Tamu Agung

1000 Words
Selesai dari kamar mandi, Alea memasuki kamarnya dan memakai baju ganti. Hanya sebatas kaos longgar dan celana kulot. Kemudian, menyisir rambut dan berdandan tipis. "Alea ... ya ampun! Dandan yang cantik, bukannya pakai pakaian seadanya seperti itu." Bu Ani kaget melihat dandanan anaknya yang sangat sederhana. "Maksud Ibu?" tanya Alea yang kebingungan. "Sebentar, Ibu lupa kasih kamu bajunya." Bu Ani melenggang ke kamarnya dan mengambil salah satu baju yang ada di lemarinya. Baju tersebut masih baru, dibelinya seminggu lalu. Berupa gaun berwarna merah muda, dengan tangan yang hanya sebelah. Bu Ani tersenyum tipis dan membawa gaun itu ke kamar anaknya. "Pakai ini, Nak." Bu Ani memberikan gaun itu ke tangan Alea. Netra hitam itu melotot, tapi ia tetap menerima gaun yang diberikan ibunya. Seumur hidup baru kali ini ia harus memakai gaun. Padahal memakai rok saja ia anti. Bahkan jika Hari Kartini, ia sering kabur atau berpura-pura sakit agar tak didandani dengan pakaian kebaya. "Ini, Ibu, enggak salah?" tanya Alea sambil membolak-balik baju di tangannya. "Enggak, cepat pakai!" titah Bu Ani tegas. "Iya, tapi Ibu keluar dulu, dong." Alea menutup pintu setelah ibunya keluar. Ia kemudian berganti baju dengan gaun yang ada di tangannya. Ukurannya pas, namun terasa tak nyaman karena ia memang tak biasa memakai baju seperti itu. Alea memperhatikan dirinya di dalam cermin. Mulai dari wajahnya yang manis, alis tebal, hidung mancung dan bibir tipis. Benar-benar mirip ayahnya, hanya saja kulitnya putih menurun dari ibunya. Leher jenjangnya nampak terlihat jelas ketika memakai gaun itu. Karena bagian tangannya hanya sebelah seperti pita besar yang dihubungkan dari depan ke belakang. Ia menatap kakinya yang mulus, meski memakai celana pendek rasanya begitu tak nyaman. Padahal rok gaun itu tepat menutupi lutut. Jadi tak begitu terbuka apalagi seksi. "Rasanya enggak nyaman benget!" gerutu Alea setelah mengamati penampilannya. Ia hendak keluar kamar, namun terdengar suara mobil berhenti di depan rumahnya. "Mobil siapa itu?" gumam Alea pelan sambil mengintip di celah pintu yang sedikit terbuka. "Kak." Alina mendorong pintu dengan keras. Otomatis Alea terjungkal ke lantai. "Aduh ...," rintih Alea yang kesakitan sambil memegangi pinggangnya. "Ya ampun, Kak. Lagi apa duduk di situ?!" tanya Alina dengan ekspresi kaget padahal ia juga tahu kalau kakaknya jatuh karena mengintip dan pintu didorong olehnya. "Tanya lagi. Bantuin!" Alea mengulurkan tangannya. Rambut sebahunya nampak sedikit acak-acakan. Melihat penampilan kakaknya yang masih berantakan, Alina segera mengambil sisir dan jepit rambut. "Ini ada apa, sih, Dek? Kok, rasanya pada heboh banget," tanya Alea yang tak mengetahui apa-apa soal tamu agung yang akan datang ke rumahnya. Adiknya hanya terdiam sambil fokus menyisir rambut kakaknya. Kemudian, menempelkan jepit rambut agar bagian poni terlihat rapi. Alina mengernyit menatap pantulan kakaknya di cermin. Iya baru sadar kalau kakaknya ini kuliah jurusan sastra dan tak bisa berdandan. Wajah cantik dan mulusnya hanya menggunakan pelembab murah, lip balm dan bedak tabur bayi. "Astaga!" Alina segera mengambil alat tempurnya yang ada di pouch kosmetik miliknya. "Lina, apa-apaan ini?!" Alea protes karena memang tak pernah bermake-up seperti adiknya. "Diam, atau ... Ibu marah." Alina masih terus mendandani kakaknya itu. Tak lama kemudian, make-up natural ala-ala Alina telah jadi. Natural dan mempesona. Alina tersenyum puas melihat hasil karyanya. "Sudah siap?" tanya Bu Ani yang tiba-tiba membuka pintu. "Sudah, Bu," jawab Alina cepat. Sementara Alea hanya merenggut karena tak bisa berbuat apa-apa. Alina menggandeng tangan kakaknya untuk menuju ke ruang tamu. Ada tiga lelaki di sana, yaitu Pak Asep, Bang Arka dan satu lelaki tampan yang tak Alea kenal. Beberapa detik lelaki itu terpana melihat penampilan anak tengah Pak Asep dan Bu Ani. Cantik dan terlihat anggun. Tapi sayang ia tak tersenyum sedikitpun pada lelaki di hadapannya. Sampai Alina mencubit pinggangnya. "Aw, sakit, Lin." Alea berkata lirih karena kesakitan. "Senyum, Kak. Senyum ...," ucap Alina berbisik ke telinga kakaknya. Satu detik kemudian Alea tersenyum dengan terpaksa. Hanya sekilas. Kemudian, mereka duduk di sofa yang kosong. "Ini, putri kedua saya. Namanya Alea," ucap Pak Asep memperkenalkan anaknya. Ia berkata seperti orang kelelahan dan perlahan karena penyakit yang menyerangnya. Pemuda tampan itu hanya tersenyum dan mengangguk pelan. "Nah, Alea sebelum pergi kuliah lagi. Besok kamu menikah dengan Gavin," ujar Pak Asep pelan. Namun, bagai petir yang menyambar di telinga Alea. "Be—besok, Bapak bercanda, kan?" tanya Alea memastikan, berharap kalau pendengarannya salah atau bermasalah. "Tolonglah, Nak. Kita butuh uang dan Bapak juga tak tega melihatmu bekerja sambil kuliah," jawab Pak Asep lirih, tapi sorot netranya tajam menatap anak tengahnya. Alina dan Bang Arka hanya menunduk. Mereka sebenarnya telah mengetahui hal ini dari seminggu sebelumnya. "Pak, aku senang menjalani hidupku. Kuliah sambil kerja itu biasa untuk mahasiswa. Kenapa tiba-tiba Bapak menikahkan aku?" tutur Alea dengan menahan emosinya kuat-kuat. Dadanya naik turun dan matanya mulai berkaca-kaca. "Menurut saja, Nak," jawab Pak Asep tajam bagai pisau yang menghunus tepat ke jantung Alea. Manik hitam itu beralih menatap pemuda di hadapannya yang sedari tadi diam. "Anda siapa?! Mengapa harus saya?!" pekik Alea penuh amarah. "Perkenalkan saya Gavin. Bisa saya bicara berdua dengan anak Bapak?" tanya Gavin sopan kemudian beralih melihat Pak Asep. Bapak tua itu mengangguk, dadanya mulai tak stabil. Naik turun dengan cepat. Asmanya mulai kambuh. Sementara itu Alea ditarik Gavin untuk keluar rumah. Mereka duduk di kursi panjang yang ada di bengkel Bang Arka. Gavin terpaku sesaat menatap tanah yang ada di bawah kakinya. Alea menatap lelaki itu penuh tanya. "Bantu aku. Kita buat kesepakatan, aku tak akan menyentuhmu sampai semuanya beres. Nanti kamu bisa kembali ke keluargamu tanpa kurang suatu apapun dan tugasku selesai." tutur Gavin dingin tanpa menatap Alea. 'Apa dia normal, tumben ada lelaki yang mengabaikan kecantikanku. Menikah tanpa melakukan hubungan suami-istri, ada apa ini sebenarnya?' batin Alea. "Bagaimana? Kamu siap?" tanya Gavin yang beralih menatap Alea. Manik hitamnya begitu tajam bagai mata elang. "Tidak!" jawab Alea tegas dengan setengah berteriak. Alis Gavin bertautan, baru kali ini ia menemukan gadis keras kepala seperti itu. Ia menarik napas dalam, tak biasanya ia sabar mengahadapi lawan bicara. "Apa yang kau mau? Aku turuti asal mau ikut denganku." Tangan Gavin mengepal, menahan gejolak emosi dalam dadanya. Kesal pada wanita keras kepala di depannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD