Bosan di Rumah

1072 Words
Gavin melirik ke luar. Terlihat di balik pintu kaca, Alea yang sedang duduk memandangi taman depan rumah. Rambut pendeknya tergerai indah, ditambah dengan pantulan sinar matahari yang membuatnya terlihat sedikit ke-orens-nan. Ibu tirinya belum juga pulang. Setidaknya itu memberi banyak waktu untuk Gavin mengumpulkan semua berkas aset yang dimiliki oleh ibunya. Anehnya, memang berkas-berkas itu tercecer. Tidak berada di satu tempat, sehingga menyulitkan Gavin untuk mengumpulkan semuanya. Alea hanya terdiam sambil menikmati sore itu. Ia heran, ibu tiri Gavin belum juga pulang. Sebenarnya sampai kapan mereka liburan. Entah mengapa rasanya sangat penasaran seperti apa ibu tiri yang dibenci Gavin itu. 'Liburan orang kaya memang beda ya, kalau orang miskin paling juga ke laut atau kebun binatang. Itupun paling lama paling hanya dua hari,' gumam Alea dalam hati. Merasa lucu dengan perbedaan kasta antara dirinya dan Gavin. Tapi, bisa bersatu dalam ikatan pernikahan. Hari sudah mulai gelap, angin juga sudah mulai kencang dan terasa menusuk kulit. Alea yang hanya mengenakan kaos merasa kedinginan. Ia lalu masuk dan menutup pintu kaca menuju ke balkon. Kemudian, menutupkan gorden berwarna cokelat tua tersebut. Ia lalu kembali duduk di samping Gavin. Siaran televisi hari itu tidak begitu menarik baginya. Tak ada tugas kuliah juga hari itu, jadi Alea santai. "Pekerjaanmu belum beres juga?" tanya Alea yang hanya sekedar berbasa-basi kepada Gavin. Ia jenuh, karena tidak memiliki teman di rumah mewah tersebut. "Memangnya kalau sudah beres kamu mau apa?" tanya Gavin tanpa melirik sedikit pun ke arah Alea. Matanya begitu fokus dengan deretan huruf mungil di dalam laptop. "Tidak apa-apa sih," jawab Alea sambil melihat tayangan televisi yang baginya terasa hambar itu. Menonton sendiri kadang memang tak seru. Apalagi Alea memang jarang menonton film Indonesia. Ia yang biasanya aktif dan sibuk, merasa jenuh. Dulu, jika kuliah ia akan lanjut dengan menjaga kedai minuman. Sehingga saat itu, ia merasa waktunya begitu membosankan. Tidak punya kegiatan dan juga kurang bermanfaat. "Mas, boleh aku bekerja?" tanya Alea sedikit ragu. Ia juga takut-takut menyampaikan keinginannya itu. "Maksud kamu bekerja untuk apa?" tanya Gavin heran karena jika mengejar materi maka ia bisa memberikan yang lebih dari cukup baginya. "Hanya untuk mengisi waktu saja. Jenuh juga berada di rumah terus. Dulu, biasanya setelah kuliah aku akan menjaga kedai minuman sampai malam. Kemudian, dilanjut dengan mengerjakan tugas kuliah. Barulah tidur setelah tengah malam," tutur Alea menceritakan masa lalunya. Dia tersenyum membayangkan masa-masa itu. Rasanya menjadi kenangan terindah baginya. "Untuk sementara jangan dulu. Lagipula untuk apa kamu menjaga kedai minuman setelah menjadi istriku. Mungkin dalam satu atau dua hari ibu tiriku juga akan pulang," tutur Gavin yang tidak mengizinkan Alea untuk bekerja. Dia juga ingat tadi menjanjikan untuk berbelanja, tapi tidak jadi. Sekarang hari sudah terlanjur malam, mungkin besok ia akan mengajak Alea untuk berbelanja pakaian. "Memang ibu tirimu itu seperti apa, sih?" tanya Alea penasaran. Dalam bayangannya ibu tiri Gavin adalah seorang nenek sihir yang kejam, sinis, dan juga menyebalkan. Entah bagaimana juga ia nanti menghadapinya. "Kamu bisa menilai sendiri nanti orangnya seperti apa. Intinya aku hanya minta jika dia mengajakmu bekerjasama, tolong jangan mau," jawab Gavin dengan penuh penegasan. Membuat Alea semakin penasaran dengan sosok ibu tiri Gavin. Ia yang hidup dengan orang tua lengkap, tentunya tidak tahu dan tidak merasakan bagaimana rasanya punya ibu tiri. Hanya saja setahunnya tidak semua ibu tiri juga jahat. 'Apa mungkin Gavin nanya salah tanggap kepada ibu tirinya atau memang benar ibu tirinya jahat. Bisa saja kan, kalau memang ibu tirinya itu baik," gumam Alea dalam hati. Ia jadi tak sabar untuk segera bertemu dengan ibu tiri Gavin itu. Kriuk ... kriuk. Tiba-tiba terdengar suara cacing berdemo dari perut Alea. 'Duh, nih perut enggak bisa diajak kompromi banget sih, aku jadi malu,' gumam Alea dalam hati. Ia malu jika sudah terdengar suara perut oleh Gavin. Itu adalah kali kedua terjadi hal seperti itu. Tapi, mau bagaimana lagi, tak bisa ditahan juga. "Kamu lapar?" tanya Gavin dengan santainya. Tentu saja menurutnya itu hal yang wajar, karena memang manusia butuh makan. Jadi, bukan sesuatu yang memalukan. "Hehe." Alea hanya tertawa pelan dengan senyum yang dipaksakan. Ia malu untuk menjawab 'iya', padahal Gavin sudah sah menjadi suaminya. Tapi, rasanya untuk seperti itu masih tabu baginya. "Ya udah. Kita makan malam dulu." Gavin langsung bangkit dari duduknya dan melenggang pergi dari kamar tersebut. Alea mengikutinya dari belakang, mereka menuruni tangga untuk menuju ke ruang makan. Di ruang makan yang luas itu, Bi Ijah telah menyediakan berbagai hidangan untuk makan malam majikannya. "Non, Den, silakan makan dulu," ucap Bi Ijah dengan ramah. Ia lalu mengisi gelas yang berada di samping piring yang akan digunakan dengan air minum. "Terima kasih, Bi," jawab Alea ramah. Alea dan Gavin duduk di tempat biasanya. Mereka kemudian makan malam bersama tidak ada hal romantis yang terjadi semuanya berjalan mengalir bagai air Alea terlihat lahap memakan makanannya. Apalagi hari itu tidak ada tugas kuliah. Sehingga ia bebas untuk tidur lebih awal. Biasanya jika ada tugas kuliah, ia akan makan secukupnya agar tidak mengantuk ketika mengerjakan tugas. Apalagi dulu memang dirinya harus sering bergadang, karena pulang dari menjaga kedai minuman. Gavin hanya makan sedikit. Ia justru lebih suka melihat Alea makan, karena terlihat seperti enak dan lahap. "Kenapa setiap aku makan kamu lihatin aku seperti itu?" tanya Alea yang merasa risih dengan tatapan Gavin. "Memangnya tidak boleh, ya?" tanya Gavin kepada istrinya itu. "Enggak boleh lah, enggak sopan," jawab Alea yang sebenarnya menyembunyikan rasa malunya. Gavin hanya terkekeh geli. "Sejak kapan melihat istri sendiri makan menjadi tidak sopan?" "Memang kamu menganggap aku istri?" tanya Alea seperti tak percaya dengan apa yang barusan dedengarnya dari mulut Gavin. Dirinya malah merasa bukan menjadi istri Gavin. Melainkan hanya sebagai alat untuk mendapatkan harta warisan keluarga. "Memang kamu maunya aku menganggapmu apa?" tanya Gavin dengan serius. "Terserah sih," ucap Aliea sambil melanjutkan makannya yang sempat tertunda, karena risih ditatap oleh Gavin tadi. Selesai makan mereka bangkit untuk menuju ke ruang tengah. Rasanya sudah lama sekali Gavin tidak duduk di sana. Apalagi sejak ada ibu tirinya di rumah itu. "Kita ke ruang tengah dulu, ya," ucap Gavin kepada Alea yang berjalan di belakangnya. Alea hanya mengangguk sambil mengambil satu buah apel dari keranjang buah yang ada di meja makan tersebut. Mereka lalu melangkahkan kaki ke ruang tengah yang luas di rumah itu. Bahkan menurut Alea itu sangat luas, mungkin setara dengan ukuran rumahnya. Sofanya pun begitu mewah dengan televisi besar di hadapannya. Foto pernikahan juga terpanjang di situ. Alea menggigit apelnya langsung. "Kenapa enggak pakai pisau?!" tanya Gavin dengan kaget melihat kebiasaan wanita di hadapannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD