Ia khawatir keluarganya terlalu lama menunggu dan kelaparan.
"Baik, ayo," ucap Gavin singkat.
Hujan sudah reda. Meninggalkan sisa air di mana-mana. Mulai dari pepohonan hingga jalanan. Juga aroma tanah basah yang khas.
Gavin dan Alina menaiki mobil untuk kembali ke rumah sakit. Tak ada obrolan berarti di antara mereka.
Sesampainya di rumah sakit, Alea duduk di kursi yang ada di ruang UGD tersebut. Ayahnya belum bisa dipindah ke ruang rawat inap karena admistrasi belum dilunasi.
"Nak, makasih banyak, ya," ucap Bu Ani sambil memeluk putri keduanya itu.
Bang Arka hanya menatap pemandangan itu dengan mata nanar. Ia merasa tak berguna jadi anak lelaki. Perasaannya berkecamuk di dalam d**a. Matanya memerah, tapi tak mampu meneteskan air mata di depan orang-orang terkasihnya.
Alexa hanya terdiam di pelukan ibunya. Hatinya masih terasa sakit karena harus mengorbankan dirinya untuk keluarganya. Mengorbankan cita-cita yang telah dirajutnya dari dulu.
Ia juga tak tahu bagaimana nasib kuliahnya jika ia menikah nanti. Terdengar lirih, Bu Ani menangis di pelukan anaknya. Hatinya juga perih ketika salah satu anaknya harus mengorbankan diri. Ibu mana yang tak mau melihat anaknya bahagia. Tapi, mau bagaimana lagi. Keadaan yang memaksa.
"Ibu jangan nangis. Aku enggak apa-apa," ucap Alea sambil mengusap air mata yang mengalir dari kedua netra ibunya.
Bu Ani tak dapat berkata-kata lagi. Ia bisa merasakan kesedihan Alea yang mendalam. Ia tahu anak tengahnya itu memang paling berbeda sejak kecil. Ia punya cita-cita paling tinggi di antara yang lain.
Pak Asep hanya memejamkan matanya. Antara merasakan penyakit yang menggerogoti tubuhnya dan sakit di hatinya. Sama-sama membuatnya merasa tak berhasil jadi ayah yang patut dibanggakan keluarganya.
"Maaf, Bu. Ada pasien lain hendak menempati ruangan ini. Sebaiknya Pak Asep segera selesaikan administrasi dan pindah ke ruang rawat inap," tutur seorang suster yang baru masuk ke sana.
Semua tempat tidur pasien di ruangan itu memang penuh. Tapi, kenapa mesti Pak Asep yang dipindahkan.
"Baik, Sus. Tunggu adik saya ke sini dulu sebentar lagi," ucap Alea dengan sedikit tegas pada suster tersebut.
Suster itu akhirnya mengangguk dan pamit kembali ke ruangannya.
Tak lama kemudian mobil masuk ke parkiran puskesmas. Alina dan Gavin turun dari dalamnya. Mereka lalu memasuki UGD. Gavin segera ke tempat pembayaran administrasi. Rencananya sudah akan berjalan mulus.
Beberapa perawat membawa tempat tidur beroda datang bersama Gavin. Mereka hendak memindahkan Pak Asep ke ruang rawat inap.
"Terima kasih, Nak Gavin," ucap Bu Ani ketika suaminya hendak dipindahkan ke ruangan rawat inap.
Gavin hanya mengangguk. Itu bukan hal istimewa baginya. Apalagi soal uang, ia bisa dengan mudah mendapatkannya.
Mereka mengikuti langkah para perawat yang mendorong tempat tidur Pak Asep. Mereka menuju ke sebuah kamar rawat inap nomor satu. Di ruangan itu hanya ada satu tempat tidur pasien yang cukup besar.
Bang Arka hanya duduk di pembatas teras dengan kepala menunduk. Alea lalu ikut duduk di sana.
"Bang, sebenarnya ada apa ini? Kenapa rumah sampai mau disita?" tanya Alea heran.
Sepertinya banyak yang tak ia ketahui sejak kuliah di Bandung.
"Nanti kamu bakal tahu," jawab Arka masih dengan menunduk. Ia tak ingin memperlihatkan mata merahnya yang sudah penuh air mata.
Satu kali lagi berkedip, maka jatuhlah bulir bening tersebut.
"Aku mau tahu sekarang. Supaya semuanya jelas dan pengorbananku enggak sia-sia," desak Alea pada kakaknya itu dengan suara tegas.
Baginya seorang lelaki harus bisa bertanggung jawab penuh atas keluarganya. Termasuk Arka yang harusnya menggantikan posisi ayahnya sebagai kepala keluarga.
"Kamu tahu sendiri Bapak sakit, belum biaya kuliah kamu, sama uang sekolah Alina. Semuanya dari mana kalau enggak pinjem. Tahu sendiri, bengkel Abang sepi terus," tutur Bang Arka, menjelaskan kondisi saat itu.
"Kenapa juga pakai ngandelin hutang. Jadi begini kan, semua orang susah dan kena imbasnya. Lagian kakak juga, laki-laki kok, loyo banget," timpal Alea yang kesal dengan kakaknya yang tak berdaya.
"Heh, denger, kalau enggak gitu emang mau gimana lagi. Kamu sih, enggak tahu apa-apa karena kelamaan di Bandung," gerutu Bang Arka yang kesal karena terus saja dipojokkan oleh Alea.
Alea memang begitu dalam berkata. Ia dapat dengan mudah memojokkan lawan bicara. Makanya ia sering juara jika ikut debat.
Bang Arka masuk ke dalam ruangan di mana ayahnya dirawat. Tinggallah Alea yang duduk di sana. Ia termenung sendiri memikirkan nasibnya.
Gavin keluar dari ruangan, ia duduk tak jauh dari tempat Alea duduk. Ia juga tak tega sebenarnya memaksa anak orang untuk menikah dengannya. Tapi, mau bagaimana lagi. Untuk saat itu harta warisan ibunya lebih penting.
"Aku tak punya banyak waktu untuk berada di sini. Jadi, kapan pernikahan itu berlangsung?" tanya Gavin yang harus segera pulang ke kota.
Ia tak bisa meninggalkan perusahaannya terlalu lama. Bisa-bisa ibu tirinya mengambil semuanya, bagai lintah darat yang tak punya rasa terima kasih.
"Bapakku masih sakit, enggak lihat?" jawab Alea dengan ketus dan wajah yang tak begitu peduli.
"Tentu saja lihat. Kalau begitu jika ayahmu pulang dari sini, kita langsung menikah, oke?" tanya Gavin masih dengan nada suara biasa.
Ia harus sabar menghadapi Alea yang wataknya memang keras kepala. Sangat berbeda dengan kakak dan adiknya yang lebih lembut
Alea hanya mendelik. Ia tak ingin melanjutkan obrolan tersebut. Tapi, Gavin masih ingin mengobrol dengan calon istrinya itu.
Alea lalu beranjak dari tempat itu dan masuk ke ruangan. Nampak Alina sedang memijat pundak ibunya. Sementara Bang Arka hanya duduk di sofa yang ada di ruangan itu sambil memainkan ponsel.
Alea begitu prihatin melihat keluarganya. Ia lalu duduk di samping Alina yang sedang memijit ibunya.
Andai Alina lebih besar dan bisa punya surat nikah. Pastilah yang menikah dengan Gavin adalah dirinya.
Napas Pak Asep mulai membaik. Ia hanya menatap langit-langit kamar ruang inap itu lalu kembali memejamkan mata. Ada kesedihan yang menelusup di dadanya.
"Semoga bapak kalian cepat sembuh ya. Biar enggak ngerepotin siapapun," ucap Bu Ani yang melihat Alea hanya menatap bapaknya dengan nanar.
"Aammiinn," jawab Alina yang masih memijit pundak ibunya.
Pak Asep yang hanya memejamkan mata tanpa tertidur mendengar semua itu. Hatinya begitu teriris-iris bagai disayat sembilu.
Alea hanya terdiam. Ia lupa menanyakan soal kuliahnya lada Gavin.
Ia lalu berdiri dan menuju keluar dari ruangan tersebut. Gavin masih duduk termenung di pembatas teras yang setinggi lutut orang dewasa.
"Jika aku menikah denganmu, lalu bagaimana dengan kuliahku?" tanya Alea pada lelaki yang duduk sembari menunduk itu.
"Kamu akan bisa tetap kuliah, tinggal pulang pergi dari rumahku," jawab Gavin dengan entengnya.
Ia sepertinya sudah tahu di mana Alea kuliah. Mungkin memakan waktu yang tak lama untuk sampai ke kampus. Sehingga bisa tetap kuliah sambil menjadi istri.
"Baik kalau begitu." Alea berkata bahagia sambil melenggang masuk ke ruangan rawat itu.