Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Karin langsung menarik tangan Oca untuk pergi dari kelas sebelum bertemu dengan Elvan yang akan membuat mood-nya semakin jelek. Entah kenapa semakin ke sini Elvan semakin berbuat seenaknya. Dia benci dengan sikap Elvan yang seperti ini. Untuk kesekian kaliny,a ia akan meminta putus dari Elvan. Tentunya setelah ia konfirmasi dengan Oca terlebih dahulu.
Mereka berdua sudah berada di salah satu café yang letaknya tak jauh dengan rumah Karin. Mereka berdua masih asyik menyeruput minuman masing-masing hingga Oca memecahkan kesunyian di antara mereka.
“Jadi lo mau ngomong apa?” tanya Oca setelah nyeruput ice chocolate miliknya.
“Gimana caranya biar gue bisa putus sama Elvan?”
Mendengar penuturan sahabatnya, membuat mata Oca membulat sempurna. Setelah tiga bulan berpacaran dengan Elvan, memang kata putus sudah banyak sekali keluar dari mulut Karin. Yang membuat Oca bingung adalah apa lagi masalah yang terjadi di antara keduanya. “Masalah apa lagi sih? Gue bingung deh kenapa kata putus gampang banget keluar dari mulut lo sih?”
“Lo pikir gue mau punya hubungan kayak gini? Sakit, Ca! Dia ketua OSIS, banyak yang suka sama dia, rekan kerjanya juga cewek. Apalagi dia selalu mentingin OSIS-nya, daripada gue!”
Oca menggelengkan kepalanya tak suka. “Lo egois banget sih, Rin.”
Karin menundukkan kepalanya, ia malu dengan dirinya yang egois, tetapi di sisi lain ia juga ingin mendapatkan perhatian dari sang pacar. Air mata Karin lagi-lagi berhasil lolos, tetapi ia masih berusaha mmenahan suaranya sehingga bahunya bergetar. Oca menggenggam tangan Karin sebagai upaya untuk menenangkan Karin.
“Gu—gue tahu gue salah, tapi gue juga pengen diperhatiin sama cowok gue.” Setelah menagatakan itu tangisan Karin semakin pecah.
Akhirnya Oca berdiri dan memeluk Karin yang masih sesegukan. “Gue minta maaf, enggak bisa ngertiin perasaan lo. Semua keputusan ada di tangan lo dan gue bakalan dukung apa pun keputusan lo.”
“Makasih, Ca.”
Oca hanya merespons dengan menganggukkan kepalanya. Setelah Oca melepaskan pelukannya dan kembali duduk ke tempat semula, kini tatapan Oca berubah menjadi lebih serius. “Jadi, lo tetap mau putus?”
Karin menganggukkan kepalanya mantap sambil menghapus air matanya.
“Menurut gue, lo bakalan susah untuk putus sama Kak Elvan.”
“Memangnya kenapa?”
“Lo ingat waktu lo PDKT sama dia? Bahkan dari situ aja lo udah ngejauhin dia dan sekarang lo malah udah pacaran sama dia. Dari situ aja lo seharusnya bisa nyimpulin bahwa Kak Elvan itu tipe cowok yang kalau doinya ngejauh, maka si doi bakalan diikat dalam hubungan yang lebih serius.”
Karin memijit pelipisnya “Terus gue harus gimana? Gue udah gak bisa lagi sama Kak Elvan.”
“Maaf ya, Rin, gue juga gak tahu harus ngapain. Tapi, kalau lo memang merasa harus putus ya putusin aja.”
Karin menatap handphone-nya yang tergeletak di atas meja. Lalu dengan yakin Karin mengambilnya dan mengetikkan beberapa kalimat di sana.
To: Elvan
Kak makasih buat semuanya. Tapi, aku ngerasa hubungan kita udah gak bisa dipertahanin lagi. Jadi, aku minta kita putus.
***
Elvan yang mendengar notifikasi dari handphone-nya awalnya merasa tak peduli dan terus melanjutkan kegiatannya yang sedang menonton TV, sampai akhirnya Elvan sendiri merasa penasaran dengan chat yang masuk, karena sudah penasaran, Elvan mengambil handphone-nya.
Betapa terkejutnya Elvan saat membaca pesan dari Karin yang meminta untuk mengakhiri hubungan mereka. Elvan langsung beranjak dari tempat tidurnya. Ia segera turun untuk menemui kedua orangtuanya.
“Elvan, jangan lari-lari, nanti jatuh, Nak!” teriak Martha, ibu tiri Elvan. Yap, Elvan sudah kehilangan ibunya saat ia dilahirkan ke dunia. Sekalipun Martha adalah ibu tirinya, tetapi kasih sayangnya tetap sama seperti ibu kandung.
Elvan duduk tepat di samping sang papa yang sedang membaca koran. “Pa, ada yang mau Elvan bicarain.”
Jordan menatap anaknya bingung. “Tumben, ada apaan memangnya?”
Saat Elvan ingin menjawab, ia sudah disela dengan Martha. “Ini, Pa, kopinya,” sela Martha lalu ikut duduk di sebelah kiri suaminya yang membuat Jordan berada di antara Elvan dan Martha.
“Makasih, Sayang,” ucap Jordan lalu tersenyum ke arah sang istri.
Lalu Jordan kembali menatap Elvan. “Kamu mau bicara apa tadi?”
Elvan menarik napasnya sebelum ia berbicara. “Elvan mau nikah.”
Jordan dan Martha menatap Elvan dengan tatapan terkejut. Sungguh, hal ini di luar ekspektasi mereka. Apa kepala Elvan habis terbentur atau semacamnya? Pasalnya, Elvan tidak pernah membicarakan gadis manapun dan tiba-tiba mengatakan bahwa dirinya ingin menikah. “Elvan, kamu gak sakit, ‘kan?” tanya Martha.
Elvan menggeleng pelan dan membuat Jordan tertawa terbahak-bahak. Wajah Elvan sudah kusut karena melihat reaksi Jordan. Martha yang menyadari hal itu langsung mencubit lengan suaminya yang membuat Jordan mengaduh sakit. “Kamu serius, Van?” tanya Martha lagi.
Dengan mantap Elvan mengangguk.
“Memang siapa yang mau nikah sama kamu?” tanya Jordan.
“Pacarku lah,” jawab Elvan dengan wajah yang udah ditekuk, karena merasa diremehkan oleh Jordan.
“Pacar? Kok kamu gak pernah cerita sama Mama sih?” protes Martha.
“Baru pacaran tiga bulan kok, Ma.”
“Ya baru tiga bulan pacaran udah minta nikah, kamu tuh masih sekolah, Van. Sekolah yang bener dulu, baru nikah,” ucap Jordan yang membuat bahu Elvan merosot.
“Benar apa yang papamu bilang, kalian juga masih SMA, masih labil.”
Elvan memutar otaknya mencari cara agar orangtuanya bisa setuju dengan keinginanya. “Pa, Ma, Elvan punya alasan kenapa Elvan mau nikah sama Karin.”
“Oh … namanya Karin toh. Apa alasan kamu nikah sama si Karin?”
“Papa tahu ‘kan pergaulan jaman sekarang gimana? Elvan gak mau hubungan Elvan sama Karin ini bisa berujung dengan berbuat dosa, makanya Elvan mau nikah sama Karin.”
Jordan dan Martha saling menatap, apa yang diucapkan oleh Elvan ada benarnya. Apalagi keluarga mereka merupakan golongan ningrat. Jordan tak ingin martabat keluarganya jatuh jika nanti Elvan berbuat yang tidak-tidak dengan kekasihnya.
“Oke, Papa setuju. Kapan kita ngelamar pacarmu?” tanya Jordan yang membuat Elvan tersenyum senang.
“Sekarang!” ucap Elvan, lalu berdiri dan berlari ke kamarnya untuk bersiap-siap.
***
Sekarang Elvan dan kedua orangtuanya sudah berada di rumah Karin. Elvan duduk di antara kedua orangtuanya. Kedatangan Elvan dan orangtuanya yang tiba-tiba tentu saja membuat Arvan—papa Karin—jelas terkejut dan bingung apa maksud kedatangan mereka dengan pakaian yang rapi.
Setelah Bi Ijah menyuguhkan minuman dan cemilan untuk mereka, Arvan langsung bertanya kepada keluarga itu. “Sebenarnya apa maksud kedatangan keluarga Bapak?” tanya Kevin kepada Jordan.
Jordan tersenyum, lalu menjawab, “Keluarga kami sangat senang mengetahui bahwa Elvan telah memiliki pacar, dan kami juga udah membicarakan perihal masalah ini. Kami ingin Bapak bisa mempercayakan anak Bapak kepada kami.”
“Jadi, Elvan ingin melamar anak saya?” tanya Kevin.
“Benar, Pak, anak kami ingin melamar putri Bapak,” jawab Martha.
“Mohon maaf, tapi saya tidak bisa menerima lamaran ini, anak saya masih terlalu kecil untuk menjadi seorang istri. Walaupun saya udah tahu hubungan mereka, tapi saya tidak akan setuju jika Elvan melamar anak saya sebelum Karin lulus dari SMA.”
“Tapi, Pak, saya melamar Karin karena tidak ingin hubungan kami ini bisa berujung pada perbuatan dosa yang bisa menghancurkan masa depan kami.”
KevinArvan menatap Elvan dengan seulas senyuman. “Sebenarnya apa yang membuat kamu tertarik untuk menikah dengan Karin?”
Elvan menatap foto Karin yang dipajang di dinding, foto Karin yang sedang tertawa lepas di pantai sambil bermain pasir. “Saya juga tidak tahu, tapi saat pertama kali saya melihatnya, hati saya mengatakan bahwa dia pilihan yang tepat untuk saya. Apalagi setelah saya mengenalnya, saya tambah yakin bahwa dia memang yang paling tepat untuk menjadi pedamping hidup saya.”
Ucapan tulus Elvan membuat Jordan, Martha dan Kevin tersenyum. Mereka tak menyangka cinta anak itu benar-benar tulus terhadap Karin.
“Kamu yakin? Kamu baru tiga bulan pacaran dengan Karin, saya ayahnya saya yang paling hafal dengan sifat anak semata wayang saya itu ….”
“… Kamu yakin bisa menerima segala sifat buruknya? Karin itu ceroboh, dia juga anak yang manja dan Karin juga anak yang egois. Dia selalu ingin menjadi prioritas. Setelah mengatahui semua ini kamu masih mau Karin menjadi istri kamu?”
“Saya sudah terbiasa dengan semua sifatnya itu. Saya tetap ingin dia yang menjadi istri saya.”
Kevin tersenyum senang, ia merogoh ponselnya dan menelepon Karin, menyuruhnya untuk segera pulang. “Segala keputusan ada di tangan Karin,” ucapnya setelah memutuskan sambungan teleponnya dengan Karin.
“Jadi?” tanya Elvan.
“Saya menerima lamaran kamu, tapi segala keputusan tetap ada di tangan Karin, karena dia yang akan menjalankan kehidupannya.”
Elvan tersenyum lebar, senyuman yang tak pernah ia tunjukan untuk siapa pun sebelumnya. Lalu ia mengucapkan terima kasih berkali-kali yang membuat ketiga orangtua tersebut tertawa terbahak-bahak.
Tak lama kemudian Karin pun datang. Ia terkejut melihat Elvan dan kedua orangtuanya.
“Nah, ini anaknya sudah datang. Ayo Karin, kasih salam ke orangtua Elvan,” ucap Kevin yang dituruti dengan Karin.
“Udah, kamu duduk dulu, ada hal penting yang mau diomongin.”
Lagi-lagi Karin hanya bisa menuruti perintah Elvan. Karin duduk di sebelah Kevin, kemudian Kevin menjelaskan maksud kedatangan keluarga Elvan. Seketika mata Karin membulat, ia kemudian meletakkan tangannya di wajah Kevin.
“Papa gak sakit, 'kan?”
Kevin melepaskan tangan Karin yang berada di wajahnya, lalu menjawab, “Papa sehat. Menurut Papa, niat Elvan mau ngelamar kamu adalah hal yang positif, daripada nanti kalian pacaran dan malah berbuat dosa, mendingan langsung nikah aja. Tenang aja kok kalian bakalan nikah setelah kamu lulus sekolah. Lagi pula Elvan pacar kamu 'kan, jadi gak masalah donk.”
Karin menatap Elvan dengan tatapan tak percaya, Elvan benar-benar gila dan seketika dia sadar kalau apa yang Oca bilang itu benar. Karin berdiri dari tempat duduknya dan masih menatap Elvan. “Aku mau ngomong bentar sama Elvan di belakang.”
Setelah sampai di halaman belakang rumah, Karin langsung membalikkan badannya menghadap Elvan.
“Kamu mau omongin apa?” tanya Elvan
“Lo gila ya?” tanya Karin balik.
“Aku sehat kok.”
“Van, kita udah putus. Please, jangan egois. Kita udah gak bisa sama-sama lagi.”
Elvan maju selangkah, lalu memegang kedua pundak Karin. “Asal kamu tahu, kamu adalah satu-satunya cewek yang bisa buat aku jatuh cinta. Asal kamu tahu, mama aku juga sama kayak kamu, aku ditinggal sejak berumur tiga tahun. Aku gak mau kehilangan kamu kayak kehilangan Mama aku.” Tubuhnya bergetar.
Memang pada usia tiga tahun ibu kandungnya meninggal karena penyakit jantung. Setelah dua tahun tidak memiliki ibu, akhirnya Jordan menikah kembali karena ia tahu setiap malam Elvan akan berdoa untuk meminta seorang ibu yang bisa menemaninya. Dan puji Tuhan lagi, Martha sangat menyayangi Elvan layaknya anak kandung.
“Tapi hubungan kita ini buat gue capek!”
“Aku sayang kamu, Karin. Aku gak suka kamu raguin perasaan aku, karena dari awal hati ini memang buat kamu.”
Karin menundukkan kepalanya, Elvan menarik Karin dan memeluknya erat. “Mungkin aku gak pernah ngomong ini, tapi sekarang aku bakal bilang, I love you.”
Karin membalas pelukan Elvan dan menangis di pelukan cowok yang paling dia sayang setelah Arvan. “I love you too,” balas Karin yang membuat Elvan mengecup dahinya.
Setelah itu Elvan menjauhkan tubuhnya dengan Karin dan menghapus jejak air mata yang masih mengalir di pipi Karin. Lihat matanya yang sudah membengkak, berapa kali Elvan sudah membuat Karin menagis hari ini?
“So? Kamu mau ‘kan nikah sama aku?” tanya Elvan.
Tanpa menjawab, Karin menarik tangan Elvan dan membawanya kembali ke ruang tamu di mana orangtua mereka berada.
Karin menatap Elvan sekilas sebelum mengatakan, “Aku terima lamaran Elvan, tapi dengan satu syarat.”
Semua menatap Karin bingung termasuk Elvan. “Aku mau kita nikah secepatnya.”
Papa Karin langsung tersenyum lega, sama seperti kedua orangtua Elvan.
Gue tahu pilihan gue benar, batin Karin.