Belanja Baju

1517 Words
Setelah selesai makan siang, mereka pun kembali ke kelas. Masih ada satu mata kuliah lagi untuk hari itu. Mereka berjalan melalui halaman universitas tersebut. Sesampainya di depan kelas, ternyata dosen yang akan mengajar hari itu sudah ada di sana. Mereka segera masuk dan meminta izin duduk pada dosen itu. Selesai mata kuliah, Alea segera membereskan barang-barangnya untuk segera pulang. "Kamu dijemput sama suami, Lea? tanya Dinda karena biasanya mereka akan pulang bersama. Menuju ke kamar indekos dengan berjalan kaki, meskipun nantinya beda g**g. "Enggak tahu juga nih, kalau belum dijemput kayaknya aku bakalan ke kosan," jawab Alea yang juga tidak tahu Gavin akan menjemputnya atau tidak. "Sama suami kok, gitu sih," ucap Tias yang heran melihat pernikahan temannya itu. Ia mulai curiga ada apa sebenarnya dengan pernikahan Alea dan Gavin. "Emangnya semua pernikahan harus sama?Beda-beda kali, apalagi aku emang nikah karena perjodohan, jadi belum begitu saling mengenal," jawab Alea dengan santainya, dia tak ingin terbuka kepada kedua temannya itu. Alea memang sosok yang ramah, tapi tidak terbuka pada siapapun. Hanya pada ora ining yang ia anggap benar-benar dekat. Alea kemudian berjalan lebih dulu untuk menuju ke parkiran. Ia akan memastikan Gavin sudah berada di sana atau belum. Jika belum, maka ia akan ke kamar indekosnya terlebih dahulu. Lagipula Gavin juga punya nomornya jika akan menghubungi. Alea terus berjalan menuju ke parkiran, tapi ternyata Gavin sudah berada di parkiran kampus itu. Seperti biasa, ia memarkirkan mobilnya di bawah pohon dan ia bersandar di pintu mobil sambil memainkan ponselnya. 'Kenapa mesti berdiri sambil main ponsel sih, lagian aku juga udah tahu kok mobilnya dia,' gumam Alea dalam hati. Ia aneh melihat tingkah suaminya tersebut, seakan ingin menunjukkan kalau dirinya itu tampan dan kaya. Alea lalu mendekati Gavin. "Kita berangkat sekarang?" tanya Gavin kepada Alea yang sudah berada di sampingnya. "Terserah, memangnya kita mau ke mana?" tanya Alea yang tidak tahu tujuan Gavin berangkat hari itu akan ke mana. "Belanja bajumu, mau ke mana lagi?" Gavin malah balik bertanya. Kalau-kalau Alea punya tujuan lain. "Memangnya baju-bajuku kenapa sih," gumam Alea pelan tapi masih terdengar oleh Gavin. "Baju-bajumu terlalu sederhana dan terlalu tomboy," jawab Gavin dengan spontan dan sopan. Setidaknya ia tidak langsung bilang kata jelek untuk mendefinisikan pakaian Alea yang memang terlihat biasa. Lagipula ia juga sering membeli pakaiannya dan serba tiga puluh lima ribu. "Ya udahlah, kita berangkat sekarang," ucap Gavin yang tak ingin lagi membahas masalah itu. Mereka lalu memasuki mobil Gavin, duduk di belakang kemudi dan menyetir mobilnya. Mereka menuju ke salah satu mall yang terbesar di di kota tersebut. Mall itu juga terkenal dengan harganya yang sangat mahal, karena sering didatangi oleh turis dan wisatawan. Alea terbengong ketika memasuki mall tersebut. Ia memang baru pertama kali ke mall itu. Tapi, ia pernah mendengar dari kawan-kawan kosannya kalau mall itu memang memiliki harga yang cukup fantastis. Apalagi di saku para mahasiswa indekos sepertinya. "Ada apa? Ayo kita masuk," ajak Gavin yang melihat Alea terbengong di depan pintu utama untuk masuk "Kata teman-temanku di sini harganya terkenal mahal," jawabAlea dengan polosnya. Gavin hampir saja tertawa meledak mendengar pernyataan Alea. Baginya membeli sesuatu itu bukan soal harga tapi soal kualitas dan kesukaan. "Kita cari baju yang kamu suka, bukan baju yang pas di kantong. Lagipula aku yang bayar kok," ujar Gavin dengan santainya. Ia lalu melenggang santai memasuki mall tersebut. Alea yang tadi masih terbengong mengikutinya dari belakang. Jika dilihat sekilas persis seperti asisten rumah tangga dan majikan. Gavin menunggu Alea yang berjalan di belakangnya. Banyak pasang mata yang menatap mereka dengan aneh. Gavin dengan pakaiannya yang perlente, sementara Alea dengan bajunya yang sangat sederhana. Bahkan hanya memakai kaos yang agak besar dan juga celana jeans yang sobek-sobek. Sobekan celana itu sebenarnya bukan dari awal ia membelinya. Tetapi Alea pernah terjatuh sampai celananya sobek, karena terlihat jelek tapi sayang untuk dibuang, akhirnya Alea menyobek-nyobeknya lagi agar terlihat seperti trend. "Oh ya, pilihlah pakaian yang agak feminim ya," ujar Gavin yang memberi pesan kepada istrinya tersebut. "Kenapa harus begitu?" tanya Alea yang sebenarnya adalah bentuk protes karena tidak setuju. Dia yang biasa bekerja di kedai minuman, tentunya selalu memakai pakaian yang simpel. Agar mudah bergerak dan cepat ketika melayani pembeli, termasuk ketika pulang pergi ke kampus dengan berjalan kaki. "Agar kau kelihatan lebih feminim," ucap Gavin yang melihat Alea memang sedikit tomboy meskipun tidak keterlaluan. "Baiklah jawabannya pasrah Sesampainya di sebuah toko baju, Gavin masukinnya. Alea hanya mengikuti dari belakang. "Pilihlah baju yang kamu suka, yang mana pun," titah Gavin kepada Alea. Pakaian di sana kebanyakan begitu feminim. Mungkin hanya ada satu berbanding sepuluh pakaian kasual yang terlihat simple. Alea bingung milih baju yang mana. Setiap memegang baju, ia juga selalu melihat harga yang tertera di tag. Seorang penjaga toko mengikutinya dari belakang ketika Gavin dan Alea masuk. Ia menatap aneh kepada pasangan tersebut karena memang secara sekilas mereka terlihat begitu jomplang. "Mau baju yang bagaimana, Kak?" tanya penjaga toko tersebut dengan ramah "Ini warnanya muda semua ya, nggak ada yang lebih tua gitu?" tanya Alea heran karena di toko tersebut seperti hanya menyediakan baju-baju yang sangat feminim untuk wanita-wanita yang cantik. "Enggak ada, ini semuanya stok satu satu baju saja," jawab penjaga toko tersebut. "Mbak, tolong Carikan baju-baju yang feminim untuk istri saya, ya. Soal harga tak masalah," ujar Gavin pada penjaga toko tersebut sebelum ia pergi. Gavin yang malas mengikuti wanita berbelanja, hanya duduk terdiam di kursi yang di toko tersebut. Sambil menatap Alea yang masih bingung harus memakai baju yang mana. "Bagaimana kalau yang ini, Kak? Bagus loh, paling mahal juga. Pasti pas di tubuh Kakak yang ideal." Penjaga toko tersebut menenteng satu baju di tangannya dan memperlihatkannya pada Alea. Baju berwarna peach dengan sedikit renda di bagian keran dan tangan. Walau harus diakui kalau baju itu memang cantik dan menarik bagi kebanyakan perempuan. Hanya saja Alea tak suka memakai baju berwarna cerah. Menurutnya akan gampang kotor. Gavin yang duduk juga melihat baju yang ditawarkan oleh penjaga toko tersebut. "Coba lihat, Mbak." Alea melihat baju itu terlebih dahulu. Ia lalu melihat price tag yang ada di baju tersebut. 'Astaga! Masa baju kayak gini aja hampir sejuta. Cuma atasan doang padahal,' gumam Alea dalam hati. Saking kagetnya ia melihat harga baju itu. Alea yang merasa kalau harga baju itu terlalu mahal menyerahkannya kembali ke penjaga toko. "Mbak, itu saya ambil ya," ucap Gavin melihat Alea yang sepertinya ragu untuk membeli barang itu. "Mas," panggil Alea seolah tak percaya. Ia ingin mengingatkan Gavin kalau harga baju itu terlalu mahal. Ia mendekati Gavin dan duduk di sampingnya. "Mas, baju itu mahal banget. Masa atasan aja hampir satu juta," ucap Alea dengan suara lirih. Ia berbisik pada Gavin. "Jangan pikirkan harga," sahut Gavin dengan suara pelan tapi penuh penekanan. "Tapi—." "Cepat, cari sepuluh baju lagi. Tak masalah jika harganya lebih dari yang tadi," titah Gavin pada istrinya yang duduk di sebelahnya itu. "Kau yakin?" tanya Alea seolah tak percaya dengan apa yang baru saja Gavin ucapkan. "Kau pikir aku berbohong?" Gavin balik bertanya. "Mbak, tolong temani dia lagi," titah Gavin pada penjaga toko yang ada di sana. "Baik, Pak," ucap penjaga toko tersebut dengan sopan. Ia lalu kembali mendekati Alea untuk menemaninya memilih baju. Alea kembali bangkit dari duduknya. Ia memutari deretan baju yang dipajang di toko tersebut. Ia coba mengesampingkan jiwa miskinnya yang meronta-ronta. Ia mungkin harus terbiasa dengan kehidupan tanpa memandang harga seperti itu. Beberapa kali memutar, tapi tetap saja tak ada baju yang benar-benar menarik perhatiannya karena memang ia biasanya memakai pakaian kasual. Bukan yang feminim seperti kebanyakan dipajang di toko. "Mbak, bagaimana kalau celananya yang ini." Melihat Alea yang kebingungan, penjaga toko tersebut berinisiatif untuk menawarkan baju-baju yang sekiranya cocok di tubuh Alea. "I—iya, itu aja," ucap Alea sedikit gugup. Ia tak ingin melihat price tag-nya karena sudah pasti akan kaget. Lalu, jiwa miskinnya akan meronta-ronta. Setelah memilih banyak baju untuk Alea. Mereka kemudian menuju ke kasir untuk membayar semuanya. Total sepuluh pasang baju hampir mendekati dua puluh juta. Alea hanya bisa menelan saliva saat melihat harganya. Hampir saja ia pingsan karena gak pernah belanja baju sebanyak itu. Setelah Gavin membawanya sendiri. Ia tak memiliki bodyguard sama sekali. Semua asisten rumah tangganya diganti dengan orang-orang ibu tirinya. Sehingga Gavin tak mau menggunakannya untuk urusannya. Ia tahu penggantian itu bukan hanya pergantian semata, melainkan mata-mata yang ditempatkan oleh ibu tirinya untuk memata-matai. Gavin tak mau semua aktivitas dan informasi tentangnya dilaporkan pada ibu tirinya. Sehingga ia memilih untuk tak menggunakan fasilitas orang apapun, kecuali Bi Ijah yang ia pertahankan. Mereka berjalan keluar dari toko tersebut dengan membawa kantong-kantong paper bag berisi baju-baju Alea. "Kita mau ke mana lagi?" tanya Gavin pada Alea. Membawa berpasang-pasang baju bukanlah hal yang sulit untuk Gavin. Ia terbiasa berolahraga beladiri, seperti karate. Hanya saja ternyata ilmu bela dirinya tak bisa digunakan untuk melumpuhkan lawan licik macam ibu tirinya itu. Perlu cara cantik dan bermain otak untuk mengalahkannya. Juga butuh waktu yang tidak sebentar. "Sudahlah, kita pulang saja. Itu juga sudah banyak sekali," jawab Alea yang sudah tak ingin belanja apa-apa lagi. Mereka lalu menuju ke arah jalan pulang. Dalam perjalanan, Gavin melihat toko kosmetik yang cukup besar. "Ayi, masuk," ajak Gavin pada istrinya itu. "Ke mana?" tanya Alea heran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD