Tangan yang Tak Pandai Berdandan

1122 Words
"Make-up? Aku sendiri nggak ngerti sih cara makainya, bagaimana ya?" tanya Alea dengan polos. Tapi, dia juga penasaran bagaimana orang-orang menggunakan make up di wajahnya. Akhirnya ia menuju ke kaca yang tergantung tak jauh dari tempat tidur. Mengambilnya dan menyimpannya di sofa, kemudian ia mencoba beraksi dengan menggunakan alat tempur yang baru saja dibeli olehnya dan Gavin. Alea terlihat excited menggunakan beberapa warna dalam make-up tersebut. Menggabungkan warna hijau, merah, dan yang lainnya. Untuk blush on, ia memakai warna pink, lalu menggunakan lipstik dengan warna merah cabai yang mencolok. Orang-orang bilang untuk menggunakan shading di hidung agar terlihat lebih mancung, ia juga mencobanya. Dengan memadukan warna cokelat dan putih di hidungnya. Sebenarnya hidung Alea tidak pesek, tapi tak terlalu mancung juga. Sudah pas dengan wajah Asianya. Alhasil, ketika sudah selesai di make up, ia terlihat seperti badut Gavin pun tak bisa menahan tawa melihat Alea dengan make up yang berantakan. "Tangan kamu benar-benar enggak cocok di dunia make up," ucap Gavin sambil tertawa terbahak-bahak. Ia seolah mendapat hiburan gratis melihat hasil make-up Alea. Ia tak tahan melihat Alea yang nampak seperti badut. Bahkan tidak ada mirip-miripnya dengan wanita yang sering dilihat Gavin di kantornya. Mereka biasanya menggunakan make-up natural dan terlihat elegan. Gavin sendiri tidak mengerti bagaimana mereka menggunakannya. Tapi, hari ini ketika ia melihat seorang wanita berdandan malah membuatnya tertawa terbahak-bahak. Hasilnya jauh dari ekspektasi yang dibayangkan olehnya, bahkan oleh Alea sendiri. Kesal karena ditertawakan oleh Gavin, akhirnya Alea langsung ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Ia menggunakan pencuci yang baru saja Gavin belikan, karena sebelumnya ia jarang menggunakan pencuci wajah. Paling pembersih dan juga toner wajah yang harganya murah. Sisi keuntungan Alea yang tidak pernah mencoba berbagai kosmetik dan skincare adalah wajahnya tetap mulus dan halus. Meskipun tidak menggunakan apapun. Setelah yakin semua make up yang berada di wajahnya hilang, barulah Alea keluar dari kamar mandi. Ia lebih percaya diri dengan wajah polosnya ketimbang wajah penuh make-up. Saat melihat Alea kembali dari kamar mandi, Gavin masih sedikit tertawa. Teringat wajah Alea saat menjadi badut tadi. Alea duduk di sofa dan tak menanggapi Gavin yang masih ingin menertawainya. Malam semakin larut, seperti biasa Gavin sibuk dengan laptopnya dan pekerjaannya. Alea teringat kalau ia juga sekarang memiliki tugas kampus dari dosen tampan bernama Alfi di universitasnya. Ia lalu menuju ke ruang ganti untuk mengambil laptop yang berada di dalam tasnya yang ada di sana. Alea mengambil laptop kesayangannya yang sudah sering bocor listriknya. Sehingga seringkali menyengat jarinya sendiri. Juga tak dapat lepas dari charger. Ia membawanya ke sofa, di mana Gavin sedang sibuk dengan pekerjaannya. Ia pun menghidupkan laptopnya, kemudian mulai mengerjakan tugas dengan tenang. Untung saja laptop itu sedang tidak rewel di awal, tapi entahlah untuk beberapa saat kemudian. "Aw!" teriak Alea sambil mengibas-ngibaskan tangannya. "Kamu kenapa?" tanya Gavin yang heran sekaligus penasaran dengan Alea yang tiba-tiba menjerit lalu mengibas-ngibaskan tangannya. "Biasa, kena setrum laptop. Listriknya sudah sering bocor," ujar Alea sambil meniup-niup tangannya yang barusan terkena setrum dari laptop sendiri. "Loh, kok bisa?" tanya Gavin heran. Lalu, ia mencoba menyentuh laptop Alea ternyata benar saja yang dikatakan istrinya itu. Kalau laptop milik Alea mengeluarkan setrum. "Benar-benar, ya, laptop udah gini masih dipakai aja," ujar Gavin yang tak habis pikir melihat Alea yang masih mau menggunakan laptop yang sudah bocor listriknya. Juga harus selalu terhubung dengan charger-nya. "Ya ... mau gimana lagi enggak mungkin juga buat beli sekarang-sekarang ini, aku kan, sudah enggak kerja," jawab Alea sambil mencoba mengetikan jaringnya lagi di keyboard tersebut. Berusaha untuk tidak mengenai bagian aluminium dari laptop itu, agar tak kembali tersengat listrik. "Kalau begitu, besok kita beli laptop baru," ujar Gavin memberi janji kepada istrinya tersebut. "Sebenarnya aku tidak suka menerima banyak pemberian dari orang lain, tapi berhubung karena laptop ini sangat dibutuhkan dalam kuliah, ya sudah aku setuju saja," sahut Alea dengan santainya padahal dalam hati ia berjingkrak-jingkrak saking senangnya. Malam semakin larut, perut Alea sudah mulai kembali keroncongan, karena belum diisi untuk makan malam. Entah mengapa rasanya ia masih malu untuk mengajak Gavin makan malam. Padahal makan adalah kebutuhan manusia. Alea mencuri-curi pandang kepada Gavin. Ia ingin mengajaknya makan malam, tapi entah mengapa bibirnya begitu kelu untuk mengucapkan isi hatinya. Gavin melirik jam yang berada di tangannya. Sudah waktunya makan malam, dia tahu pasti Alea kelaparan sehingga dari tadi terus meliriknya. Sejak tadi Gavin memang sadar diperhatikan oleh Alea dan ia tahu kekasihnya itu ingin meminta sesuatu darinya. Jika sudah waktunya makan malam, tentu saja Alea ingin makan malam bersama. "Ayo, kita makan." Gavin bicara sambil bangkit dari duduknya. Mereka lalu menuju ke lantai bawah untuk makan malam di ruang makan. Alea mengikutinya dari belakang. Ia mulai merasa kalau perlakuan Gavin tak terlalu buruk juga. Tidak semenyeramkan yang dipikirkannya. Ia pikir akan menghadapi situasi menyedihkan layaknya orang-orang yang dipaksa menikah. Sesampainya di ruang makan, Gavin duduk di tempat biasa. Begitupun Alea yang duduk di kursi yang kosong. Sudah ada berbagai hidangan di meja makan. Alea selalu bersemangat makan di meja itu. Bi Ijah yang merupakan asisten rumah tangga di rumah itu, begitu pandai memanjakan lidah dengan masakannya. "Silakan dinikmati, Non, Den," ucap Bi Ijah ramah sambil menyicikan air ke gelas yang ada di samping Gavin dan Alea. "Terima kasih ya, Bi," ujar Alea ramah kepada asisten rumah tangga itu. "Sama-sama, Non," sahut Bi Ijah ramah. Mereka lalu menikmati makan malam bersama. Setelah itu, Gavin kembali mengajaknya untuk duduk di ruang tengah rumah mewah itu. "Mas, sebenarnya tugasku di sini apa?" tanya Alea yang masih tak mengerti apa yang mesti dilakukannya sampai dinikahi oleh Gavin. "Nanti kamu akan tahu setelah ibu tiriku datang. Semoga saat itu kamu akan kuat," jawab Gavin dengan bahasa yang ambigu. Ia seperti mengisyaratkan akaan ada hal yang sangat besar terjadi di depan sana. Membuat Alea penasaran sebenarnya apa yang sedang menunggunya. "Den, Non, ini teh hangatnya," ujar Bi Ijah sambil meletakkan dua gelas teh hangat di hadapan pasangan suami istri itu. "Bi, ibu Mas Gavin bilang tidak akan pulang kapan dari liburannya?" tanya Alea kepada Bi Ijah yang baru saja meletakkan teh di hadapannya. "Waduh, kurang tahu, Non. Tapi, sih, kayaknya enggak akan lama, soalnya kan, suaminya Non Helina juga mesti kerja," jawab Bi Ijah yang juga tak mengetahui soal kepulangan ibu tiri Gavin tersebut. "Oh begitu ya, Bi. Terima kasih, ya," ucap Alea ramah. "Iya, sama-sama, Non. Bibi ke belakang dulu ya," pamit Bi Ijah sambil bangkit dan menuju ke belakang. Malam semakin larut, Alea berkali-kali menguap karena mengantuk. Apalagi seharian tadi mereka melakukan aktivitas di luar. "Kita istirahat dulu, kasihan matamu sudah mengantuk," ucap Gavin sambil bangkit dan berjalan menuju ke kamar mereka. Alea tak mengatakan apapun. Ia mengikuti langkah Gavin menuju ke kamar. Untung tugas kuliahnya masih dikumpulkan seminggu lagi. "Cepatlah istirahat," titah Gavin pada istrinya. Alea menurut, ia lalu segera membaringkan diri di tempat tidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD