Penampilan Berantakan Alea

1050 Words
"Enggak mau, Bu," jawab Alea tanpa menatap ibunya sedikitpun. Tiba-tiba rasa ingin buang air terasa di perutnya. Alea bangkit dari tempat tidurnya. Penampilannya sungguh acak-acakan. Rambut berantakan, mata sembab, dan wajah pucat. Alea keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar mandi. Bu Ani mengikutinya dari belakang. Ia menunggu di dapur, karena memang kamar mandi melewati dapur. Tak lama kemudian, Alea keluar dari kamar mandi. "Nak, Ibu mohon makanlah," ucap Bu Ani sambil memegangi lengan anaknya. Ia meneteskan air mata kesedihannya. "Baiklah," ucap Alea pelan dan lemas. Ia tak tega melihat ibunya dan perutnya juga sudah mulai terasa perih. Ia duduk di karpet lusuh itu. Bu Ani segera mengambilkannya makanan. "Jangan terlalu banyak, Bu," ucap Alea pelan. "Iya, Sayang." Bu Ani mengurangi nasi yang ada di piring yang tadi diambilnya. Ia lalu menyerahkan piring berisi nasi dan lauknya itu pada Alea. "Assalamualaikum," ucap Alina dan Bang Arka berbarengan. Mereka baru saja pulang dari mengurus berkas. Besok tinggal mengirim berkas milik calon mempelai pria. "Waalaikumsalam, Nak. Sudah pulang kalian? Bagaimana pengurusan berkasnya?" tanya Bu Ani penasaran. "Iya, Bu. Sudah selesai, tinggal besok kasih berkas prianya ke KUA," jawab Alina yang duduk di sofa ruang tengah. "Syukurlah kalau begitu, tinggal kabari para saudara dan besok ke tukang dekor." Bu Ani sudah menata hari demi hari untuk pernikahan dadakan itu. "Iya, Bu. Lapar juga seharian jalan-jalan, mana motornya mogok lagi," ungkap Alina yang merasa cacing di perutnya meminta jatah. "Kalau begitu kalian makan dulu. Alea juga sedang makan di dapur," titah Bu Ani pada anak-anaknya itu. "Baik, Bu," jawab Alina. Ia dan Bang Arka lalu masuk ke dapur untuk mengambil makanan. Alea hanya makan dengan duduk. Sesendok demi sesendok begitu lama memasuki mulutnya. Alina dan Bang Arka yang sudah mengambil makanan duduk di depan Alea. Mereka makan dengan lahapnya. Meskipun dengan lauk seadanya. Alea merasa tak nyaman dengan adanya mereka. Entah mengapa, padahal adik dan kakaknya itu tak melakukan apapun. Ia mendengar semua percakapan tadi antara ibunya dan Alina. Pernikahan itu akan benar-benar terjadi. Alea menarik napas panjang. Ia menghabiskan makanannya yang hanya setengah dari porsi biasa. Ia lalu bangkit dan menyimpan piring kosongnya. Setelah itu, kembali ke kamarnya. "Ah, kenapa semua orang begitu keras kepala dan ingin aku menikah," gumam Alea pelan. Kepalanya terasa berat karena terlalu banyak tiduran. Ia tak menyadari betapa keras kepalanya dirinya dibanding yang lain. Ia hanya menatap langit-langit kamar yang terbuat dari anyaman bambu itu. Hidupnya seakan telah berakhir saat ia mengucapkan bersedia menikah dengan lelaki itu. Keesokan harinya, Gavin datang pagi-pagi sekali. Padahal Bu Ani belum mempersiapkan apapun untuk calon menantunya itu. Mobil hitamnya terparkir di halaman luas milik Pak Asep. Pagi itu adalah waktu para warga pergi ke kebun. Mereka terpukau dan bertanya-tanya ketika melihat ada mobil mewah terparkir di halaman rumah Pak Asep. "Ada siapa ya, itu?" bisik salah seorang warga pada yang lainnya. "Kayaknya kaya, mobilnya aja bagus gitu," timpal yang lainnya. Gavin keluar dari mobilnya dan mengetuk pintu rumah yang masih tertutup. Ia membawa map berisi berkas pernikahannya. Pak Asep sudah merasa lebih sehat. Ia sudah bisa berjalan-jalan meskipun pelan. Ia beranjak dari kursi yang didudukinya dan membuka pintu. "Eh, Nak Gavin. Datangnya pagi sekali, yuk masuk dulu," ajak Pak Asep pada pemuda di hadapannya itu. "Iya, saya masih ada pekerjaan di luar daerah besok. Makanya datang ke sini sepagi mungkin," ucap Gavin dengan tersenyum tipis. Ia juga menyalami tangan kasar Pak Asep yang biasa memegang cangkul. Berbeda dengan tangannya yang begitu lembut karena lebih sering menekan keyboard komputer. Pak Asep dan Gavin masuk ke dalam. Mereka duduk di sofa yang ada di ruang tamu itu. Di dapur, Alina dan ibunya baru akan memasak. Ia segera mengambil teh dan membuat dua teh hangat untuk Pak Asep dan Gavin. Ia lalu mengantarkannya ke dalam dengan menggunakan nampan. Bang Arka yang baru saja keluar dari kamar mandi berjalan dengan santai. Ia tak tahu kalau di tengah ada tamu. "Bang, itu ada Gavin. Salami dulu sana," titah Bu Ani pada anak sulungnya itu. Bang Arka lalu menuju ke ruang tengah dan menyalami Gavin. "Sehat, Bang?" tanya Bang Arka pada Gavin. Usia Gavin memang lebih tua beberapa tahun darinya. "Sehat, kamu bagaimana?" tanya Gavin dengan suara baritonnya. "Beginilah, Bang," jawab Bang Arka sambil duduk di dekat ayah dan calon adik iparnya itu. "Jadi bagaimana persiapannya?" tanya Gavin yang ingin segera melakukan rencananya. Mengambil harta warisan milik ibunya. "Kemarin sudah kirim berkas ke KUA. Tinggal kirim berkas Abang saja," jawab Bang Arka yang kemarin mengantar Alina ke sana kemari. "Bagus, kalau begitu," ucap Gavin pelan. Ia tak menunjukan ekspresi apapun. Wajahnya sangat tampan dan juga terawat. "Ini berkasku. Tolong diurus saja. Soal uang bagaimana cukup?" tanya Gavin yang sudah memberi lima puluh juta kepada keluarga itu. "Cukup, insyaallah cukup," jawab Pak Asep dengan pasti dan mantap. "Ya sudah, saya pergi dulu," pamit Gavin pada Pak Asep. "Loh, kenapa malah pergi baru saja datang?" tanya Pak Asep. "Panggil adikmu," titah Pak Asep dengan suara lirih pada Bang Arka. Bang Arka mengangguk dan menuju ke kamar Alea. "Lea, temui dulu calon suamimu sebentar," titah Bang Arka ketika berada di dalam kamar Alea. Ia masih tidur dengan keadaan miring. Bajunya masih yang kemarin. Ia juga terlihat begitu berantakan. Alea yang merasa penampilannya sangat hancur bangkit. Bang Arka yang lelaki tak peduli dengan penampilan Alea. Gadis itu berdiri dan mengikuti langkah kakaknya dengan gontai dan penampilan acak-acakan. Alina yang kebetulan melihat itu, segera memanggil ibunya. "Bu, lihat itu Kak Lea." tunjuk Alina pada Alea yang berjalan ke sofa. "Ya ampun, kenapa dia begitu penampilannya," ucap Bu Ani yang juga kaget melihat penampilan anak gadisnya ketika hendak menemui calon suaminya. Alea duduk di sofa bersama ketiga lelaki itu. Ia tak peduli dengan penampilannya. Malah berharap, Gavin akan tidak menyukainya dan akhirnya memutuskan tidak jadi meneruskan pernikahan tersebut. Gavin menatap Alea dengan datar. Tak ada rasa di hatinya. Juga tak ada rasa muak melihat penampilan Alea yang lebih dari seadanya itu. Ia memang sudah berniat untuk menikah tanpa cinta. Ia hanya akan menikah untuk mendapatkan warisan. Jadi, bagaimanapun Alea tak masalah baginya. Pak Asep merasa tak enak hati melihat penampilan Alea yang duduk di hadapan Gavin. "Maafkan Alea, Nak. Ia sedang kurang enak badan," ucap Pak Asep dengan menatap Gavin dengan wajah memelas. "Tak apa-apa, Pak," jawab Gavin singkat. "Kalau begitu saya pamit dulu," ucap Gavin sembari bangkit dari duduknya. "Tidak!" teriak Alea keras.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD