Kartu ATM

1072 Words
Mereka asik bercanda ria sampai akhirnya waktu jam masuk pelajaran tiba. Seorang dosen tampan masuk ke kelas tersebut. Hari itu mereka kembali bertemu dengan Dosen Alfi. Alea segera duduk di tempatnya. Ia duduk di barisan depan jajaran kedua, sehingga sangat dekat dengan Dosen Alfi yang duduk di jajaran pertama paling depan. Pelajaran pun dimulai, Dosen Alvi menerangkan pelajaran dengan begitu santainya. Pembawaannya sepertinya memang kalem, hanya saja entah mengapa matanya sering curi-curi pandang ke arah Alea. "Bagaimana kalau kita tutup hari ini dengan tugas?" tanya Dosen Alfi kepada para mahasiswa yang berada di kelas tersebut. "Janganlah, Pak ...!" seru para mahasiswa yang ada di kelas tersebut. Mereka akan merasa beruntung jika memiliki dosen yang jarang memberi tugas. Tapi, pada nyatanya kebanyakan dosen lebih suka memberi tugas dengan alasan mendidik mahasiswa. Walaupun pada kenyataannya kebanyakan mereka akan meng-copy jawaban dari Mbah Google. "Tugas ajalah, Pak, bosen juga di rumah enggak ada kerjaan kalau malam," celetuk Alea yang berbeda dengan kawan-kawannya. Ia yang sudah lama tidak masuk kuliah, rasanya rindu dengan tugas-tugas kuliah yang biasanya menjadi beban di pundaknya. Hingga ia harus begadang hingga lewat tengah malam. Teman-temannya yang lain menyorakinya karena kesal dengan saran Alea. Tapi, gadis itu tak menanggapinya dan bersikap cuek. Ia memang tak mudah terbawa arus. Apa yang ia inginkan akan dikemukakan. "Wah, ternyata masih ada yang ingin diberi tugas ya, Dek Alea. Kalau begitu sepakat dengan pemberian tugas hari ini," ucap Dosen Alfi yang malah menyetujui usulan Alea dibanding kebanyakan para mahasiswa yang ada di kelas tersebut. Tugas demi tugas kuliah pun diberikan kepada mahasiswa itu. Tak main-main bahkan sampai harus membuat makalah minimal lima puluh halaman. Setelah memberikan tugas, Dosen Alfi pamit dari kelas tersebut. Ia masih harus mengajar di kelas lain. "Ya ... gara-gara lu, Alea!" celetuk Doni yang masih sekelas dengannya. "Lea, ngapain sih, minta tugas segala ke dosen itu. Padahal jelas-jelas tadi ngasih pilihan mau tugas atau enggak, pastinya milih pendapat kamulah," cerocos Dinda yang kesal dengan apa yang diusulkan oleh Alea tadi. "Aku kan, cuma menyarankannya. Terserah dia sebenarnya mau milih suara terbanyak atau suaraku, tapi ternyata memilih suaraku," tutur Alea dengan santainya. Ia tak merasa bersalah dengan pemberian tugas tersebut. Setidaknya nanti malam ia mesti bergadang menemani Gavin yang bekerja. "Ya udah deh, kita ke kantin yuk," ajak Tias yang sudah pasrah dengan pemberian tugas tersebut. Tugas yang akan dikumpulkan satu minggu lagi ketika pelajaran Dosen Alfi lagi. Alea, Dinda, dan Tias kemudian keluar dari kelas itu untuk menuju ke kantin. Mereka masih ada kelas untuk hari itu, sehingga ia juga tidak ke kamar indekos Fia. Kamar indekos yang dulu ditempatinya itu, menjadi kosan yang murni milik Fia. Dikarenakan ia sudah tidak bisa lagi tinggal di sana. Ia sudah memiliki rumah yang merupakan rumah suaminya. Alea dan kedua temannya asik mengobrol sambil berjalan Sebagai anak muda banyak hal yang mereka bicarakan, mulai dari kesukaan sampai pasangan hidup. Bruk! Alea yang berjalan di depan tidak melihat ada orang yang juga berjalan di hadapannya. Ia menubruk dosen yang baru saja mengajar di kelasnya itu Pak Alfi. Kedua temannya yang menahan tawa sambil menutup mulut. Mereka memang sengaja tidak memberitahu Alea tadi ketika akan bertumbukan dengan dosen tersebut. Sementara Alea sibuk minta maaf dan mengambil buku-buku Pak Alfi yang berjatuhan. "Aduh, maaf Pak, saya nggak sengaja, salah saya tadi karena enggak lihat-lihat," ucap Alea sambil ngambil buku-buku tersebut kemudian memberikannya kepada Pak Alfi. "Tidak masalah, lain kali hati-hati ya," ucap Pak Alfi. Kemudian ia tersenyum manis sangat manis bagaikan menggunakan gula. "Baik, Pak," ujar Alea sambil bangkit dari jongkoknya. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke tujuan masing-masing. Alea dan kedua tangannya menuju ke kantin, sementara Pak Alfi menuju ke kelas lain yang akan menerima pelajarannya hari ini. "Kalian kok, enggak bilang sih, tadi ada Pak Alfi?" gerutu Alea yang kesal kepada kedua temannya yang tidak memberitahunya tadi. Sehingga terjadilah tabrakan tersebut. "Ya maaf, lagian dari kelas dia tuh suka lihat-lihat kamu terus, sih. Terus kamu juga kan, seneng dikasih tugas sama dia," ujar Tias dengan entengnya. "Hus, Tias! Alea udah punya suami tahu," protes Dinda yang mengingatkan Tias kalau temannya itu sekarang sudah memiliki suami "Iya, juga sih. Jangan deh, jangan kepincut sama dosen itu," ujar Tias lagi. Alea tak menjawab ia hanya bermonolog dalam hati. Walaupun jika dilihat sekilas barusan, Pak Alfi itu cukup tampan. Ia juga seorang dosen yang pastinya berpendidikan tinggi, gajinya juga mungkin lumayan besar. Diam-diam Alea mulai memikirkan dosen muda tersebut. Apa mungkin dirinya akan bersanding dengan Pak Alfi, tapi tentu saja ia harus menyelesaikan kontrak pernikahan dengan Gavin terlebih dahulu. Sesampainya di kantin, mereka lalu membeli makanan yang ingin dimakan siang itu. Ada banyak menu pilihan di sana, mulai dari bakso, bubur ayam, dan yang lainnya. Juga aneka minuman yang sedang hits akhir-akhir ini di kalangan remaja, seperti boba. Alea memilih batagor kuah untuk dimakannya hari itu. Dengan cepat pesanannya langsung jadi. Lalu, Alea meraba-raba bajunya. Biasanya ia selalu memasukkan uang di tiap saku bajunya, tapi ia lupa kalau ia sudah tidak bekerja sebagai penjaga kedai lagi. "Din, Tias, aku enggak bawa uang cash, lupa," ucap Alea kepada kedua temannya. Uang cash milik pribadinya ternyata sudah habis kemarin. "Loh, masa sih istri CEO enggak punya uang?" tanya Tias tak percaya. Apalagi jika melihat penampilan Gavin yang begitu perlente. Tidak mungkin kalau istrinya tidak memiliki uang. Alea kemudian memperlihatkan satu kartu ATM yang diberikan Gavin kepadanya. Ia sendiri belum menarik tunainya. Bahkan ketika Gavin menyebutkan password-nya ia tidak begitu memperhatikan. "Tapi aku enggak ingat password-nya," ucap Alea sambil memegang kartu tipis di hadapannya. "Ampun ... ada ya orang kayak gitu, isinya berapa?" tanya Dinda penasaran. Ia lalu mengeluarkan uang cash untuk Alea membayar makanannya. Kasihan juga Abang penjual batagor yang telah membuatkan makanan untuk Alea jika sampai tidak dibayar. Nanti jadi abang batagor makan batagornya sendiri. "Duh, makasih banget ya," ujar Alea sambil menerima uang lembaran dua puluh ribu tersebut dari temannya. Ia lalu membayarnya ke abang tukang batagor. Setelah siap dengan makanan masing-masing. Mereka menuju bangku yang kosong. Alea memilih bangku yang berada di dekat mereka agar tidak terlalu jauh melangkah sambil membawa makanan. "Kamu kan, bawa kartu ATM. Suamimu kali-kali belanjain kita dong," ujar Tias dengan sumringah. Alea hanya tersenyum getir, bingung mau menjawab apa. Pertama ya tidak tahu password-nya, kedua ia juga rasanya takut-takut menggunakan uang milik Gavin. Lebih enak pakai uang hasil kerja sendiri. "Sudahlah, nggak usah ngomongin belanja makan dulu yang ada. Lagian aku juga nggak tau password-nya apa," ucap Alea sambil menyuapkan satu batagor ke mulutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD