Alina lalu keluar dari kamar itu. Kemudian mengajak kakak pertamanya untuk makan siang. Bang Arka menyambut dengan baik. Ia langsung membersihkan tangan dari oli. Baru setelah itu masuk ke rumah.
Mereka sudah berkumpul di dapur sederhana itu. Duduk di lantai dengan alas karpet anyaman yang sudah lusuh. Di hadapan mereka ada nasi dan lauk kangkung juga sambal.
"Loh, Alea mana, Lin?" tanya Bu Ani yang teringat anak keduanya itu.
"Belum mau makan, Bu. Tapi, aku sudah ngajak, kok," jawab Alina pelan.
Ia tahu ibunya pasti tak enak hati dengan keadaan Alea. Apalagi sejak dulu memang anak keduanya itu selalu punya cita-cita tinggi.
"Biar Ibu yang ajak, siapa tahu dia mau," ucap Bu Ani sambil beranjak dari duduknya.
Alina dan Bang Arka hanya menatap kepergian ibunya menuju kamar yang ditempati Alea.
Bu Ani memasuki kamar tersebut. Ia duduk di samping tempat tidur dan membelai rambut Alea dengan penuh kasih sayang.
"Lea, kita makan dulu, yuk," ajak Bu Ani lembut pada anaknya.
"Aku enggak lapar, Bu," jawab Alea singkat. Entah mengapa air matanya seakan ingin keluar saat mendengar suara lembut ibunya. Dadanya mendadak sesak. Tapi, ia tak ingin terlihat cengeng.
"Kamu nanti bisa sakit, Nak, kalau enggak makan," ucap Bu Ani yang masih berusaha membujuk anaknya.
"Bu, sudahlah jangan pedulikan fisikku. Toh, hatiku juga sudah hancur," ucap Alea pelan namun begitu tajam bagai pisau belati yang dihujamkan tepat di d**a ibunya.
Bu Ani tak kuasa menahan tangis. Ia mengelap air mata dengan punggung tangannya. Bibirnya menutup rapat tak sedikitpun mengeluarkan suara.
Ia lalu bangkit dari duduknya dan kembali ke ruang makan. Matanya terlihat memerah sehabis menangis. Alina dan Bang Arka yang melihat itu hanya terdiam.
'Sebenarnya apa yang kamu cari Kak Lea. Toh, pada akhirnya wanita akan kembali ke dapur,' gumam Alina dalam hati.
Di desa Cikajang memang anak gadis biasa menikah selepas lulus sekolah menengah atas. Alina yang melihat semua itu, jadi ikutan berpikir untuk apa wanita sekolah tinggi. Akhirnya juga kembali ke dapur dengan keluarga. Intinya ia hanya ingin keluarga yang bahagia.
"Ya sudah, yuk, kita makan dulu. Biar nanti makanan Alea diantar ke kamarnya saja," ucap Bu Ani yang memulai pembicaraan.
Mereka lalu makan bersama. Selera makan seakan hilang dari keluarga itu. Mereka mengisi perut sekedarnya saja. Hanya sebatas menghilangkan lapar dan bisa lanjut beraktivitas.
Selepas makan, mereka kembali ke aktivitas masing-masing. Pak Asep yang masih sakit kembali ke kamar. Bang Arka kembali ke bengkel di samping rumah. Sementara Alina membereskan semua itu.
"Lina, tolong beri makan siang kakakmu, ya. Ibu titip," pesan Bu Ani sebelum pergi ke kebun.
Ia memiliki sepetak kebun cabai yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Sudah lama ia tak menengoknya. Akhirnya, hati itu ia pergi ke kebun.
Alina mengangguk, tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Semua rasa bercampur dalam hatinya. Mulai dari kesal, marah, juga kasihan pada Alea. Tapi, ia tak bisa apa-apa lagi.
Andai Gavin itu jodohnya. Tentu ia akan sangat senang. Selain dari Gavin yang terlihat baik juga ia punya harta yang merupakan bonus.
Alina membereskan bekas makan dan membawanya ke kamar mandi untuk mencuci piring. Mereka tak memiliki wastafel untuk mencuci piring, jadi harus di kamar mandi.
Alea masih berbaring di kamarnya. Lelah menangis, ia pun tertidur. Ia tak terbiasa dengan semua pekerjaan rumah seperti Alina. Saat masih sekolah dan tinggal dengan ibunya, Alea lebih sering belajar. Ia tak sempat membantu ibunya melakukan pekerjaan rumah.
Sementara itu di bagian lain bumi, Gavin berada di kota. Ia kembali ke kantor. Pikirannya tertuju pada pernikahan yang sebentar lagi dilaksanakan.
Sebagai lelaki normal, ia cukup grogi menghadapi hari tersebut. Meskipun wanitanya belum bisa menerimanya sepenuhnya.
"Lagipula ini hanya sebagai formalitas, agar dapat harta warisan milik Mama," ucap Gavin pelan.
Ia duduk di dalam ruangan kerjanya di kantor. Menghadap ke belakang di mana ada jendela besar di sana. Cukup baginya untuk melepas penat dikala bekerja.
Tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Gavin membalikkan posisi kursi kerjanya, jadi menghadap meja dan membelakangi jendela.
"Masuk!" ucap Gavin setengah berteriak.
Seorang lelaki paruh baya masuk. Ia masih terlihat sehat dan bugar di usianya yang sudah memasuki setengah abad. Wajahnya terlihat awet muda. Tak banyak kerutan di sana, karena memang badannya berisi.
Ia berjalan dengan tenang dan berwibawa. Lalu, duduk di kursi kosong yang ada di hadapan meja kerja Gavin.
"Bagaimana? Kau sudah ada calon yang bisa segera diajak menikah?" tanya Pak Darma pada Gavin.
Ia adalah komisaris kepercayaan keluarga ibunya sejak dahulu. Ia sudah mengurus harta keluarga ibunya sejak tiga generasi sebelumnya.
"Sudah, tapi aku belum menikah. Sekitar seminggu lagi," jawab Gavin dengan tenang.
Ia selalu terlihat dingin bagai es. Rasa cinta telah hilang dari hatinya sejak lama.
"Kamu tidak salah pilih wanita, kan? Jangan orang yang mudah tergiur dengan harta, ia bisa jadi digoda oleh ibu tirimu," tanya Pak Darma lagi untuk memastikan calon istri yang dipilih Gavin.
Pemuda tampan itu termenung sejenak. Ia tak tahu harus menjawab apa. Melihat sikap Alea kemarin membuatnya ragu. Akankah dia bisa membantunya.
"Gavin," ucap Pak Darma sambil melambaikan tangannya di hadapan wajah Gavin.
"Ah, iya. Bisa, Pak. Pasti akan bisa," jawab Gavin yabg terkaget dengan lambaian tangan dari Pak Darma.
"Baguslah. Aku hanya mau memberi tahukan, kalau ruko di Jalan Dipatiukur sudah dipasangi spanduk akan juga dijual. Jadi, cepatlah bertindak," ucap Pak Darma.
"Iya, baik," jawab Gavin singkat.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Masih ada banyak pekerjaan yang belum selesai," pamit Pak Darma untuk kembali bekerja di kantor komisarisnya.
"Silakan, Pak," pungkas Gavin.
Pak Darma kemudian melenggang pergi dari ruangan itu. Ia lalu, menelepon sekretarisnya untuk mengantar suatu berkas.
Tak lama kemudian datang seorang wanita cantik dengan memakai baju kerjanya. Roknya di atas lutut dan rambutnya digerai.
"Ini berkas yang Bapak minta," ucap Lusi saat meletakan map biru di meja kerja bosnya.
"Baik, terima kasih," ucap Gavin sambil membuka map biru itu.
Gavin melihat-lihat isinya. Mulai dari fotokopi kartu keluarga, KTP, NA dan yang lainnya sebagai berkas menuju ke pelaminan. Gavin tersenyum tipis. Andai pernikahan itu dengan wanita yang dicintainya. Mungkin rasanya akan berbeda. Ia sendiri yang akan mengurus berkasnya.
"Baik, kalau begitu. Terima kasih," ucap Gavin setelah memeriksa berkas itu.
"Sama-sama, Pak," ucap Lusi sambil bangkit dari duduknya.
Lusi merupakan teman kuliah Gavin dulu. Saat ini, ia merupakan seorang single parent. Memiliki seorang anak yang begitu cantik dan lucu.
Lusi bangkit dari duduknya dan kembali ke ruangannya. Ia harus mengerjakan pekerjaan lainnya. Sementara itu, Gavin menelepon Pak Asep untuk segera mengirimkan berkas. Ia juga minta agar persiapan pernikahan dipercepat.
"Mungkin besok aku akan mengirimkan semua berkas guna keperluan pernikahan," ucap Gavin ketika tadi menelepon Pak Asep.