6. Get Married!!!

1099 Words
Elvan’s POV Setelah lamaran tadi, bokap dan nyokap langsung nentuin tanggal pernikahan, yaitu minggu depan, karena ini permintaan Karin sendiri. Gue senang banget, karena dia nerima lamaran gue. Ya, cowok mana yang enggak senang kalau lamarannya diterima? Tapi, gue berusaha terlihat biasa aja. Sekarang gue sama Karin lagi jalan-jalan berdua malam ini sebelum besok gue sama Karin bakalan nikah. Kita lagi duduk-duduk di taman dekat rumah, karena tadi kata papa mertua, gue gak boleh bawa Karin jauh-jauh. Takutnya dia bakalan kecapekan untuk acara besok. Karin senderan di d**a gue sambil makanin ice cream-nya, sedangkan gue mainin rambut dia. Terus dia juga foto-foto ice cream yang lagi dia makan dan di-posting di Ig-nya. “Yank, bagus gak?” tanya dia sambil nunjukin foto yang barusan dia post. Gue cuma ngangguk aja, dia malah langsung cemberut gitu. “Kamu bisa gak sih jawab enggak diam aja kayak batu.” Gue terkekeh pelan, seakan berusaha gak dengar apa yang dia bilang, terus berdiri. Dia natap gue aneh dan juga ikut berdiri. Terus gue genggam tangan dia untuk ngantar pulang, walaupun ini masih sore, gue gak mau buat dia lama-lama di luar kasihan. Besok dia bakalan capek banget, karena kita bakalan nikah. Ya … walaupun tamu undangannya cuma keluarga, tapi gue yakin dia pasti tetap kecapekan. Kita jalan kaki, karena mobil gue, gue taruh di rumahnya Karin. Muka Karin masih ditekuk sampai dia selesai ngabisin ice cream bersamaan dengan kita yang udah berada di depan rumahnya. Gue ngelihatin mukanya yang masih ditekuk. Terus gue tarik hidungnnya sampai dia teriak. “Elvan! Sakit tahu, udah ah aku mau masuk.” Tapi sebelum dia benar-benar pergi, gue narik lagi tangannya dan meluk dia erat. “Sampai ketemu besok calon istri,” bisik gue, lalu ngelepasin pelukan itu dan langsung masuk ke dalam mobil. Sampai gue pergi dari kaca spion gue bisa ngelihat Karin yang masih cengo di depan pagar rumahnya. Aduh gemes banget gue astaga …. *** Gue bangun pagi banget, karena hari ini gue bakalan nikah. Belum apa-apa Mama udah nangis aja, padahal kita belum berangkat ke tempat acara. Btw, pemberkatannya bakakalan dilakukan di gereja dan resepsinya di hotel. Gue jadi sedih juga kalau begini caranya. Mama ngerapihin rambut gue sambil terisak haru. “Anak Mama udah besar, bentar lagi jadi suami orang.” Gue cuma bisa tersenyum simpul, lalu menggenggam tangan Mama dan menciumnya. “Makasih ya, Ma, udah jagain aku, sayangin aku dari kecil, walaupun aku bukan anak kandung Mama.” “Hust! Ngomong apa kamu? Kamu itu anak Mama.” Lagi-lagi gue merasa sangat beruntung, karena memiliki beliau sebagai mama tiri gue. Gue ingat banget saat pertama kali gue ketemu sama Mama. Mama ngajak gue jalan-jalan, bahkan dia nurutin segala macam keinginan gue. Pada awalnya, gue merasa enggak cocok sama Mama, karena gue pikir dia sama kayak cewek-cewek yang cuma ngincar harta bokap. Padahal bokap gue gak kaya-kaya banget. Papa kasih tahu gue pelan-pelan kenapa Papa mau nikah sama beliau. Lagi, jawabannya adalah karena gue. Mama Martha adalah sahabat mama kandung gue yang dinyatakan mandul oleh dokter. Oke, kembali ke cerita awal, sekarang gue beserta nyokap dan bokap lagi di jalan. Gue gak sabar banget mau ketemu sama Karin. Untungnya jalanan enggak macet, jadi enggak butuh waktu lama untuk sampai di gereja. Cuma keluarga aja yang diundang dan kebanyakan mereka semua udah pada ngumpul, tapi acaranya bakalan dimulai pukul 9, sedangkan sekarang masih pukul 8 lewat. Di dalam gereja ini ada beberapa ruangan selain ruangan yang bakal dipakai nanti untuk pemberkatan. Salah satunya adalah ruangan tunggu untuk mempelai wanita. Baru aja kaki gue mau melangkah ke sana, tetapi tangan gue udah ditahan sama Papa lebih dulu. “Gak usah ke sana, Van, nanti juga kamu bisa lihat istri kamu.” Akhirnya gue cuma ngangguk aja. Gue duduk bareng sama Papa-Mama yang lagi lihat calon mantunya di belakang. Enggak terasa waktu cepat banget berputar, kini gue udah berdiri di depan altar dan bersiap untuk pemberkatan. Pintu gereja terbuka dan muncul Karin yang digandeng sama bokapnya. Dia jalan dengan anggun. Gak salah gue milih Karin sebagai pendamping hidup gue. Dia cantik banget dengan balutan baju pengantin berwarna putih. Seluruh keluarga memuji kecantikan Karin. Gue gak tahu harus berekspresi gimana. Jadinya gue cuma bisa natap dia datar. Sampai akhirnya, dia udah ada di depan gue dan bokapnya menyerahkan tangannya ke gue. “Jaga dia” kata, ” katanya yang cuma gue tanggapi dengan anggukan kepala. Pendeta yang berdiri di depan kita udah bersiap dengan alkitab ditangannya. “Hendaklah saudara-saudari berdiri di hadapan Tuhan Yesus dan jemaat-Nya serta menjawab pertanyaan ini dengan jelas dan tegas.” Astaga, gue gak nyangka waktunya udah tiba detik-detik gue mempersunting Karin jadi istri gue. “Saudara Elvan Natanael.” Gue tarik napas yang agak panjang dalam hati gue berusaha nyemangatin diri sendiri. “Apakah saudara mengakui di hadapan Tuhan Yesus dan jemaat-Nya bahwa saudara bersedia dan mau menerima saudari Karin Imelda Sanjaya sebagai istri saudara satu-satunya dan hidup bersamaan dalam pernikahan suci seumur hidup? Apakah Saudara mengasihinya seperti Saudara mengasihi diri sendiri, mengasuh dan merawatnya, menghormati dan memeliharanya dalam keadaan susah dan senang, dalam keadaan kelimpahan atau kekurangan dalam keadaan sakit dan sehat dan setia kepadanya selama Saudara hidup? Apakah Saudara bersedia menjaga kesucian perkawinan saudara ini sebagai suami yang setia dan takut akan Tuhan sepanjang umur hidupmu?” “Ya, saya bersedia,” jawab gue dengan lantang. Begitupun pendeta menanyakan hal serupa kepada Karin dan dijawabnya dengan suara yang lembut. Lalu pendeta menyuruh gue untuk mengucapkan janji pernikahan gue. “Demi nama Allah Bapak, anak dan roh kudus. Saya Elvan Natanael, menerima engkau, Karin Imelda Sanjaya menjadi satu-satunya istri dalam pernikahan yang sah, untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka semasa kelimpahan atau kekurangaagn diwaktu sakit dan sehat, untuk dikasihi dan diperhatikan serta dihargai, seperti kristus yang mengasihi jemaat-Nya sampai maut memisahkan kita, menurut titah kudus Tuhan dan iman percaya saya kepada-Nya. Kuucapkan janji setiaku kepadamu.” Lega banget rasanya setelah ngucapin janji tadi. Karin juga memberikan janji yang serupa. Semua berjalan lancar hingga prosesi pemasangan cincin. “Dengan demikian, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, saya Nicholas Barry Abas sebagai hamba Tuhan menyatakan dihadapan Tuhan dan jemaat-Nya bahwa saudara Elvan Natanael dan saudari Karin Imelda Sanjaya resmi dan sah sebagai suami istri di hadapan Tuhan.” Akhirnya setelah prosesi yang cukup panjang, gue dan Karin udah sah menjadi suami istri, setelah itu gue mencium dahi Karin dan seluruh keluarga memberikan tepuk tangan yang meriah. Gue bisa dengar beberapa suara orang yang menangis terharu. Gue … Elvan Natanael udah resmi jadi suami Karin Imelda Sanjaya. Elvan’s POV end
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD