Alea menggeleng, ia tetap pada pendirian. Menikah bukanlah pilihan. Menggapai mimpi dengan keringat sendiri menurutnya jauh lebih baik, dari pada menjadi b***k orang lain.
“Aku bilang tidak, ya tidak!” ucap Alea dengan lantang.
Gavin mengembuskan napas kasar. Melihat jam di tangannya, rasanya sia-sia berdebat dengan wanita keras kepala di hadapannya. Padahal tadinya ia pikir gadis itu anggun dan mudah diatur. Dugaannya salah besar.
“Bapak ...!” pekik Bu Ani dari dalam rumah.
Alea langsung berlari masuk ke dalam rumah. Rupanya Pak Asep sedang kambuh penyakitnya, dadanya naik turun dengan cepat dengan napas terengah-engah. Tangannya memegangi dadanya dengan kuat seakan ingin membuang rasa sakit yang menyergap.
“Kita bawa ke rumah sakit. Ayo, angkat ke mobil misaya,” titah Gavin sambil ikut mengangkat bagian kaki Pak Asep.
Bang Arka dengan sigap ikut membopong tubuh kurus Pak Asep ke dalam mobil. Setelah semua naik mobil melaju ke puskesmas yang cukup besar di kampung itu. Mereka menyebutnya rumah sakit.
Pak Asep segera ditangani oleh dokter, ia diberi oksigen. Perlahan kondisinya mulai membaik. Dokter minta agar dirinya diopname barang sehari untuk memantau kondisinya.
Bu Ani dan Alina saling bertatapan. Mereka sudah tak miliki uang sedikitpun. Bang Arka juga hanya termenung di sisi ruangan sambil menunduk. Sebagai anak lelaki pertama ia merasa tak berguna.
Alea menangkap kesulitan yang dihadapi keluarganya. Hanya membisu dan menatap dengan hati yang seakan disayat sembilu.
Alina menarik tangan kakaknya ke luar ruangan.
“Kak, aku mohon menikahlah dengan Kak Gavin ....” Alina menangkupkan kedua tangannya di depan d**a, matanya berkaca-kaca.
‘Sebenarnya apa yang terjadi?’ tanya Alea dalam hati, bibirnya seakan membisu, tak ada kata yang keluar dari sana.
“Banyak hal yang terjadi yang tak Kakak ketahui,” lirih Alina mengucapkannya.
Kini, ia menatap ke arah lain. Menghindari bertemu pandang dengan kakak perempuannya itu. Ada luka menganga yang ditutupinya. Ada banyak hal yang disembunyikan dari Alea.
Gadis tomboi itu menggigit bibir bawahnya. Menahan gejolak hatinya yang ingin menangis meraung-raung. Perasaannya tak menentu antara kasihan melihat keadaan keluarganya dan tak ingin menerima pernikahan itu.
“Jika Kakak memang sayang pada Ibu dan Bapak, aku mohon terima Kak Gavin. Dia baik hanya saja ada yang mesti diurusnya.” Alina terus membujuk kakaknya perempuannya yang keras kepala.
Alea menggeleng pelan. Berharap jika ini hanya mimpi buruk yang sedang menimpanya. Ia mencubit tangannya dengan keras, berharap agar bisa bangun secepatnya.
Gavin menguping pembicaraan kakak beradik itu dari dalam ruangan. Berdiri di samping pintu yang sedikit terbuka. Sebenarnya bisa saja ia langsung membayar semua biaya pengobatan. Tapi, itu tak dilakukannya, ia ingin melihat sejauh mana gadis tomboi itu bisa bersikap egois.
“Kak ...,” panggil Alina dengan suara lirih.
Alea masih membisu. Masih mencari kemungkinan lain untuk masalah yang dihadapi keluarganya.
“Sudah tidak ada jalan lain,” ujar Alina seakan tahu apa yang dipikirkan kakaknya.
“Sertifikat rumah sudah digadai, aku pun bisa sekolah karena ada keringanan. Bapak juga sudah lama tak kuat kerja berat. Bang Arka, tahu sendiri hanya mengandalkan bengkel motor yang sepi, cukup untuk makan aja sukur,” tutur Alina mengurai semua kemungkinan yang sedang dipikirkan kakak perempuannya.
“Kenapa mesti aku? Aku yakin bisa merubah ekonomi keluarga. Kenapa enggak kamu?” tanya Alea yang masih memungkiri takdirnya.
Gavin tersenyum miring mendengar pertanyaan Alea yang masih saja menampik keadaan.
Alina menggeleng pelan, tak percaya kalau kakaknya sendiri bicara begitu. Padahal tak tahu apa yang telah dilakukannya untuk keluarga.
“Andai bisa, aku yang akan menikah dan menyelamatkan ayah dan ibu!” Alina menekan suaranya memberi penegasan pada kakaknya.
Alea melangkahkan kakinya, hendak pergi.
“Astaghfirullah, Bapak! Suster ...! Suster ...!” teriak Bu Ani pada suster yang berjaga tak jauh dari sana.
Alina dan Alea berlari masuk ke ruangan. Mereka terpaku melihat Pak Asep yang kembali drop dan ditangani beberapa suster jaga.
Alina meneteskan bulir bening dari matanya. Sementara Alea masih berpura-pura kuat menghadapi keadaan ini.
Gavin menatap dingin pemandangan di depannya. Hatinya sebenarnya telah beku sejak ibunya meninggalkan dirinya untuk selamanya.
‘Ma, andai bukan karena mempertahankan hakmu, aku tak sudi berada di sini,’ batin Gavin.
Seketika hatinya terasa nyeri. Mengingat sang ibu adalah paling menyakitkan untuknya. Membuat luka yang masih basah di hatinya kembali menganga.
Para suster telah berhasil meredakan sesak Pak Asep. Kini, ia memakai alat bantu pernapasan. Mata tua itu memandang kosong ke langit-langit. Banyak hal yang berkelebat di pikirannya. Soal masa lalu, masa kini dan keluarganya.
‘Andai aku hanya jadi beban bagi keluargaku. Ambilah nyawaku, Ya Allah,’ ucap Pak Asep dalam hati.
Alina memeluk ibunya yang duduk di sofa sembari menangis. Alea hanya menatap pemandangan itu dengan sendu, banyak pertanyaan dalam benaknya yang tak mungkin terjawab. Juga tak mungkin ia tanyakan.
“Bang.” Alea memanggil sambil menghampiri kakak lelaki satu-satunya itu.
“Tolong aku. Abang punya simpanan, kan, buat berobat Bapak?” tanya Alea tomboi itu lirih sambil berjongkok di hadapan Bang Arka yang juga berjongkok di sudut ruangan.
Bang Arka menggeleng. Ia seakan lelaki tak berdaya menghadapi masalah yang sedang dihadapi keluarganya. Matanya tampak begitu merah, mungkin ia tadi sempat menangis. Sejenak meluapkan emosi dalam dadanya.
“Motor Abang sama Bapak kemana?” Alea baru ingat dari kemarin tak melihat motor dua lelaki kesayangannya.
Bang Arka kembali menggeleng. Motor milik mereka telah raib untuk membayar sedikit cicilan hutang-hutang.
“Bu, segera bereskan administrasinya, ya. Agar Bapak bisa segera pindah ke ruangan rawat dan tak terganggu seperti ini,” ucap Suster yang membenarkan jarum infus yang menempel di tangan Pak Asep.
Alea mengepalkan tangannya kuat-kuat. Mencoba memungkiri apa yang sedang terjadi di hadapannya.
“Sus, kami bawa pulang saja suami saya,” ucap Bu Ani yang tiba-tiba berdiri.
Semua terperanjat melihat sikap Bu Ani. Sorot matanya tak terbaca, ada amarah juga kesedihan yang bercampur jadi satu.
“Tapi, Bu ....” Alina memegang lengan ibunya. Keadaan bapaknya sangat lemah dan tak memungkinkan untuk dirawat di rumah.
Pak Asep terlihat sedikit mengangguk. Menyetujui permintaan istrinya yang menginginkannya dirawat di rumah saja.
“Tak ada jalan lain, di sini pun Bapak akan dibiarkan karena kita tak punya biaya.” Bu Ani seakan tahu apa yang hendak diucapkan anak bungsunya itu.
“Bang!” Alea malah mendesak Bang Arka untuk mengambil sikap.
Alina menatap Alea dengan sorot mata terluka.
‘Betapa egois dirimu, Kak. Sampai disaat genting seperti ini kau masih memikirkan dirimu sendiri!’ Alina hanya mampu berkata dalam hati, ia tak sanggup menyuarakan kekesalannya pada kakak perempuannya itu.