Di Kampus

1566 Words
Gavin hanya terdiam di luar hingga waktu mendekati dini hari. Barulah, kantuknya terasa berat. Ia lalu masuk ke dalam dan membaringkan diri di sofa. Tepat saat azan subuh berkumandang, Alea bangun. Seperti kebiasaan saat di rumah dengan keluarganya. Ia menuju ke kamar mandi untuk melaksanakan kewajiban dua rakaatnya. Saat melewati sofa yang menghadap ke televisi, ia menemukan Gavin tengah tertidur di sana. Pria yang menjadi suaminya itu, sepertinya kedinginan. Alea lalu berbalik ke tempat tidur dan mengambilkan selimut untuk Gavin. Setelah itu menyelimuti Gavin di sofa. Barulah dirinya ke kamar mandi dan berwudhu. Setelah itu malaksanakan solat subuh. Solat yang beberapa waktu terakhir terasa begitu gambar untuknya. Ia yang solat hanya sekedar menggugurkan kewajiban. Berbeda dengan kali ini. Ia telah menemukan kembali jalannya. Mulai menerima kenyataan kalau memang takdir berkata bahwa dirinya harus menikah. Hari itu, sebenarnya ia ingin sekali kuliah. Tetapi, banyak hal yang membuatnya takut. Tentang pertanyaan yang pasti akan banyak dilontarkan padanya. Belum lagi tentang hukuman yang mungkin akan diterimanya karena lama tak kuliah. Apalagi sebelumnya ia tak mengambil cuti. 'Jadi pusing sendiri deh, mikirin kuliah. Tapi, masa harus putus di tengah jalan,' gumam Alea dalam hati. Ia juga bingung harus melakukan apa di rumah mewah itu. Sehingga hanya berdiam diri di kamar. Tak lama kemudian, Gavin bangun dan ke kamar mandi. Banyak pekerjaan yang harus dikerjakannya hari itu di kantor. Selepas dari kamar mandi, ia keluar hanya dengan memakai handuk yang dililitkan dari pinggang ke bawah. "A ...!" jerit Alea yang tak menyangka akan mendapatkan pemandangan seperti itu di pagi hari yang sunyi. Gavin sendiri juga lupa kalau dirinya sudah punya istri. Ia sebenarnya sangat malu saat itu. Tapi, sudah terlanjur keluar dengan handuk seperti itu. Akhirnya, langsung berlalu menuju ke lemari bajunya dengan berjalan sok santai. Alea membuka matanya ketika tahu Gavin telah menutup pintu lemarinya. "Apa aku harus lihat pemandangan kayak gitu tiap hari, ya? Ih, amit-amit," ucap Alea pelan sembari mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri. Beberapa saat kemudian, Gavin keluar dengan pakaian yang sudah rapi. Layaknya direktur utama perusahaan atau biasa disebut CEO. Alea sedikit terpana melihatnya. Ia tak menyangka kalau Gavin bisa terlihat setampan itu. "Kenapa lihatnya begitu? Terpana ya, lihat ketampananku?" tanya Gavin dingin tapi begitu percaya diri. "Tidak, bagaimana dengan kuliahku?" tanya Alea tanpa memedulikan pertanyaan Gavin tadi. Lagipula tak penting juga baginya. Toh, pernikahan itu hanya sebatas kontrak bukan sungguhan. "Kita berangkat sekarang. Pakai bajumu," ucap Gavin yang melihat Alea masih menggunakan piyama. Alea segera berganti baju, karena tadi subuh ia telah membersihkan diri. Saking semangatnya untuk kuliah hari itu. "I—iya," ucap Alea sedikit gugup dan langsung mencari bajunya di dalam tas. Semua bajunya hanya baju biasa yang tak branded. Ia kebingungan memilih baju. Akhirnya ia memakai pakaian kasual yang bisa masuk Ken manapun. Gavin menunggunya sambil menyelesaikan pekerjaannya di laptop. "Ayo," ucap Alea setelah siap. Ia bahkan masih bingung harus memanggil Gavin dengan sebutan apa. Gavin mematikan laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas. Baru kemudian bangkit dan menuju ke arah Alea. "Panggil saja, Mas," ucap Gavin pelan saat sudah berada di samping Alea. Selama beberapa detik. Napas Gavin seakan membuat jantungnya berhenti. "M—Mas, enggak bisa nama aja gitu?" tanya Alea yang protes dengan panggilan yang menurutnya terlalu intim tersebut. "Enggak bisa, kamu ini istriku jadi harus nurut dengan apa yang aku katakan," jawab Gavin dengan tegas. "Atau kamu enggak perlu kuliah aja sekalian," ancamnya. "Jangan gitu dong, ya udah deh, Mas," ujar Alea dengan wajah terpaksa dan berubah cemberut. Bibirnya sedikit maju. Tapi, terlihat lucu bagi Gavin. Mereka lalu keluar dari kamar tersebut, untuk menuju ke ruang makan. Sebenarnya Alea sudah terbiasa untuk kuliah tanpa sarapan terlebih dahulu. Apalagi ia ingin segera sampai di kampus. "Berangkat sekarang aja, yuk. Enggak perlu sarapan dulu. Lagipula aku jarang sarapan kok, kalau mau kuliah," ajak Alea yang sudah tidak sabar untuk segera pergi. "Sarapan itu penting untukmu. Makan dulu," ucap Gavin tanpa ekspresi, tapi terdengar bagai perintah mutlak di telinga Alea. Mereka kemudian duduk di kursi yang ada di meja makan tersebut. Dari sepuluh kursi yang kosong hanya terisi dua. Sudah terhidang makanan dan aneka lauk di sana. Ada juga roti dan beberapa selai untuk pelengkapnya. Alea hanya mengambil roti dan juga selai coklat. Ia malas untuk makan makanan berat, karena memang biasanya tidak pernah untuk sarapan. Gavin pun tak melarangnya. Ia hanya menggeleng dan mengambil nasi sedikit untuk sarapannya, juga lauk yang sudah tersedia di sana. Setelah sarapan selesai, mereka lalu keluar dari rumah mewah tersebut untuk menuju ke halaman. Di sana sudah ada mobil berwarna hitam metalik yang terparkir dengan gagahnya. Mereka memasuki mobil tersebut. Duduk di jok depan, karena Gavin memang terbiasa menyetir sendiri. Lebih tepatnya sejak sopir pribadinya dipecat ibu tirinya dan diganti yang baru. Gavin menolaknya mentah-mentah. Lagipula dia sendiri bisa menyetir. "Kamu kenapa enggak pakai sopir? Kan, kamu kaya pasti bisa dong, kalau cuma menggaji sopir pribadi," tanya Alea heran. Gavin terdiam sejenak. Alea menunggu jawaban Gavin dengan seksama. "Bukan urusanmu," jawab Gavin dengan ketus. Ia tak ingin membahas hal tersebut saat itu. Terpenting adalah Alea yang bisa kuliah lagi hari itu. Ia tak ingin memutuskan cita-cita anak orang lain hanya karena menikah dengannya. Mobil melaju dengan tenang, keluar dari halaman rumah tersebut untuk menuju ke kampus. Tempat di mana Alea menuntut ilmu terlebih dahulu. "Kita bakalan ke kampus dulu, ya?" tanya Alea memastikan sekaligus takut kalau ia akan dibawa ke kantor Gavin terlebih dahulu. Gavin hanya berdehem ria, tanpa mau menjawab pertanyaan Alea dengan kalimat jawaban. 'Benar-benar lelaki yang menyebalkan. Pantas saja tidak ada yang mau menjadi istrinya. Sampai-sampai mencari ke pelosok kampung untuk dijadikan istri,' gerutu Alea dalam hati. Gavin tak menanggapinya. Ia terus fokus menyetir untuk segera sampai di di kampus Alea. Sesampainya di parkiran universitas, Gavin memarkirkan mobilnya. Mereka lalu keluar dari mobil tersebut. "Kamu mau ke mana?" tanya Alea heran kepada suaminya tersebut, karena ia malu jika harus diantar sampai ruangan kelas atau ke ruang dekan. "Panggil aku Mas, bukan kamu kamu. Aku akan menemanimu," jawab Gavin dengan penuh penegasan. Ia seakan tak ingin dibantah. Alea hanya mendengkus kesal. Mereka kemudian berjalan menyusuri parkiran kampus tersebut. Alea berjalan di belakang, tapi Gavin menariknya agar berjalan di sisinya. "Kita ke ruang kepala dekan terlebih dahulu," ucap Gavin seakan perintah di telinga Alea. Ia mulai tahu kalau lelaki yang menjadi suaminya itu tak bisa dibantah. Ucapannya selalu berbentuk perintah kepada siapapun, pantas saja iya tak melihat kalau Gavin dekat dengan wanita manapun. 'Lagipula siapa yang akan tahan dengan sifat suami seperti itu. Untung aku juga cuma sementara,' gumam Alea dalam hati. Alea hanya bisa menurut dan berjalan di samping Gavin. Para mahasiswa melihat mereka dengan tatapan aneh. Seperti sedang melihat seorang CEO tampan yang berjalan dengan pembantunya. Mereka terlihat jomplang sekali. "Nanti setelah kau pulang kampus, kita akan belanja pakaian untukmu," ucap Gavin lagi. Alea melihat pakaian yang dikenakannya sekarang. Sebenarnya memang terlalu biasa, tapi dia memang jarang membeli pakaian. Malah kadang hanya membelinya dari serba tiga puluh lima ribu. Mereka akhirnya sampai di ruangan kepala dekan do kampus tersebut. Gavin mengetuk pintu. "Masuk!" ucap seseorang dari dalam. Gavin dan Alea pun memasuki ruangan tersebut. Seorang pria paruh baya nampak sibuk dengan berkas-berkas yang ada di meja kerjanya. Ia lalu menatap siapa yang datang. "Pak Gavin, silakan duduk," ucap kepala dekan tersebut dengan ramah sambil menunjuk dua kursi kosong. Alea dan Gavin pun duduk di sana. Alea heran dengan sikap kepala dekannya yang sebenarnya terkenal dengan judes dan ketusnya. Tapi, saat ini ia melihat sikapnya begitu berbeda di hadapan Gavin. Ia jadi bertanya-tanya sebenarnya Gavin itu siapa. Kenapa bisa mengendalikan kepala dekan di kampusnya. 'Apa mungkin dulu Gavin juga kuliah di sini? Jadi apa hubungannya dengan keramahan dekan judes itu,' gumam Alea dalam hati. "Saya hanya ingin meminta izin, karena kemarin istri saya tidak kuliah selama dua minggu. Dikarenakan menyelenggarakan pernikahan dengan saya. Maka tolong urus semuanya ya, tanpa harus ada hukuman-hukuman," tutur Gavin kepada kepala dekan tersebut. Matanya terlihat menatap tajam kepala dekan tersebut seakan mengintimidasinya. "Oh iya siap, kalau begitu, Pak Gavin. Nanti biar saya sampaikan ke wali kelasnya saja," ucap kepala dekan, bernama Hardi tersebut dengan ramah. "Ya, itu saja. Kalau begitu saya pamit dulu," ucap Gavin sambil bangkit dari duduknya. Ia lalu menyalami tangan kepala dengan tersebut secara sekilas. Mereka keluar dari ruangan tersebut. Alea jadi penasaran dengan orang yang menjadi suaminya itu. "Kok, tadi kepala dekan bisa ramah dan tunduk gitu sih, sama kamu? Apa karena kamu dulu kuliah di sini?' tanya Alea heran kepada suaminya tersebut.. "Jangan banyak tanya sekarang," ucap Gavin yang sedang tak ingin menjawab semua pertanyaan. Karena ia tahu akan menjadi panjang urusannya. Alea langsung terdiam. Mereka terus berjalan untuk menuju ke ruangan kelas Alea. Sesampainya di kelas, teman-teman Alea menatap Gavin dengan terpana dan juga heran. Mungkin mereka berpikir kenapa orang seperti Alea bisa bersama dengan orang super Gavin. "Kalau begitu aku pergi dulu, ya," pamit Gavin kepada Alea tanpa memperdulikan mata-mata penasaran yang lihat mereka. "Alea, itu siapa?" tanya Tias heran sekaligus terpana dengan ketampanan Gavin yang begitu paripurna. "Suamiku, kenapa?" tanyan Alea dengan santainya. "Yang benar saja. Kapan menikah? Lenapa diadakan dan tidak undang kita. Jangan-jangan hamil duluan," cerocos Dinda yang memang terkenal selalu mengoceh panjang kali lebar. "Beneran, aku nikah pas di rumah kemarin. Makanya baru bisa masuk lagi ke kampus hari ini," jawab Alea dengan santai. Sebenarnya ia ingin menutupi soal pernikahan tersebut. Tetapi, juga Gavin menggembar-gemborkannya jadi mana mungkin bisa terus ditutupi. Akhirnya ia pun melakukan hal yang sama dengan Gavin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD