"Enggak apa-apalah, ribet juga pakai pisau," jawab Alea setelah menelan apel gigitan pertamanya.
Gavin geleng-geleng kepala. Ia tak tahu harus berjaya apa lagi melihat tingkah absurd Alea.
"Apa itu ibumu?" tanya Alea penasaran sambil menunjuk foto pernikahan yang tergantung di dinding ruang tengah tersebut.
"Bukan," jawab Gavin dengan singkat.
Alea mengerti kalau itu maksudnya berarti dia adalah ibu tiri Gavin.
'Oh jadi dia ibu tiri Gavin,' gumam Alea dalam hati sambil menatap foto pernikahan tersebut.
Memang terlihat pasangan itu sudah paruh baya, tapi masih tetap terlihat tampan dan cantik.
'Berarti itu adalah ayahnya Gavin, dong,' ucap Alea dalam hati. Ia masih fokus menatap foto pernikahan tersebut.
"Tidak perlu terus ditatap, nanti kamu suka sama ayahku," ucap Gavin dengan dinginnya, tapi ia bermaksud untuk bercanda.
"Apaan sih, ya kali suka sama kakek-kakek gitu," ujar Alea dengan ketus.
"Kalau denganku?" tanya Gavin sambil menatap lekat istrinya tersebut.
"Maksudmu?" tanya Alea seolah tak mengerti.
"Ya siapa tahu kalau tidak suka dengan kakek-kakek, kamu suka dengan pria tampan sepertiku," ucap Gavin dengan santainya.
"Sepertinya kamu bukan seleraku," ucap Alea sambil mendelikkan matanya.
Gavin hanya terdiam dibilang seperti itu. Memang setiap orang tidak bisa memaksakan kesukaan orang lain. Jika ia bukan termasuk dengan selera Alea dia juga tidak bisa memaksanya. Lagipula kenapa juga dia harus memikirkannya, padahal pernikahan itu hanyalah alat untuk mendapatkan harta warisan. Bukan untuk menemukan cinta di hati mereka.
Televisi menyiarkan stand up comedy, beberapa kali Alea tertawa melihat tingkah lucu dari orang yang sedang menampilkan kemampuannya dalam menghibur orang lain di stand up comedy.
Sementara itu, Gavin yang memilih acara tersebut hanya terdiam. Dia sama sekali tidak tertawa sedikitpun.
'Sepertinya kalau ada lomba menahan tawa, dia akan menang,' ucap Alea dalam hati. Ia melihat Gavin begitu dingin bagai es, bahkan ketika melihat acara-acara lucu sekali pun.
Malam semakin larut, perut yang sudah kenyang membuatnya mulai mengantuk. Beberapa kali ia menguap menahan rasa kantuk yang menghinggapinya.
"Kita ke kamar yuk," ajak Gavin kepada istrinya itu.
Ia merasa kasihan melihat Alea yang menahan kantuk di sofa tersebut. Meskipun sebenarnya bagi Alea sofa tersebut sudah udah lebih dari cukup untuk tempatnya tidur. Bahkan lebih mewah dari tempat tidurnya sendiri di rumah juga di kosan.
Gavin bangkit dari duduknya, Alea mengikutinya dan melenggang pergi dari tempat tersebut. Menaiki tangga untuk sampai di kamar Gavin yang berada di lantai dua.
"Kenapa kamu milih kamar di lantai dua sih, kan ribet harus naik turun tangga," protes Alea yang merasa kesal karena sudah ngantuk harus menaiki tangga.
"Kamu tak perlu tahu alasannya," ucap Gavin dengan santainya.
Sesampainya di depan pintu kamar, Gavin membukanya. Kemudian, ia langsung duduk di sofa dan kembali menatap gawainya untuk mengerjakan setumpuk pekerjaan.
Alea yang sudah mengantuk hanya bengong melihat Gavin yang masih bisa bekerja di jam-jam seperti itu.
Ia lalu tidur di tempat tidur, tanpa menghiraukan Gavin yang masih bekerja.
Malam semakin larut, rasa kantuk menghinggapi Gavin juga. Ia lalu mengambil selimut yang ada di dalam lemari untuk tidur di sofa.
Dia telah berjanji untuk tidak tidur bersama Alea. Sehingga dirinya lebih memilih tidur di sofa dengan selimut yang baru saja diambilnya.
Pagi hari Alea telah terbangun. Seperti biasa ia segera bersiap untuk kuliah. Setidaknya ia memiliki kegiatan di pagi sampai siang hari. Tidak terlalu kosong dan jenuh di rumah.
Gavin juga telah siap untuk pergi ke kantor. Ia terlihat begitu tampan dengan setelan jas dan juga kaos turtle neck.
Mereka lalu menuruni tangga dan menuju ke ruang makan untuk sarapan terlebih dahulu. Bi Ijah telah menyiapkan semua menunya.
Setelah sarapan, mereka lalu berangkat ke universitas di mana Alea menimba ilmu.
"Kalau memang harus bolak-balik, agar kamu tidak mengantar beri saja aku motor. Aku bisa kok pergi sendiri ke kampus," ujar Alea ketika mereka berangkat ke kampus.
Kantor Gavin dan juga tempat kuliah Alea memang berseberangan. Jadi seperti jalan memutar untuk menuju ke kantor Gavin.
"Tidak masalah, jangan naik motor bahaya untuk wanita," ujar Gavin yang tidak setuju dengan usulan Alea untuk menaiki motor menuju ke kampus.
Ia merasa masih bertanggung jawab untuk keselamatan Alea selama menjadi istrinya. Terlepas hanya untuk sementara ataupun selamanya. Ia sendiri tidak terlalu jauh memikirkan hal tersebut, yang pasti hanya menikmati hari-hari itu meskipun belum ada rasa cinta di antara mereka.
Sesampainya di kampus, Alea langsung turun dari mobil tersebut. Kemudian menuju ke fakultasnya.
Teman-temannya telah menunggu di sana. Mereka penasaran dengan cerita Alea soal pernikahannya. Padahal ia terkenal sebagai gadis miskin di kampus tersebut, tapi tiba-tiba mendapatkan seorang sultan kaya yang tidak disangka-sangka.
Alea memasuki kelas dan duduk di bangku yang biasa ditempatinya.
"Lea, sini dong!" panggil Tias kepada Alea yang baru saja duduk di bangkunya.
"Apa?" tanya Alea sambil menghampiri kedua temannya itu. Mereka cukup dekat dengan Alea, tapi tak sampai seperti sahabat. Banyak hal yang ia batasi untuk kedua temannya itu tahu. Termasuk soal pernikahannya yang sebenarnya sangat terpaksa dan ia sendiri belum bisa menerimanya.
"Mana suami kamu? Kok, enggak nganterin sampai ke sini sih," tanya Tias penasaran. Sekaligus matanya juga haus ingin melihat pria tampan seperti Gavin.
"Ngapain sampai kelas segala, orang bukan anak kecil. Dia juga kan, mesti kerja," jawab Alea dengan santainya.
"Wah, kerja apa sih, kalau orang ganteng kayak gitu?" tanya Dinda penasaran.
Mereka bagaikan w*************a yang sudah siap untuk menggoda suami temannya sendiri. Meskipun Alea tahu kalau itu semua hanya bercandaan semata. Lagipula jika Gavin memilih orang lain untuk dijadikan alatnya mendapat warisan mungkin Alea akan sangat bersyukur bisa lepas dari jeratan pria itu.
Meskipun menurut teman-temannya Gavin adalah pria yang sempurna, tidak baginya. Ia hanya menganggapnya sebagai lelaki biasa yang menghancurkan hidupnya hanya demi mendapatkan warisan.
"Entahlah, aku juga tidak tahu pasti pekerjaannya apa. Memangnya penting sekali ya buat tahu pekerjaan dia?" tanya Alea kepada kedua temannya itu.
"Ya penting benget. Lagian percuma tampan kalau kerjanya nggak mapan," ucap Dinda yang kemudian dibalas dengan derai tawa dari Tias mereka begitu puas tertawa terbahak-bahak.
"Tapi kalau dia sih, kerjakan, cuma nggak tahu kerjanya apa. Mungkin pegang perusahaan keluarganya. Tiap hari juga bajunya kan rapi kayak gitu," tutur Alea menjelaskan suaminya yang tidak percuma tampan karena dia juga mapan
"Wah, keren nemu dari mana sih, kamu yang kayak gitu?" tanya Dinda penasaran dan kalau bisa ia ingin mengikuti jejak Alea yang bisa menemukan lelaki tampan seperti itu.
"Banyakin, doa dan usaha," jawab Alea sambil tertawa.