"Ada apa lagi?" tanya Gavin dengan tatapan dingin.
"Apa kau tidak muak sedikitpun melihatku? Tidak berniat memutuskan pernikahan ini?" tanya Alea dengan tatapan mata nyalang menatap Gavin. Matanya seakan menantang musuh yang ada di hadapannya.
Ia benar-benar berharap kalau Gavin ilfeel padanya. Lalu, memutuskan untuk menghentikan rencana pernikahan tersebut.
"Tidak, aku hanya butuh buku nikah bukan butuh tampilanmu," jawab Gavin. "Kalau begitu aku pamit dulu."
Gavin lalu melenggang pergi dari rumah tersebut. Ia masih punya urusan bisnis di tempat lain yang harus dikerjakan secepatnya. Ia menaiki mobilnya dan pergi dari desa itu.
"Kamu apa-apaan Alea!" bentak Pak Asep pada putri keduanya itu.
"Apa aku salah, hanya bertanya?!" tanya Alea setengah berteriak dengan sorot mata yang masih memancarkan amarah.
"Tapi pertanyaanmu itu bisa menghancurkan segalanya!" bentak Pak Asep yang begitu kesal dengan sikapnya.
Padahal niatnya baik agar Alea mendapat kehidupan yang lebih baik. Juga untuk masa depan Alina nanti.
Ia sudah melihat sendiri banyak sarjana yang menganggur dan sulit dapat pekerjaan. Jadi, menurutnya untuk apa Alea meneruskan kuliah.
Bu Ani dan Alina keluar dari dapur. Mereka mendengar perdebatan antara ayah dan anak tersebut.
"Sudah! Sudah! Jangan adu mulut terus, malu sama tetangga!" bentak Bu Ani, matanya sudah berkaca-kaca sejak tadi.
Alea seketika terdiam dan langsung masuk ke dalam kamar. Sementara Pak Asep memegangi dadanya, sesak nafasnya mulai terasa kembali karena emosinya yang naik tadi.
Bu Ani langsung mengambilkan obat untuk suaminya itu. Ia lalu menyerahkannya. Pak Asep lalu menyemprotkan obat itu ke mulutnya. Ia sedikit merasa lega.
"Bapak jangan kepancing emosi sama Alea. Dia belum bisa menerima pernikahan ini," ucap Bu Ani lembut pada Pak Asep.
Pak Asep mengangguk.
"Alina, Arka. Kalian ke rumah saudara-saudara ya, besok mulai masak untuk dibagikan ke saudara dan tetangga," titah Bu Ani pada dua anaknya itu. Kepalanya terasa pusing ketika harus memikirkan pernikahan dadakan itu.
"Baik, Bu," ucap Alina singkat dan mengajak Bang Arka ke rumah saudara-saudara mereka. Tak terlalu jauh masih di sekitaran kecamatan itu hanya beda kampung saja.
Ia juga sudah tahu pasti siapa saja saudara yang akan diajak masak. Itu sudah menjadi tradisi di desa itu. Alina dan ibunya juga seringkali membantu jika ada saudara lain yang akan melaksanakan pesta pernikahan.
Berbeda dengan Alea yang jarang mau bergabung jika ada acara seperti itu. Ia lebih suka belajar, bahkan mempelajari sesuatu yang belum dipelajari di kelasnya. Sehingga Alea bisa dengan mudah lulus naik jenjang di setiap kelasnya.
"Kalau begitu, aku berangkat dulu, Bu," pamit Alina pada ibunya. Ia lalu menyalami punggung tangan ibu dan ayahnya.
"Hati-hati, ya, Nak," ucap Bu Ani pada putri bungsunya itu.
Alina bagaikan air di keluarga tersebut. Bisa mendinginkan kedua orang tuanya yang kadang tersulut emosi oleh kakak-kakaknya.
Bang Arka mengeluarkan motornya dari bengkel. Siap untuk mengantar Alina ke beberapa tempat tujuan hari itu.
"Mau ke mana dulu, nih?" tanya Bang Arka ketika Alina sudah menaiki motor tersebut.
"Kita ke rumah Bibi Narti dulu. Dia kan, kakak ibu paling tua," jawab Alina cepat.
Bang Arka lalu melajukan motornya ke rumah Bi Narti yang tak terlalu jauh dari sana. Hanya berbeda desa tapi masih satu kecamatan.
Mereka melalui jalanan besar di desa tersebut. Hanya cukup untuk dua mobil, tidak seperti jalanan kota yang begitu lebar dan merupakan jalan raya. Tapi, sudah cukup beruntung bagi warga desa. Dulu, jalanan itu hanya tanah berbatu tanpa aspal.
Sesampainya di pekarangan rumah Bi Narti, Alina dan Bang Arka turun dari motor. Mereka mengetuk pintu rumah tersebut. Tak lama kemudian, Syifa anak pertama Bi Narti membukakan pintu.
"Eh, Lina, Arka, ayo masuk," ucap Syifa dengan ramah.
Ia merupakan anak pertama Bi Narti yang sudah menikah. Telah memiliki dua orang anak, yang pertama berusia empat tahun dan yang kedua berusia satu tahun.
Alina dan Bang Arka masuk ke ruang tamu rumah itu. Mereka duduk di sofa sambil menunggu di Bi Narti.
"Sebentar ya, Kakak panggilkan dulu. Mama lagi di kamar mandi tadi," ucap Syifa, lalu melenggang pergi memasuki dapur untuk memanggil ibunya.
Tak lama kemudian, Bi Narti masuk ke ruangan tersebut. Ia duduk di kursi tunggal yang ada di hadapan Alina.
"Ada apa, Lin? Tumben kemari," tanya Bi Narti pada keponakannya tersebut.
"Begini, Bi. Besok ibu ngundang Bibi untuk bantu masak. Soalnya Kak Alea mau menikah sebentar lagi," jawab Alina mengungkapkan maksud kedatangannya.
"Loh, sama siapa? Kok, Bibi enggak tahu," tanya Bi Narti yang nampak kaget.
Memang biasanya jika ada apa-apa semua adik-adiknya akan bertanya terlebih dahulu padanya. Termasuk soal jodoh anak mereka, karena Bi Narti menjadi anak yang dituakan.
"Iya, Bi. Soalnya dadakan calon prianya pengen cepet-cepet nikah," jawab Alina sedikit gugup.
"Ya kalau sudah ada jodohnya, ya, alhamdulillah semoga sakinah, mawadah, warohmah ke depannya. Terus kuliahnya gimana? Bukannya baru semester dua, ya?" tanya Bi Narti setelah mendoakan kebaikan untuk pernikahan Alea.
Seingatnya, Alea tidak ingin dulu menikah sebelum lulus kuliah dan bekerja.
"Kuliahnya tetap lanjut, Bi. Soalnya calonnya orang Bandung juga. Deket sama tempat kuliahnya Kak Alea," jawab Alina sambil tersenyum kikuk.
"Oh ..., ya sudah. Besok Bibi insyaallah datang, ya," ucap Bi Narti dengan ramah.
Alina dan Bang Arka lalu pamit dari rumah tersebut. Mereka kembali menaiki motor untuk menuju ke saudara lainnya.
"Ke mana lagi nih, Lin?" tanya Bang Arka yang sudah duduk di atas motor.
"Ke Paman Ucup saja, Bang," jawab Alina yang sudah duduk di belakang Bang Arka.
Rumah Paman Ucup berada di desa sebelah. Tapi, masih satu kecamatan sehingga terlalu jauh untuk ditempuh dengan menggunakan motor.
"Kebetulan nih, motor lagi bagus," ucap Bang Arka mengomentari motornya yang tidak mogok hari itu.
"Syukur, Bang. Niat baik, kan, pasti bakal ditolong sama Allah," ucap Alina dengan bijak.
Setelah beberapa saat menaiki motor, mereka pun sampai di depan rumah Paman Ucup. Ia merupakan adik kandung ibu mereka.
Mereka lalu turun dari motor dan mengetuk pintu rumah bergaya minimalis tersebut. Paman Ucup memang terkenal lebih kaya dari saudara yang lain.
Tak lama kemudian, Paman Ucup dan istrinya membuka pintu. Mereka terlihat sudah berdandan rapi, seperti hendak pergi ke suatu tempat.
"Eh, ternyata Lina. Sini masuk," ucap Paman Ucup ramah sambil memasuki ruang tamunya.
Istrinya juga terpaksa ikut duduk di sofa yang ada di ruang tamu itu. Alina dan Arka pun duduk di sana. Ada beberapa gelas air mineral yang berjajar di tempatnya. Juga beberapa cemilan yang masih berada di toples.
"Ada apa ini? Silakan kalau mau minum atau ngemil," tanya Paman Ucup dengan ramah sambil menawarkan minuman dan cemilan yang ada di meja.