Tiba di Rumah Gavin

1762 Words
Gavin terdiam sejenak saat melihat lauk yang dihidangkan. Lauk yang merupakan sisa hidangan prasmanan kemarin saat pesta. 'Apa tidak akan sakit perut, ya?' gumam Gavin dalam hati. Ia tengah menimbang keputusan yang harus diambil. Pasalnya hari itu ia akan menyetir dengan perjalanan yang sangat jauh. Tidak lucu rasanya kalau sampai sakit perut dan terus-terusan berhenti karena ingin buang air. "Ayo, Nak Gavin, dimakan, maaf loh cuma seadanya," ucap Bu Ani sedikit sungkan pada menantunya itu. Dirinya dan keluarganya memang sudah terbiasa dengan makanan yang dihangatkan. Berbeda dengan Gavin yang di rumah ada asisten rumah tangga. Jadi, makanan hanya untuk sekali makan saja. "I—iya, Bu," jawab Gavin singkat sambil menyendok nasi ke dalam piringnya. Ia hanya mengambil bayam yang baru dimasak tadi pagi oleh Alina. Setelah itu memakannya. Rasanya lumayan, tetapi makan dengan hanya satu lauk sederhana membuatnya terasa hampa. "Kok, cuma sama sayur saja, Nak. Ini banyak lauk yang lainnya. Ada daging suwir, sambal goreng kentang, dan lainnya. Mau yang mana? Biar Ibu ambilkan," tutur Bu Ani menawarkan aneka menu prasmanan yang tersisa di rumahnya. "Tidak usah, Bu. Ini saja cukup," jawab Gavin tak ingin memperpanjang obrolan. Untung saja Bu Ani tidak main menyendok lauk dan ditambahkan ke piringnya. Bisa-bisa tak lanjut makan kalau tadi sampai ditambahkan. Mereka lalu melanjutkan sarapan tersebut dalam diam. Alea masih sibuk dengan pikirannya tentang ajakan Gavin untuk ke Bandung. Antara senang dan sedih, bercampur di hatinya. Senang karena ia akan kembali kuliah. Sedih karena telah menjadi istri orang. Meskipun pernikahan itu tak diinginkan. Selesai makan, Alea kembali pamit kepada keluarganya. "Pak, Bu, Bang, Lin, aku pamit mau ikut Bang Gavin ke Bandung," ucap Alea kepada keluarganya sehabis sarapan. "Kita tidak bisa mencegahmu, yang lebih berhak atas dirimu sekarang adalah Gavin. Hati-hati ya, Nak," ucap Pak Asep dengan suara berat. Ia sendiri sebenarnya berat untuk melepaskan anaknya. Tetapi, itu adalah pilihan yang sudah diambilnya. Alea lalu bersiap dengan memakai jaket juga mengeluarkan dua tas miliknya dan satu koper milik Gavin. Semua keluarganya menunggu di sofa untuk mengantar kepergian Alea. Gavin segera membawa barang-barang tersebut ke bagasi mobil. Setelah itu, ia kembali untuk berpamitan pada orang tua Alea yang sekarang jadi mertuanya. "Bu, Pak, aku pergi dulu," pamit Alea sambil menyalami keluarganya. Mulai dari ibu, bapak, adik, dan kakaknya. "Saya juga," ucap Gavin yang juga mengikuti hal yang sama. "Hati-hati ya, Nak. Tolong jaga anak Ibu," ucap Bu Ani dengan derai air mata karena melepas kepergian putri keduanya. Alea yang masih berada di sisi Gavin, tiba-tiba dipeluk oleh Bu Ani. Pelukan yang jarang sekali ia dapatkan. Ia memang tak suka bermanja-manja pada ibunya. Terlebih umurnya dan Alina tak jauh beda, sehingga dulu ibunya lebih fokus pada mengurus Alina kecil. "Ibu jangan nangis," ucap Alea yang juga menahan air mata. Ia sendiri tak tega meninggalkan keluarganya di sana. Setelah itu, Gavin dan Alea memasuki mobil mewah yang terparkir di halaman rumah itu. Gavin duduk di belakang kemudi untuk mengendarai mobil, sementara Alea duduk di jok dapan tepat di sampingnya. Mobil lalu melaju. Membelah jalanan pedesaan untuk nantinya akan menuju ke kota. Jalanan desa di pagi hari masih sangat lengang. Udaranya pun dingin dan segar. Tak seperti di kota yang jika pagi pasti sudah macet. Orang-orang seakan berlomba meramaikan jalanan, demi aktivitas mereka yang berada di luar rumah. Tak ada yang memulai pembicaraan di antara mereka. Suara mobil yang halus pun tak terdengar. Sehingga keadaan di dalam mobil semakin sepi. Barulah setelah dua jam menyusuri jalanan mereka tiba di jalan raya Garut. Meskipun belum begitu ramai seperti di kota besar, setidaknya sudah banyak toko berjajar di sana. Hari itu bukan hari libur sehingga jalanan tampak sepi. Pembeli toko pun terlihat hanya segelintir orang. Gavin melirik ke samping, ternyata Alea sudah terlelap dalam tidurnya. Terlihat manis sekali saat tidur dan tanpa ocehan amarah dari mulutnya. 'Dia lebih cantik dan anggun di waktu tidur,' gumam Gavin dalam hati. Ia sepertinya baru menyadari kalau gadis yang dinikahinya memang sangat cantik. 'Kamu enggak boleh jatuh cinta sama dia. Ingat tujuan kamu menikah untuk apa,' gumam Gavin lagi. Memberi protect pada hatinya agar jangan sampai terpesona dengan kecantikan Alea. Gavin kembali fokus menyetir. Perjalanan masih cukup jauh. Ia sendiri tak menyangka kalau harus mencari jodoh sampai sejauh itu. Seolah harus memasuki desa terpencil terlebih dahulu. Perjalanan dengan santai kira-kira membutuhkan waktu enam jam dengan mobil. Masih lebih baik dari pada harus sampai ke luar pulau dan menyebrang lautan. Waktunya akan habis di perjalanan dan belum tentu bisa membawa istrinya langsung pulang, dikarenakan adat. Sementara orang tua Alea tak memikirkan adat. Mereka hanya ingin pernikahan anak mereka selamat, berkah, dan bisa menjadi jalan kebahagiaan bagi putri mereka. Setelah empat jam perjalanan, mereka baru memasuki area Kota Bandung. Terkenal disebut Kota Kembang. Kota seribu cerita kata para pujangga yang berdedikasi di sana. Jalanan sudah terlihat ramai karena sudah memasuki waktu makan siang. Semua karyawan, baik pabrik maupun kantor, berbondong-bondong keluar dari tempat kerja mereka. Mencari makanan yang sekiranya bisa mengganjal perut mereka siang itu. Waktu makan siang sudah tiba, cacing dalam perut Gavin juga sudah meminta jatah makannya. Ia akhirnya memarkirkan mobil di sebuah restoran padang yang terkenal enak di kota tersebut. Saat mobil sudah terparkir, Alea bangun. Ia menatap ke sekeliling. Belum menyadari kalau mobil berhenti di sebuah restoran. 'Apa ini rumah Gavin, ya? Kok, biasa aja. Enggak gede-gede banget,' gumam Alea dalam hati. Ia merasa heran dengan pemandangan di depannya itu. "Ayo, turun. Kita makan dulu di sini," ucap Gavin sambil membuka pintu mobil dan turun dari mobilnya. 'Oh, ternyata ini di restoran. Aku kok, bisa sampai enggak sadar sih, dasar Alea,' gumam Alea dalam hati. Tanpa menjawab ajakan Gavin, ia juga langsung keluar dari mobil tersebut. Gavin lalu mengajaknya masuk. Tak ada gandengan tangan mesra, apalagi menanyakan keadaan karena perjalanan jauh. Mereka memasuki restoran tersebut seperti dua orang asing. Gavin masuk terlebih dahulu, baru disusul Alea di belakangnya. "Bang, lengkap ke meja ya. Nasinya untuk dua orang," titah Gavin pada pramusaji yang ada di depan etalase makanan. "Oh, baik, Pak," ucap pramusaji itu dengan sopan. Gavin lalu melenggang pergi ke meja panjang yang kosong. Ia duduk di sana, disusul oleh Alea. Mereka duduk berhadapan. Tapi, tak ada obrolan sama sekali. Mulut mereka seakan membisu dengan keadaan seperti itu. Tak lama kemudian dua pramusaji mengantarkan makanan. Mereka sudah terlatih, terbukti dengan kedua tangan mereka yang membawa lebih dari lima piring sekaligus. Itulah ciri khas di restoran padang. Semua lauk di etalase berpindah ke meja dengan porsi kecil-kecil. Gavin lalu mulai makan dengan memilih lauk yang diinginkannya. Sementara Alea termenung sejenak melihat menu sebanyak itu di hadapannya. Ia bingung jadinya mau pilih yang mana. "Makanlah, bebas. Mau semuanya juga boleh kalau perutmu sanggup menampungnya," ucap Gavin yang melihat Alea termenung. Tanpa menjawab, Alea mulai makan dengan lauk yang ada di dekatnya. Ia memilih beberapa lauk yang disukainya. Itu bukan kali pertama Alea ke restoran padang, tetapi memang pertama kali disuguhkan semua menu seperti itu. Ia makan dengan lahap tanpa memedulikan Gavin. Satu demi satu suapan masuk ke dalam mulut mereka. Selesai makan, sudah tersedia teh hangat tawar yang biasa jadi teman makannya. Setelah selesai makan mereka terdiam. "Mau lanjut perjalanan sekarang?" tanya Alea yang ingin segera ke kampusnya. Meskipun ia tahu tak akan keburu untuk kuliah hari itu. "Tenang dulu saja," jawab Gavin singkat. Ia sebenarnya bisa saja makan di restoran bintang lima sekalipun. Tapi, jika ingat mendiang ibunya yang sudah meninggal, ia selalu rindu makanan di restoran padang yang merupakan kesukaannya. Jika makan di sana, rasanya rindunya sedikit terobati. Mengenang ibunya yang telah lama meninggal. Alea jadi ketar-ketir tentang bagaimana sifat ibu tirinya nanti. Ia takut akan dimarahi dan disakiti oleh mertuanya. Setelah beberapa saat Gavin terduduk, Ia lalu bangkit dari tempat duduknya. Berjalan santai menuju ke depan dan membayar semua makanan yang tadi dimakannya. Mereka lalu kembali memasuki mobil. Perjalanan untuk sampai di rumah Gavin masih sekitar dua jam lagi. Gavin kembali mengendarai mobilnya, menyusuri jalanan kota. Tak ada obrolan berarti di antara mereka. Sepatah katapun sepertinya enggan keluar dari mulut mereka. Alea yang sudah kenyang dan kembali naik mobil, seketika mengantuk kembali. Tanpa basa-basi Alea kembali tertidur. Gavin kembali melirik ke sampingnya. Ia heran melihat Alea yang mudah sekali tertidur. Berbeda dengan dirinya yang kadang mesti menggunakan obat tidur. Setelah dua jam berlalu, mobil memasuki area perumahan yang elit. Rumah-rumah mewah berjajar. Masih ada lahan kosong yang tersisa di antara rumah dan rumah. Menjadi lahan rerumputan hijau yang bagus, karena memang selalu dirawat oleh petugasnya. Sesampainya di blok D, Gavin melajukan mobilnya ke arah rumahnya yang tak jauh lagi. Hanya beberapa ratus meter di depan sana. Sesampainya di depan rumahnya, pagar otomatis terbuka. Padahal di rumah itu juga ada satpam yang berjaga. Alea masih tidur di jok sebelah. Ia kekenyangan, ditambah lagi perjalanan menggunakan mobil. "Hei, Alea, sudah sampai. Apa kamu tak akan turun?" tanya Gavin. Tetapi, tak ada respon apapun dari gadis yang tertidur dengan pulas tersebut. Gavin lalu menepuk-nepuk pipi Alea pelan. Barulah gadis itu terbangun. Ia kaget ketika menyadari kalau pipinya tadi ditepuk-tepuk oleh Gavin. "Apa yang kamu lakukan tadi padaku?" tanya Alea dengan sorot mata nyalang menatap Gavin. Ia takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan ketika ia tertidur tadi. "Memangnya apa yang aku lakukan? Hanya membangunkanmu, ayo, turun, sudah sampai," ajak Gavin yang langsung turun dari mobilnya. Tak peduli kalau Alea belum selesai bicara. "Dasar orang menyebalkan," gerutu Alea sambil turun dari mobil. Ia lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Halaman yang luas lengkap dengan air mancur di tengahnya. Juga rumah mewah yang sangat besar. Impiannya sejak dulu. Akhirnya, ia bisa tinggal di rumah seperti itu. Meskipun jalannya harus dengan menikah paksa dengan orang seperti Gavin. "Ini beneran rumahmu?" tanya Alea yang masih sibuk mengedarkan pandangannya, sembari mendekati Gavin. Gavin tak menjawabnya. Makanya mereka sampai dan parkir di rumah itu, ya karena rumah itu memang miliknya. Gavin melambaikan tangan pada satpam yang berjaga. Mengisyaratkan agar salah satu satpam itu mengikuti langkahnya. Ia lalu berjalan menuju ke teras, setelah Pak Udin mengikutinya. Alea mengikuti dari belakang. Gavin mencoba membuka pintu tapi ternyata dikunci dari dalam. Ia lalu menekan bel agar Bi Ijah membukakan pintu untuknya. Tak lama kemudian seorang ibu paruh baya keluar dari rumahnya. "Eh, Den Gavin sama ...." Bi Ijah menatap penampilan Alea dari atas ke bawah. Ia merasa tak mengenalinya. Apalagi penampilannya sangat sederhana, baju yang dikenakannya juga memang seadanya. Berbeda dengan Gavin yang selalu terlihat perlente. "Pak, bawakan barang saya semua di bagasi. Nanti berikan pada Bi Ijah agar dicuci terlebih dahulu," titah Gavin pada Pak Udin yang hanya berdiri mematung di dekatnya. "Baik, Den," ucap Pak Udin sambil berjalan menuju ke mobil. "Ini istriku," ucap Gavin singkat sambil menatap Alea. Tatapannya tak dapat diartikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD