Predikat the best boyfriend yang sudah Karin sematkan untuk Elvan seketika lenyap begitu saja. Bagaimana tidak? Elvan lebih memilih untuk rapat, daripada mengantar Karin pulang. Sebenarnya hal ini sudah biasa, tetapi masalahnya sekarang itu sedang hujan. Karin sebenarnya tidak akan marah kalau misalnya Elvan bisa memesankan dia Gocar atau semacamnya, yang penting dia tidak kehujanan. Ya pada dasarnya Karin punya pacar yang terlalu cuek. So, dia harus terima saja. Jadinya, Karin hujan-hujanan karena tidak bawa uang saku dan batrai handphone-nya yang lowbat.
Karin berlari di tengah hujan. Orang-orang hanya menatapnya aneh. Pasalnya, Karin hanya memakai seragam sekolah. Dalam hati, Karin menyupah serapahi Elvan. Rasanya ingin minta putus. Namun, ya mau gimana lagi? Percuma, Elvan pasti menolak untuk putus.
Untungnya jarak rumah Karin tidak terlalu jauh. Hanya butuh waktu dua puluh menit jika berjalan kaki. Sampai di rumah, Karin segera membersihkan dirinya, karena ternyata tubuhnya mulai memberikan tanda-tanda bahwa ia akan demam.
Dan sekarang Karin malah sudah terbaring lemah di atas tempat tidurnya yang empuk. Ia tak bisa meminta bantuan siapa pun sekarang. Papanya sedang pergi ke rumah nenek di Bandung, mamanya? Jangan tanyakan hal tersebut, karena Karin benar-benar tak mau mendengar apa pun yang bersangkutan dengan wanita yang sudah mengkhianati papanya sendiri. Bibi Ijah, sang pembantu, juga sedang pulang kampung. Sepertinya hari ini adalah hari tersial Karin.
Badan Karin tak bisa diajak kompromi, kini ia menggigil dan beberapa kali bersin-bersin. Entah kenapa Karin malah merutuki dirinya sendiri karena mau menerima Elvan menjadi pacarnya. Padahal ia tahu, Elvan adalah ketua OSIS dan pasti sangat sibuk. Namun, tiba-tiba terlintas sebuah nama di dalam benak Karin. Oca, seorang gembel yang berstatus sahabatnya itu pasti bisa membantu.
Karin mengambil handphone-nya yang sedang di cas di atas nakas dekat tempat tidurnya dan segera menelepon Oca.
“Halo.”
“Ca! Ke rumah gue donk!”
“Lo kenapa sih?”
“Gue demam, Ca.”
“Ih ... kenapa kasih tahu gue? Apa gunanya Elvan?”
“Ck! Biasa OSIS.”
“Kaciannya temanku satu ini. Ya udah tunggu.”
“Ca, jangan lupa bawain makanan sama obat ya,” pinta Karin.
“Gue jadi pembantu lo nih lama-lama.”
“Tolong aja napa, lo mau dengar kabar kalau gue mati karena demam tinggi?!”
“Iya-iya gue bawa, tungguin aja gue di situ. Jangan ke mana-mana, nanti lo mati ‘kan gue yang repot.”
Tanpa mengucapkan terima kasih, Karin memutuskan sambungan telepon mereka yang membuat orang yang di seberang sana mendengus kesal. Seketika muncul tanduk di atas kepala Oca. Niatannya yang tadi mau membantu langsung berubah untuk mengerjai Karin.
“Halo, Kak Elvan.”
***
Setelah sambungan terputus, Karin kembali membaringkan dirinya di atas kasur dengan posisi menyamping membelakangi pintu kamarnya. Sambil menunggu kedatangan Oca, Karin memilih untuk memainkan ponselnya. Di luar sana masih terdengar jelas suara hujan yang turun.
Tiba-tiba indra pendengarannya menangkap suara mobil yang terparkir di depan rumahnya. Pasti itu Oca, pikir Karin. Sampai akhirnya, Karin juga mendengar suara pintu rumahnya yang terbuka dan langkah kaki seseorang yang terdengar kian mendekat.
“Sini, Ca, naik ke atas kasur. Taruh aja makanannya di atas meja belajar gue,” ucap Karin dengan posisinya yang sama.
Orang yang Karin anggap Oca melakukan apa yang Karin suruh, bahkan ia memeluk tubuh Karin dari belakang.
“Oca geli ah! Gak usah peluk-peluk, najis tahu.”
“Hm.” Suara bariton yang Karin kenal menyapa indra pendengarannya. Secepat kilat Karin membalikkan tubuhnya yang membuat matanya langsung membulat.
“Elvan?!”
***
Elvan’s POV
“Apa!? Karin sakit?” tanya gue, memastikan apa yang dibilang Oca benar.
“Iya, Kak, tadi dia minta saya untuk ke sana. Tapi saya juga lagi gak enak badan, makanya hari ini saya gak ikut rapat.”
“Oke, makasih infonya.” Setelah itu gue putusin sambungan telepon dari Oca.
Gue mengusap wajah gue kasar. Gue benar-benar ngerasa jadi cowok yang enggak guna sekarang. Bisa-bisanya gue lupa kalau papanya Karin lagi ke luar kota terus tadi gue biarin dia kehujanan. Pantas aja Karin sering banget minta putus ke gue.
Gue kembali masuk ke ruang OSIS, semua pengurus OSIS cuma bisa natap gue heran, karena gue langsung ngebersihin barang-barang gue. Mawar langsung berdiri dan ngedekatin gue. “Elvan, lo mau ke mana?” tanyanya sambil megang tangan gue.
“Gue ada urusan, tolong lo ambil alih rapatnya.”
Mawar malah genggam tangan gue makin erat. Gue natap dia dengan tatapan bingung. “Urusan apa sih? Van, ini event terakhir di masa jabatan kita. Lo gak bis—”
“Karin sakit,” sela gue besamaan dengan tangan gue yang ngelepasin tangannya paksa.
Setelah itu gue pamit sama seluruh pengurus OSIS dan segera pergi dari sana. Dengan cepat gue lari ke arah parkiran, Gila! Hujannya deras banget pantes aja cewek gue sakit. Gue jadi cowok b**o banget suruh Karin pulang sendiri. Walaupun tadi gue udah nyuruh dia pesan taksi online, tapi gue yakin tuh anak pasti enggak nurutin apa kata gue.
Gue bawa mobil selaju yang gue bisa. Hampir aja gue kebablasan untuk datang ke rumah Karin tanpa bawa apa-apa. Jadi, gue mampir dulu untuk beli bubur ayam dan obat penurun panas karena firasat gue Karin pasti belum makan dan minum obat.
Gak lama gue sampai di rumahnya Karin. Gue langsung buka pintu rumahnya dan buka sepatu sama kaos kaki gue. Seudah itu, gue langsung pergi ke kamar Karin sambil nentengin plastik yang isinya barang yang tadi udah gue beli. Pelan-pelan gue buka pintu kamarnya dan bisa ngelihat punggung kecil cewek yang paling gue sayang lagi baring sambil main hpnya.
“Sini, Ca, naik ke atas kasur, taruh aja makanannya di atas meja belajar gue.” Oh … jadi Oca gak ngasih tahu dia kalau gue yang bakalan datang.
Gue turutin apa yang Karin suruh—taruh makanan sama obatnya di atas meja dan naik ke atas tempat tidurnya. Dia masih aja asyik main hp. Kayaknya Karin masih enggak sadar kalau yang datang bukan Oca, tapi gue. Pelan-pelan tangan gue meluk dia dari belakang.
“Oca geli ah! Gak usah peluk-peluk, najis tahu.”
Oh … dia masih belum sadar juga. “Hm,” jawab gue sengaja biar dia dengar.
Tiba-tiba dia langsung balikin badannya dengan ekspresi wajah yang terkejut, apalagi dia lagi sakit. Jadi, pipi sama hidungnya merah, bikin gue gemes setengah mati.
“Elvan?! Kamu ngapain di sini?” tanya dia heran.
Karena udah gak tahan, sangking gemesnya gue ngegigit hidung Karin pelan. Karin berusaha ngedorong gue biar ngejauh dan ya, gue ngalah dengan ngejauhin muka gue dari dia. Dia natap gue minta penjelasan.
“Aku ke sini nemanin kamu,” jawab gue.
“Buat apa?” Dia nanya lagi yang entah kenapa buat gue merasa tersindir.
Elvan’s POV end
Karin’s POV
Elvan natap gue dengan malas. “Kamu lagi sakit, 'kan?”
Gue nganggukin kepala gue. Terus Elvan bangun dan langsung ngambil sekantong plastik yang ada di atas meja belajar gue. “Makan.”
Gue cuma bisa natapin Elvan bingung.
“Makan!” perintahnya dingin.
Daripada gue berantem sama ini orang, mendingan gue makan aja bubur yang dia bawa. Bisa gue rasa Elvan lagi ngelihatin. Gue jadi salting nih.
“Gak usah lihatin aku kayak gitu.”
Tiba-tiba Elvan ngedekat ke arah gue. “Kotor,” ucapnya sambil ibu jari dia ngebersihin sudut bibir gue. Nah 'kan, jadi makan salting gue.
“Kamu gak rapat?” tanya gue sambil terus nyendokin bubur ke mulut gue.
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Enggak pa-pa.”
Padahal gue berharap dia bilang, 'Pacar aku lagi sakit, masa aku gak jagain dia.' atau apa kek. Intinya, kata-kata yang romantis ,tapi nyatanya cuma dua kata yang singkat, padat, dan jelas.
Menurut orang-orang, gue sama Elvan itu adalah the best couple, karena menurut mereka, Elvan yang selalu berperilaku so sweet ke gue, apalagi gue sama Elvan selalu kelihatan berdua. Nyatanya semua itu salah. Elvan itu dingin parah, bahkan untuk ngucapin 'aku sayang kamu' atau 'i love you' aja gak pernah! Gue aja bingung kenapa bisa pacaran sama dia.
Kalau gue ingat-ingat lagi, dulu awal gue ketemu sama Elvan itu waktu MOS. Nah, waktu itu Elvan minta nomor gue terus kita chating-an. Cuma gue gak nyangka Elvan suka sama gue, karena dia itu kayak malas untuk chating sama gue. Balasnya lama, terus singkat banget. Tapi nyatanya, setelah tiga bulan kita saling kenal, dia nembak gue. Nembaknya pun aneh. Gue masih ingat persis kata-katanya dia, “Mulai sekarang lo pacar gue.”
Dari saat itu, kita pacaran. Kalau kata Oca sih, “Udah jalanin aja dulu. Mumpung ganteng, jangan disian-siain.” ya udah, dari situ gue mencoba untuk mengerti Elvan yang orangnya super cuek dan dingin.
“Kenapa?” tanya Elvan membuyarkan lamunan gue.
“Hah? Gak pa-pa.”
Elvan berdiri dari duduknya. “Aku pulang dulu.”
“Iya, hati-hati di jalan. Mau aku anterin sampai depan?” tanya gue.
“Gak usah.”
Sebelum Elvan benar-benar pergi, dia ngecup puncak kepala gue. Kayaknya cuma ini aja kelakuan dia yang romantis, selebihnya gak ada.
Karin’s POV end