Alea dan Fia segera memasuki mini bus jurusan Cikajang, Garut itu. Alea memang orang Cikajang ia akan turun di pemberhentian terakhir, sementara Fia orang Cisurupan, selisih beberapa desa sebelum tujuan akhir.
Setelah dirasa penuh mini bus itu melaju. Perjalanan dimulai pukul tujuh pagi berarti perkiraan sampai tujuan sekitar pukul dua belas siang nanti.
Hiruk pikuk perkotaan masih begitu ramai meski disaat weekend. Pasar-pasar kaget juga bertebaran di mana-mana. Orang-orang yang biasanya sibuk dengan rutinitas rumah, bekerja dan sekolah kini menikmati libur dengan rekreasi. Ada juga yang sekedar menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di pasar kaget sambil cuci mata melihat aneka jualan yang ada.
Perjalanan berlanjut melewati pegunungan yang dipinggirnya jurang. Untuk yang pertama kali menyetir rute ini cukup menegangkan. Tapi, bagi supir yang memang setiap hari melewatinya ia sudah biasa.
Mini bus mulai memasuki perkampungan. Seperti pada umumnya ada pasar dan beberapa toko berjejer di pinggir jalan. Akan tetapi, tak ada mall besar seperti di kota.
“Lea, mampir dulu yuk, ke rumahku.” Fia mengajak mampir ketika sampai di kampungnya.
“Lain kali, Fi,” jawab Alea yang masih harus berada dalam mini bus sampai perhentian terakhir.
Tempat Alea tinggal bisa dibilang lebih kampung dari tempat tinggal Fia. Masih banyak perkebunan sayuran milik warga dan juga kebun teh milik pabrik. Seringkali kampung ini didatangi wisatawan untuk mengunjungi kebun teh yang terlihat indah untuk berfoto ria.
Sampai di Stasiun Cikajang yang berada di tengah pasar tradisional, Alea turun dari mini bus. Kemudian, naik angkutan pedesaan (Angped) untuk sampai di rumahnya.
Tak lama, hanya butuh waktu sepuluh menit dengan menaiki angped. Melewati rumah-rumah warga dan juga perkebunan yang terhampar luas. Setelah itu ia turun di depan sebuah rumah sederhana tepat di pinggir jalan besar. Bagian pinggir rumah itu dijadikan bengkel motor oleh kakaknya.
“Assalamualaikum,” ucap Alea saat memasuki halaman rumahnya yang cukup luas.
Halaman di desa umumnya bukan ditanami bunga, melainkan daun bawang atau bumbu dapur lainnya untuk memasak.
“Waalaikumsalam,” ucap Bu Ani —ibunya— sambil menyongsong kedatangan anaknya.
“Ibu ....” Alea menghambur memeluk ibunya.
Bu Ani membalas pelukan anaknya dengan hangat. Rindu, itu yang mereka rasakan.
“Bapak mana, Bu?” tanya Alea penasaran biasanya bapaknya juga ikut menyambut kedatangannya.
“Ada di kamar, sudah beberapa hari ini sakit,” jawab Bu Ani.
Alea segera menuju kamar yang dimaksud. Bapaknya sedang duduk di kasur sambil bersandar pada dinding. Tubuhnya terlihat begitu kurus dan ringkih. Sudah seminggu ini ia tak dapat beraktivitas seperti biasanya karena penyakit asma yang dideritanya kambuh.
“Alea,” ucap Pak Asep pelan.
“Iya, Pak. Bapak banyak pikiran, ya? Makanya asmanya kambuh lagi,” tanya Alea sambil duduk dan menyalami bapaknya itu.
“Eh, Lea!” ucap Bang Arka, kakak Lea yang baru keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju kamarnya. Melewati kamar orang tuanya.
“Iya, Bang.” Alea bangkit dan menyalami kakaknya itu.
Abang adalah sebutan untuk kakaknya itu, kebanyakan orang di sana menyebut kakak laki-laki dengan sebutan ‘aa’. Berbeda dengan Alea yang waktu kecil kekeh ingin menyebut ‘Abang’. Karena melihat televisi. Akhirnya, terbawa hingga sekarang.
Setelah bersalaman Bang Arka masuk ke dalam kamarnya untuk memakai baju. Tadi ia hanya melilitkan handuk di pinggangnya.
“Makan dulu, Nak,” titah Bu Ani pada anak tengahnya itu.
“Iya, bentar lagi, Ma. Masih bau bensin ini,” Alea menimpali dengan bercanda karena dirinya baru turun dari mobil.
Ia memasuki kamarnya sewaktu gadis, kini ditempati Alina. Adiknya yang masih SMA. Menyimpan tas dan duduk memandangi setiap sudut kamar itu. Tak ada yang berubah, hanya saja terlihat lebih rapi dari pada saat ditempati olehnya.
Tempat tidurnya cukup untuk dua orang, meski tidak besar seperti ukuran king size. Rumah itu masih semi permanen. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu dan lantai papan. Tapi, terlihat rapi dan nyaman.
“Besok dia ke sini.”
“Terserah, Bapak, saja dan semoga Alea mau,”
Alea mendengar percakapan orang tuanya dengan suara lirih. Namanya juga disebut-sebut, membuatnya bertanya-tanya soal maksud percakapan tadi.
“Kak, kapan sampai?” tanya Alina, adil Alea yang baru saja pulang sekolah. Ia menyalami tangan kakaknya.
Alina bersekolah di sekolah swasta berbasis pendidikan agama Islam. Jadi ia libur pada hari Jumat.
Kakak adalah panggilan hormat Alina pada kakaknya meski mereka hanya selisih dua tahun. Kehamilan yang katanya tak direncanakan.
“Tadi, Lin,” jawab Alea, ia hendak bertanya soal tadi pada adiknya tapi ragu.
Alina duduk di kasur yang ditempati kakaknya.
“Bagaimana sekolahmu, Lin?” tanya Alea yang juga duduk.
“Begitulah, Kak. Kuliah Kakak gimana?” Alina balik bertanya.
“Melelahkan, semoga Kakak dapet jodoh kaya, tampan dan bisa merubah ekonomi keluarga,” jawab Alea sambil bercanda untuk mencairkan suasana.
Alina terkekeh kemudian berkata, “Mungkin Kakak akan segera mendapatkannya.”
“Enggak mungkinlah ... siapa juga yang mau sama mahasiswi susah kayak aku ini,” ucap Alea diiringi tawa.
“Mungkin aja, Kak. Ucapan, kan, sebagian dari doa.” Alina bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar mandi.
“Ada apa, ya, ucapan-ucapan mereka, kok, aneh banget,” gumam Alea lirih.
Menjelang sore Alea keluar rumah dan duduk di kursi yang ada di bengkel kakaknya.
“Bang, enggak ada niat kerja yang lain gitu?” tanya Alea melihat kakaknya yang telah kotor dipenuhi oli.
“Enggak, ini hobi Abang,” jawab Bang Arka sambil terus mengotak-atik motor yang sedang diperbaikinya.
Bang Arka hanyalah lulusan SMK. Ia tak berniat melanjutkan pendidikan. Apalagi melihat kedua adiknya yang masih butuh biaya untuk sekolah. Tapi, orang tuanya sebenarnya tak setuju dengan pekerjaannya. Mereka berpikir hanya membuang-buang waktu.
Orang tuanya ingin dia bekerja yang lain, seperti pegawai atau ikut kerja di kebun orang. Agar hasilnya pasti dengan gaji. Tidak seperti bengkel yang sering sepi kadang ramai.
Alea terdiam, kakaknya itu memang tak terlalu asik untuk diajak ngobrol. Sesekali melihat ke jalanan yang mulai sepi karena sudah sangat sore. Jika di kota waktu sore masih ramai berbeda dengan di kampung.
Pagi buta Bu Ani sudah berkutat di dapur dibantu Alina. Sementara Alea baru saja bangun tidur saat azan subuh berkumandang.
“Loh, Bu masak besar ini?” tanya Alea bingung melihat aneka bahan masakan yang siap dimasak.
“Iya, kamu cepet ke kamar mandi terus bantu Ibu,” titah Bu Ani sambil mengaduk-aduk daging ayam yang sedang diungkep.
“Iya, Bu.” Alea memasuki kamar mandi. Setelah selesai solat, ia membantu ibunya di dapur. Pukul tujuh pagi semua masakan telah siap.
“Alea, cepat mandi! Terus dandan yang cantik,” titah Bu Ani pada anaknya itu.
Alea heran, sikap ibunya tak seperti biasanya.
“Memangnya ada apa, Bu?” tanya Alea bingung.
“Nurut aja. Nanti juga kamu tahu,” jawab Bu Ani sambil melenggang pergi ke ruang tamu.
Alea menurut tapi ia masih penasaran ada apa dengan ibunya. Sepertinya akan ada tamu agung ke rumahnya.