"Waduh, maaf, Non. Bibi enggak tahu kalau Non istrinya Den Gavin," ucap Bi Ijah yang terlihat kaget dengan apa yang barusan didengarnya.
Ia tak menyangka kalau gadis yang ada di hadapannya adalah istri Gavin. Pasalnya Gavin tak bilang akan menikah saat pergi dari rumah kemarin.
"Iya, tak apa-apa, Bi," jawab Alea singkat. Ia sendiri memang merasa kalau penampilannya terlalu sederhana. Maklum terbiasa kerja keras, jadi tak terlalu peduli dengan penampilan.
Bi Ijah lalu membantu Pak Udin untuk membawa barang-barang mereka menuju ke tempat cuci baju. Sementara Gavin mengajak Alea untuk masuk.
Mereka menuju ke kamar Gavin yang ada di lantai dua. Sejak dulu, ia memang memilih kamar di lantai dua itu sebagai kamarnya. Ternyata cukup berguna setelah ia punya ibu tiri. Untuk berdiam diri tanpa gangguan dari ibu tirinya itu.
Claretta hanya mengikuti langkah Gavin memasuki kamarnya. Ia masih bingung dengan keadaan yang begitu berubah drastis itu.
Kamar itu begitu luas, bahkan seperti kamar dan ruang tengah rumah Alea yang disatukan. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Semua furniture di ruangan itu begitu tertata apik. Membuat penghuninya pasti betah berlama-lama di kamar.
Ada tempat tidur berukuran king size, sofa santai, televisi, bahkan kulkas pun ada. Belum lagi hiasan-hiasan kamar lainnya. Membuat kamar itu terlihat estetik.
"Kita tidur di sini?" tanya Alea seolah tak percaya. Ia menatap Gavin dengan tatapan aneh.
"Iya," jawab Gavin singkat sambil merebahkan dirinya di tempat tidur.
"Aneh, rumah seluas ini apa tak ada kamar lain untukku?" tanya Alea sedikit keras dan ketus.
"Kamar banyak. Tapi, tak ada untukmu," jawab Gavin dengan santainya.
Alea akhirnya hanya duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut. Padahal matanya masih sangat mengantuk dan berat, tetapi ia tak mau sampai harus tidur satu kasur dengan Gavin.
Kelelahan sehabis perjalanan membuat Alea kembali mengantuk. Ia pun membaringkan tubuhnya di sofa santai yang ada di kamar Gavin tersebut.
Gavin yang juga kelelahan menyetir selama berjam-jam tertidur di tempat tidurnya. Mereka terbuai dalam alam mimpinya masing-masing.
Sore hari, Alea terbangun lebih dulu dibandingkan Gavin. Ia lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri, badannya terasa lengket setelah perjalanan berjam-jam menggunakan mobil.
Saat keluar dari kamar mandi ia sudah rapi dengan mengenakan pakaian. Gavin yang sudah bangun menatap istrinya yang baru keluar dari kamar mandi. Rambutnya terlihat basah, juga beberapa bagian lainnya.
Gavin lalu mendekat kepada istrinya. Alea terperanjat, takut diapa-apakan oleh suaminya itu.
"Mau apa kamu?!" tanya Alea dengan sedikit membentak. Wajahnya nampak sedikit ketakutan dan kaget.
Gavin semakin mendekat, wajahnya datar tanpa ekspresi. Tetapi dirinya terus saja mendekat.
"Cepat, pergi. Aku ingin ke kamar mandi," ucap Gavin sambil memegang handle pintu.
Ia lalu memasukinya. Sementara Alea menarik napas lega. Setidaknya ia masih perawan sampai detik itu dan entah sampai kapan.
'Semoga dia enggak berniat ngapa-ngapain aku,' gumam Alea dalam hati. Ia lalu mencari sisir di tasnya.
Ia membawa semua perlengkapannya sendiri agar tidak memakai satu barang dengan Gavin. Lalu, memakai pelembab dan sedikit bedak bayi. Bibirnya hanya dipoles dengan pelembab bibir.
Setelah itu, Alea duduk di sofa sambil menonton televisi berukuran tiga puluh dua inchi di hadapannya. Tak ada siaran yang menarik sore itu. Ia hanya menekan-nekan remote kontrol. Tanpa tujuan pasti apa yang mau ditontonnya.
Beberapa saat kemudian, Gavin keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengenakan handuk putih yang dililitkan di setengah badan bagian bawahnya.
"A ...! Ngapain kamu?!" teriak Alea bagai melihat hal yang sangat menakutkan. Ia sampai menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Aneh kamu, aku mau ganti bajulah. Mau lihat?" tanya Gavin sambil tersenyum lebar. Deretan gigi putihnya terlihat menawan. Namun, tidak bagi Alea.
Gavin lalu melenggang santai menuju ke ruangan bajunya. Ada pintu khusus yang menghubungkan kamar tersebut dengan ruangan itu.
Alea hanya hanya menatap punggung Gavin memasuki pintu itu.
'Padahal kamar ini saja sudah cukup luas. Ditambah dua lemari juga masih cukup. Kenapa perlu ruangan khusus buat pakaian?' gumam Alea dalam hati.
Entahlah, ia harus merasa beruntung atau sedih saat itu. Menikah dengan orang kaya memang harapannya. Tapi, bukan pernikahan seperti itu yang ia mau. Melainkan pernikahan penuh cinta yang membuat ia dan suaminya romantis dan tak terpisahkan.
"Kenapa juga aku selalu nolak lelaki. Jadi gini kan, dinikahkan paksa," gerutu Alea pelan.
Sebenarnya banyak yang menyukainya dan menginginkannya menjadi seorang kekasih. Tetapi, ia selalu beralasan ingin fokus kuliah dan bekerja dulu. Eh, malah akhirnya dinikahkan oleh kedua orang tuanya sendiri.
Mengingat itu, ia jadi ingin kuliah lagi. Pasti ia akan dimarahi wali kelasnya karena ambil cuti terlalu lama.
"Gara-gara Gavin!" gerutu Alea pelan.
"Kenapa gara-gara aku?" tanya Gavin yang sudah rapi dan mendengar ucapan Alea.
Alea terdiam seketika. Bibirnya mengatup rapat, tak ingin membicarakan apa alasannya tadi. Tetapi, Gavin semakin mendekat.
"Katakan apa yang gara-gara aku?" tanya Gavin lagi sambil duduk di sofa yang juga ditempati Alea.
"Aku mau kuliah lagi," jawab Alea sambil menunduk. Antara tak mau dan segan melihat mata Gavin.
Wajah tampan Gavin memang memiliki manik mata yang hitam pekat bak elang. Tatapannya tajam dan mampu melumpuhkan musuh. Juga menaklukkan hati wanita.
"Oke, di mana kuliahmu?" tanya Gavin lagi. Bukan hal sulit baginya memasukkan dan membiayai kuliah seseorang.
"Di UPI," jawab Alea lagi. Ia menatap Gavin dengan sorot mata yang ragu. Ia tak percaya jika suaminya itu bisa membuatnya lepas dari masalah di kampus karena mengambil cuti yang cukup lama.
"Besok, bersiaplah. Aku antar kau ke kampusmu," ucap Gavin dengan penekanan.
"Iya," jawab Alea singkat.
"Tidak gratis. Kau juga harus berbuat sesuatu untukku," ucap Gavin sambil tersenyum miring.
"Apa itu?" tanya Alea dengan kesal. Ia malas berurusan dengan syarat.
"Mudah, jika nanti ada ibu tiriku, bersikaplah layaknya istriku, mengerti?" tanya Gavin setelah menjelaskan syarat yang harus dilakukan istrinya.
Alea mendengkus kesal. Ia berpikir apa benar itu adalah murni tak tik Gavin untuk mendapatkan harta warisannya atau hanya mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Aku tak akan mencari kesempatan darimu," ucap Gavin seakan bisa membaca pikiran Alea.
"Selama pernikahan dalam rangka mendapat harta warisan ibuku ini berlangsung, aku tak akan menyentuhmu. Tenang saja, jadi ketika kita berpisah tak ada yang dirugikan, bukan?" tutur Gavin menjelaskan aturan main dari pernikahan tersebut
"Baik, aku setuju," jawab Alea dengan begitu yakin.
"Oke, deal?" ucap Alea lagi yang mendadak senang karena dirinya tak akan dirugikan dengan pernikahan tersebut. Tangannya terulur untuk mengajak Gavin bersalaman.
"Deal," ucap Gavin sambil menyambut uluran tangan Alea.
Mereka bersalaman. Bersentuhan tangan. Kedua tangan itu terasa lembut dan hangat.