Dua hari kemudian, Pak Asep sudah diizinkan pulang oleh Dokter. Keadaan fisiknya sudah jauh membaik. Tingg hatinya yang masih terluka. Wajahnya terlihat murung.
"Biar saya antar," ucap Gavin yang baru datang tadi pagi ke tempat itu.
Kemarin ia sempat pulang dulu ke kota. Ada pekerjaan yang harus ia tangani sendiri.
"Enggak usah, kami bisa kok, naik angped," tolak Alea dengan sedikit ketus.
Sementara ibu dan adiknya tengah membereskan semua barang yang akan dibawa pulang. Juga kamar tersebut.
Gavin menatap heran pada gadis keras kepala di hadapannya itu. Sepertinya ia tak memiliki empati sedikitpun pada orang lain, termasuk keluarganya sendiri.
"Kamu lihat, ayahmu baru pulih dan belum sembuh total. Ibu dan adikmu juga membawa banyak barang. Masih saja menolak bantuan," tutur Gavin dengan suara pelan, tapi penuh penekanan.
Alea menatap sekeliling. Benar yang dikatakan pria tampan di hadapannya. Lagipula Bang Arka juga tak ada pagi itu. Biasanya ia bagian jaga malam. Alasannya pagi akan membuka bengkel untuk mencari rezeki.
Ia mendengkus karena kesal.
"Kak, kami terima tawaran Kakak. Kasihan Bapak dan Ibu jika harus berdesakan naik angped," ucap Alina lembut sembari menatap Gavin dengan mata teduhnya.
Gavin hanya mengangguk tanda mengiyakan. Dalam hati, ia begitu heran dengan perbedaan sifat antara kakak beradik itu. Mereka bagai langit dan bumi.
Alea hanya terdiam. Ia juga baru ingat kalau uangnya sudah habis. Jika untuk menaiki angped, alamat ia tak akan bisa membayar.
Setelah selesai membereskan kamar. Alina dan Alea membawa barang-barang. Sementara Bu Ani memapah suaminya yang masih terlihat lemas.
Mereka lalu berjalan menuju mobil Gavin yang terparkir di parkiran puskesmas itu. Puskesmas yang cukup besar dan sering disebut rumah sakit oleh warga sekitarnya.
Gavin membuka pintu dan bagasi mobil. Mempersilakan untuk barang-barang ditaruh di bagasi dan orang-orangnya masuk ke dalam mobil.
Setelah semua masuk, Gavin juga masuk dan duduk di belakang setir kemudi. Ia kemudian melakukan mobil menuju ke rumah Pak Asep. Berada cukup jauh dari rumah sakit tersebut.
Sesampainya di rumah yang ada di pinggir jalan milik Pak Asep, Gavin memarkirkan mobilnya.
Bang Arka bangkit dari duduknya. Tangannya penuh dengan oli karena sedang membenarkan motor yang rusak.
"Bapak sudah pulang?" tanya Bang Aria dengan sumringah.
"Sudah," jawab Pak Asep dengan suara lirih.
Bang Arka lalu membantunya untuk masuk ke dalam rumah. Bu Ani dan kedua anak gadisnya pun ikut turun dan masuk ke dalam rumah.
"Ayo, Nak Gavin, masuk dulu," ajak Bu Ani pada pemuda dengan pakaian rapi dan formal tersebut.
Gavin mengangguk dan ikut masuk ke dalam rumah. Itu adalah kali ketiga ia memasuki rumah tersebut.
Pak Asep rupanya duduk si sofa. Sofa yang ada di ruang tamu sekaligus ruang tengah. Bagian dalam rumah itu memang memanjang. Jadi, tak disekat antara ruang tamu dan ruang tengah. Seperti rumah panggung pada umumnya.
"Terima kasih banyak, Nak," ucap Pak Asep dengan suara lirih pada Gavin.
"Tidak masalah, Pak. Hanya saja saya ingin memastikan sesuatu. Berhubung kondisi Bapak juga sudah jauh lebih sehat," tutur Gavin menyampaikan maksudnya.
"Apa itu?" tanya Pak Asep yang sebenarnya sudah bisa menebak apa yang dimaksud Gavin.
"Soal pernikahan saya dengan putri Bapak. Saya minta secepatnya, kalau bisa hari ini juga," jawab Gavin dengan sedikit penekanan.
"Jangan hari ini, Nak. Anak kita ini gadis, setidaknya mengundang keluarga untuk menghadiri," tutur Pak Asep lirih, kemudian ia terbatuk-batuk.
Penyakit paru-paru yang dideritanya sudah cukup lama, membuatnya sering mengalami batuk. Tubuhnya juga kurus. Menurun drastis dari sebelum penyakit itu menggerogoti.
"Baik, saya beri waktu seminggu," ucap Gavin akhirnya.
Sebenarnya ia tak punya banyak waktu untuk mengurus itu semua. Ia hanya butuh status suami-istri untuk mendapatkan warisan.
"Tolong, nanti Nak Gavin datang dengan keluarga," ucap Pak Asep lagi.
Tentu sebagai formalitas. Mereka takut jika terlalu diam-diam maka Alea akan dituduh hamil duluan. Apalagi selama ini warga juga tahu kalau Alea kuliah dan kerja di kota.
"Baik," jawab Gavin singkat.
Di dapur, Alina sedang sibuk memasak. Sedangkan Alea sibuk main ponsel di kamarnya sembari mengecek tugas kuliah.
"Kalau begitu, saya pamit dulu. Nanti saya kembali seminggu lagi," ucap Gavin. Ia lalu menyimpan amplop cokelat di meja.
Gavin melenggang pergi dengan santainya. Ia menganggap semua itu hanya main-main. Padahal keluarga Alea tak berpikir demikian. Namanya pernikahan itu sakral dan merupakan ikatan suci. Mereka bahkan melambungkan doa kebaikan untuk pernikahan anaknya nanti.
Bu Ani mengambil amplop berwarna cokelat itu. Ia membukanya dan terbelalak ketika tahu isinya adalah uang. Ada sekitar lima gepok uang yang bertuliskan sepuluh juta.
"Uang, Pak," ucap Bu Ani sambil memperlihatkan isi amplop itu.
"Ya sudah, kamu simpan dulu untuk biaya pernikahan," ujar Pak Asep pada istrinya.
Di dalam kamar, Alea mengintip kedua orang tuanya yang menerima uang begitu banyak. Hatinya begitu sakit sekali. Ia merasa dijual oleh orang tuanya sendiri.
Sedih sekali rasanya. Tak terasa bulir bening menetes dari kedua matanya. Alea menangis dalam diam. Kesedihannya tak terkira. Pernikahan yang akan terjadi bukan yang ia harapkan.
Ia tak menyangka kalau akhir hidupnya akan seperti itu. Menikah dengan orang yang tak ia cintai dengan waktu yang akan sangat cepat.
Bu Ani lalu membawa uang itu ke kamar. Sementara Pak Asep masih ingin berdiam diri di sofa. Setelah beberapa hari selalu tertidur di rumah sakit punggungnya terasa pegal.
"Ibu, Bapak, makan dulu yuk. Tadi kan, belum sempat sarapan di rumah sakit. Alina sudah masak ini," ajak Alina yang sudah selesai masak di dapur.
Ia lalu menuju kamar Alea untuk mengajaknya makan.
"Kak, makan dulu, yuk. Aku sudah masak, nih," ucap Alina sambil membuka pintu kamar kakaknya yang juga kamarnya.
"Enggak, ah, Kakak malas," jawab Alea yang sedang tiduran di tempat tidur dengan menghadap ke tembok.
Ia baru selesai menangis dan meratapi nasibnya.
"Nanti Kakak sakit, kalau enggak mau makan," ucap Alina sambil mengusap lengan kakaknya. Ia duduk di tempat tidur sambil melihat kakaknya yang hanya memunggunginya.
"Sudahlah, kamu makan aja sana. Urus Bapak sama Ibu, Kakak enggak apa-apa, kok," usir Alea dengan sedikit kasar.
Ia merasa masih adiknya jauh lebih baik darinya. Selain berwajah manis, Alina yang masih muda masih punya kesempatan untuk melanjutkan cita-citanya. Berbeda dengan dirinya yang seakan dipaksa berhenti di tengah jalan.
"Kalau begitu, nanti biar Alina bawakan makanannya ke sini, ya," ucap Alina dengan penuh pengertian. Ia memang gadis yang peka dengan emosi orang lain.
'Andai bisa digantikan, aku rela mengantikan posisimu, Kak,' gumam Alina dalam hati saat hendak keluar. Ia masih melihat punggung kakaknya.