“Ibu benar, kita hanya orang miskin dan aku adalah anak lelaki yang tak berguna,” ucap Bang Arka dengan suara lirih.
“Apa maksud, Abang? Lelaki itu harus pantang menyerah, semangat, harus bisa diandalkan cari uang!” pekik Alea yang kehilangan kontrol emosinya. Ia tak sadar dirinya sedang berada di Puskesmas.
“Mbak, tolong jangan teriak-teriak, banyak pasien di sini,” tegur Suster yang menghampiri mereka di ruangan Pak Asep.
Alea hanya memandang sekilas pada suster itu. Kemudian, kembali menatap kakak lelakinya yang bergeming. Ia menatap keluar jendela, banyak motor terparkir di sana. Tapi, tak ada jalan keluar bagi masalahnya.
“Kau, aku mohon bantuan. Tapi, tak sudi menikah denganmu. Aku janji akan mengembalikan uangmu!” Alea menunjuk wajah Gavin yang masih bersandar di pinggir pintu masuk.
“Aku tak butuh uang.” Gavin membuka pintu hendak keluar.
“Kak ....” Alina berlutut di kaki pria tampan yang hendak pergi ke luar ruangan.
“Aku mohon bantu bapakku. Aku mau menikah denganmu,” ucap Alina sambil memegangi kaki Gavin.
“Lina!” pekik Alea, hatinya sakit melihat adiknya harus merendah seperti itu di hadapan lelaki asing yang bahkan tak dikenal sebelumnya.
“Jika menikah denganmu, kita tetap tak akan punya surat nikah. Kau masih dibawah umur.” Gavin berkata dengan lirih, sebenarnya ia terkesan dengan sifat Alina yang begitu lembut dan penyayang.
Hanya sayang gadis itu masih di bawah umur dan tak bisa membantunya. Andai saja sifat Alea seperti Alina mungkin Gavin akan benar-benar mencintainya. Tapi, cinta telah lama mati dalam hatinya tinggal luka yang tak dapat disembuhkan.
“Lina.” Alea memegang pundak adiknya yang masih memohon pada lelaki di hadapannya.
“Tak ada cara lain, Kak. Ayah butuh pengobatan, kita butuh uang dan kakak butuh biaya kuliah,” jawab Alina dengan cepat. Suaranya pelan tetapi matanya menyorotkan amarah pada kakak perempuannya itu.
“Pasti masih ada cara lain, kan?” tanya Alea pelan.
“Cara lain apa, Kak .... Besok lusa pun rumah akan disita.” Alina benar-benar kesal pada kakaknya, tapi wajah teduhnya seakan tak pernah bisa memancarkan amarah.
“Di—disita?” Alea sungguh tak percaya dengan apa yang dikatakan adiknya. Bahkan kalau boleh ia ingin berkata bahwa ini pasti bercanda.
“Iya, Kak,” jawab Alina pendek. Sudah tak tahu lagi mesti bicara apa pada kakak perempuannya yang keras kepala.
Gavin melangkahkan kakinya setelah sedikit menghempaskan tangan Alina agar terlepas. Alea hanya menatap kepergian lelaki itu tanpa ingin mengejarnya.
Pria itu menerobos rintik hujan yang baru turun untuk menuju mobilnya.
“Kakak ... aku mohon!” Alina mengejar Gavin dan kembali berlutut di kakinya.
Di bawah rintik hujan, pemandangan yang nampak begitu memilukan. Mereka jadi sorotan berpasangan-pasang mata yang seakan mendapat tontonan gratis.
Bu Ani menangis tersedu-sedu. Banyak hal yang jadi penyebabnya dan tak dapat dijelaskan satu persatu.
Alea mengembuskan napas kasar. Ia berlari keluar dan berdiri tepat di hadapan lelaki yang nampak dingin.
“A—aku bersedia menikah denganmu,” ucap Alea, kata itu begitu berat keluar dari mulutnya. Meski akhirnya lolos juga.
Gavin tersenyum tipis, sangat tipis dan hampir tak terlihat. Alina menatap kakak perempuannya yang berdiri tepat di belakangnya.
“Asal kau tanggung semua biaya yang dibutuhkan keluargaku,” ucap Alea lagi.
“Tak perlu kau beri tahu. Aku akan melakukannya,” ucap Gavin dingin. Kemudian, mengulurkan tangannya untuk membantu Alina berdiri.
Alina menerimanya tanpa senyum. Tapi, wajahnya begitu teduh, ia menunduk malu-malu. Ah, sungguh menggemaskan.
Mereka kemudian berjalan masuk kembali ke ruangan Pak Asep. Bu Ani dan Bang Arka menatap mereka dengan tatapan tak percaya.
Gavin langsung pergi ke tempat lain guna melunasi semua biaya perawatan Pak Asep. Setelah selesai ia kembali ke ruangan tadi.
Alea dan Alina terlihat sedikit menggigil karena baju yang basah oleh air hujan tadi.
“Lin, kamu tolong pulang aja dulu ambilkan semua keperluan kita. Juga ganti bajumu, Nak,” ujar Bu Ani lembut pada anak bungsunya tanpa menatap pada Alea.
Seketika ada rasa nyeri yang menelusup ke dalam hati gadis itu. Bukankah ia yang telah berkorban dengan mau menikah dengan Gavin, tapi ibunya seakan lebih menghargai Alina dari pada dirinya.
“Iya, Bu. Aku pulang dulu.” Alina menyalami tangan ibunya kemudian melangkah keluar tanpa memedulikan hujan yang turun semakin lebat.
Gavin menyusulnya keluar dan menarik tangan mungil Alina untuk memasuki mobilnya.
“Aku antar,” ucap Gavin singkat, Alina hanya mengangguk tanpa menjawabnya.
Mobil itu menerobos hujan untuk kembali ke rumah sederhana di pinggir jalan desa. Tak ada percakapan di antara mereka. Hanya suara hujan yang mengiringi perjalanan mereka.
Sampai di depan rumah pun tak ada kata yang keluar dari mulut keduanya.
“Terima kasih, masuklah dulu biar aku ambilkan handuk untukmu,” ucap Alina saat hendak turun.
Gavin mengangguk. Mereka keluar dari mobil dan berlari memasuki rumah. Tiba-tiba Alina ,yang hanya memakai sandal lama yang sudah tipis dan licin, terjatuh.
Dengan sigap Gavin menangkap tubuh mungil Alina. Mereka bertatapan sesaat, sebelum gadis itu dilepaskannya dengan aman.
Wajah teduh dan manis milik Alina bersemu merah merona. Menahan malu yang menjalar di dirinya. Ia berjalan cepat meninggalkan Gavin yang menatapnya tajam. Memasuki kamar dan terdiam sejenak merutuk kebodohannya tadi.
“Ya ampun, kenapa bisa sampai kepleset, sih ....” Alina menepuk-nepuk kakinya sendiri. Seakan hendak menyalahkannya atas kejadian tadi.
Beberapa detik kemudian, ia mengambil handuk untuknya dan mengeringkan dirinya dan berganti baju dengan yang kering dan bersih.
Alina teringat Gavin yang masih basah. Ia mengambil handuk bersih dari lemarinya dan memasuki kamar orang tuanya. Mengambil baju kaos milik bapaknya dengan celana hitam kain bernama pangsi.
“Sepertinya hanya celana pangsi ini yang akan cukup dengan dirinya,” gumam Alina sambil mengambil celana itu.
“Pakai ini.” Alina menyodorkan handuk, kemudian menyerahkan pakaian yang dibawanya.
“Maaf, bajunya hanya baju biasa punya bapak,” ucap Alina lirih.
“Terima kasih,” ucap Gavin singkat.
“Kakak, bisa ganti di kamar atau kamar mandi,” ujar Alina yang melihat kebingungan di wajah Gavin.
Lelaki tampan itu mengangguk dan masuk ke dalam rumah untuk ke kamar mandi. Setelah berganti baju ia keluar dan tak menemukan siapapun di dalam rumah.
Rupanya Alina tengah sibuk menyiapkan keperluan untuk di rumah sakit. Termasuk makanan, ia sedang menghangatkan nasi tadi pagi di dandang.
Gavin berjalan ke ruang tamu dan duduk di sofa yang ada di sana. Alina membawa tas besar berisi pakaian keluarganya ke ruang tamu. Ia bertemu pandang dengan pria yang duduk di sana.
Tanpa sepatah kata pun Alina kembali masuk ke dalam dan menyiapkan makanan. Ia mulai dari membungkus lauk pauk yang belum sempat dimakan tadi pagi.
Kemudian mengipasi nasi panas yang baru diangkat dari kompor dan membungkusnya juga. Setelah makanan siap dibawa, ia kembali ke ruang tamu.
“Kak, bisa kita berangkat sekarang?” tanya Alina pelan.