Ragu dengan Pernikahan

1029 Words
Gavin lalu menjatuhkan Alea begitu saja dari gendongannya. Seketika suara jatuh yang cukup keras terdengar. "Aw!" pekik Alea yang kesakitan karena tubuh bagian belakangnya jatuh tepat di tangga tersebut. Masih untung ia tak berguling ke bawah. "Dasar lelaki menyebalkan!" gerutu Alea keras, wajahnya masam menatap Gavin. Kecantikannya yang tadi terlihat paripurna ketika tidur mendadak hilang entah ke mana. Gavin tak menghiraukan perkataan Alea, ia menuju ke samping tangga, tempat yang kosong. Lalu, menaikinya tanpa bicara sepatah katapun pada Alea. Alea yang masih kesakitan akhirnya terpaksa berdiri dan berjalan sendiri menuju kamar. Hari yang menyebalkan bagi Alea baru saja datang ke rumah itu pada hari itu. Gavin memasuki kamarnya, lalu duduk di sofa tepat di depan laptopnya yang masih menyala. Ia lalu melanjutkan pekerjaannya. Alea mengikuti langkah suaminya menuju kamarnya. Kebiasaan di rumah, ia tak mengunci pintu, karena memang pintu kamarnya tak memiliki kunci. Ia lalu duduk disamping Gavin sambil menatapnya bekerja. Ia dulu bercita-cita untuk bisa bekerja di kantor benefit seperti yang dimiliki oleh Gavin. Tapi, apalah dayanya sekarang, dirinya hanyalah seorang istri yang katanya mesti nurut kepada suaminya. Lagipula entah sampai kapan pernikahan itu akan terjadi. Sebelum mendapatkan warisan, dirinya masih terikat kontrak dengan pernikahan tersebut. Pernikahan yang mengikat dirinya dan Gavin. "Kenapa kamu lihatin aku begitu?" tanya Gavin yang merasa risih dilihat oleh Alea dengan tatapan seperti itu. "Enggak apa-apa, cuma dulu aku bercita-cita untuk kerja di kantoran," jawab Alea dengan jujur. "Emang IPK kamu bagus?" tanya Gavin seolah tak percaya dengan kecerdasan Alea. Padahal sejak kecil wanita yang dinikahinya itu selalu mendapatkan juara kelas. Saat kuliahnya kini yang selalu mendapat nilai IPK terbaik di kelasnya. "Bagus dong, aku belajar mati-matian buat dapat IPK bagus. Lagipula sejak kecil aku sering juara kelas," jawab Alea dengan bangga, karena memiliki prestasi yang bisa dibanggakan. "Begitu ya, sebenarnya aku kecil hanya saja sedikit lebih beruntung darimu," jawab Gavin yang menohok hati Alea. Membuat istrinya itu terdiam seketika. "Sudahlah aku ngantuk, jadi aku tidur di mana?" tanya Alea kepada sang pemilik kamar "Terserah, di tempat tidur juga boleh. Biar aku di sofa saja," jawab Gavin dengan santai. Dirinya belum mau beranjak dari sofa tersebut karena masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan di laptopnya. Matanya juga masih fokus menatap layar gawai tersebut. Dunia seakan hilang dari pikirannya ketika menatap laptop dengan alasan pekerjaan. Alea yang sudah benar-benar mengantuk tak ingin tidur dekat Gavin. Akhirnya, menuju ke tempat tidur dan membaringkan diri di sana. Lelah karena perjalanan ditambah dengan perut yang kenyang setelah diisi, membuat kantuk begitu berat terasa di mata Alea. Ia lalu memejamkan mata dan terbuai dengan alam mimpinya. Sementara itu, Gavin masih berkutat dengan gawai di hadapannya. Ia sudah biasa tidur larut malam, bahkan sampai tidak tidur sedikitpun. Padahal kantor yang dikelolanya baru satu dan masih banyak cabang lainnya yang belum dipegangnya. Dikarenakan tersandung status yang masih bujangan saat itu. 'Aku akan segera mengurus semuanya,' gumam Gavin dalam hati. Ia ingin segera masalah tentang warisan tersebut selesai. Lalu, Alea dan dirinya bisa bebas menjalani hidup masing-masing. Ia tak mau apa yang menjadi miliknya dari sang ibu berpindah kepada orang lain. Apalagi dengan cara licik, walaupun sebenarnya ia sendiri sudah tidak peduli dengan harta yang dimilikinya. Gavin baru menutup laptopnya, ketika jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Kantuk yang dirasanya tadi sudah lenyap entah ke mana. Ia malah jadi tidak bisa tidur. Akhirnya, Gavin mengambil minuman bersoda dari lemari es kecil yang ada di kamarnya tersebut. Ia lalu membawanya keluar dengan sebatang rokok yang dimilikinya. Gavin bukanlah perokok berat. Hanya saat-saat tertentu jika pikirannya sedang kalut. Ia duduk di kursi rotan yang ada di balkon kamarnya, menatap indahnya bintang-bintang yang bertaburan di langit. Tapi, hatinya selalu sepi dan tidak bisa dihiasi dengan keindahan malam tersebut. "Ma, andai Mama masih ada di sini. Apa yang harus kulakukan?" tanya Gavin pelan sambil menghisap sebatang rokok yang diapit kedua jarinya. Ia lalu minum minuman bersoda dingin yang ada di meja sebelah kursinya. Keputusan yang diambilnya sebenarnya bukan main-main. Ia sendiri tak ingin mempermainkan yang namanya pernikahan. Usianya pun sudah cukup matang untuk menikah. Hanya saja ia tak ingin memaksa wanita untuk menyayanginya. Rasa cinta itu timbul tanpa harus ada paksaan sebelumnya. 'Sepertinya dugaanku meleset jauh, putri Pak Asep ada dua dan yang menikah denganku sifatnya terlalu jauh dari yang aku bayangkan,' gumam Gavin dalam hati sambil tersenyum getir. Ia menikah dengan Alea karena dua hal. Pertama karena petunjuk ayahnya dan ke-dua karena memang ia membutuhkan status pernikahan untuk mendapatkan harta warisan yang sebenarnya milik ibunya. Ibu tiri dan adik tirinya senang berlibur ke luar negeri. Memang jadi kebiasaan mereka setiap liburan, padahal anak ibu tirinya tersebut tidak bekerja sama sekali. Hanya menantunya yang bekerja, itupun Gavin tak pernah mah tahu di bidang apa. Ia tak berminat untuk mengetahui urusan keluarga ibu tirinya tersebut. Meskipun sebenarnya saat itu sudah menjadi keluarganya. Ayahnya memang begitu berani menyimpan ular berbisa di rumah tersebut. Akhirnya, mematuknya sendiri dan berusaha menguasai isi rumah. Untungnya Gavin tidak sebodoh itu, ia memang sempat hilang arah dan kendali. Tapi, Pak Darma mengingatkannya, kalau semua itu adalah hak dirinya dari sang ibu. Sementara ayahnya tidak punya apa-apa. Gavin seakan terjebak dalam permasalahan warisan yang dialami keluarganya. Tapi, ia sendiri tak dapat mengelak karena memang itulah yang harus dihadapi. Tidak seperti ketika ibunya meninggal, ia lari dari kenyataan dan memasuki dunia gelap. Gavin juga sebenarnya tak ingin menikah. Lagipula ia sudah merasakan nikmatnya surga dunia dengan bersama wanita. Jadi menurutnya menikah itu tak penting. Apalagi hanya untuk membuat keturunan yang nantinya susah dengan perilaku orang tuanya. Seperti dirinya yang dibuat susah oleh ayahnya sendiri. Ternyata takdir berkata lain, untuk syarat mendapatkan warisan ia harus menikah. Seperti telah digariskan sejak dulu sebelum Gavin lahir, kalau dirinya memang tidak bisa memutuskan menjadi single fighter. Kadang Gavin tersenyum mengingat hal tersebut. Dulu, dirinya memang sempat berpikir menjadi single fighter akan lebih baik daripada harus menikah. Kemudian, mengalami rumitnya kehidupan pernikahan. Bagai menjalankan perahu dengan dua kepala, mungkin bisa saja kompak. Tapi, pasti banyak perbedaan pendapat dan dirinya tak ingin terjebak dengan perbedaan pendapat yang sepele seperti itu. 'Ma, kalau dirimu ada di sini. Apa kamu senang dengan istri yang kupilih? Kenapa rasanya aku salah memilih perempuan ya?' gumam Gavin dalam hati ia merasa ragu dengan pilihannya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD