Pasca Menikah

1724 Words
Mereka lalu duduk di pelaminan. Tapi, dengan jarak yang renggang, Gavin di sisi kiri kursi sementara Alea di sisi kanan. Mereka juga tak saling menatap. Baru saja mendudukkan p****t di kursi tiba-tiba para saudara datang untuk menyalami pengantin, memberi selamat, dan menuju ke hidangan makanan yang telah disediakan. Gavin dan Alea terpaksa berdiri dan menyalami satu persatu tamu yang hadir. Mereka juga memaksakan senyum yang sebenarnya terasa begitu berat. "Selamat ya, semoga cepat diberi momongan," ucap salah satu tamu yang merupakan saudara Bu Ani. "Makasih, Bu," ucap Alea singkat, ia tak tahu harus berkata apa lagi, mengaminkan pun tak mau. Ibu itu lalu berlalu untuk mengambil makanan. Sebelumnya ia memasukan amplop ke dalam sebuah tempat yang disediakan. Bentuknya seperti celengan besar. Satu persatu tamu menyalami mereka. Hingga akhirnya tamu mulai sepi. Gavin dan Alea pun kembali duduk. "Berdiri ya, Mas, mumpung sepi kita mulai sesi pemotretannya. Untuk kenangan ya ...," titah Bang Maman seorang fotografer yang sedikit gemulai. Gavin mengembuskan napas kasar. Kemudian, berdiri. Begitupun Alea yang juga terpaksa berdiri. Ia tak menyangka pernikahannya akan seperti itu. Melelahkan dan tak menyenangkan. Di luar tamu dihibur oleh orkestra dangdut yang disewa oleh Bu Ani. Orang kampung tersebut memang menyukai hiburan dangdut untuk di pesta pernikahan. "Yuk, lebih dekat, Mas, Mbak. Tangan Mbaknya pegang pundak Mas, terus tangan Mas pegang pinggang. Iya, begitu, saling tatap. Coba saling tatap." Bang Maman terus saja memberi arahan dengan lihai untuk mendapatkan pose-pose yang bagus dan romantis. Gavin dan Alea tak bisa menolak. Apalagi posisinya mereka sedang jadi pusat perhatian di keramaian. Mereka merupakan raja dan ratu sehari di pesta pernikahan tersebut. Bang Maman terus mengarahkan hingga banyak pose romantis yang didapat. "Kok, wajahnya pada tegang banget kayak yang enggak saling cinta ini mah," ucap Bang Maman sambil melihat sebagian hasil fotonya. "Emang enggak," celetuk Alea yang kesal terus disalahkan karena kurang senyum dan lainnya. "Jangan enggak-enggak. Nanti malem juga jadi cinta mati," ujar Bang Maman dengan nada bercanda. "Apaan sih, Bang," ujar Alea yang tak berpikir sampai ke sana. Bang Maman hanya tertawa. Ia sudah berkeluarga dan memiliki dua anak. Ia fotografer yang biasa disewa di kampung tersebut. Juga sudah sering dipanggil ke luar daerah. Ia bisa melihat dari hasil foto, jika Gavin dan Alea tidak saling mencintai walaupun diarahkan senyum dan saling tatap sedemikian rupa. Tapi, untuk orang awam tak akan kelihatan jelas. Pukul dua belas siang tamu mulai sepi lagi. "Alea, kita ganti baju dulu yuk," ajak Kak Intan yang keluar dari kamar rias pengantin. "Ngapain ganti baju, Kak?" tanya Alea kebingungan. Ia bahkan memang tak melakukan percobaan baju sebelum menikah. Baju yang dipesan adalah hasil pilihan ibu dan adiknya. Itupun dipakaikan ke tubuh Alina yang memang hampir sama dengannya. "Ih, ya ganti baju biar cantik, ayok!" ucap Kak Intan sambil menarik tangan Alea menuju ke kamar rias. "Ayo, kamu juga ikut dan ganti bajunya," ajak Kak Intan pada Gavin. "Saya?" tanya Gavin yang sepertinya kebingungan. "Iya, ayok!" ajak Kaka Intan. Gavin akhirnya mengikuti langkah Kak Intan dan Alea memasuki kamar. Mereka tak tahu akan diapakan lagi di dalam. "Nah, ini baju kamu," ucap Kak Intan sambil memberikan satu set pakaian nikah pria berwarna hijau toska. "Nah, ini gaun kamu, ayo pakai," ujar Kak Intan sambil menyerahkan gaun yang hendak dipakai Alea. Gavin dan Alea saling tatap. Mereka tak mau sampai melihat satu sama lain. "Kenapa malah bengong? Enggak apa-apa bareng juga, nanti malam juga berduaan, dipurak," celetuk Susi yang melupakan asisten Kak Intan. "Enggak mau," tukas Alea yang tak ingin berganti baju sekamar dengan Gavin. "Enggak apa-apa. Saya di kamar mandi aja," ucap Gavin sambil melengos pergi. Ekspresinya begitu dingin sedingin es. Ia seperti tak memiliki perasaan apapun dalam hatinya. Termasuk cinta dan kasih sayang. Setelah Gavin pergi, Alea baru mau berganti baju menggunakan baju kedua. Setelah itu wajahnya kali di make up. Hanya mempertebal yang tadi sedikit pudar karena sudah berjam-jam. Alea pun hanya diam. Ia tak ingin berontak lagi. Setelah selesai make up. Ia lalu kembali ke pelaminan. Ternyata Gavin sudah ada di sana, ia duduk sambil menatap ke luar rumah dengan kosong. Sepertinya ada yang ia pikirkan. Alea lalu ikut duduk di kursi panjang yang ditempati Gavin. "Oke, yuk, foto lagi untuk baju ke dua," ucap Bang Maman yang sepertinya sangat sumringah. Ia memang selalu terlihat bersemangat dengan pekerjaannya. Pantas dari memotretnya saja, ia bisa membeli rumah. Tapi, karena masih warga kampung dan terbilang saudara, Bang Maman memberi harga miring pada Bu Ani. "Emang mesti foto terus, Bang? Kan udah tadi?" tanya Alea heran, perasaan tadi saja sudah puluhan pose. Kenapa harus difoto lagi. "Harus dong. Kenangan buat kalian nanti. Yuk, cepetan berdiri," titah Bang Maman yang sedikit memaksa. Ia kembali mengarahkan berbagai pose romantis. "Oke, senyum, tahan ... tahan," ucap Bang Maman setiap kali akan memotret. Gavin dan Alea terpaksa tersenyum. Senyum mereka bahkan sangat terlihat sekali seperti yang dipaksakan. "Senyumnya yang tulus dong, jangan seperti orang yang dipaksakan begitu," titah Bang Maman. Selepas beberapa pose, tiba-tiba para tamu kembali menghambur. Mereka banyak yang menuju ke pelaminan dan menyalami kedua mempelai dan orang tua mereka. Gavin juga ditemani orang tua yang paruh baya. Hanya saja Pak Asep juga tak mengenal siapa saja yang Gavin bawa. Asalkan pesta pernikahan itu berlangsung. Mereka tak banyak bicara. Sementara itu, Alina begitu sibuk di meja hidangan. Ia yang memberi piring. Mengelap piring yang habis dicuci. Zaman dulu memang belum musim piring rotan. Jadi masih pakai piring kaca yang dicuci ulang. Ia juga yang menambahkan lauk bila kurang. Sebenarnya ia ditemani Sari tapi tak begitu membantu, Sari lebih banyak diam dibanding bekerja. Ia sama seperti Alea jarang bekerja. Sementara itu, Bang Arka bertugas mengambil piring-piring bekas untuk dibawa ke dapur. Lalu dicuci dan dikembalikan ke meja hidangan. Iringan musik dangdut menemani berjalanannya pesta. Tak jarang ada beberapa bapak-bapak atau ibu-ibu yang ikut berjoget ke panggung. Lalu, memberi uang biduan yang sedang bernyanyi, atau dalam bahasa daerah disebut menyawer. Menjelang sore, para tamu sudah mulai sepi. Tinggal beberapa gelintir saja yang masih hadir. Biduan pun telah berhenti bernyanyi, meskipun speaker masih menggaungkan musik dangdut. "Kayaknya sudah enggak ada tamu lagi," ucap Alea yang melihat sudah tak ada yang datang. "Kalau gitu, aku mau ganti baju. Gerah juga pakai pakaian seperti ini," ucap Gavin sambil melenggang pergi. Gavin lalu pergi ke kamar dan mengambil bajunya yang ada di dalam koper. Setelah itu menuju ke kamar mandi untuk berganti baju. Ia tak nyaman dengan baju pengantin itu. Alea pun masuk dalam kamar untuk berganti baju. Ia hanya mengenakan baju biasa yang merupakan baju rumahan. Kado-kado hadiah dari seserahan Gavin belum dibuka. Biasanya kotak-kotaknya akan diambil kembali, tapi tidak bagi Gavin. Ia membeli kotak-kotak itu secara langsung. Bukan hasil menyewa dari salon. Selesai berganti baju, mereka kembali duduk di pelaminan. Kamar belum dibereskan, masih ada banyak peralatan make up dan juga koper gaun yang merupakan milik tukang rias. Mereka hanya duduk di pelaminan yang tanpa saling bicara. Pandangan Gavin menuju keluar, sementara Alea memainkan ponselnya. Momen pernikahannya itu, tak ada teman kuliahnya yang diundang. Ia hanya izin untuk berapa hari dengan alasan kepentingan keluarga. Padahal aslinya menikah. Entahlah nanti bagaimana ceritanya ia bicara pada teman-temannya. Untuk saat ini ia masih ingin merahasiakan momen pernikahannya itu. Gavin juga membagikan momen pernikahannya itu di sosial media. Ia hanya mencari buku nikah untuk mendapatkan warisan dan juga membantunya untuk menaklukan ibu tirinya yang licik. Sudah pukul lima sore, terlihat semburat orange di langit desa itu. Tukang rias pun sudah membereskan apa yang mereka bawa dan mengeluarkannya dari kamar pengantin. "Alea, Gavin, kalian pergi ke kamar saja. Istirahat dulu. Rumah ini akan ibu dan yang lain bereskan dulu," titah Bu Ani kepada putri dan menantunya itu. Alea dan Gavin hanya mengangguk, mereka kemudian memasuki kamar. Di dalam, Alea langsung baringkan dirinya di tempat tidur. Gavin pun melakukan hal yang sama. "Kamu di sini? Jangan di sini dong, ini tempatku!" protes Alea yang tidak mau satu tempat tidur dengan suaminya itu. "Terus aku harus di mana?" tanya Gavin dengan dingin dan sedikit sinis. Di bawah, lantai rumah itu terbuat dari papan dan Gavin tak terbiasa dengan rumah seperti itu sebenarnya. "Terserah, ini tempat tidurku. Aku enggak mau satu tempat tidur dengan kamu," protes Alea tegas kepada lelaki yang sudah sah menjadi suami itu. "Enggak mau," tolak Gavin singkat. Ia lalu memejamkan matanya tanpa memperdulikan Alea. Keluarganya juga sudah pulang sejak siang, jadi tak ada yang mesti diurus lagi untuk saat itu. Akhirnya Alea menyimpan dua guling di antara mereka. "Pokoknya enggak boleh lewat batas ini!" ucap Alea yang dengan tegas setelah menaruh dua guling di antara mereka. Gavin tak lagi menjawab. Terdengar dengkuran halus dari bibirnya yang tipis. Saking lelahnya, ia bisa langsung tertidur di sana. Alea mendengkus kesal. Ia pun membaringkan siri di sana tanpa bisa berbuat apapun. Ia hanya memainkan ponsel dan men-scrol beranda sosial medianya tanpa tujuan apapun. Ia hanya melihat video-video lucu yang biasa disajikan di sana. Tak terasa malam pun tiba. Semua saudara sudah pulang satu persatu. Rumah juga sudah lebih rapi. Tinggal makanan dan banyak perabot tetangga dan saudara yang mesti dibagikan. Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dari luar. Alea segera bangkit dan membukanya. Ternyata Bu Ani yang berdiri di ambang pintu. "Ada apa, Bu?" tanya Alea setelah membuka pintu. "Kalian segeralah makan dulu, ini sudah malam. Jangan sampai sakit lagi, ya, Nak," ucap Bu Ani seraya membelai pipi mulus putrinya. Hatinya sebenarnya sangat takut kehilangan dan terjadi sesuatu pada Alea yang merupakan putri keduanya itu. "Iya, Bu. Biar nanti aku ke sana sendiri," jawab Alea dingin. Hatinya untuk saat itu seakan terasa kebas tak bisa merasakan apapun. Yang ada rasa sakit dan sedih karena dipaksa menikah. Tapi, untuk saat itu ia sudah kadung basah dan harus sekalian menenggelamkan diri. Alea lalu berjalan ke arah tempat tidur. Ia bingung bagaimana caranya membangunkan Gavin untuk makan. Tidurnya juga sepertinya pulas sekali. "Apa aku makan sendiri aja ya. Ngapain juga mesti sama dia lagian dia juga punya tangan dan kaki bisa untuk ambil makan sendiri," tutur Alea dengan suara lirih. Ia lalu melangkah keluar dari kamar tersebut untuk mengambil makan. Keluarganya ternyata sedang berkumpul di ruang tengah, masih dengan karpet kerena sofa mereka belum dimasukkan dan ditata kembali di dalam rumah itu. Alea melenggang santai menuju ke dapur untuk mengambil makanan. Ia sudah keroncongan sejak tadi sebenarnya. Hanya saja tak mood untuk makan. Setelah itu, Alea kembali ke kamar. "Alea kok, cuma bawa satu piring? Buat suamimu mana?" tanya Bu Ani heran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD