"Lea lagi enggak enak badan tadi, Pak RT," jawab Alina singkat.
Orang lain memang tak akan mengerti dengan masalah keluarga yang mereka hadapi. Apalagi orang yang membenci paling hanya tertawa bahagia melihat kesulitan mereka.
Pak RT lalu ke mejanya yang terlihat dari ruang tamu. Mungkin meja kerja itu memang sengaja ditaruh di sana, agar ia terlihat bekerja atau agar mudah mengambil file.
Setelah itu, ia kembali ke ruang tamu dengan selembar kertas yang sudah ditandatangani.
"Terima kasih, Pak," ucap Alina sebelum pergi.
Perkara menikah pun jadi soal kalau untuk orang miskin seperti mereka. Padahal yang lain mengurus berkas untuk menikah katanya lancar-lancar saja.
Mereka keluar dari rumah yang terlihat minimalis itu. Membawa hati yang hancur berkeping-keping. Alina dan Bang Arka kembali menaiki motor. Selanjutnya ke rumah Pak RW dan terakhir ke KUA.
Motor melaju santai di jalanan desa itu. Alina dan Bang Arka tak bicara sepatah katapun. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Perkataan-perkataan Bu RT tadi bagai belati yang mengiris tipis-tipis hati mereka. Orang miskin seperti mereka sepertinya tak berhak untuk sakit hati.
Tiba-tiba laju motor melambat dan akhirnya berhenti.
"Kenapa, Bang?" tanya Alina pada kakak pertamanya itu.
"Mogok, Lin. Kakak benerin dulu, ya," jawab Bang Arka.
Mereka lalu turun dari motor. Bang Arka menuntun motornya ke tempat teduh. Alina mengikutinya dari belakang. Di bawah pohon rindang, Bang Arma mulai membenarkan motor tersebut.
Untung ada beberapa alat bengkel di dalam bagasi motor. Sehingga tak sulit untuk membenahi motor mogok tersebut. Bang Arka memang lulusan SMK jurusan otomotif.
Alina hanya duduk di bawah pohon tersebut. Cuaca begitu panas. Padahal belum tengah hari. Warga desa kebanyakan bekerja di ladang dari pagi sampai siang. Bahkan sampai sore jika hari panas.
Setelah setengah jam mengotak-atik motor, akhirnya motor tersebut bisa hidup kembali.
"Ayok, Lin. Ke mana lagi ini?" tanya Bang Arka dengan tangan yang penuh dengan oli.
"Ke rumah Pak RW buat minta tanda tangan," jawab Alina sambil ikut naik ke boncengan jok motor Bang Arka.
Motor melaju dengan santai. Jika terlalu cepat bisa-bisa mogok lagi. Ada yang rusak di dalam mesinnya.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di depan rumah Pak RW. Bang Arka memarkirkan motornya di halaman rumah yang penuh tanaman bunga itu.
"Kamu masuk sendiri aja ya, Lin. Abang malu tangannya penuh oli. Tar dikira enggak sopan lagi," titah Bang Arka pada adiknya.
"Ya sudah, enggak apa-apa, Bang. Semoga enggak lama," ucap Alina sambil melangkah ke dalam rumah yang terlihat luas itu.
Ada bel di samping pintu. Alina menekannya. Tak lama kemudian, Pak RW membukakan pintu dengan senyum mengembang.
"Eh, Lina. Masuk, Lin," ajak Pak RW dengan ramah.
Alina masuk menuju ruang tamu yang terlihat kuno itu. Meskipun begitu bernilai estetik tinggi. Sepertinya dekorasi itu memang disengaja.
"Ada apa? Arka kok, enggak masuk?" tanya Pak RW ramah.
"Saya mau minta tanda tangan, Pak. Di kertas ini," jawab Alina sambil menyodorkan map biru yang dibawanya dari rumah.
Di dalamnya sudah ada berkas dari Pak RT. Pak RW menerimanya dan membacanya dulu sekilas untuk tahu maksudnya.
"Memangnya Alea mau menikah?" tanya Pak RW memastikan.
"Iya, Pak," jawab Alina pelan. Takut mendapat nyinyiran lagi seperti di rumah Pak RT.
"Oh, sama orang mana?" tanya Pak RW lagi sambil menandatangani kertas tersebut.
"Sama orang Bandung, Pak," jawab Alina lagi.
"Ini, sudah, semoga lancar sampai hari H ya," pungkas Pak RW dengan senyum yang tak pudar. Wajahnya juga terlihat begitu teduh.
"Ammiiinnn, terima kasih, Pak. Kalau begitu saya pamit dulu," pamit Alina sambil berlalu dari rumah Pak RW.
Ia bersyukur tak mendapat nyinyiran atau hinaan di rumah itu. Ternyata masih ada orang kaya yang baik.
"Yuk, Bang," ajak Alina yabg sudah berada di samping Bang Arka.
"Ayo, ke mana lagi?" tanya Bang Arka yang siap mengantar.
Hari sudah mulai siang. Tujuan terakhir adalah ke KUA untuk urus berkas.
Sementara itu, Bu Ani baru saja pulang dari ladang pukul satu siang. Dahaga membuat kerongkongannya merindukan air.
Ia langsung ke dapur dan mengambil segelas air. Lalu membersihkan diri dan berganti baju.
"Pak, Alina ke mana? Kok, baju numpuk di sofa biasanya langsung diberesin sama Alina kalau aku enggak ada," tanya Bu Ani pada suaminya yang berada di kamar.
"Tadi Bapak suruh Alina dan Arka untuk ngurus berkas pernikahan Alea. Besok Gavin juga akan ke sini antar berkas pernikahan," jawab Pak Asep yang hanya terbaring lemas di kamar.
Sesak di dadanya masih sedikit terasa.
"Oh, ya sudah," ucap Bu Ani yang kemudian ke dapur untuk makan siang.
Ia juga membawakan makan siang untuk suaminya. Ia tak mau mengandalkan Alea yang memang keras kepala. Apalagi setelah dipaksa menikah. Pasti ia akan semakin menjadi dan menolak.
"Pak, makan dulu," ucap Bu Ani yang mengantarkan makanan ke kamar suaminya.
Ia lalu kembali ke dapur untuk memakan makanannya. Selesai makan, Bu Ani membereskan baju yang masih sedikit menumpuk di sofa.
Sepertinya sebagian sudah dibereskan Alina. Tinggal sebagian lagi di sana. Bu Ani melipat baju dengan telaten, setelah itu menyimpannya ke dalam lemari.
Ia teringat Alea yang belum makan sejak pagi. Ia lalu memasuki kamar anaknya itu.
"Lea, kamu mau makan?" tanya Bu Ani sambil membelai pucuk kepala anaknya.
Ia sudah lebih tegar menerima semua itu. Hanya saja sepertinya Alea masih berat untuk menerimanya.
"Apa urusannya?" tanya Alea ketus.
"Nanti kamu sakit, Lea," jawab Bu Ani yang masih mengusap rambut putrinya dengan kasih sayang.
Tiga anak yang lahir dari rahimnya tak pernah ia beda-bedakan. Namun, mereka memang tumbuh menjadi tiga pribadi yang berbeda. Apalagi Alea yang memang terlihat sangat berbeda dari kakak dan adiknya.
"Enggak apa-apa sakit, yang penting nikah sama orang kaya biar semua hutang Bapak sama Ibu terbayarkan," ucap Alea pelan namun tajam.
Bu Ani menarik napas panjang. Ucapan anaknya itu bagai belati yang menghujam ke hatinya. Perih seketika dirasakannya.
"Kamu jangan bilang begitu. Bapak sama Ibu begitu juga karena sayang sama kamu. Kami ingin yang terbaik untuk kamu," tutur Bu Ani bagai alunan merdu di telinga yang mendengarnya.
Sayang, untuk saat itu kelembutan Bu Ani tak bisa meluluhkan Alea yang sedang tersulut emosi.
Alea kembali meneteskan air mata. Dalam hati ia ingin sekali berteriak 'Kebaikan apa yang kalian maksud? Memaksa menikah dengan orang yang bahkan tak aku kenal sebelumnya.'
"Ibu ambilkan makannya ke sini?" tawar Bu Ani pada anaknya yang sedang marah tersebut.
"Aku enggak lapar, Bu," jawab Alea cepat sambil mengusap air matanya.
Semua cita-citanya seolah dipaksa berhenti. Membuatnya drop dan tak mau hidup.
"Kamu harus makan, Sayang," bujuk Bu Ani yang sudah menahan air matanya agar tak jatuh.