Hari pun cepat berlalu. Sudah hampir seminggu Ibra tidak menemui Rara. Pria itu selalu memantau perkembangan proses perceraian wanita itu melalui Indra, pengacara yang dia sewa. Setiap pesan dari mantan kekasihnya itu juga tidak selalu dia balas. Bahkan, panggilan dari Rara juga jarang dia respon. Dia tidak ingin istrinya bersikap cuek kembali padanya. Sungguh diabaikan oleh pasangan itu sangatlah tidak enak, menurutnya.
Hari ini pria tampan pemilik mata elang itu tampak sibuk. Bahkan, sejak pagi dirinya telah meminta asistennya untuk membuat ulang laporan mingguan dari berbagai divisi yang ada di perusahaannya. Entah apa yang menyebabkan beberapa manager divisi tersebut lalai dan berakibat salah dalam membuat laporan.
“Kenapa laporan salah begini bisa ada di meja saya? Kamu tau bagaimana cara kerja saya, kan?” tanya Ibra sambil mengembalikan laporan yang baru saja dia periksa.
Bukan hanya satu, CEO arogan itu mengembalikan semua laporan yang baru dia terima dari asistennya. Pria itu tidak suka jika ada kesalahan dalam pekerjaan karyawannya. Menurutnya, keseriusan dan ketelitian dalam bekerja itu sangat penting. Jadi pria tampan itu tidak mau menerima kesalahan.
Seno yang melihat atasannya terlihat sudah mulai mengeluarkan taringnya, lantas segera mengambil berkas yang baru saja dilempar ke pinggir meja oleh sang atasan. Memang dia akui, semua tak lepas dari kesalahannya juga. Jika dirinya lebih teliti dalam memeriksa laporan dari seluruh divisi, pasti dia tidak akan mendapatkan teguran.
Selama ini pria berkacamata itu selalu memeriksa dengan teliti semua laporan terlebih dahulu sebelum dia bawa ke meja atasannya. Selama memeriksa laporan dari tiap-tiap divisi terkait tersebut, dirinya tidak mendapatkan kesalahan. Mungkin memang benar kata pepatah jika hari sial tidak ada di kalender.
“Maaf, Pak, saya kurang teliti,” jawab Seno dengan tidak enak.
Pria berkacamata itu benar-benar tidak enak dengan keteledorannya kali ini. Seolah-olah dirinya tidak profesional dalam bekerja. Di bilang malu, pasti dia sangat malu. Selama bekerja dengan Ibra, dirinya tidak pernah melakukan kesalahan sekecil apa pun.
“Apa kamu lagi ada masalah?” tanya Ibra sambil menatap lekat ke arah asistennya, tak lupa pria bertubuh atletis itu juga menyandarkan punggungnya.
Sebagai seorang atasannya, tentu dirinya juga merasa heran karena baru kali ini bawahannya tersebut teledor dalam pekerjaannya. Selama sahabatnya itu bekerja padanya, Ibra selalu puas dengan hasil kerja Seno.
“Tidak ada, Pak. Sekali lagi saya minta maaf dan kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi,” ucap Seno dengan penuh keyakinan.
Pria itu benar-benar merasa tidak enak dengan atasan yang sekaligus juga sahabatnya. Dirinya pun berjanji pada dirinya sendiri jika dia tidak akan mengulangi keteledorannya lagi.
Setelah mengatakan itu, Seno pun pamit untuk kembali ke ruangannya jika tidak ada yang harus dia lakukan lagi di dalam ruangan Ibra. Dia ingin segera memperbaiki kesalahannya dengan memeriksa laporan dari tiap-tiap divisi dengan teliti agar tidak ada kesalahan lagi.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Tampak Ibra masih terlihat mempelajari berkas yang harus dia tanda tangani. Tak berapa lama kemudian, pintu ruangannya ada yang mengetuknya.
“Masuk …!” pinta Ibra tanpa memalingkan wajahnya.
Detik kemudian muncul Seno dari balik pintu. Pria itu kemudian berjalan mendekati atasannya yang tampak masih fokus dengan lembaran kertas-kertas yang ada di hadapannya.
“Pak, ada Bu Rara ingin bertemu dengan Anda,” ucap Seno memberitahu.
Mendengar ucapan dari asistennya, seketika membuat Ibra mengangkat wajahnya. Pria tampan bermata elang itu tampak mengerutkan dahinya. Dia merasa heran dengan maksud kedatangan wanita itu. Padahal perempuan itu tidak pernah sekali pun datang ke kantornya.
“Ada perlu apa dia datang ke sini?” tanya Ibra dengan penasaran.
“Katanya, Beliau ingin berdiskusi mengenai proses perceraiannya,” jawab Seno.
Tadi, sewaktu pria berkacamata itu menemui Rara terlebih dahulu, wanita itu bilang jika memang ada hal penting yang harus dia bicarakan dengan Ibra. Menurut wanita itu, masalah tersebut hanya bisa dibicarakan secara langsung. Karena itulah, akhirnya Seno menghadap atasannya untuk memberitahunya.
Mendengar jawaban dari asistennya seketika membuat Ibra mendengus. Menurutnya, buat apa dirinya menyewa jasa pengacara mahal-mahal jika ujung-ujungnya Rara masih harus membicarakan proses perceraian dengannya.
Namun, di sisi sudut hatinya yang lain, pria itu juga tidak tega untuk menolak kedatangan Rara. Menurutnya, mungkin mantan kekasihnya itu memang butuh seorang teman yang bisa mendengarkan keluh kesahnya.
“Lain kali jika dia datang, kamu langsung panggil Pak Indra, hanya dia yang bisa diajak berdiskusi,” pinta Ibra bernada serius.
“Baik, Pak Ibra,” jawab Seno.
Jika sudah mendapat perintah dari atasannya, pria berkacamata itu pun bisa menghadapi Rara untuk ke depannya. Sebagai seorang sahabat, dirinya memang telah mengetahui masa lalu sahabatnya tersebut. Selama sahabatnya masih bersikap dalam batas kewajaran, tentu dirinya akan mengikuti kemauan sang sahabat. Namun, jika sahabatnya sudah mulai menunjukkan tanda-tanda yang hendak keluar dari jalur ikatan pernikahan, tentu sudah menjadi tugasnya untuk mengingatkannya.
Beberapa saat kemudian, mantan kekasihnya itu pun masuk dan duduk berhadapan dengan pria pemilik mata elang tersebut. Mereka duduk berhadapan dengan dibatasi oleh sebuah meja kaca. Tampak wajah wanita itu sudah cemberut sejak masuk ke dalam ruangan CEO tampan tersebut.
“Kenapa kamu nggak angkat telepon ku sih?” tanya Rara sambil mendudukkan tubuhnya di sofa.
Tampak Ibra tidak menghiraukan pertanyaan perempuan yang pernah dekat dengannya tersebut. Lelaki itu hanya diam sambil menatap tepat ke arah lawan bicaranya.
“Kamu janji mau nemenin aku sampe proses perceraian ku beres, tapi nyatanya kamu seperti sedang menghindar,” ucap Rara masih terus memprotes sikap Ibra akhir-akhir ini terhadapnya.
Ibra masih diam dengan tenang melihat sikap Rara yang menurutnya tidak pernah berubah dari dulu. Wanita itu akan merajuk jika keinginannya tidak dituruti. Bahkan, tak jarang dulu ketika mereka masih bersama sering terjadi pertengkaran. Di mana semua penyebab pertengkaran tersebut dipicu oleh sikap Rara yang harus selalu diperhatikan dan setiap keinginannya juga harus selalu dituruti.
Dulu di saat Ibra ingin pulang menjenguk orang tuanya selalu mendapat larangan dari wanita itu. Jika diteliti, sepertinya Rara memiliki sikap yang sangat posesif dan egois. Karena tak ingin ribut terus dengan wanita yang berstatus sebagai kekasihnya pada saat itu, maka pria yang terkenal dingin dan arogan itu pun akhirnya memutuskan pulang diam-diam. Meskipun nantinya mereka akan bertengkar, Ibra tidak peduli.
“Aku butuh teman bicara! Karena kamu selalu sibuk, aku datang aja ke kantor kamu,” lanjut Rara tanpa merasa bersalah.
Mendengar ucapan dari mantan kekasihnya seketika membuat Ibra mendengus. Entah kenapa kali ini kehadiran wanita yang ada di hadapannya ini terasa sangat mengganggu.
“Kamu harusnya menghubungi Pak Indra bukan malah menghubungiku! Karena Beliau yang menangani perceraian kamu,” ucap Ibra pada akhirnya.
Rara yang mendengar penuturan dari pria yang pernah menghiasi hari-harinya seketika menatap tajam tepat ke manik mata Ibra. Tampak terlihat jelas jika tatapan wanita itu sangat tidak bersahabat.
Detik kemudian tampak Rara melipat kedua tangan di depan dadanya. Bahkan, wanita itu juga terlihat menghembuskan napas panjangnya. Memang terlihat jelas jika sikap wanita itu seperti sedang menahan kesal.
“Aku maunya itu ngobrol dan ketemu sama kamu, bukan sama laki-laki jelek itu! Ngerti nggak sih kamu?” ucap Rara dengan nada yang sudah terdengar lebih tinggi dari sebelumnya.
Seketika Ibra memejamkan matanya rapat-rapat. Tampak dengan jelas jika lelaki itu tidak suka dengan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Rara. Lagi-lagi wanita itu bersikap egois dan maunya menang sendiri. Dari dulu wanita itu selalu memandang fisik terhadap orang lain. Seolah-olah hanya dia manusia yang paling sempurna di dunia ini.
“Maaf aku nggak bisa, Ra. Aku nggak mau istri ku salah paham. Dia perempuan baik dan lembut, aku nggak tega nyakitin hatinya,” ucap Ibra menjelaskan.
Mendengar penuturan dari laki-laki yang sampai saat ini masih menggenggam hatinya, seketika wanita itu pun mengepalkan tangannya. Ada rasa tidak terima yang tiba-tiba muncul ke permukaan. Namun, dirinya harus bisa menekan dengan sekuat tenaganya. Dia tidak ingin apa yang sudah dia rencanakan akan berakhir dengan sia-sia.
“Kamu tidak mencintainya, kan? Kamu hanya kasihan padanya, kan?” tanya Rara bertubi-tubi.
Wanita itu sebenarnya ingin meyakinkan hatinya sendiri dengan pertanyaan yang baru saja ia ajukan. Dia berharap jika pria yang ada di hadapannya akan memberikan jawaban yang sangat ia harapkan. Namun, ternyata harapannya sia-sia.
“Aku sangat mencintainya! Bahkan, sejak lama aku sudah mencintainya, tapi aku nggak berani ngungkapinnya,” jawab Ibra dengan penuh keyakinan.
Memang yang pria tampan itu rasakan adalah jika Bella telah berhasil sepenuhnya menggenggam hati dan rasanya. Pria mana yang merasa tidak beruntung jika berhasil menjadikan wanita selembut Bella untuk menjadi istrinya. Hanya lelaki bodoh yang menyia-nyiakan wanita sempurna seperti istrinya.
“Mengenai perceraian mu dengan suami kamu, semuanya telah ditangani oleh ahlinya. Pak Indra adalah pengacara hebat. Jadi kamu jangan khawatir! Pasti hakim akan mengabulkan tuntutan kamu. Jika ada hal yang membuat mu bingung, sebaiknya kamu konsultasikan dengan Beliau, karena aku tidak akan bisa memberikan solusi,” lanjut Ibra dengan panjang lebar.
Mendengar penjelasan dari lelaki yang duduk di hadapannya, seketika membuat emosi Rara naik ke permukaan. Wajahnya juga terlihat memerah karena berusaha meredamnya. Dia tidak ingin emosinya nanti akan membuat dirinya semakin jauh dengan Ibra. Saat ini yang dimilikinya hanya lelaki itu. Dia tidak ingin membuat Ibra semakin jengah dengan kehadirannya. Lantas ia pun memutuskan untuk segera beranjak dan meninggalkan kantor mantan kekasihnya tersebut.
Akhirnya wanita itu pun pergi tanpa berpamitan. Dia bahkan membanting pintu ruangan CEO muda tersebut sebagai pelampiasan amarahnya.
Ibra hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap mantan kekasihnya yang masih ke kanak-kanakan, menurutnya. Dia mengira dengan bertambahnya usia, proses kedewasaan juga akan menyertainya. Namun, pada kenyataannya Rara tetaplah seorang wanita dengan segala sikap egois yang dimilikinya.
Tiba-tiba lelaki itu teringat dengan istri cantiknya. Dia merindukan kelembutan istrinya. Wanita dengan segala kelembutannya itu selalu sabar menghadapinya. Sebagai seorang suami, tentu dirinya merasa sangat beruntung memiliki istri dengan segala kesempurnaannya itu. Detik kemudian pria itu pun langsung mengambil ponsel yang ada di dalam saku kemejanya. Dia ingin mendengar suara lembut sang istri.