3. Bohong?

737 Words
Hari ini Karin terbangun dengan badan yang bugar, ia merasa benar-benar sehat sekarang. Mungkin karena Elvan yang datang menjenguknya, ia jadi ingin segera bertemu dengan Oca agar bisa mengucapkan terima kasih. Setelah mandi dan bersiap-siap untuk berangkat, Karin segera menngirimkan Elvan pesan. Karin Yank, aku udah siap nih. Jemput! Elvan Sorry, aku gak bisa jemput Karin Loh kenapa? OSIS lagi? Elvan Ya Lagi-lagi Karin harus bersabar menghadapi sikap pacarnya yang kembali menjadi cuek. Akhirnya, Karin memesan ojek online untuk berangkat ke sekolah. Baru saja menginjakkan kakinya di sekolah, Karin udah disuguhi dengan sekelompok anak cewek yang biasa ngegosip di sekitaran koridor sekolah. Sebenarnya ia tak peduli, tetapi saat mendengar nama Elvan disebut-sebut dalam pembicaraan anak-anak tersebut. Apalagi mereka membicarakan Elvan bersama gadis lain, membuat hati Karin panas mendengarnya. “Kak Elvan lagi di kantin bareng Kiki lagi sarapan berdua.” “Oh ya? Berarti posisi Karin bentar lagi bakal lengser nih.” Sekilas itulah pembicaraan mengenai Elvan yang ia dengar. Karin tak peduli lagi dengan keadaan sekitarnya. Ia segera berlari ke arah kantin. Dan benar saja, Elvan sedang duduk berhadap-hadapan dengan Kiki atau siapalah itu dan mereka sarapan bersama. Hatinya terasa sakit saat mengetahui kekasihnya telah membohongi dirinya. Perasaan sesak itu membuat air matanya siap untuk keluar. Namun, Karin berusaha menahan air matanya, karena ia tahu tak ada gunanya untuk menangis. Apalagi papanya pernah berpesan untuk tidak pernah menangis karena lelaki lain selain sang papa. Ingatlah, Karin bukan perempuan yang lemah, ia sangat kuat malahan. Udah banyak kepahitan hidup yang ia kecap selama ini. Jadi, Karin tidak akan tinggal diam saat ia merasa tidak diadili. Karin menatap seluruh penjuru kantin sampai saat matanya menemukan sebuah objek tepat di depannya untuk membuat Elvan merasakan apa yang ia rasakan. “MORGAN!“ teriaknya sambil melambaikan tangannya ke arah cowok dengan pakaian super rapi dan berkacamata. Jangan lupakan poni doranya yang membuatnya terlihat sangat culun. Semua orang yang sedang berada di kantin memerhatikan Karin yang berlari kecil ke arah Morgan, tak terkecuali Elvan yang kini udah mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya. Karin memosisikan dirinya duduk di sebelah Morgan, dengan seksama. Ia memerhatikan wajah Morgan yang sebenarnya cukup ganteng asal ia melepas kacamata dan mengganti model rambutnya. “Kita 'kan udah janjian mau sarapan bareng,” ucap Karin dengan lantang sengaja agar Elvan mendengarnya. “H—hah! Ka—kapan?” tanya Morgan gugup. “Stt! udah deh, sekarang kita sarapan dulu aja. Eh, kamu kalau dilihat-lihat ganteng juga ya, jadi suka deh!” Tangan Karin terangkat untuk mencubi pipi Morgan. BRAK! Jangan lupakan Elvan yang juga menonton adegan tersebut. Dengan tergesa-gesa Elvan berjalan mendekati meja Karin dan Morgan, ia menatap sekilas ke arah Karin sekan memberikan sinyal bahwa sekarang ia benar-benar marah sekarang. Sepersekian detik kemudian …. BUGH! Satu pukulan dari Elvan ngebuat Morgan jatuh. Rahang Karin merosot, ia tak menyangka Elvan akan memukul Morgan. Baru saja Karin ingin menolong Morgan, tetapi tangannya sudah ditarik terlebih dahulu oleh Elvan. Setiap kali ia memberontak, Elvan akan mengeratkan cengkraman tangannya hingga membuat Karin meringis menahan sakit. Sampai akhirnya Karin menghempaskan tangan Elvan tepat di tengah lapangan. “Kamu apa-apaan sih?!” “Kamu yang apa-apaan?!” bentak Elvan balik. Sekarang satu sekolah tengah menonton mereka berdua. “Kamu tuh sadar gak sih? Kalau kamu udah punya pacar, harusnya kamu bisa jaga sikap ke cowok lain!” “Terus kamu gimana?! Kamu sadar gak kalau kamu udah punya pacar? Harusnya kamu gak bohongin pacar kamu untuk sarapan sama cewek lain! Sebenarnya kamu suka sama aku atau enggak sih?!” balas Karin tak mau kalah. Elvan mendecih, sungguh ia tak suka saat perasaannya diragukan. “Aku sama Kiki gak ada hubungan apa-apa! Kita memang lagi bahas masalah OSIS.” “Oh ya? Terus harus gitu kamu jemput dia, gandeng tangan dia, sampai sarapan sama dia?!” “Dia itu tadi hampir kepleset, makanya aku gandeng dia. Masalah sarapan, gak ada salahnya donk aku ngebahas masalah OSIS sambil sarapan.” Karin tersenyum remeh ke Elvan. “Kalau begitu gak masalah donk kalau gue makan bareng Morgan dengan alasan cowok gue sibuk OSIS.” Mata Elvan makin menajam. “Kamu bisa gak sih, gak kekanakan?” Karin hanya bisa tertawa hambar. “Kamu tahu aku kekanakan, terus kenapa kamu pacarin aku, hah?! KENAPA?! Aku udah nebak dari awal kalau hubungan ini gak bakalan bertahan. Sebaiknya kita akhirin aja semuanya. Mulai saat ini kita pu—” Cup! Elvan menyatukan kedua labium mereka hingga membuat satu sekolah bersorak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD