"Ke toko inilah." Tunjuk Gavin ke toko yang tepat berada di samping mereka.
Alea menatap heran ke toko tersebut. Pasalnya itu adalah toko kosmetik yang bahkan ia tak pernah menyinggahinya. Untuk skin care, ia hanya beli pelembab wajah di warung dekat kamar indekos. Lalu, untuk pembersih wajah menggunakan merek pemversih dan toner yang paling murah.
Gavin dan Alea memasuki toko kosmetik tersebut. Ada berbagai merk kosmetik di sana. Dari mulai yang paling ternama sampai yang murah.
"Silakan, Kakak mau pilih yang mana? Kita ada banyak pilihan dan semuanya lenkap," tanya penjaga toko yang ada di sana.
Ia menatap Alea dengan sedikit sinis, karena wajah Alea begitu polos tanpa make up. Alea memang hanya memakai pelembab dan juga bedak tabur bayi.
"Tolong berikan skin care dan untuk istri saya, ya," titah Gavin kepada penjaga toko tersebut.
"Baik, Pak," ucap penjaga toko tersebut yang kemudian mengambil barang dari rak yang ada di belakang.
Ia membawa skin care ternama dan juga beberapa alat make up yang sudah dipastikan keamanannya.
"Ini berapa, Kak?" tanya Alea sambil menunjuk satu set skincare yang disodorkan oleh penjaga toko tersebut.
"Dari merk ini, satu set lima ratus ribu, Kak. Murah kok," jawab penjaga toko tersebut sambil tersenyum.
Hanya saja senyumnya terkesan dipaksakan. Sehingga membuat Gavin dan Alea tidak nyaman. Ia seperti merendahkan Alea yang memang berpenampilan seadanya, padahal di sampingnya ada Gavin yang begitu perlente dan juga tampan.
"Kalau gitu saya beli semuanya," ucap Gavin membuat penjaga toko tersebut sock. Pasalnya ia pikir Gavin hanya bergaya-gayaan dengan setelannya.
"Ba—baik kalau begitu, Kak," ucap penjaga toko tersebut dengan gugup.
Alea hanya bisa terdiam. Ia sendiri kaget dengan keputusan Gavin yang langsung membeli semuanya. Lagipula ia juga tidak terlalu mengerti dengan urusan memakai make up. Apalagi yang tadi itu ditunjukkan, ada berbagai alat make up dengan warna-warni yang bagaikan cat air.
"Aku makenya juga enggak ngerti. Kenapa dibeli semua?" tanya Alea dengan heran kepada Gavin dengan suara berbisik.
"Nanti kamu belajar cara pakainya," jawab Gavin dengan enteng
Alea hanya terdiam. Lagipula barang yang tadi akan dibeli juga sudah mulai dibungkus. Tinggal dibayar saja di kasir.
Setelah beres, Gavin menuju ke kasir untuk membayar semua kosmetik tersebut.
"Totalnya satu juta setengah, ya, Pak," ucap penjaga kasir dengan ramah sambil tersenyum tulus. Tidak seperti penjaga toko yang tadi.
"Sebaiknya pekerjakan pegawai toko yang semuanya ramah agar semakin laris. Tidak seperti dia," ucap Gavin sambil memberi isyarat kepada pegawai toko yang tadi melayaninya.
Gavin lalu memberikan kartu debitnya. Kemudian, melakukan transaksi pembayaran. Setelah itu, kosmetik itu diberikan.
Gavin sudah memegang banyak paper bag berisi baju. Sehingga Alea mengambil kosmetik tersebut. Kosmetik tersebut terpisah dalam tiga paper bag dan ternyata lumayan berat. Tidak seperti baju yang ringan.
"Kita sudah beli banyak barang, sudahlah kita ke rumah saja," ajak Alea kepada Gavin.
Ia sebenarnya tidak terlalu suka berada di tempat keramaian seperti itu, kecuali di kampus. Itu pun ia lebih suka berada di perpustakaan yang sepi dan sunyi sambil membaca buku dan menyelami isinya.
"Ya sudah, kalau begitu kita makan dulu ya," ajak Gabin. Dia bilang ya sudah, tapi berlanjut ke restoran terlebih dahulu.
Alea terpaksa mengikutinya. Mereka makan di rumah makan Chinese. Mereka duduk di salah satu meja yang kosong, kemudian seorang pramusaji datang untuk menuliskan pesanan mereka dan juga membawa daftar menu.
Alea kebingungan ketika memilih menu. Pasalnya yang ia tahu dari masakan cina hanyalah ikan salmon mentah yang orang sebut Sushi.
"Samakan saja dengan saya," ucap Gavin kepada pramusaji tersebut. Ia tahu Alea kebingungan melihat daftar menu yang tidak dikenalnya.
Alea menurut dan tidak banyak membantah. Lagipula ia juga tidak tahu dengan jenis makanan apa saja yang tertera di sana. Tidak tahu juga apa yang enak dan tidak. Mungkin saja yang menurut orang lain enak, tidak akan cocok di lidahnya.
Tak lama kemudian, makanan pun datang. Gavin menikmatinya dengan sumpit. Sementara Alea mencari garpu. Ia malas menggunakan sumpit karena memang tidak terbiasa dengan alat makan tersebut.
"Mbak aku minta garpu ya," ucap Alea kepada pramusaji tersebut.
Gavin menahan tawa mendengar permintaan Alea yang ingin garpu untuk makan di sana.
"Iya baik, Mbak," ucap pramusaji tersebut kemudian kembali ke dapur untuk mengambilkan garpu.
Tak lama kemudian, dia kembali dengan garpu ke sana. Setelah mendapat garpu, barulah mereka menyantap makanan dengan tenang. Gavin juga tidak banyak bicara soal tingkah Alea yang sebenarnya menurutnya lucu. Ia hanya menikmatinya dalam hati.
Selesai makan Gavin membayar makanan tersebut. Alea penasaran dengan makanan yang tadi dimakannya. Ternyata totalnya hampir setengah juta rupiah.
Setelah itu mereka pergi dari tempat tersebut untuk pulang. Sepertinya hari ini cukup sebagai shock therapy bagi Alea.
"Ya ampun, itu tadi makanan begitu doang hampir lima ratus ribu berdua. Padahal kalau misalkan dibeliinn beras itu udah cukup hampir dua karung atau misalkan kita kasih makan orang lain udah cukup buat dua bulan," cerocos Alea yang masih tak mengerti dengan harga makanan yang baru saja dimakannya. Padahal menurutnya porsinya sangat sedikit.
"Kita enggak cuma bayar makanannya, tapi juga dengan jasa orang-orang yang ada di dalamnya," ucap Gavin yang lebih mengerti soal bisnis.
Ia pun mengelola bisnis yang tentu saja bukan hanya menjual barang. Tetapi, juga harus menjual jasa orang-orang yang terlibat di dalamnya.
"Iya, tapi enggak segitunya juga kali, itu mah tadi mahal banget," sahut Alea yang masih kekeh dengan pendapatnya dan tidak setuju dengan apa yang dikatakan Gavin.
"Terserahlah kalau begitu," ucap Gavin yang tak ingin berdebat dengan Alea.
Mereka terus berjalan menuju ke parkiran. Sesampainya di depan mobil Gavin. Mereka menaikinya. Seperti biasa, Gavin menyetir dan mengeluarkan mobil dari parkiran tersebut. Lalu melesat pergi ke arah jalan pulang.
"Kamu bisa nyetir enggak?" tanya Gavin kepada wanita yang duduk di sebelahnya.
"Aku?" Alea malah balik bertanya, seolah tak percaya dengan pendengarannya sendiri.
"Siapa lagi?" ucap Gavin.
"Kalau motor sih, bisa. Kalau mobil aku belum pernah belajar," jawab Alea dengan santai. Berharap setelah itu ia akan dibelikan motor untuk alat transportasi ke manapun.
"Kalau bisa menyetir mobil tadinya aku mau berikan mobil buat alat transportasimu," ucap Gavin dengan santainya.
Sepertinya untuk orang kaya macam dirinya membeli mobil bagaikan membeli gorengan bakwan di pinggir jalan.
"Kenapa mesti nyetir mobil? Aku pakai motor juga enak kok," tanya Alea heran. Padahal ia sangat menginginkan motor untuk alat transportasinya ke manapun.
"Enggak ada, motor terlalu bahaya. Nanti bagaimana kalau ayahmu bertanya tentang keselamatanmu padaku?" ucap Gavin dengan tegas. Matanya lurus memandang ke depan, fokus menyetir mobil. Meskipun bibirnya masih bisa bercakap-cakap dengan Alea.
"Padahal motor juga aman, kok. Mau naik mobil sama naik motor kan, sama-sama ada resiko kecelakaannya," ujar Alea yang tak mau kalah, juga berusaha untuk mendapatkan motor dari Gavin.
"Jangan harap kau akan mendapatkan kendaraan roda dua itu dariku, karena pastinya tak akan kubiarkan," ujar Gavin dengan begitu santainya.
Alea hanya bisa merengut karena kesal. Entah bagaimana lagi caranya untuk menaklukan hati Gavin agar bisa memberinya kendaraan. Malas juga setiap hari di antar jemput oleh Gavin. Ia menyadari kalau tatapan orang-orang begitu aneh kepada mereka. Bagaikan melihat sosok majikan dan juga pembantu.
Sesampainya di depan rumah Gavin mereka turun. Suasana rumah masih terlihat sepi, berarti ibu tiri Gavin memang belum pulang dari liburannya.
"Memangnya ibu tirimu liburan ke mana sih?" tanya Alea penasaran, "Atau jangan-jangan kamu hanya berbohong soal ibu tirimu itu agar bisa menikah denganku, ya kan?" tuduh Alea dengan begitu beraninya.
"Enak saja, siapa juga yang mau menikah denganmu," jawab Gavin dengan entengnya.
Ia hanya menganggap ucapan Alea itu sebagai candaan semata. Lagipula pernikahan mereka pun hanya sebatas perjanjian untuk mendapatkan harta warisan. Titik.
Mereka lalu masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamar. Gavin penasaran dengan baju-baju yang baru saja dibelinya. Mungkin akan sangat cocok di tubuh Alea, tapi bisa jadi juga malah jelek.
Mereka memasuki kamar. Gavin meletakkan semua barang belanjaan di sofa yang ada di kamar tersebut.
"Kenapa diletakkan di sini semua?" tanya Alea heran.
"Kau yang membelinya tentu harus mencobanya dong," ucap Gavin sambil tersenyum.
Ia lalu membuka salah satu paper bag berisi pakaian. Mengeluarkan isinya dan memberikannya kepada Alea untuk dipakai saat itu juga.
"Kenapa harus sekarang?" tanya Alea heran sambil menerima baju tersebut dari Gavin.
"Pakai saja, aku hanya ingin melihatnya," titah Gavin yang lalu tersenyum. Tapi, tak biasanya ia menyunggingkan senyum tulus kepada Alea. Biasanya yang terlihat hanyalah wajah cuek dan judes.
Alea mengambil baju itu, mau tak mau ia harus menggunakannya saat itu juga. Ia beranjak dari sana, menuju ke lemari Gavin yang juga sekaligus kamar ganti.
Alea menggunakan baju yang baru saja dibelinya tadi. Warna peach dengan aksen renda di kerah dan juga lengan. Juga dengan celana berwarna senada yang lebih mudah warnanya.
Alea menatap dirinya sendiri. Baju itu begitu pas di tubuhnya. Seolah memang ditakdirkan untuk dipakai olehnya.
Dia lalu keluar untuk menunjukkannya kepada Gavin. Padahal belum memakai make up, tapi dengan berganti baju saja auranya sudah terlihat lebih baik dan cantik dibanding sebelumnya.
"Kamu lebih baik memakai baju feminim seperti itu. Terlihat lebih cantik," ucap Gavin yang bermaksud memji Alea. Tapi, wajahnya tetap saja datar seakan tidak ada yang spesial di hadapannya.
"Terima kasih banyak, ya," jawab Alea sambil tersenyum simpul.
Ia menatap baju seharga hampir satu jutaan tersebut melekat di tubuhnya dengan pas.
"Sebenarnya apa yang membuat baju ini mahal, ya," ucap Alea pelan sambil menatap lekat bajunya.
Gavin hanya terkekeh. Tak ingin menjelaskan lagi soal tidak hanya membeli barangnya.
"Coba kau pakai make-up," kata Gavin yang sepertinya suka melihat Alea untuk berdandan.
Bukan karena menyukai wanita berdandan, tapi hanya ingin melihat apa yang telah dibelinya dipakai oleh Alea. Setidaknya jadi merasa tidak sia-sia membelikan barang untuk seseorang, terutama perempuan.
Alea sebenarnya beruntung karena diperhatikan oleh Gavin. Selain ibunya, selama ini Gavin tidak pernah memiliki perasaan kepada wanita.