malah ngoceh? Mana nggak penting pula." Ujar Reno dan Fabian langsung terdiam. "Aduh maaf sayang, nggak liat tadi karena terlalu antusias. Yaa kayak nggak pernah jatuh cinta aja." Celetuk Fabian dan Reno menggeleng. "Emang ya kalau udah kenal cinta orang jadi bego." Ujar Reno dan Fabian terkekeh. "Maaf ya No." Ujar Fabian dan mengambil berkas yang tadi Reno pegang. "Tapi No, kayaknya Ranty nggak boleh ketemu lo." Ujar Fabian dan Reno langsung terkejut mendengarnya. "Lah? Kenapa dah? Gue nggak bakal suka sama Ranty gila ya lo." Ujar Reno lalu menggeleng. "Bukan gitu, tapi kayak aneh aja nggak sih kita terus deket dari jaman kuliah? Gue takut dia curiga." Ujar Fabian dan Reno langsung tertawa. "Yaa terus kenapa? Biarin aja dia liat gue." Ujar Reno dan Fabian hanya mengangguk. Karena terlalu takut Identitas nya akan ketahuan dia sampai menyuruh Reno untuk tidak bertemu dengan Ranty, tapi kalau dipikir juga Ranty mana mungkin kenal dengan Reno. *** Oke, mungkin di mulut saja Reno bilang bahwa dia tidak takut bertemu dengan Ranty, tapi nyata nya sekarang dia berada di balik pilar untuk menutupi dirinya dari Ranty. Entah mengapa dia melakukan hal itu, yang jelas dia takut kalau Ranty benar-benar akan melihatnya. Kenapa kata-kata Fabian malah membuatnya seperti ini? Kenapa pula dia harus menuruti apa kata anak itu. Reno melihat Ranty yang sedang berbincang dengan satpam di luar, lalu satpam itu memberikan sebuah paket kepada Ranty. "Ini mbak, dari Bapak Fa-" Suara Satpam tak terlalu jelas karena Reno sibuk mengatur posisinya untuk mendengarkan percakapan mereka. Raut wajah gadis itu sangatlah bahagia saat menerima paket itu, dan satpam itu pun memberikan sebuket bunga kepada Ranty. "Makasih banyak ya." Ujar Ranty sambil tersenyum. Senyum di wajah Ranty semakin merekah saat menerima bunga itu, gadis itu mencium bunga itu dan kemudian menunduk dan tersenyum. "Dari orang yang spesial ya mbak?" Tanya Satpam itu dan Ranty hanya mengangguk. Reno terdiam, kenapa ada yang mengirimkan gadis itu bunga, dan kenapa raut wajah Ranty sangat bahagia sekali? Orang spesial? Reno terdiam sebentar saat menyadari sesuatu, dia melihat Ranty yang sudah berpamitan dengan satpam sambil membawa sekotak paket dan sebuket bunga itu. Apakah itu pemberian dari Fabian? Laki-laki itu sengaja memberinya hadiah diam-diam, maka dari itu Ranty sangat bahagaia sekali dan dia menghentikan langkahnya di tengah jalan. Dia menyelipkan paket nya di leher dan merogoh saku nya untuk mengambil benda persegi panjang. Ranty tersenyum dan langsung menempelkan ponsel itu ke telinga nya. Saat telepon terangkat dia langsung tersenyum. "Halo, makasih banget ya hadiahnya, nggak nyangka banget lho bakal dikasih ginian." Ujar Ranty lalu kembali berjalan sambil terus berbicara dengan orang yang ada di ponsel. Reno terdiam, dia terkekeh saat tersadar kalau sahabatnya secinta itu dengan Ranty dan dia langsung pergi ke ruangan Fabian buru-buru karena ada yang harus laki-laki itu tanda tangani. *** "Iya sama-sama, semoga suka ya." Fabian tersenyum dan langsung terkejut saat mendengar pintu ruangan nya terbuka. "Dah." Fabian menutup telepon nya dan melihat Reno yang sekarang sedang tersenyum-senyum sendiri. "Ini ada yang harus ditandatangani pak." Ujar Reno formal sambil terus tersenyum. Fabian melihat laki-laki itu bingung, dia menandatangani berkas itu dengan cepat dan melihat Reno yang masih tersenyum layaknya orang jatuh cinta. "Kenapa lo?" Tanya Fabian. Reno masih tersenyum, "Asiknya yang lagi berbunga-bunga, teleponan, ngirim paket, ngasih bunga. Aahhh sweeettt." Ujar Reno lalu memukul pundak Fabian centil. Fabian langsung menjauh dan menatap Reno aneh, "Apa sih, lo kenapa No? Teleponan? Ngirim paket? Bunga? Apa sih?" Tanya Fabian bingung. Reno terkekeh, "Nggak usah pura-pura bego deh lo Bi, gue tau banget kalau lagi jatuh cinta, mana ngirim bunga ke Ranty, paket lah terus juga tadi teleponan," Ujar Fabian terkikik geli dan Fabian malah semakin menatapnya aneh. "Mana katanya dari orang yang spesial lagi." Lanjut Reno. "Paket apa sih? Gue nggak ngirim apa apa ke Ranty." Ujar Fabian dan Reno langsung terdiam, dia langsung melihat Fabian dengan tatapan serius. "Demi apa lo Bi?" Tanya nya dan Fabian mengangguk. "Terus lo tadi telepon siapa?" Tanya Reno. "Mama, gue baru ngasih kado buat mama gue, kemarin kan mama gue ulang tahun. Ya kadonya bukan calon istri yang dia mau sih," Ujar Fabian menghela nafas saat harus dituntut memiliki calon. "Terus juga tadi mama gue nitip salam sama lo, katanya jangan ganjen pas di kantor, haha." Ujar Fabian tertawa sedangkan Reno hanya terdiam sambil terus berfikir. Fabian melihat Reno yang tidak menanggapi kata-kata nya sama sekali, "Lo kenapa No?" Tanya Fabian. "Terus yang tadi gue liat apa?" Tanya Reno dan Fabian langsung terdiam. "Tadi lo bilang Ranty dikirim bunga, paket dan itu dari orang spesial?" Tanya Fabian mengingat jelas apa yang Reno katakan tadi. Laki-laki itu mengangguk ragu dan Fabian langsung terdiam. Pikiran negatif nya langsung menyerang, apakah dia salah lagi mendekati Ranty, apakah gadis itu sudah ada calon? Dan Fabian lagi-lagi tidak tau itu? *** "Selamat sore semuanya, kalian sudah bekerja keras!" Ujar Claudia menutup pertemuan dan Ranty langsung bersiap-siap karena dirinya harus segera pulang. Ranty bangkit dan membawa sebuket bunganya itu ke dalam dekapan nya. Dengan langkah senang dia pergi ke luar ruangan. Ranty menuruni anak tangga dengan cepat dan sudah sampai di lantai dasar, dia menghentikan langkahnya saat melihat Fabian yang sedang mengobrol dengan bagian administrasi. "Fabian." Panggil Ranty mendekati dan laki-laki itu langsung menoleh kearahnya dan tersenyum. "Eh Hai, baru saja saya tungguin."Ujar Fabian dan Ranty langsung terkejut mendegarnya,  "Kamu ngapain nungguin saya?" Tanya nya dan Fabian hanya tersenyum. "Saya sering liat kamu berangkat sendiri, ya saya rasa kayaknya mobil saya sanggup untuk antar kamu pulang." Ujar Fabian sambil menggendong sebelah tas ranselnya. Sebenarnya ini tas ransel milik Reno, dia meminjam agar terlihat seperti karyawan biasa. "Nggak apa-apa?" Tanya Ranty tak enak. Fabian langsung mengangguk, dia berbalik melihat dua orang gadis yang setia berdiri di meja administrasi. "Saya duluan ya." Ujar Fabian. "Baik Mas," Ujar mereka kompak dan Fabian langsung pergi lebih dulu daripada Ranty, gadis itu menyapa pegawai itu lalu langsung berlari kecil mengejar Fabian yang sudah jauh. "Ini saya beneran nggak apa-apa numpang sama kamu? Saya nggak enak." Ujar Ranty dan Fabian hanya tersenyum kecil, "Aturan saya yang bilang gitu, saya nggak enak sama pacar kamu." Ujar Fabian dan Ranty langsung terbatuk karena terkejut. "Pacar?" Tanya nya. "Itu." Fabian menunjuk bunga dengan dagu nya dan Ranty langsung melirik bunga yang ada di dalam dekapan nya. Dia langsung menggeleng kuat. "Ini dari orangtua saya." Ujar Ranty mencoba menjelaskan dan Fabian hanya terdiam. "Iyakah?" Tanya nya dan Ranty mengangguk. "Mereka kangen sama saya jadi beliin saya bunga, agak berlebihan ya, tapi nggak apa-apa saya jadi senang, saya jadi kangen." Ujar Ranty tersenyum sambil membayangkan wajah bahagia ayah dan ibunya. Fabian terdiam, lalu perlahan dia tersenyum. "Saya harap kamu bisa menemui mereka ya." Ujar Fabian dan Ranty mengangguk. "Kalau saya udah bebal ya dengan kalimat kapan kamu menikah." Ujar Ranty dan Fabian sontak langsung tertawa, "Kamu juga disuruh menikah? Saya kira cuma saya yang dituntut kayak gitu." Ujar Fabian dengan tawanya dan Ranty mengangguk. "Kamu nggak sendiri." Ujarnya dan akhirnya mereka sampai di parkiran. Ranty membuka pintu penumpang dan Fabian langsung masuk ke dalam mobilnya. Ini bukan pertama kalinya Ranty naik ke dalam mobil Fabian. Fabian memasang seatbelt dan tersenyum saat Ranty juga sudah duduk di kursi penumpang, senang rasanya bisa melihat Ranty yang sekarang sedanf berada di sampingnya, di dalam mobilnya. "Laper nggak sih? Atau kita mau makan dulu? Makan dulu aja ya." Ujar Fabian dan Ranty langsung menggeleng. "Ehh kita langsung balik aja, saya nggak enak sama ka-" Saat Ranty belum menyelesaikan kata-kata nya, ada suara gemuruh yang berasal dari perutnya. Ranty terdiam memngutuk dirinya sendiri saat itu juga, bisa-bisanya perut itu mengeluarkan bunyi yang sangat besar di sini. Fabian terkekeh, "Kayaknya ada yangt nggak setuju sama kamu." Ujar Fabian dan Ranty hanya nyengir kuda. Mereka akhirnya memutuskan untuk mampir sebentar untuk membeli makan. Hingga pada akhirnya mereka mampir ke salah satu warung pecel lele. Ranty turun dari mobil Fabian ketika laki-laki itu selesai memarkirkan mobilnya. Mereka memesan makanan dan minuman lalu kemudian mencari tempat untuk duduk. "Saya denger ini yang keenak kedua setelah lontong bumbu." Ujar Fabian dan Ranty terkekeh, dia tersenyum dan percaya pada Fabian kalau sesuatu yang laki-laki itu rekomendasikan pasti akan selalu enak. "Saya percaya." Ujar Ranty dan mereka akhirnya duduk lesehan dengan meja pendek di depannya, mereka duduk saling berhadapan. "Saya rasa kamu orang yang sederhana." Ujar Ranty dan Fabian mengangguk, "Ya, emang saya begini, orang-orang juga begini kan?" Tanya Fabian dan Ranty tertawa. "Bukan itu," "Lalu?" "Kamu itu terkenal banget di kampus dengan ketampanan kamu tentunya terus sama kekayaan kamu juga, tapi yang aku liat kamu disini sederhana banget, bahkan nggak nunjukkin sisi kamu yang berkecukupan." Ujar Ranty dan Fabian langsung tersenyum. "Ya gini aja deh, saya ngerasa saya lebih suka kayak gini, hidup saya ya kayak gini, saya nggak mau mengubah hidup saya yang sudah sangat saya cintai ini." Ujar Fabian dan Ranty mengangguk paham. "Betul sih, saya suka pendapat kamu." Ujar Ranty sambil tersenyum lalu tak lama makanan mereka datang. "Kamu juga lagi terjebak sama perjodohan?" Tanya Fabian sambil mencuci tangan nya di mangkuk kecil yang berisi air dan potongan jeruk nipis. Ranty mengangguk dan melakukan hal yang sama. "Ya, semacam itu lah, saya aja nggak punya calon gimana saya mau menikah?" Ujarnya dan Fabian mengangguk paham, dia sangat paham dengan apa yang Ranty rasakan. "Iya, saya juga merasa kayak gitu, saya belum punya calon tapi ayah dan iby saya sudah mendesak, katanya sudah ingin menimang cucu." Ujar Fabian dan Ranty terkekeh mendengarnya, ya karena mereka sama dengan orang tuanya. Akhirnya mereka pun makan dengan lahap, Ranty makan dengan terburu-buru karena dia terlalu lapar dan entah kenapa Fabian malah gemas melihatnya. "Ini minum." Fabian memberinya es teh manis dan gadis itu langsung tersenyum, Fabian mengerutkan keningnya lalu kemudian mencondongkan badan nya ke depan, kearah Ranty membuat gadis itu menjauhkan tubuhnya sedikit karena Fabian terlalu dekat. "Maaf." Ujar Fabian lalu kemudian mengulurkan tangan nya lalu mengusap sudut bibir Ranty yang ternyata ada sisa makanan, Fabiab melihat sisa makanan itu dan mengelap tangannya dengan tissue dan kembali menjauhkan dirinya dari Ranty. "Jangan buru-buru nanti kamu tersedak." Ujarnya lembut dan kemudian mulai melahap makanan nya. Ranty terdiam sebentar, perasaan nya langsung tak karuan, jantungnya berdegup kencang, sangat berdegup kencang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD