Persiapan pulang ke Bandung

1024 Words
Gavin lalu keluar dari kamarnya. Ia berniat ke kamar mandi. Ternyata di luar semua penghuni rumah itu sudah sibuk membereskan rumah. Apalagi setelah kemarin ada acara pesta. "Nak Gavin mau ke kamar mandi, ya?" tanya Bu Ani saat melihat Gavin keluar dari kamar pengantin. "Iya, Bu," jawab Gavin singkat sambil tersenyum tipis. Manis sekali, wajahnya sebenarnya di atas rata-rata, ia juga seorang CEO tampan. Hanya saja di mata Alea semua itu tak berarti. Gavin lalu berjalan menuju kamar mandi yang melewati dapur terlebih dahulu. Di sana Alea tengah menyapu dengan tenang. Rambutnya basah seperti telah keramas. Saat Gavin melewatinya, Alea langsung mencekal pergelangan tangan Gavin. "Aku tak mau orang tuaku bertanya-tanya. Keramas rambutmu," titah Alea pelan dengan suara berbisik. Gavin hanya terkekeh, kenapa mesti berbohong soal itu. Lagipula semalam tak adegan apapun di antara mereka. Tidur pun dihalangi oleh dua guling. Alea mendengkus kesal. Ia sudah terlanjur membuat cerita menerima Gavin jadi suaminya. Tak mungkin berhenti di tengah jalan. Ia ingin orang tuanya menganggapnya benar-benar menikah sepenuhnya dengan Gavin. Gavin lalu memasuki kamar mandi. Tak ada water heater di sana. Sementara air dinginnya bagaikan air es. 'Duh, gimana mau keramas, airnya aja dinginnya kayak es begini,' gumam Gavin dalam hati sambil menyentuh air dalam bak. Gavin akhirnya hanya membasahi rambutnya tanpa mandi. Ia merasa ciut dengan airnya yang begitu dingin bagaikan air es. Setelah itu, ia keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian di kamar. Ia bingung hendak melakukan apa lagi. Pasalnya ia juga tak mengerti soal pekerjaan rumah. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ada telepon masuk. ternyata dari Pak Darma. "Halo, iya, ada apa, Pak?" tanya Gavin sesaat setelah telepon terhubung. 'Sedang apa? Jangan terlalu betah di sana. Banyak pekerjaan di sini,' jawab Pak Darma yang memperingati Gavin untuk segera pulang. Pekerjaannya khususnya sudah tak bisa dihandle oleh siapapun. Di antaranya adalah masalah dengan ibu tirinya. "Baik, aku akan pulang hari ini," jawab Gavin yang mengerti kalau ada masalah di sana. 'Bagus, ditunggu,' pungkas Pak Darma. Ia lalu mengakhiri sambungan telepon. Gavin lalu keluar dari kamar untuk mengajak Alea pulang ke Bandung. Banyak pekerjaannya yang menanti sekaligus agar Alea bisa kembali kuliah. "Lina," panggil Gavin saat baru keluar kamar. "Iya, Bang, ada apa?" tanya Alina bingung sekaligus senang dipanggil oleh Gavin. "Di mana Alea?" tanya Gavin yang memang sedang mencari istrinya itu. "Oh, sebentar saya panggilkan, Bang," jawab Alina sambil berlalu untuk memanggil kakaknya itu. Alina berlalu ke kamar mandi. Ternyata Alea sedang mencuci piring di sana. Sebenarnya Alea malas melakukan pekerjaan itu, tapi mau bagaimana lagi ia juga punya rasa malu tinggal di rumah ibunya. "Kak Lea, dipanggil Bang Gavin," ucap Alina setelah ada di ambang pintu kamar mandi yang terbuka. "Ada apa sih? Ganggu aja, belum beres nih," ujar Alea yang tak senang pekerjaannya harus ditunda terlebih dahulu. "Ke sana aja dulu, Kak. Siapa tahu penting," titah Alina pada kakaknya itu. "Males, ah," jawab Alea singkat. "Ya ampun, Kak ... takutnya ada hal penting makanya Bang Gavin manggil. Sudah, biar aku lanjut nyuci piring," tawar Alina yabg membuat Alea tersenyum senang. "Ya sudah, nih," ucap Alea sambil bangkit dari duduknya di atas kursi kecil di kamar mandi. Alea berjalan untuk menemui Gavin yang ternyata sedang duduk di sofa. Tadi pagi memang sofa itu telah dipasang oleh Bang Arka dan ayahnya. "Kamu mau kuliah, kan?" tanya Gavin pada Alea. Pertanyaan yang membuat Alea gelagapan dan akhirnya akan mengiyakan. "Memangnya kenapa?" tanya Alea heran. "Jawab saja," titah Gavin singkat. Ia tak suka terlalu banyak bertele-tele. "Iya, aku mau," jawab Alea yang memang sangat ingin kuliah lagi. Merasakan dunia masa mudanya seperti dulu. "Oke, kita pulang ke Bandung hari ini. Banyak pekerjaan yang menantiku," ujar Gavin menyampaikan maksud yang sebenarnya. Alea mendadak tersenyum sejenak. Hanya hitungan detik kemudian senyumannya itu pudar. Gavin melihat senyuman itu, hanya sekilas. Tapi, ia mengakui kalau Alea cantik jika tersenyum. Apalagi kalau ramah seperti Alina. 'Ck, Alina lagi, kenapa jadi kepikiran dia, sih. Ingat tugasmu masih banyak,' gerutu Gavin dalam hati. Alea lalu bangkit dan segera membereskan semua pakaiannya. Berhubung ia sedang senang, ia pun membereskan pakaian Gavin dan apa saja yang akan dibawanya. Tak banyak hanya dua tas ransel saja. Sedangkan Gavin menggunakan koper. Beberapa saat kemudian, Bu Ani pulang dengan Bang Arka. Mereka sudah membagikan perabotan milik saudara-saudara. Sekaligus membagikan makanan. "Bu," panggil Alea yang keluar dari kamar pengantin sehabis membereskan barang milik Gavin. "Iya, ada apa, Nak?" tanya Bu Ani lembut. Ia senang setidaknya Alea mau menerima pernikahan tersebut. Alea juga sekarang kelihatan sumringah. Mungkin karena ia juga bahagia dengan pernikahannya. "Aku sama Gavin mau pulang sekarang," jawab Alea dengan sumringah. "Pulang, ke mana?" tanya Bu Ani yang sebenarnya belum ingin berpisah dengan anak keduanya itu. Ia ingin lebih lama lagi bercengkerama dengan keluarganya. Apalagi sekarang ada Gavin yang merupakan anggota keluarga baru di rumah itu. "Ke Bandung, Bu. Tadi Gavin bilang kalau dia banyak kerjaan yang menanti. Jadi, ngajak aku pulang sekaligus aku disuruh kuliah lagi," tutur Alea dengan sumringah. Memang kuliah adalah keinginannya. "Bagaimana suamimu saja. Sekarang kamu adalah miliknya. Pesan Ibu kamu harus nurut dan baik pada suamimu. Dia imam kamu dan dialah yang bertanggung jawab atas kamu sekarang," tutur Bu Ani memberi pepatah pada anaknya yang kini sudah menjadi istri orang itu. "Iya, Bu," jawab Alea singkat. Ia tak tahu harus menjawab apalagi. Pernikahan itu bukan yang diinginkannya, bahkan hingga detik itu, ia masih menganggap Gavin adalah orang lain. Bukan suaminya. "Ya sudah, kalian mesti sarapan dulu. Bapak juga kayaknya belum sarapan. Lagi potong kayu bakar tadi di belakang," ucap Bu Ani sambil bangkit dari tempat duduknya untuk memanggil suaminya yang ada di belakang rumah. Alea pun memanggil Gavin untuk sarapan terlebih dahulu. Kebetulan memang Alina sudah masak sayur bayam dan juga menghangatkan sambal goreng kentang. Alina memang pandai memasak, berbeda dengan Alea yang hanya masak ala-ala. Itupun jarang, di Bandung ia lebih sering beli, karena dirinya yang sibuk bekerja. Ia juga punya uang makan dari pekerjaannya itu meski sedikit. Ia punya rice cooker kecil, jadi hanya membeli lauk makannya saja. Nasinya ia masak sendiri. Tak lama kemudian mereka telah berkumpul di karpet lusuh yang ada di dapur. Aneka makanan sisa hidangan dan sayur bayam ada di hadapan mereka sebagai lauk sarapan hari itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD