Ia makan sendiri di kamar dengan lauk sisa hidangan prasmanan. Di dalam kamar, Gavin yang juga keroncongan hanya menatap Alea dengan sorot mata tak percaya.
Sepertinya yang dinikahinya memang orang yang unik dan berbeda.
"Kamu makan sendirian aja?" tanya Gavin heran.
"Memangnya harus sama sekali lagi? Kami bisa ambil sendiri kan, punya tangan dan kaki," jawab Alea dengan santainya. Ia kemudian melanjutkan makannya yang tertunda beberapa detik.
Kamar itu cukup luas. Ada kursi juga yang memang sengaja di taruh di sana untuk Bu Ani berdandan.
"Di sini ada ojek online enggak?" tanya Gavin lagi, ia hendak memesan sesuatu untuk dimakan.
Alea hampir saja tertawa terbahak- bahak saat mendengar pertanyaan Gavin. Untuk warga kampung memang rasanya masih aneh jika harus ada kendaraan seperti itu.
Ditertawakan seperti itu, Gavin hanya menarik napas kasar. Ia tahu itu merupakan ejekan Alea untuknya. Di kampung yang masih sejuk dan berada di kaki Gunung Cikuray itu, mana ada ojek online.
Gavin lalu membaringkan tubuhnya kembali di tempat tidur. Suara keroncongan terdengar dari perutnya. Alea hanya pura-pura tidak tahu dan sengaja meneruskan makannya.
***
Di luar, Bu Ani sedang membereskan perabotan yang akan dipulangkan ke pemiliknya.
"Bu, Bang Gavin emang sudah makan? Perasaan dari tadi belum," tanya Alina sambil duduk dan membantu ibunya memisahkan barang-barang.
"Tadi Alea ambil satu piring makanan sih, mungkin satu piring berdua," jawab Bu Ani yang masih sibuk dengan perabotan.
"Enggak mungkin, Bu. Pasti Kak Lea makan sendiri itu," ucap Alina yang sudah bisa memastikan apa yang akan terjadi di dalam kamar kakaknya.
Sudah pasti Alea hanya akan makam sendiri di dalam kamar pengantin itu.
"Bu, mending pastikan dulu, deh. Kayaknya enggak mungkin Kak Alea mengajak Bang Gavin makan bersama. Apalagi satu piring," titah Alina pada ibunya.
Ia sendiri malu jika harus bertanya langsung pada Gavin atau kakaknya di saat seperti itu. Di mereka sedang menikmati malam pertama.
"Alea," panggil Bu Ani sambil mengetuk pelan pintu kamarnya yang kini sedang disulap menjadi kamar pengantin itu.
"Iya, Bu," jawab Alea sambil membuka pintu. Piring makanannya masih ada di tangannya dan masih sisa setengah..
"Mana Gavin, Nak?" tanya Bu Ani pada putrinya tersebut.
Alea sedikit memiringkan tubuhnya, ia memperhatikan Gavin yang sedang tiduran di tempat tidur. Matanya nampak menerawang menatap langit-langit.
"Loh, kok, kamu makan sendiri, Nak?" tanya Bu Ani heran.
"Emangnya kenapa, Bu? Lagian dia juga punya tangan dan kaki buat ambil makan sendiri," jawab Alea yang sama sekali tak berempati pada suaminya sendiri.
"Ini kan, bukan di rumahnya, Alea, pastinya ia akan malu untuk ambil makan sendiri," protes Bu Ani tak senang dengan jawaban anaknya.
Gavin yang mendengar percakapan tersebut hanya tersenyum. Ia diam, tetapi dalam hati mentertawakan.
"Gavin, ikut ibu, yuk. Makan dulu, ya," ajak Bu Ani lembut pada menantunya itu.
"I—iya, Bu," jawab Gavin sedikit gugup karena malu. Rasanya aneh diperlakukan seperti itu oleh orang lain selain ibu dan asisten rumah tangganya.
Ia akhirnya bangkit dari tempat tidur yang sejak tadi ditempatinya. Kebetulan perutnya memang sudah keroncongan sejak tadi.
Mereka berjalan menuju ke ruang tengah, baru lanjut ke ruang dapur.
"Duduk di sana aja," titah Bu Ani sambil menunjuk tempat kosong yang ada di sebelah Alina.
"Sini, Bang," ajak Alina ramah sambil tersenyum.
Gavin mengangguk dan duduk di samping Alina. Jantung mereka berdua seakan hendak lompat dari tempatnya. Mereka mencoba mengatur napas untuk menenangkan pikiran masing-masing.
Bu Ani keluar dari dapur dengan membawa sepiring makanan dan segelas minuman di tangannya.
"Nak, Gavin, ini cepat makanlah. Pasti kamu sudah lapar sejak tadi," ujar Bu Ani sambil menyodorkan piring dan gelas yang dibawanya dengan nampan.
"Terima kasih, Bu," ucap Gavin sambil menerima nampan tersebut.
Belum ada sofa di ruang tengah sekaligus ruang tamu tersebut. Semuanya masih menggunakan karpet karena sisa pesta pernikahan tadi siang.
Gavin lalu memakan makanannya dengan tenang dan lahap.
'Kak Lea ... Kak Lea dasar ada-ada saja. Masa punya suami malah dianggurin begitu,' gumam Alina dalam hati.
Sesekali ia memerhatikan Gavin yang masih asik makan. Terlihat tampan dan manis. Wajah Gavin memang sangat tampan, apalagi dengan ditambah kulit putihnya.
Selesai makan, Gavin bangkit sambil membawa piring kotornya ke dapur. Ia kebingungan hendak simpan di mana, tak ada wastafel tempat cuci piring di sana.
"Lina, itu tolongin, kayaknya dia kebingungan nyari tempat cuci piring," titah Bu Ani pada Alina, anak bungsunya.
Alina bangkit dan menghampiri Gavin di dapur. Benar saja, kakak iparnya itu sedang celingak-celinguk mencari tempat cucj piring.
"Enggak ada, Bang. Kita cuci piringnya nanti di kamar mandi sekalian," ucap Alina sambil mengambil piring dan gelas yang dipegang Gavin.
Sesaat kulit mereka bersentuhan. Alina langsung menunduk malu. Entah mengapa ia begitu malu pada kakak iparnya sendiri. Sampai-sampai wajahnya bersemu merah.
"Maaf," ucap Alina sambil memasukkan piring dan gelas bekas makan Gavin ke baskom cucian piring.
Ia lalu kembali ke ibunya dan membantunya lagi. Sementara itu, Gavin pun kembali ke kamar. Di luar Alina tampak begitu manis, tapi di dalam kamar ia malah disuguhi wajah ketus Alea.
Ia tak tertarik sedikitpun dengan Alea, setelah perutnya terasa kenyang, Gavin memilih untuk membaringkan diri di tempat tidur. Akan berbeda ceritanya kalau dia menikah dengan orang seperti Alina. Mungkin ia juga tak akan dapat menahan diri.
Alea hanya menatap orang yang sekarang sah menjadi suaminya itu. Raga mereka begitu dekat bahkan masih satu tempat tidur. Tapi, jiwa mereka begitu jauh. Seolah ada benteng besar nan tinggi yang menghalangi mereka.
'Ah, untuk apa juga aku memikirkan hubungan pernikahan ini. Terpenting sekarang adalah bagaimana caranya agar dia mau mengeluarkan uangnya untuk biaya kuliahku,' gumam Alea dalam hati.
Ia lalu membaringkan dirinya di samping guling yang telah dipasangnya di antara dirinya dan Gavin.
Pagi hari tiba, kehidupan di rumah itu telah hangat dengan aneka kegiatan. Hari itu Bu Ani dan Alina akan mengantarkan perabotan dan makanan ke para saudara.
Alea juga terbangun. Entah apa yang ia akan lakukan. Tapi, tidak mungkin hanya berdiam diri dan tidur di kamar. Ia lalu keluar dari kamar tanpa menghiraukan Gavin yang masih tertidur karena kemarin kelelahan.
Gavin bangun karena mendengar suara ramai dari luar. Panggilan Bu Ani kepada anak-anaknya dan lainnya.
Ia sebenarnya malu berada di rumah itu, tapi mau bagaimana lagi. Pekerjaannya juga masih bisa dihandle oleh orang-orang kepercayaannya. Sehingga dirinya memiliki waktu luang. Menikmati masa-masa awal pernikahannya yang tak seperti yang diharapkan.