DESA YANG HILANG DARI PETA
BAB 1
SURAT TANPA PENGIRIM
Hujan turun sejak sore.
Rintiknya memukul kaca jendela apartemen Theo seperti jari-jari seseorang yang sedang mengetuk pelan dari luar.
Theo menghela napas panjang sambil menatap layar laptopnya.
Sebuah artikel Investigasi yang sudah dikerjakannya selama dua Minggu baru saja ditolak redaksi.
lagi.
Ia menutup laptop dengan kesal.
Jam dinding menunjukkan pukul 22.47 .
Malam yang dingin, sepi. Hanya suara hujan dan dengungan kipas angin yang menemani.
Theo berjalan ke dapur kecil, menuangkan kopi yang sudah mulai dingin, lalu kembali ke ruang kerja.
saat itulah ia mendengar sesuatu.
Tok. Tok. Tok.
Theo berhenti melangkah.
Seseorang mengetuk pintu apartemennya.
Tiga kali.
Pelan.
Aneh.
Hampir pukul sebelas malam.
Siapa yang datang jam segini?
Ia meletakkan cangkir kopi dan berjalan menuju pintu.
"Siapa"? tanya nya.
Tidak ada jawaban.
Theo mengernyit.
Ia membuka pintu.
Lorong apartemen kosong.
Tidak ada siapa pun.
Hanya lampu koridor yang berkedip-kedip dan suara hujan dari kejauhan.
"Aneh."
Theo hendak menutup pintu ketika sesuatu menarik perhatiannya.
Sebuah amplop cokelat tua tergeletak tepat di depan ambang pintu.
Amplop itu terlihat usang.
Seolah telah disimpan selama bertahun-tahun.
Tidak ada perangko.
Tidak ada alamat.
Tidak ada nama pengirim.
Theo mengambilnya.
Entah kenapa, amplop itu terasa dingin.
Sangat dingin.
Seperti baru saja diambil dari dalam lemari pendingin.
Bulu kuduknya meremang.
Ia membawa amplop itu ke meja kerja.
Lalu membukanya perlahan.
Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas.
Tidak ada surat.
Tidak ada pesan.
Tidak ada penjelasan.
Hanya sebuah koordinat yang ditulis dengan tinta hitam:
-7.23641, 110.87922
Dan tepat di bawahnya terdapat satu nama.
DESA SUMBERJATI
Theo membaca tulisan itu berulang kali.
Tidak pernah mendengar nama desa tersebut.
Bukan hal aneh sebenarnya.
Indonesia memiliki ribuan desa.
Mustahil mengenal semuanya.
Namun sesuatu terasa ganjil.
Tulisan pada kertas itu tampak terlalu rapi.
Seperti dibuat dengan sengaja untuk menarik perhatiannya.
Di bagian bawah terdapat satu kalimat tambahan.
Kalimat yang membuat Theo terdiam cukup lama.
"Temukan kebenarannya sebelum mereka menemukanmu."
Jantung Theo berdetak sedikit lebih cepat.
Ia membalik kertas itu.
Kosong.
Tidak ada apa-apa lagi.
"Siapa yang mengirim ini?"
Tidak ada jawaban.
Hanya kesunyian.
Theo menatap koordinat tersebut selama beberapa menit.
Sebagai jurnalis investigasi, rasa penasaran adalah penyakit yang sulit disembuhkan.
Dan malam itu penyakit tersebut mulai kambuh.
Ia membuka laptop kembali.
Masuk ke aplikasi peta.
Lalu mengetik koordinat yang tertera.
Beberapa detik kemudian lokasi itu muncul.
Sebuah area hutan.
Jauh dari kota.
Tidak ada nama desa.
Tidak ada penanda pemukiman.
Hanya hamparan hijau yang tampak kosong.
Theo memperbesar tampilan peta.
Lalu memperbesar lagi.
Tetap sama.
Tidak ada Desa Sumberjati.
Ia bersandar di kursi.
Semakin penasaran.
Seseorang mengirim koordinat desa yang tidak muncul di peta.
Dan meminta dirinya menemukan suatu kebenaran.
Kenapa dirinya?
Kenapa bukan orang lain?
Theo mengambil amplop itu lagi.
Baru kali ini ia menyadari sesuatu.
Ada noda kecil di salah satu sudut.
Seperti bercak lumpur yang sudah mengering.
Warnanya kehitaman.
Hampir menyerupai darah tua.
Ia mendekatkan amplop ke lampu meja.
Lalu membeku.
Di bagian belakang amplop terdapat goresan samar yang sebelumnya tidak terlihat.
Tulisan tangan.
Sangat tipis.
Hampir hilang.
Theo memicingkan mata.
Perlahan ia berhasil membacanya.
"Jangan datang."
Ia menelan ludah.
Dingin merayap di punggungnya.
Seseorang mengirim koordinat itu.
Seseorang yang sama juga menuliskan peringatan.
Temukan kebenarannya.
Tapi jangan datang.
Dua pesan yang saling bertentangan.
Dan justru karena itulah Theo semakin tertarik.
Ia mengeluarkan ponsel dan memotret seluruh isi amplop.
Kebiasaan seorang jurnalis.
Semua bukti harus didokumentasikan.
Saat kamera memotret, layar ponsel tiba-tiba berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu mati.
"Serius?"
Baterainya masih enam puluh persen.
Seharusnya tidak mungkin mati.
Theo mencoba menyalakannya kembali.
Tidak bisa.
Layar tetap hitam.
Ruangan terasa lebih sunyi dari sebelumnya.
Hujan di luar semakin deras.
Petir menyambar.
Cahaya putih sesaat menerangi jendela apartemen.
Dan saat itulah Theo melihat sesuatu.
Seseorang berdiri di luar.
Tepat di seberang jalan.
Di tengah hujan.
Diam.
Tidak bergerak.
Theo langsung bangkit.
"Siapa itu?"
Sosok tersebut hanya berdiri memandang ke arah apartemennya.
Tubuhnya kurus.
Mengenakan jas hujan hitam.
Wajahnya tidak terlihat.
Theo melangkah mendekati jendela.
Petir berikutnya menyambar.
Cahaya putih kembali menerangi jalan.
Sosok itu hilang.
Begitu saja.
Tidak ada siapa pun di sana.
Theo menahan napas.
Perasaannya mulai tidak nyaman.
Mungkin hanya orang lewat.
Mungkin.
Namun sesuatu dalam dirinya mengatakan tidak.
Ia menutup tirai jendela.
Lalu kembali duduk.
Pandangannya jatuh lagi pada koordinat di atas meja.
Entah kenapa.
Semakin lama ia melihatnya.
Semakin muncul perasaan aneh.
Seolah-olah koordinat itu bukan sedang ia baca.
Melainkan sedang membalas tatapannya.
Theo menggeleng.
Kurang tidur.
Pasti karena kurang tidur.
Ia memasukkan surat itu ke dalam laci meja.
Kemudian mematikan lampu dan menuju kamar.
Namun saat melewati ruang kerja, langkahnya terhenti.
Ada suara.
Sangat pelan.
Hampir tidak terdengar.
Berasal dari dalam laci.
Theo membeku.
Suara itu terdengar seperti bisikan.
Pelan.
Parau.
Tidak jelas.
Ia mendekat perlahan.
Bisikan itu semakin terdengar.
Seolah ada seseorang berbicara dari dalam laci yang terkunci.
Theo merasakan jantungnya berdetak keras.
Tangannya gemetar saat meraih gagang laci.
Lalu...
Suara itu berhenti.
Mendadak.
Hilang begitu saja.
Kesunyian kembali memenuhi ruangan.
Theo membuka laci.
Amplop cokelat itu masih berada di dalam.
Tidak ada apa pun selain itu.
Tidak ada alat elektronik.
Tidak ada sumber suara.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun ketika ia hendak menutup laci, matanya menangkap sesuatu.
Tulisan pada kertas koordinat itu berubah.
Kalimat yang sebelumnya tidak ada kini muncul di bagian bawah.
Seakan ditulis oleh tangan tak terlihat.
Tinta hitamnya masih tampak basah.
Theo menatap tulisan itu dengan wajah pucat.
Perlahan ia membaca setiap katanya.
"Kami menunggumu di Sumberjati."
Dan tepat di bawah kalimat tersebut terdapat satu baris tambahan.
Baris yang membuat darahnya terasa membeku.
"Sudah lama sekali, Theo."