"Ini pesanannya, Kak," ucap Alea ramah sambil menyodorkan plastik berisi minuman kekinian yang digandrungi remaja.
Ia tak pernah malu dengan pekerjaan paruh waktu sebagai penjaga kedai minuman di dekat kampusnya. Padahal, ia adalah mahasiswi berprestasi yang sangat cantik. Tak sedikit mahasiswa yang berusaha mendekatinya. Tapi, ditolaknya mentah-mentah, menurutnya cita-cita lebih penting dari apapun.
Alea Syauqiya sejatinya adalah seorang gadis desa yang berhasil lolos masuk universitas ternama di Bandung, yaitu Universitas Pendidikan Indonesia atau biasa disingkat UPI.
Ia hanya meminta biaya awal masuk kuliah dan administrasi semesteran saja. Sementara untuk sehari-hari dan biaya indekos, semua ditanggungnya sendiri dari hasil keringatnya.
Pukul sepuluh malam, ia baru bisa pulang ke kamar indekosnya. Kamar berukuran dua kali tiga meter itu diisi oleh dua orang, yaitu dirinya dan Fia —temannya.
"Baru pulang, Lea?" tanya Fia basa-basi, sebenarnya ia kasihan melihat temannya yang satu ini.
Mati-matian kuliah dan bekerja untuk meraih cita-cita dan tentunya memperbaiki ekonomi keluarga.
"Beginilah, Fi. Capek banget ini." Alea menghempaskan tubuhnya di kasur lantai yang sudah disiapkan Fia untuk tidur mereka berdua.
"Ya, lagian nyari uang sampai segitunya. Kayak nyari emas berlian aja, ih," Fia berkata dengan nada bercanda.
Alea tertawa mendengarnya karena memang itu kenyataannya. Waktu tidurnya bahkan tidak sampai lima jam sehari. Karena dibagi untuk kuliah, bekerja, dan belajar.
"Semoga aja aku dapet jodoh yang kaya, mapan, dan bisa mengubah hidupku." Alea berkata dan diiringi dengan tawa.
"Mengkhayal aja! Tuh, tugas kampus setumpuk." Fia menunjuk tumpukan buku yang sudah disusun Alea untuk mengerjakan tugas malam ini.
"Ucapan itu adalah doa, Fi. Ah, iya ya!" Alea bangkit dan segera membuka lembar demi lembar buku-buku tebal yang telah ia susun di atas lemari plastiknya.
Mereka kemudian sibuk dengan tugas
masing-masing. Berhadapan dengan laptop yang menjadi sarana penting bagi mahasiswi masa kini.
"Aduh!" pekik Alea sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
"Kenapa, Lea?!" tanya Fia panik.
"Biasa lagi eror ini laptop, nyetrum," jawab Alea dengan santai.
"Dibilangin beli keyboard tambahan itu, loh. Di market place aku lihat cuma enam puluh ribuan, kok!" Fia berkata dengan sedikit kesal.
Laptop milik Alea memang sudah rusak, jika dinyalakan seringkali aliran listrik bocor ke badan laptop yang terbuat dari alumunium tersebut. Fia sudah berkali-kali menyuruh temannya itu untuk membeli keyboard tambahan, tapi nihil tak digubris sama sekali.
"Sayang, Fi, duitnya. Lagipula hutang ke kamu aja aku belum bayar," ujar Alea seperti biasanya.
Ia malu memiliki hutang indekos pada Fia. Tapi, juga beruntung karena temannya yang satu ini tak pernah perhitungan.
"Hutang enggak perlu dipikirin kali, Lea." Fia berkata sambil kembali fokus pada layar laptopnya.
Alea hanya tersenyum mendengar ucapan temannya tersebut. Kemudian, kembali mengerjakan tugas-tugasnya yang begitu banyak. Maklum mereka baru memasuki semester dua kuliah, masa-masanya banyak tugas.
"Lea, aku tidur duluan, ya, ngantuk banget." Fia telah berbaring di kasur lantainya. Tugasnya telah selesai karena dikerjakan sejak tadi.
"Iya." Alea menjawab singkat, matanya masih fokus menatap layar laptop dengan jari lentik yang menari-nari di papan keyboard.
Berkali-kali ia menguap, menahan kantuk yang datang menyergap. Tapi, sekuat tenaga ia tahan untuk menyelesaikan kewajibannya sebagai mahasiswa.
Jam di dinding telah menunjukan tengah malam lewat, suasana indekosnya pun sudah sangat hening. Tinggal dirinya yang masih berkutat dengan kesibukannya.
"Sedikit lagi ...," gumam Alea pada pukul dua malam.
Setelah selesai, ia segera membaringkan tubuh lelahnya di kasur tipis itu. Tak butuh waktu lama matanya terpejam dan ia langsung terlelap karena saking lelahnya.
Pagi buta matahari masih malu-malu menampakan sinarnya. Fia telah terbangun dan bersiap untuk ke kampus. Pun dengan Alea yang juga ada kelas pagi. Kelas yang membuatnya mesti ekstra berusaha membuka mata agar tak ketiduran di kelas.
Mereka berangkat bersama, namun menuju gedung fakultas yang berbeda. Karena berbeda jurusan.
Alea sampai di dalam ruangan kelasnya. Sudah ada beberapa mahasiswa di sana. Ia memilih duduk di bangku paling belakang, takut mengantuk dan tertidur di kelas.
Pukul tiga sore, Alea telah berada di kedai minuman yang biasa dijaganya. Seperti biasa, berdagang di area luar kampus seperti ini begitu ramai pembeli. Ia telah terbiasa dan begitu cekatan melayani pembeli.
"Semoga hari ini Pak Rafael datang," gumam Alea saat sepi.
Pak Rafael adalah pemilik kedai, ia hanya datang sesekali untuk mengecek. Karena memiliki beberapa usaha yang mesti dipantaunya juga.
Pukul tujuh malam, Pak Rafael datang. Kedai sedang penuh dengan yang menikmati minuman dan menunggu pesanan.
"Ramai, ya, Lea," ucap Pak Rafael dengan senyum mengembang.
"Iya, Pak," jawab Alea sambil mengaduk minuman yang dibuatnya dengan pengocok elektrik.
"Pak, weekend ini boleh saya izin? Mau pulang ke Garut." Alea meminta izin pada bos-nya tersebut.
"Boleh, biar besok saya yang datang ke sini," jawab Pak Rafael, ia tak keberatan.
Alea dan pegawai lainnya memang punya waktu cuti yang bisa diambil sebulan dua kali.
Pukul sepuluh malam seperti biasa Alea pulang ke indekosnya. Fia sudah anteng di depan laptopnya.
"Fi, besok mau pulang enggak?" tanya Alea yang baru saja menutup pintu kamar mereka.
"Kamu emang mau?" Fia balik bertanya.
"Pinginnya, sudah lama sekali aku enggak pulang, perasaanku enggak enak. Takut Bapak sakit lagi," jawab Alea sambil duduk bersandar pada lemarinya.
"Kalau gitu bareng aja. Bapakmu itu kok, enggak pernah ngasih tahu kalau sakit?" ucap Fia.
"Entahlah, Fi. Takut aku kepikiran mungkin," jawab Alea pelan.
Mereka adalah teman sejak SMA, ketika akan kelulusan semua murid yang hendak melanjutkan ke perguruan tinggi diberi lembar formulir. Alea pun menerimanya dan mengisi alakadarnya, dengan memilih penghasilan terendah orang tua yang ada di formulir tersebut. Sebenarnya ia tak terlalu berharap, tapi ketika tahu lolos tak mungkin kesempatan langka itu disia-siakannya.
Jadilah, ia nekad kuliah sambil bekerja di Kota Kembang Bandung.
Keesokan harinya, pagi sekali Alea dan Fia telah berjalan menuju stasiun angkot yang tak jauh dari UPI. Mereka akan naik angkutan kota menuju Stasiun Cicaheum. Kemudian, menaiki mini bus untuk sampai ke Garut.
"Yuk, Caheum, Caheum, Neng!" teriak Kenek angkot yang bertugas mencari penumpang.
Alea dan Fia segera memasuki angkot tujuan Cicaheum tersebut.
"Sip, penuh, Bos!" teriak Kenek pada supir angkot yang sudah duduk manis di belakang kemudi.
Angkot pun melaju cepat membelah jalanan yang masih lengang. Pada saat weekend seperti itu memang biasanya banyak yang pulang ke kampung halaman. Hingga angkot mudah penuh.
"Bang, kiri!" Seorang gadis berucap untuk menghentikan angkot.
Angkot berhenti tepat di sebuah Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Rumah sakit terbesar di Jawa Barat.
Angkot kembali melaju ke tujuan utama. Butuh waktu sekitar setengah jam untuk sampai.
"Cikajang, Garut. Cikajang Garut!" teriak Kenek mini bus yang sedang mencari penumpang.